Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #59

Warna Baju yang Berubah

Siang itu, matahari menggantung cukup tinggi ketika Raka berhenti di depan sebuah toko pakaian sederhana yang berada tidak jauh dari jalan utama menuju kampus. Toko itu tidak besar, hanya sebuah ruang memanjang dengan pintu kaca, beberapa manekin berdiri di dekat pintu masuk, dan deretan gantungan baju yang tersusun rapat sampai ke bagian belakang. Dari luar, warna-warna pakaian yang dipajang terlihat seperti sesuatu yang asing bagi Raka. Ada biru muda, hijau zaitun, krem, cokelat muda, bahkan beberapa kemeja dengan warna yang cukup cerah untuk membuatnya secara refleks ingin berbalik dan mencari rak berisi kaus hitam. Selama bertahun-tahun, hitam terasa seperti tempat bersembunyi yang paling aman baginya. Warna itu tidak bertanya apa pun tentang bentuk tubuhnya, tidak menarik perhatian, dan yang paling penting, tidak membuatnya terlalu sadar bahwa tubuhnya jauh lebih pendek dibandingkan sebagian besar laki-laki yang berjalan di sekelilingnya.

Raka berdiri beberapa detik di depan pintu sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Di dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri dengan kaus hitam yang sedikit kebesaran, celana panjang yang ujungnya jatuh agak menumpuk di atas sepatu, serta jaket hitam yang selama ini hampir selalu menempel di tubuhnya. Dulu, ia akan melihat pakaian itu sebagai perlindungan. Sekarang, entah sejak kapan, pakaian tersebut mulai terasa seperti sisa kebiasaan lama yang tidak lagi ia perlukan. Ia teringat bagaimana beberapa bulan terakhir hidupnya berubah sedikit demi sedikit, bukan melalui sebuah keajaiban besar, melainkan lewat seseorang yang tidak pernah memintanya menjadi siapa-siapa. Laras tidak pernah menyuruhnya lebih tinggi, lebih gagah, lebih keren, atau lebih pandai menyembunyikan rasa tidak percaya dirinya. Justru karena itu, untuk pertama kalinya Raka merasa mungkin ia tidak perlu terus-menerus menyembunyikan tubuhnya dari dunia.

Ia akhirnya membuka pintu.

Udara dingin dari pendingin ruangan menyambutnya bersama aroma kain baru dan samar-samar wangi pewangi pakaian. Seorang penjaga toko menyapanya dari balik meja kasir, tetapi Raka hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum berjalan menuju rak kemeja. Tangannya menyentuh beberapa bahan secara bergantian, mulai dari katun tipis hingga linen campuran yang terasa ringan di telapak tangannya. Ia mengambil sebuah kemeja biru muda, lalu mengangkatnya di depan tubuh. Ukurannya tidak besar. Bahkan ketika ia menempelkannya di dada, bagian bahunya tampak jatuh tepat pada garis tubuhnya. Ada sensasi aneh ketika melihatnya di cermin. Bukan karena kemejanya buruk, melainkan karena untuk pertama kalinya pakaian itu tidak berusaha membuat tubuhnya tampak lebih besar daripada kenyataannya.

Raka memiringkan kepala, mengamati bayangannya sendiri.

"Segini doang ternyata," gumamnya pelan.

Ia hampir tertawa karena menyadari betapa lama dirinya membuat pakaian menjadi semacam benteng. Selama ini ia membeli jaket dengan ukuran lebih besar, kaus yang panjangnya melewati pinggang, atau pakaian berwarna gelap yang membuat bentuk tubuhnya tidak terlalu terlihat. Semua itu dilakukan bukan karena ia benar-benar menyukai modelnya, melainkan karena ia takut jika tubuhnya terlihat jelas, orang lain akan kembali menilainya seperti orang-orang dari masa lalu. Tinggi badan 154 sentimeter selalu terasa seperti angka yang ditulis terlalu besar di kepalanya sendiri. Padahal angka itu tidak pernah benar-benar berbicara. Yang berbicara adalah luka yang ia bawa ke mana-mana.

Ia mengambil kemeja biru muda itu, kemudian mencari ukuran lain yang sedikit lebih pas. Setelah itu, matanya tertumbuk pada kemeja hijau pucat. Ia mengambilnya pula. Tidak lama kemudian, sebuah kemeja krem ikut masuk ke tangannya. Ketika penjaga toko melihat Raka membawa tiga pakaian, ia tersenyum dan bertanya apakah Raka ingin mencoba semuanya.

"Boleh, Mas."

Di ruang ganti yang sempit, Raka melepaskan jaket hitamnya dan menggantungnya di salah satu kait. Untuk beberapa detik, ia berdiri hanya dengan kaus hitam sebelum mengenakan kemeja biru muda tersebut. Kancing demi kancing ditutup perlahan. Saat seluruh bagian depan tertutup, ia menatap cermin.

Tidak ada perubahan ajaib.

Ia masih Raka.

Tinggi badannya masih sama. Wajahnya masih wajah yang sama. Bahunya masih tidak selebar laki-laki lain. Rambutnya pun tetap berantakan di bagian depan karena tadi terkena angin motor. Namun sesuatu di dalam dirinya terasa berbeda. Kemeja itu tidak membuatnya tampak lebih tinggi. Tidak pula membuatnya menjadi lelaki yang secara fisik tiba-tiba memenuhi standar siapa pun. Kemeja itu hanya pas.

Dan ternyata, menjadi dirinya sendiri tanpa ditutupi apa-apa tidak semenakutkan yang selama ini ia bayangkan.

Raka menatap pantulan dirinya cukup lama sebelum tersenyum kecil.

"Kayaknya... bagus."

Ia membeli tiga kemeja sekaligus. Ketika penjaga toko memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam kantong, Raka bahkan sempat melirik jaket hitamnya yang tergantung di lengannya. Jaket itu masih akan ia pakai sesekali, tentu saja. Ia tidak membencinya. Ia hanya tidak ingin lagi memakainya setiap kali keluar rumah karena takut terlihat sebagai dirinya sendiri.

Sesampainya di kos, Raka menaruh ketiga kemeja baru itu di atas kasur. Ia kemudian membuka lemari dan menatap koleksi pakaiannya. Hitam mendominasi hampir seluruh bagian rak. Ada kaus hitam, jaket hitam, kemeja hitam, celana gelap, dan beberapa pakaian lain yang warnanya tidak jauh dari abu-abu tua. Raka mengusap tengkuk sambil tertawa kecil melihat pemandangan tersebut.

"Gue ternyata selama ini hidup kayak mau berkabung."

Kalimat itu membuatnya tertawa sendiri.

Siang menjelang sore ketika Raka akhirnya memilih kemeja biru muda untuk dikenakan ke kampus. Ia memasukkan bagian depannya dengan rapi ke celana, merapikan kerah, lalu menatap cermin sekali lagi. Kali ini ia tidak mencari kekurangan. Tidak menghitung berapa sentimeter jarak tubuhnya dengan bahu orang lain. Tidak membandingkan tinggi badannya dengan siapa pun. Ia hanya memastikan rambutnya cukup rapi dan sepatu yang dipakainya tidak kotor.

Lihat selengkapnya