Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #60

Mengakui Perasaan pada Diri Sendiri

Malam datang perlahan di kamar kos Raka. Jendela dibiarkan terbuka sehingga udara malam masuk membawa aroma tanah dan suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan depan. Lampu kamar tidak dinyalakan terlalu terang. Hanya lampu meja kecil di samping kasur yang menyebarkan cahaya kekuningan ke permukaan meja belajar, sementara dari ponselnya mengalun lagu akustik dengan volume rendah. Raka duduk di tepi kasur dengan kedua siku bertumpu di paha, menatap sebuah buku catatan yang tergeletak di hadapannya. Buku itu sudah tidak lagi terlihat seperti barang miliknya sendiri karena hampir setiap beberapa halaman terdapat tulisan tangan Laras, catatan kecil di pinggir paragraf, tanda tanya, koreksi, atau komentar singkat yang terkadang begitu serius dan terkadang begitu tidak penting sampai membuat Raka tertawa ketika membacanya kembali.

Ia membuka halaman tengah.

Di sana ada tulisan Laras yang berbunyi, "Menurutku bagian ini menarik, tapi kamu kebanyakan mikir."

Raka mendengus.

"Katanya diskusi."

Ia membalik halaman berikutnya.

Ada tulisan lain.

"Jangan lupa makan."

Halaman selanjutnya.

"Kalau capek, istirahat dulu."

Raka berhenti.

Ujung jarinya menyentuh tulisan itu pelan. Sederhana sekali. Tidak ada kalimat besar. Tidak ada ungkapan romantis. Tidak ada janji tentang masa depan. Hanya sebuah pengingat kecil dari seseorang yang memperhatikannya bahkan ketika Raka tidak meminta diperhatikan.

Ia menundukkan kepala.

Ada begitu banyak hal yang sudah berubah dalam dirinya sejak hari ketika ia duduk sendirian di kamar gelap dan merasa hidupnya selesai. Saat itu, ia benar-benar percaya bahwa penolakan Anin adalah semacam bukti terakhir dari seluruh ketakutan yang ia simpan sejak sekolah. Tinggi badannya, wajahnya, tubuhnya, semuanya terasa seperti alasan yang cukup untuk menyimpulkan bahwa dirinya tidak layak dicintai. Ia mengira kalau seseorang yang ia anggap sempurna saja bisa menolaknya dengan begitu mudah, berarti seluruh dunia juga akan melakukan hal yang sama.

Namun Laras datang bukan untuk membuktikan bahwa dunia akan menyukainya.

Laras datang untuk membuat Raka memahami bahwa ia tidak harus mendapatkan persetujuan seluruh dunia.

Raka mengusap wajahnya pelan.

Dulu ia mencintai Anin dengan cara yang membuat dirinya terus-menerus bekerja. Mengantar obat, membantu laptop, hadir ketika dipanggil, menjadi orang yang selalu siap ketika dibutuhkan. Ia mengira cinta berarti menjadi berguna. Ia mengira kalau dirinya cukup berguna, suatu hari seseorang akan melihat nilai dirinya dan memilihnya.

Laras tidak pernah memintanya melakukan semua itu.

Laras bahkan sering memintanya berhenti.

"Udah, Rak. Nggak usah."

"Kenapa?"

"Karena kamu nggak harus selalu bantu aku."

Kalimat sederhana itu dulu terasa aneh.

Sekarang Raka mengerti.

Ia tidak sedang mencintai Laras karena Laras membutuhkan dirinya. Ia mencintai Laras karena di dekat perempuan itu, ia tidak merasa harus membuktikan apa pun.

Lihat selengkapnya