Pintu gedung ujian terbuka tepat ketika matahari mulai condong ke barat, menumpahkan cahaya keemasan di sepanjang koridor kampus yang sejak pagi dipenuhi langkah tergesa-gesa, suara halaman dibalik, dan bisik-bisik mahasiswa yang mengulang materi untuk terakhir kalinya. Raka keluar bersama arus mahasiswa lain sambil membawa lembar jawaban yang sudah tidak mungkin ia ubah lagi di dalam ingatan. Tangannya masih menggenggam pulpen hitam yang sejak tadi pagi terasa seperti benda paling penting di dunia, sementara di kepalanya masih tersisa beberapa potong rumus, istilah, dan pertanyaan yang barangkali akan menghantuinya selama beberapa jam sebelum akhirnya larut begitu saja. Ia mengembuskan napas panjang, kemudian berhenti sebentar di anak tangga depan gedung untuk meregangkan bahu yang kaku. Ada rasa ringan yang perlahan memenuhi dadanya, bukan semata karena ujian akhirnya selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama ia menyadari bahwa ia tidak sedang berusaha membuktikan apa pun kepada siapa pun.
“Gila,” suara Laras terdengar dari belakang, disusul langkahnya yang cepat menuruni tangga. “Otakku rasanya kayak habis diperas.”
Raka menoleh dan mendapati Laras berdiri dua anak tangga di atasnya, rambutnya sedikit berantakan karena seharian berkutat dengan soal dan catatan, sementara beberapa helai jatuh di dekat pipinya. Ia membawa dua buku tebal yang dipeluk ke dada, tetapi ekspresi wajahnya justru terlihat jauh lebih ringan daripada beberapa jam sebelumnya. Begitu mata mereka bertemu, Laras mengangkat kedua alisnya seolah menantang Raka untuk memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri.
“Berapa nomor yang kamu yakin salah?” tanyanya.
Raka berpikir sebentar. “Kalau dihitung dari yang aku inget sekarang?”
“Iya.”
“Dua.”
“Cuma dua?”
“Bisa jadi tujuh.”
Laras langsung tertawa. “Nah, kan. Aku tahu kamu pasti jawab begitu.”
Raka ikut tertawa, suara yang keluar begitu spontan sampai ia sendiri sedikit terkejut mendengarnya. Dahulu, bahkan setelah melewati sesuatu yang menyenangkan, ia terbiasa menahan ekspresi seolah setiap bentuk kegembiraan harus diperiksa lebih dahulu sebelum boleh ditampilkan. Ia selalu khawatir terlihat terlalu bersemangat, terlalu kekanak-kanakan, terlalu berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Namun kini ia berdiri di tengah kerumunan mahasiswa yang saling berseru, tertawa, dan mengeluh tentang soal ujian tanpa merasa perlu mengecilkan dirinya sendiri. Tawa Laras bercampur dengan suara puluhan mahasiswa lain yang turun dari gedung, dan untuk beberapa detik Raka hanya berdiri di sana sambil memandang perempuan di hadapannya dengan senyum yang tidak lagi ia sembunyikan.
“Yang penting selesai,” kata Laras sambil akhirnya turun ke anak tangga tempat Raka berdiri. “Nilainya urusan nanti.”
Raka mengangguk. “Setuju.”
Mereka berjalan meninggalkan gedung ujian secara perlahan, membiarkan kerumunan mahasiswa mendahului mereka. Lapangan utama kampus terlihat berbeda sore itu. Setelah berminggu-minggu suasana kampus dipenuhi wajah tegang dan mahasiswa yang berjalan sambil membawa buku, kini tempat itu seperti baru saja dibebaskan dari sebuah beban bersama. Beberapa kelompok duduk bergerombol di atas rumput, sebagian membuka bungkus makanan dan minuman yang dibawa dari luar kampus, sementara yang lain sibuk mengambil foto dengan pose-pose konyol sebagai tanda bahwa mereka akhirnya berhasil melewati pekan ujian. Dari kejauhan terdengar suara seseorang meneriakkan, “Bebas!” yang langsung disambut sorakan dari kelompok lain, disusul tepuk tangan dan tawa yang bergulung di bawah pepohonan.
Bendera-bendera fakultas yang terpasang di sepanjang sisi lapangan bergerak tertiup angin sore. Warna-warni kainnya terlihat semakin hidup diterpa cahaya matahari yang mulai rendah, sementara bayangan pohon memanjang di atas paving. Raka berjalan di samping Laras tanpa terburu-buru, sesekali menoleh ketika ada kelompok mahasiswa yang berlari melewati mereka. Di tengah keramaian itu, tubuh Raka yang hanya setinggi 154 sentimeter tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan. Tidak ada tangan yang secara refleks menarik ujung kemejanya untuk menutupi badan. Tidak ada bahu yang membungkuk agar ia tampak lebih kecil. Tidak ada pandangan gelisah yang mencari-cari lelaki lain untuk membandingkan tinggi badan.
Ia hanya berjalan.
Dan untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.
“Kamu mau langsung pulang?” tanya Laras.
Raka menggeleng. “Belum.”
“Kenapa?”
“Pengen jalan dulu.”
Laras menoleh. “Ke mana?”
“Mana aja.”
Jawaban itu membuat Laras tersenyum kecil. “Jawaban kamu makin hari makin nggak jelas.”
“Bukannya itu bagus?”
“Kenapa bagus?”
“Berarti hidupku nggak lagi harus punya tujuan lima tahun ke depan setiap kali mau jalan.”
Laras tertawa lagi, kali ini lebih pelan. Ia mengerti apa yang dimaksud Raka, bahkan tanpa perlu membahasnya lebih jauh. Selama bertahun-tahun Raka menjalani hidup seperti seseorang yang terus-menerus berdiri di depan papan pengumuman yang menentukan apakah dirinya cukup baik atau tidak. Tinggi badan, wajah, kemampuan akademik, cara berbicara, penerimaan orang lain, semuanya seperti angka yang harus dikumpulkan agar ia memperoleh hak untuk merasa berharga. Bahkan ketika ia melakukan sesuatu dengan baik, selalu ada bagian dalam dirinya yang segera bertanya apa lagi yang harus ia lakukan agar tidak ditinggalkan.
Sekarang pertanyaan itu mulai kehilangan suaranya.
Mereka sampai di tengah lapangan. Laras meletakkan kedua bukunya di bangku panjang yang berada di bawah pohon, kemudian duduk sebentar. Raka ikut duduk di sampingnya. Di depan mereka, sekelompok mahasiswa sedang melempar-lempar bola plastik sambil tertawa. Seorang mahasiswa lain berusaha mengambil foto dengan latar belakang bendera fakultas, tetapi temannya justru sengaja masuk ke dalam frame dengan wajah aneh. Mereka semua terlihat begitu tidak peduli pada bagaimana mereka tampak di mata orang lain.
Raka memperhatikan mereka cukup lama.
“Kenapa?” Laras bertanya.
“Lagi lihat orang.”
“Orang sebanyak itu?”
“Iya.”
“Terus?”
Raka mengusap kedua telapak tangannya di atas celana, lalu tersenyum samar. “Dulu aku mungkin bakal sibuk mikirin mereka.”
“Dalam arti?”
“Siapa yang lebih tinggi. Siapa yang lebih ganteng. Siapa yang kelihatannya lebih sukses. Siapa yang kalau berdiri di samping cewek bakal kelihatan lebih cocok.” Ia berhenti sejenak, memandang lapangan yang semakin ramai. “Sekarang aku lihat mereka ya cuma sebagai orang.”
Laras tidak langsung menjawab.
Raka menunduk sebentar, memperhatikan ujung sepatunya. “Aneh, ya?”
“Nggak.”
“Dulu rasanya tinggi badan orang lain kayak ancaman.”
Laras menoleh kepadanya. “Sekarang?”
“Sekarang ya... tinggi badan orang lain cuma tinggi badan orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tetapi setelah mengucapkannya Raka merasakan sesuatu bergerak pelan di dalam dadanya. Bukan ledakan kebahagiaan. Bukan pula kemenangan dramatis yang membuat seluruh masa lalunya tiba-tiba hilang. Lebih seperti sebuah simpul yang selama bertahun-tahun terlalu kencang akhirnya sedikit mengendur.
Laras memandangnya dengan senyum yang hangat.
“Aku senang dengarnya.”
Raka menoleh. “Kenapa?”
“Karena kamu akhirnya bisa melihat dunia tanpa harus selalu melihat posisi kamu di dalamnya.”
Raka diam.
Angin sore melewati mereka, membawa aroma rumput yang hangat dan suara kendaraan dari jalan depan kampus. Raka menatap Laras beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. Dulu kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya sibuk memikirkan apakah ia layak menerima perhatian seseorang seperti Laras. Sekarang ia tidak lagi merasa harus mencari alasan untuk menerima sebuah kebaikan.
“Makasih,” katanya.
Laras mengangkat bahu. “Buat apa?”
“Ya... buat semuanya.”
“Kalau bilang makasih terus, nanti aku tagih.”
“Tagih apa?”
“Es teh.”
Raka tertawa. “Oh, ternyata dari tadi ujung-ujungnya duit.”
“Ya iyalah.”
“Kirain romantis.”
“Romantis juga bayar.”
Mereka kembali tertawa. Kali ini Raka sampai menundukkan kepala karena suara tawanya sendiri. Seorang mahasiswa yang lewat sempat menoleh kepada mereka, tetapi Raka tidak merasa malu. Dahulu satu tatapan saja cukup untuk membuatnya bertanya-tanya apakah ia sedang ditertawakan atau dinilai. Sekarang tatapan itu berlalu seperti angin yang melewati lapangan. Ia tidak perlu mengejar maknanya.
Setelah beberapa menit, mereka kembali berjalan menyusuri tepian lapangan. Laras membawa bukunya lagi, sementara Raka berjalan dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Cahaya matahari semakin rendah dan warna langit perlahan berubah menjadi perpaduan biru pucat, jingga, dan kuning. Di antara gedung-gedung fakultas, beberapa burung bergerak melintas dalam kelompok kecil, sementara bayangan pepohonan menutupi sebagian jalan setapak.
“Rak.”
“Hm?”
“Kamu sadar nggak?”
“Apa?”
“Ini terakhir kali kita belajar buat ujian bareng sampai malam.”
Raka menoleh. “Maksudnya?”
“Ujiannya udah selesai.”
“Oh.”
Laras tersenyum. “Kok cuma oh?”
“Lagi nyari respons yang tepat.”
“Respons yang tepat apaan?”