Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #62

Undangan dari Masa Lalu

Pagi itu, lobi utama fakultas dipenuhi suara langkah kaki yang saling bertumpuk, gesekan sol sepatu dengan lantai keramik, dan percakapan mahasiswa yang bersahutan sebelum kelas pertama dimulai. Cahaya matahari masuk dari dinding kaca di sisi timur gedung, memantul pada permukaan poster-poster seminar yang ditempel berlapis-lapis di papan pengumuman. Sebagian poster dicetak di atas kertas glos yang terlalu mengilap hingga tulisan-tulisan kecilnya sesekali tertutup pantulan cahaya, sementara beberapa pengumuman lama terjepit di bawahnya dengan sudut kertas yang sudah menguning. Raka dan Laras berjalan berdampingan melewati kerumunan itu, masing-masing membawa beberapa buku dan map yang mereka perlukan untuk perkuliahan hari itu, sampai langkah Laras melambat di depan papan pengumuman.

"Rak."

Raka mengikuti arah pandangnya. "Hm?"

"Itu kayaknya seminar yang kemarin dibicarain anak organisasi."

Laras menunjuk sebuah poster berukuran cukup besar di bagian tengah papan. Judulnya tercetak dengan huruf tebal, mengumumkan seminar ilmiah kolaborasi lintas perguruan tinggi yang akan mempertemukan mahasiswa dan delegasi akademik dari beberapa PTN. Di bawah judul terdapat daftar nama peserta dari masing-masing kampus, lengkap dengan program studi dan keterangan sebagai delegasi. Raka mendekat beberapa langkah, kemudian sedikit memiringkan tubuh agar bisa membaca bagian bawah poster yang sebagian tertutup bayangan mahasiswa lain. Laras berdiri di sampingnya, tidak mendesak, hanya ikut mengikuti baris-baris nama dengan ujung matanya.

Raka sebenarnya tidak terlalu tertarik. Seminar semacam itu sudah terlalu sering muncul di papan pengumuman kampus. Ada yang membahas kebijakan publik, ada yang membahas isu sosial, ada pula yang membawa tema lintas disiplin yang terdengar besar tetapi pada akhirnya hanya berisi presentasi, sesi tanya jawab, lalu foto bersama. Ia hanya berniat membaca sekilas sebelum masuk kelas. Namun, pandangannya berhenti pada satu nama yang terletak di antara daftar delegasi kampus tamu.

Maya.

Dunia tidak berhenti bergerak ketika nama itu muncul di depan matanya. Orang-orang tetap berjalan. Seseorang di belakang mereka tertawa cukup keras, dua mahasiswa berdebat tentang jadwal kelas, dan suara mesin pendingin ruangan terdengar mendengung dari langit-langit lobi. Bahkan Laras masih membaca poster dengan tenang, sama sekali belum mengetahui apa yang baru saja terjadi di dalam kepala Raka. Tetapi tubuh Raka mengenali nama itu lebih cepat daripada pikirannya. Dadanya berdenyut sekali, kemudian sekali lagi, sedikit lebih cepat daripada beberapa detik sebelumnya, seolah ada bagian dari dirinya yang baru saja ditarik mundur bertahun-tahun ke sebuah ruangan yang sebenarnya sudah lama ia tinggalkan.

Maya.

Nama itu tidak datang sendirian. Bersamanya muncul kilatan-kilatan yang tidak berurutan, seperti potongan film yang diputar terlalu cepat. Seragam sekolah. Lorong kelas. Suara beberapa orang yang tertahan di kejauhan. Wajah seorang gadis yang dulu pernah ia pandang dengan perasaan yang begitu polos sampai ia sendiri tidak tahu bahwa perasaan itu akan meninggalkan bekas selama bertahun-tahun. Kemudian kalimat penolakan yang pernah diterimanya, bukan sekadar sebagai jawaban atas perasaan seorang anak laki-laki, melainkan seperti penilaian terhadap seluruh keberadaan dirinya.

Raka menelan ludah.

Tangannya yang memegang map mengencang sedikit.

Dulu, ia akan langsung menundukkan kepala ketika ingatan itu datang. Dulu, satu nama saja sudah cukup membuatnya mengukur ulang tinggi badannya, memperhatikan pantulan wajahnya di kaca, membandingkan dirinya dengan lelaki lain yang menurut pikirannya jauh lebih pantas berdiri di samping perempuan yang ia sukai. Dulu, ia bisa menghabiskan malam hanya dengan memikirkan satu pertanyaan yang sama, pertanyaan yang tidak pernah menemukan jawaban memuaskan: apa yang salah dengan dirinya?

Namun pagi ini berbeda.

Detak jantungnya memang meningkat. Tenggorokannya sempat terasa kering. Ada tekanan halus di bagian dada yang membuat napasnya sedikit lebih dalam daripada biasanya. Akan tetapi, sensasi itu berhenti di sana. Tidak berkembang menjadi badai.

"Rak."

Suara Laras membuatnya kembali sepenuhnya ke lobi.

Raka menoleh.

Laras sudah tidak melihat poster. Tatapannya kini tertuju pada wajah Raka. Matanya tidak bertanya secara agresif, tidak pula menunjukkan kepanikan. Ia hanya memperhatikan perubahan kecil yang mungkin tidak akan disadari orang lain. Bahu Raka sedikit kaku. Tatapannya terlalu lama menetap pada satu titik. Jari-jarinya menggenggam map lebih kuat.

"Kamu kenapa?"

Raka sempat membuka mulut, tetapi tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali pada nama di poster itu. Maya masih berada di sana, dicetak dengan tinta hitam yang biasa saja. Tidak ada sesuatu yang istimewa pada susunan hurufnya. Tidak ada aura mengancam. Tidak ada suara masa lalu yang keluar dari papan pengumuman itu. Hanya sebuah nama yang kebetulan pernah memiliki tempat sangat besar dalam sejarah luka seseorang.

Laras kemudian menyentuh lengan Raka.

Pelan.

Hanya telapak tangannya yang menempel sebentar pada lengan Raka melalui kain kemejanya. Tidak ada genggaman yang memaksa. Tidak ada usaha untuk menariknya menjauh dari papan. Sentuhan itu hanya seperti sebuah penanda sederhana bahwa ia tidak sendirian berdiri di sana.

Raka menatap tangan Laras, lalu wajahnya.

"Aku nggak apa-apa."

Laras tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak memaksanya bicara. "Kalau kamu belum mau cerita, nggak apa-apa."

Ada sesuatu dalam kalimat sederhana itu yang membuat dada Raka justru terasa lebih longgar.

Bukan karena Laras memberikan jawaban. Bukan karena ia mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Laras hanya memberinya ruang untuk menentukan sendiri kapan sebuah cerita perlu dikeluarkan dari kepalanya.

Raka tersenyum kecil.

"Namanya Maya."

Laras mengangguk pelan. "Orang yang kamu kenal?"

"Dulu."

Satu kata itu keluar bersama embusan napas panjang. Raka kembali menatap poster, kali ini dengan pandangan yang lebih stabil. "Dia orang dari masa SMA."

Laras tidak bertanya lebih jauh.

Raka sendiri yang akhirnya melanjutkan.

"Orang yang pernah nolak aku."

Ekspresi Laras berubah sedikit, tetapi bukan menjadi iba. Lebih seperti memahami bahwa ada sesuatu yang jauh lebih panjang daripada satu kalimat pendek tersebut. Ia mengusap ringan lengan Raka sekali sebelum melepaskan tangannya.

"Dan sekarang namanya ada di sini."

"Iya."

"Makanya kamu kaget?"

Raka mengangguk.

Ia kemudian tersenyum tipis. Kali ini senyumnya lebih nyata.

"Aku kira bakal lebih parah."

Laras memperhatikannya.

"Parah gimana?"

"Dulu, kalau lihat sesuatu yang ngingetin aku sama dia, rasanya kayak..." Raka mencari kata yang tepat. "Kayak seluruh badan langsung percaya kalau aku masih anak SMA yang sama."

Laras diam.

"Tapi sekarang nggak."

Raka menghela napas. Ia mengangkat dagu sedikit dan melihat lagi nama Maya untuk terakhir kalinya.

"Jantungku memang sempat kenceng. Tapi cuma itu."

Laras tersenyum kecil.

"Berarti kamu baik-baik aja."

Raka menoleh kepadanya.

"Kayaknya."

"Kalau masih berdebar?"

"Ya dibiarkan aja."

Laras tertawa pelan. "Tumben bijak."

Raka ikut tertawa.

"Jangan dibiasain."

Mereka meninggalkan papan pengumuman itu bersama-sama. Di belakang mereka, nama Maya tetap tercetak di antara puluhan nama lain. Tidak lebih besar. Tidak lebih gelap. Tidak lebih penting.

Raka tidak menoleh lagi.

Beberapa langkah kemudian, ia menyadari sesuatu yang sederhana tetapi terasa sangat besar.

Nama itu masih mampu mengingatkannya pada rasa sakit.

Tetapi nama itu sudah tidak mampu menentukan bagaimana hari ini harus berjalan.

Dan untuk pertama kalinya, Raka tidak merasa perlu membuktikan apa pun kepada masa lalu.

Sore harinya, setelah kelas selesai, mereka berhenti di kedai teh sederhana yang terletak tidak jauh dari gerbang kampus. Tempat itu tidak pernah terlalu ramai pada sore hari. Hanya ada beberapa meja kayu, kursi-kursi sederhana, etalase kecil berisi makanan ringan, serta teko-teko logam yang terus mengepulkan uap di balik meja kasir. Lampu-lampu kuning yang tergantung rendah di atas beberapa meja mulai dinyalakan ketika matahari turun, membuat ruangan kecil itu terasa lebih hangat dibandingkan udara luar yang mulai berembus lembap.

Lihat selengkapnya