Pukul delapan kurang seperempat pagi, Hall Utama Auditorium PTN sudah dipenuhi suara-suara yang saling bertumpuk. Dengung pendingin ruangan terdengar konstan dari balik langit-langit, bercampur dengan gesekan kaki kursi, bunyi kertas yang dibolak-balik, dan percakapan para panitia yang sejak tadi mondar-mandir memastikan seminar lintas kampus itu benar-benar siap dibuka. Jajaran kursi berbalut kain merah tersusun rapi menghadap panggung utama, sementara sebuah spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang tergantung di belakang podium, sedikit bergoyang setiap kali hembusan pendingin udara menyentuh permukaannya. Di depan hall, meja registrasi dibagi menjadi beberapa bagian, masing-masing dilengkapi daftar peserta, kartu identitas, map seminar, pulpen, dan perangkat komputer yang tersambung dengan sistem pencatatan kedatangan. Di tengah kesibukan itu, Raka berdiri sambil memeriksa kabel audio yang menjulur dari bawah meja, sesekali berjongkok untuk memastikan sambungannya tidak longgar, lalu bangkit kembali dengan sebuah clipboard di tangan.
“Coba mic satu.”
Seorang panitia di dekat panggung menekan tombol mikrofon. Suara dengung kecil terdengar dari speaker, kemudian berubah menjadi suara ketukan ketika seseorang mengetuk kepala mikrofon dua kali. Raka mengangkat kepala dan memperhatikan indikator pada mixer dari kejauhan sebelum berjalan mendekati meja teknis. Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak pula menunjukkan kecanggungan yang dulu sering muncul ketika ia harus bergerak di antara banyak orang. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru muda yang jatuh pas di tubuhnya, celana panjang gelap dengan potongan sederhana, dan sepatu yang bersih tanpa terlihat berlebihan. Tidak ada jaket kebesaran yang menggantung di tubuhnya, tidak ada kedua tangan yang sengaja dimasukkan ke saku untuk menyembunyikan postur, dan tidak ada kebiasaan menundukkan kepala ketika melewati mahasiswa yang lebih tinggi darinya.
“Mic satu aman,” katanya setelah melihat indikator. “Tapi kabel XLR-nya agak ketarik. Kalau nanti pembicara berdiri terlalu jauh dari podium, jangan dipaksa. Geser stand-nya aja.”
“Oke, Rak.”
“Laptop presentasi udah dites?”
“Udah.”
“Backup file?”
Panitia yang ditanya terdiam sesaat. “Belum semua.”
Raka mengulurkan tangannya. “Kirim ke aku. Aku salin ke dua laptop sekalian.”
“Siap.”
Tidak ada nada menggurui dalam suaranya. Ia hanya mengatakan apa yang perlu dilakukan, kemudian kembali ke meja registrasi. Tangannya bergerak cepat menyusun map berdasarkan asal kampus, memastikan daftar nama delegasi tidak tertukar dengan peserta umum. Sesekali ia mencocokkan nomor peserta dengan lembar kedatangan, lalu menempatkan kartu identitas pada kotak yang sudah diberi label. Gerakannya sederhana, tetapi teratur, seolah semua kekacauan kecil yang mengelilinginya telah menemukan tempat masing-masing begitu masuk ke dalam pikirannya.
Dari sisi meja registrasi, Laras memperhatikan semuanya sambil memegang setumpuk kartu peserta. Ia sudah beberapa menit berdiri di sana, tetapi tidak banyak bicara. Sesekali ia memberikan kartu kepada peserta yang datang, tersenyum, lalu mengarahkan mereka menuju meja berikutnya. Namun, di antara semua aktivitas itu, matanya beberapa kali kembali kepada Raka.
Ada sesuatu yang selalu membuatnya tersenyum diam-diam ketika melihat Raka bekerja.
Bukan karena Raka mendadak berubah menjadi seseorang yang gemar mengambil alih ruangan. Justru sebaliknya. Raka tidak pernah berusaha menjadi pusat perhatian. Ia tidak meninggikan suara agar didengar, tidak memotong pembicaraan orang lain, dan tidak sibuk menunjukkan bahwa dirinya paling tahu. Ia hanya memahami apa yang harus dikerjakan, lalu mengerjakannya. Ketika ada masalah, ia mencari penyebabnya. Ketika ada orang yang bertanya, ia menjawab seperlunya. Ketika tidak tahu, ia tidak malu mengatakan bahwa ia tidak tahu.
Laras pernah melihat Raka dalam keadaan yang jauh berbeda dari pagi ini. Ia pernah melihat laki-laki itu duduk berjam-jam dengan pandangan kosong, menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh. Ia pernah melihat bagaimana tangan Raka gemetar ketika berbicara tentang masa lalu, bagaimana suaranya mengecil ketika membicarakan tubuhnya sendiri, dan bagaimana satu komentar sederhana dari orang lain bisa membuat seluruh harga dirinya terasa seperti sedang ditarik kembali ke titik paling rendah.
Sekarang laki-laki itu berdiri beberapa meter di depannya, memegang clipboard dengan bahu tegak.
Bukan tubuhnya yang berubah secara ajaib.
Cara Raka memandang tubuhnya sendirilah yang berubah.
“Laras.”
Laras sedikit tersentak dari lamunannya. Raka sudah berdiri di depannya.
“Hmm?”
“Map delegasi kampus luar yang warna putih taruh di meja sebelah, ya. Yang biru buat peserta umum.”
“Oh.” Laras melihat tumpukan map di tangannya, lalu terkekeh kecil. “Aku dari tadi ngelamun, ya?”
Raka mengangkat alis. “Lumayan.”
“Ketahuan?”
“Banget.”
Laras tersenyum. “Kamu makin galak sekarang.”
“Galak dari mana?”
“Nyuruh-nyuruh.”
“Aku cuma ngasih tahu.”
“Ya, itu namanya nyuruh.”
Raka tertawa kecil. “Kalau aku nggak nyuruh, nanti map-nya ketuker.”
“Alasan.”
“Fakta.”
Laras menggeleng sambil membawa map putih menuju meja sebelah. Ketika ia melewati Raka, bahunya sengaja menyenggol ringan lengan laki-laki itu. Raka hanya melirik sebentar, kemudian kembali memeriksa daftar peserta. Ada kehangatan kecil yang mengalir di antara mereka, sesuatu yang tidak membutuhkan pengumuman atau definisi. Mereka telah melewati cukup banyak hal untuk memahami bahwa kedekatan tidak selalu membutuhkan kata-kata besar.
Beberapa menit kemudian, suara kendaraan mulai terdengar dari halaman depan auditorium. Rombongan mahasiswa dari beberapa kampus luar mulai berdatangan. Sebagian mengenakan jas almamater, sebagian memakai kemeja organisasi, sementara beberapa dosen pendamping berjalan di belakang mereka dengan map seminar di tangan. Pintu utama hall terbuka lebar, membiarkan cahaya pagi masuk bersama arus manusia yang perlahan memenuhi ruangan. Seorang panitia bagian penyambutan berdiri di dekat pintu dengan bunga ucapan selamat datang, memberikan salam kepada setiap rombongan yang masuk.
“Selamat datang.”
“Terima kasih.”
“Registrasinya di depan, ya.”
“Baik.”
Raka berdiri ketika rombongan pertama mendekati meja. Ia mengambil daftar kedatangan, tersenyum sopan, lalu mempersilakan mereka menyerahkan formulir. Satu per satu nama diperiksa. Kartu identitas diberikan. Map seminar berpindah tangan. Pertanyaan mengenai ruang tunggu dijawab. Ketika ada peserta yang salah memasukkan nomor registrasi, Raka membantu memperbaikinya tanpa membuat orang itu merasa bersalah.
“Nama lengkapnya siapa?”
“Fauzan Maulana.”
“Dari kampus mana?”
“Universitas—”
“Yang ini, ya?”
Raka menunjuk baris pada daftar. Peserta itu mengangguk.
“Sudah. Tinggal tanda tangan di sini.”
“Wah, makasih, Kak.”
“Sama-sama.”
Peserta berikutnya datang sebelum orang pertama benar-benar meninggalkan meja. Raka menggeser map, mengambil formulir baru, dan kembali bekerja.
Laras melihatnya dari samping.
Ada sesuatu yang hampir ironis dari perubahan itu.
Dulu Raka selalu merasa bahwa ketika banyak orang berkumpul, dirinya menjadi semakin kecil. Bukan sekadar secara fisik, tetapi juga dalam pikirannya sendiri. Ia pernah berdiri di antara mahasiswa-mahasiswa lain sambil membandingkan tinggi badan, bentuk wajah, pakaian, cara berjalan, bahkan cara seseorang memegang tas. Setiap laki-laki yang lebih tinggi bisa menjadi ukuran baru yang membuatnya merasa gagal. Setiap perempuan yang tampak percaya diri bisa menjadi pengingat bahwa ia merasa tidak pantas berdiri sejajar.
Sekarang, ketika mahasiswa-mahasiswa tinggi berlalu-lalang di hadapannya, Raka tidak lagi menundukkan kepala.
Ia tidak perlu membuktikan bahwa ia lebih tinggi.
Ia juga tidak perlu meminta maaf karena tidak tinggi.
Ia hanya berdiri sebagai dirinya sendiri.
Dan anehnya, justru itu yang membuat keberadaannya terasa jauh lebih besar.
“Raka.”
Suara seorang panitia memanggil dari sisi kanan.
Raka menoleh. “Kenapa?”
“Delegasi dari kampus tamu yang sesi kedua udah datang. Formulirnya nanti langsung ke kamu.”
“Oke.”
Ia kembali menatap pintu.
Beberapa orang masuk bersamaan. Jas almamater berwarna berbeda-beda bergerak melewati cahaya pagi. Ada yang bercakap-cakap sambil tertawa, ada yang sibuk mengambil foto, ada pula yang melihat papan petunjuk ruangan dengan wajah bingung. Raka menggeser beberapa map agar meja registrasi lebih longgar.
Lalu ia melihat seorang perempuan berjalan di tengah rombongan itu.
Langkahnya tidak cepat.
Rambutnya tertata rapi. Ia mengenakan pakaian formal kampus dengan tanda pengenal delegasi tergantung di dada. Di tangannya ada sebuah folder transparan berisi formulir kedatangan. Ia berjalan bersama dua mahasiswa lain, sesekali menoleh ketika seseorang dari rombongan mereka berbicara.
Raka tidak langsung mengenalinya.
Setidaknya bukan pada detik pertama.
Wajah itu telah berubah sedikit karena waktu. Garis wajahnya lebih dewasa, gaya rambutnya berbeda, dan cara berpakaian yang dulu dikenalnya sebagai seragam sekolah kini telah digantikan pakaian formal mahasiswa. Namun, ketika perempuan itu semakin dekat dan wajahnya terkena cahaya dari pintu masuk, sesuatu di dalam ingatan Raka bergerak.
Maya.
Nama itu bahkan belum terdengar.
Tetapi otaknya sudah mengenalinya lebih dulu.
Tahun 2016 muncul seperti sebuah pintu yang tiba-tiba terbuka.
Lapangan sekolah.
Seragam.
Suara teman-teman yang terdengar terlalu jelas.
Senyum seseorang yang kemudian berubah menjadi ekspresi tidak nyaman.
Sebuah penolakan yang disampaikan dengan cara yang membuat Raka, yang saat itu masih jauh lebih muda, merasa bahwa tubuhnya adalah sesuatu yang memalukan. Ia tidak mengingat seluruh percakapan itu secara utuh. Beberapa bagian sudah kabur, tertutup bertahun-tahun oleh kejadian lain. Namun, sensasi yang ditinggalkan oleh kejadian itu masih sangat mudah dikenali.
Dada yang mengencang.
Telapak tangan yang dingin.
Keinginan untuk menghilang dari pandangan.
Raka menarik napas perlahan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Detak jantungnya meningkat, tetapi tidak sampai membuatnya kehilangan kendali. Ia merasakan sensasi itu sebagaimana seseorang merasakan bekas luka ketika cuaca berubah. Ada nyeri samar yang datang tanpa izin, tetapi nyeri itu tidak lagi menentukan apa yang harus ia lakukan.
Laras yang berdiri di sebelahnya melihat perubahan kecil pada wajah Raka.
Bukan perubahan besar. Tidak ada kepanikan. Tidak ada wajah pucat atau tubuh yang tiba-tiba mundur.
Hanya tatapan yang sempat berhenti.