Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #64

Langkah Kaki yang Tetap Lurus

Jam istirahat siang membuat koridor luar auditorium berubah menjadi jalur lalu lintas yang sibuk. Dari pintu kaca yang terbuka menuju hall utama, suara percakapan mahasiswa bercampur dengan denting sendok, bunyi piring yang beradu, dan sesekali tawa yang meledak dari kelompok-kelompok peserta seminar yang sedang menikmati makan siang buffet. Udara dari pendingin ruangan merembes keluar setiap kali pintu otomatis terbuka, bertabrakan dengan udara siang yang hangat dan membuat permukaan kaca sedikit berembun di bagian bawah. Di sepanjang koridor, pilar-pilar beton menjulang dengan bayangan tegas di lantai, sementara beberapa poster seminar yang ditempel sementara bergerak-gerak pelan tertiup angin dari halaman.

Raka berjalan melewati semua itu dengan setumpuk berkas di bawah lengan kirinya. Langkahnya tidak cepat, tetapi memiliki ritme yang pasti. Kemeja panitia yang dikenakannya telah sedikit berkerut di bagian siku setelah sejak pagi berpindah dari meja registrasi ke ruang teknis, lalu kembali ke auditorium ketika salah satu berkas peserta harus diperiksa ulang. Sesekali dia menunduk untuk memastikan susunan dokumen di tangannya tidak bergeser, kemudian kembali menatap lurus ke depan. Tidak ada lagi kebiasaan lama untuk mengecilkan bahu ketika berpapasan dengan mahasiswa laki-laki yang lebih tinggi darinya, tidak ada lagi tangan yang refleks merapikan rambut hanya karena merasa seseorang mungkin sedang memperhatikannya.

Dulu, koridor kampus seperti ini bisa membuatnya sadar terhadap tubuhnya sendiri setiap beberapa langkah. Tinggi seratus lima puluh empat sentimeter membuat pandangannya sering tanpa sadar mencari siapa saja yang lebih tinggi, lalu pikirannya bekerja sendiri membandingkan bahu, kaki, bentuk wajah, atau cara seseorang membawa diri. Sekarang kesadaran itu tidak sepenuhnya hilang, tetapi tidak lagi menjadi pusat pikirannya. Dia tahu tubuhnya tetap sama. Tingginya tidak bertambah secara ajaib, wajahnya tidak berubah menjadi wajah yang selama bertahun-tahun dia bayangkan sebagai syarat agar seseorang pantas dicintai. Yang berubah adalah cara dia berdiri di dalam tubuh itu.

Raka berhenti di dekat meja kecil yang diletakkan panitia di ujung koridor untuk menaruh dokumen sementara. Dia memeriksa lembar daftar peserta, mencocokkan nomor delegasi dengan catatan di ponselnya, lalu memasukkan beberapa formulir ke dalam map transparan. Jarinya bergerak teratur, tanpa tergesa-gesa. Ketika sebuah suara dari arah hall memanggil nama salah satu panitia, dia menoleh sebentar, menjawab bahwa berkas yang dicari ada di meja registrasi, kemudian kembali pada pekerjaannya seolah tidak ada sesuatu yang perlu dipikirkan lebih jauh.

Beberapa meter dari sana, Maya berdiri di antara arus peserta yang keluar masuk. Sejak pagi, dia sudah beberapa kali menangkap keberadaan Raka dari kejauhan, tetapi selalu ada orang lain yang menghalangi pandangan. Setiap kali melihatnya, ada sensasi asing yang muncul di dadanya, campuran antara keterkejutan dan sesuatu yang tidak ingin dia akui. Ingatannya tentang Raka terlalu jelas untuk disebut kabur, tetapi terlalu lama untuk dianggap sebagai gambaran yang masih utuh. Raka yang dia kenal pada 2016 adalah seorang anak laki-laki yang tampak canggung di antara teman-temannya, dengan tubuh kecil yang membuatnya terlihat semakin muda dibandingkan usia sebenarnya. Saat itu Maya tidak pernah membayangkan bahwa beberapa tahun kemudian dia akan melihat sosok yang sama berdiri dengan sikap setenang itu.

Dia memperhatikan dari jauh ketika Raka selesai memeriksa berkas dan berjalan kembali menuju hall. Tidak ada satu pun gerakan Raka yang terlihat dibuat-buat. Justru ketenangan itu yang membuat Maya semakin lama semakin sulit mengalihkan pandangan. Dia melihat cara Raka berbicara kepada peserta yang bertanya arah ruang seminar, cara dia menunjuk dengan telapak tangan terbuka, cara dia mendengarkan sampai orang itu selesai berbicara sebelum menjawab. Tidak ada kegugupan. Tidak ada upaya berlebihan untuk terlihat berwibawa. Ada sesuatu yang matang pada dirinya, sesuatu yang tidak pernah Maya lihat dulu.

Maya akhirnya bergerak.

Dia menunggu sampai koridor agak lengang. Ketika Raka keluar lagi membawa beberapa lembar formulir dari meja registrasi, Maya mempercepat langkah dan berdiri di jalur yang tidak benar-benar menghalanginya, tetapi cukup dekat untuk membuat Raka menyadari kehadirannya.

"Raka."

Langkah Raka berhenti.

Dia mengangkat wajah. Tatapannya jatuh kepada Maya selama beberapa detik, tidak lama, tidak pula menunjukkan keterkejutan. Ingatan dari pagi tadi kembali melintas sebentar, tentang papan pengumuman, nama Maya yang tertulis sebagai delegasi kampus tamu, dan bagaimana jantungnya sempat berdetak lebih cepat hanya karena satu nama dari masa lalu. Namun sensasi itu sudah berlalu. Yang tersisa sekarang hanyalah kesadaran sederhana bahwa orang di depannya memang Maya.

"Oh. Maya." Nada suaranya datar, tetapi sopan. "Ada yang perlu?"

Maya sempat terdiam. Dia seperti mengharapkan sesuatu yang lain. Mungkin perubahan ekspresi, mungkin senyum terkejut, mungkin pertanyaan seperti bagaimana kabarnya setelah sekian lama. Namun Raka hanya berdiri di sana dengan map di tangan, menunggu jawaban seperti seorang panitia yang sedang menunggu peserta menjelaskan kebutuhannya.

"Aku cuma..." Maya tertawa kecil, lalu menyibakkan rambut yang jatuh di dekat pipinya. "Nggak nyangka kamu ada di sini."

"Ya, aku panitia."

"Iya, aku tahu." Maya tersenyum. "Maksudku, kamu sekarang..."

Dia berhenti sebentar, memandang Raka dari kepala sampai kaki. Tatapan itu membuat Raka menyadarinya, tetapi dia tidak mengubah posisi berdirinya.

"Berubah banget."

Raka mengangkat alis tipis. "Berubah gimana?"

"Kamu sekarang kelihatan..." Maya mencari kata yang menurutnya tepat. "Rapi. Dewasa. Terus cara kamu ngomong juga beda."

"Memangnya dulu aku ngomongnya gimana?"

Maya terkekeh. "Ya... beda aja. Dulu kamu kayak gampang gugup."

Raka tersenyum tipis, lebih karena mendengar sesuatu yang terasa seperti deskripsi terhadap orang lain. "Dulu aku masih SMA."

"Iya, tapi bukan itu." Maya menatapnya lagi. "Entah kenapa aku baru sadar kalau kamu ternyata..." Dia kembali berhenti, seolah kalimat berikutnya terlalu terus terang. "Keren juga sekarang."

Raka tidak langsung menjawab. Angin dari halaman membawa aroma makanan yang masih tertinggal dari area buffet, bercampur dengan aroma rumput yang baru disiram. Di belakang Maya, dua mahasiswa dari kampus tamu berjalan sambil membawa gelas plastik berisi es teh, tertawa membicarakan acara yang baru saja mereka ikuti. Raka mendengar semuanya seperti suara latar yang tidak memiliki hubungan dengan percakapan di depannya.

"Dulu aku nggak pernah lihat kamu kayak sekarang," lanjut Maya. "Mungkin karena waktu itu aku masih..."

Dia menggantungkan kalimatnya.

Raka tahu ada sesuatu yang sedang dibangun Maya dalam percakapan itu. Bukan pertanyaan tentang seminar. Bukan persoalan teknis. Ada nostalgia yang sedang dicoba dikeluarkan sedikit demi sedikit, seperti seseorang membuka pintu yang sengaja ditutup bertahun-tahun lalu dan berharap orang di seberangnya masih berdiri di tempat yang sama.

Raka tidak membuka pintu itu.

"Kalau nggak ada urusan panitia, aku harus balikin berkas ini dulu."

Maya berkedip. "Kamu buru-buru?"

"Memang lagi kerja."

"Oh." Maya tersenyum lagi, kali ini agak canggung. "Santai aja, aku cuma pengin ngobrol."

"Kita bisa ngobrol kalau memang ada urusan seminar."

"Harus urusan seminar?"

Raka memandangnya. Pertanyaan itu terdengar ringan, tetapi ada sesuatu yang menunggu di baliknya.

"Kalau soal pribadi, kayaknya nggak perlu."

Untuk pertama kalinya, senyum Maya menghilang sesaat.

Dia memandangi Raka seperti sedang mencoba mencocokkan orang yang berdiri di hadapannya dengan seseorang yang dia ingat. Tidak masuk akal, pikirnya. Raka yang dulu seharusnya masih menyimpan sesuatu. Setidaknya sedikit rasa sakit. Sedikit kebencian. Sedikit rasa ingin membuktikan bahwa dirinya sekarang lebih baik. Tetapi Raka tidak menunjukkan semua itu.

Justru sikap acuhnya yang membuat Maya merasa terganggu.

"Rak," katanya pelan, "serius amat."

Raka menghela napas kecil. "Aku nggak serius."

"Terus?"

"Aku cuma lagi kerja."

Maya tertawa kecil lagi, tetapi kali ini terdengar dipaksakan. "Kamu masih inget, kan?"

Raka tidak menjawab.

"Tahun 2016."

Angka itu jatuh di antara mereka seperti benda yang dilempar ke permukaan air yang tenang.

Untuk sepersekian detik, Raka merasakan sesuatu bergerak di dalam dada. Bukan lagi hantaman yang membuat napasnya sesak seperti bertahun-tahun lalu, tetapi sebuah getaran refleks yang sangat familiar. Tahun 2016. Ruang sekolah. Suara-suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan. Wajah Maya yang masih muda. Kata-kata yang dulu membuatnya pulang dengan langkah berat dan berdiri lama di depan cermin, bertanya kepada dirinya sendiri mengapa bentuk tubuhnya bisa membuat seseorang memandangnya seolah dia tidak pantas bahkan untuk sekadar berharap.

Ingatan itu datang cepat.

Lalu pergi.

Raka berkedip.

Dia menatap Maya kembali.

"Masih inget," jawabnya.

Maya tersenyum lega, seolah baru mendapatkan konfirmasi yang dia cari. "Nah. Aku kira kamu udah lupa."

"Nggak."

"Padahal dulu..." Maya menggigit bibir bawahnya sebentar, kemudian tertawa kecil. "Lucu juga kalau diingat sekarang."

Raka tidak ikut tertawa.

Maya tampaknya baru menyadari itu.

"Maksudku bukan lucu karena nyakitin kamu," katanya cepat. "Aku cuma ngerasa waktu itu kita masih anak-anak. Banyak hal yang kita lakukan tanpa mikir panjang."

Raka mengangguk sekali. "Iya."

"Dan kamu juga dulu terlalu serius."

Raka memiringkan kepala sedikit.

Maya melanjutkan, "Aku masih inget kamu waktu itu. Kamu tuh..." Tatapannya turun sebentar, kemudian kembali ke wajah Raka. "Gimana ya? Kelihatan banget suka sama aku."

Kalimat itu seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan.

Dulu, mungkin Raka akan menundukkan kepala. Mungkin telinganya memerah. Mungkin pikirannya akan berputar mencari kemungkinan apakah Maya sedang mengejeknya atau justru membuka kesempatan baru. Sekarang dia hanya mendengarkan.

Lihat selengkapnya