Dari balkon lantai dua auditorium, seluruh ruangan tampak seperti hamparan warna yang bergerak pelan. Barisan kursi berlapis kain merah memenuhi lantai utama sampai mendekati panggung, sebagian besar sudah terisi oleh peserta seminar yang baru saja kembali dari makan siang. Suara percakapan naik dalam lapisan-lapisan yang tidak pernah benar-benar menjadi satu, bercampur dengan bunyi kursi yang digeser, denting botol minum yang diletakkan di meja, dan suara pembawa acara yang sesekali terdengar dari pengeras suara untuk mengingatkan peserta agar segera kembali ke tempat masing-masing. Cahaya siang yang masuk dari jendela-jendela tinggi memantul pada permukaan lantai, sementara dari atas balkon Anin berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pagar besi, menatap ke bawah tanpa benar-benar mengikuti jalannya seminar. Matanya sejak tadi hanya mencari satu orang. Raka.
Dia menemukannya tidak jauh dari meja teknis di sisi depan ruangan, berdiri bersama Laras.
Anin tidak tahu persis sejak kapan pandangannya berhenti pada sosok itu. Mungkin sejak beberapa menit lalu, ketika dia melihat Raka membungkuk sebentar untuk memeriksa sesuatu pada berkas panitia, kemudian menoleh kepada Laras sambil mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu tertawa kecil. Atau mungkin sejak pertama kali memasuki auditorium pagi tadi dan menyadari bahwa orang yang selama ini hanya hidup sebagai potongan ingatan buruk dalam kepalanya ternyata benar-benar berdiri beberapa meter di hadapannya, dalam wujud yang sama sekali tidak sesuai dengan bayangan masa lalu. Raka masih memiliki tubuh yang kecil, masih jauh lebih pendek daripada kebanyakan mahasiswa laki-laki yang memenuhi ruangan itu, tetapi cara dia berdiri telah berubah. Bahunya tidak lagi melengkung seperti seseorang yang secara naluriah ingin mengecilkan tubuhnya. Kepalanya tidak lagi tertunduk ketika berhadapan dengan orang lain. Bahkan ketika harus memberikan instruksi kepada panitia yang lebih tinggi darinya, suaranya terdengar tenang dan jelas, tanpa nada meminta maaf hanya karena dirinya sedang mengambil ruang.
Ada sesuatu yang mengganggu Anin dari pemandangan itu.
Bukan karena Raka terlihat berbeda.
Justru karena Raka terlihat begitu biasa.
Begitu nyaman menjadi dirinya sendiri.
Dulu, Anin tidak pernah memperhatikan hal-hal seperti itu. Ketika Raka berdiri di sampingnya, dia hanya melihat perbedaan yang mudah dilihat mata. Tinggi badan, penampilan, cara berpakaian, lingkar pergaulan. Raka adalah seseorang yang selalu tersedia ketika dibutuhkan, tetapi hampir tidak pernah dia pikirkan ketika tidak sedang membutuhkan sesuatu. Dia mengingat Raka sebagai laki-laki yang mudah dipanggil, mudah dimintai tolong, mudah diyakinkan bahwa keberadaannya penting hanya dengan satu pesan singkat. Kalau laptopnya bermasalah, Raka datang. Kalau dia sakit, Raka mencarikan obat. Kalau dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluhannya sampai malam, Raka ada. Dulu Anin mengira semua itu adalah bentuk kesetiaan yang memang seharusnya diberikan seseorang yang menyukainya.
Sekarang, dari lantai dua, dia baru menyadari betapa anehnya pemikiran itu.
Raka tidak sedang berusaha membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Dia hanya sedang bekerja.
Seorang panitia dari sisi lain datang membawa map tebal. Raka menerima map itu, membukanya, lalu memeriksa beberapa lembar di dalamnya. Dia bertanya sesuatu dengan ekspresi serius, mendengarkan jawaban panitia tersebut, kemudian menunjuk salah satu bagian formulir. Tidak ada gestur berlebihan. Tidak ada usaha membuat dirinya tampak paling pintar. Tidak ada senyum dibuat-buat untuk mendapatkan penerimaan. Setelah urusan selesai, Raka mengangguk dan menyerahkan kembali map itu.
Laras berdiri di sampingnya.
Gadis itu tidak sedang mengagumi Raka seperti orang-orang yang baru menemukan seseorang yang menarik. Laras tampak seperti seseorang yang sudah tahu betul siapa orang yang berdiri di sebelahnya. Sesekali dia ikut melihat dokumen yang dibawa Raka, lalu mengatakan sesuatu. Raka menanggapi dengan senyum kecil. Tidak besar, tidak dibuat untuk dilihat orang lain, tetapi cukup untuk mengubah seluruh wajahnya.
Anin menatap senyum itu lebih lama daripada yang seharusnya.
Dadanya terasa aneh.
Bukan sakit.
Bukan pula rindu.
Lebih seperti ruang kosong yang tiba-tiba disadari keberadaannya.
Dia menggeser jemari di atas pagar balkon, mencoba mengalihkan pandangan ke panggung. Namun beberapa detik kemudian matanya kembali turun. Raka masih di sana.
Laras mengatakan sesuatu lagi.
Kali ini Raka tertawa.
Anin membeku.
Dia pernah melihat Raka tersenyum. Bahkan cukup sering. Raka dulu mudah tersenyum kepadanya, terutama ketika Anin meminta bantuan atau sekadar mengeluhkan sesuatu. Namun senyum-senyum itu selalu memiliki sesuatu yang tidak pernah dia mengerti. Ada kehati-hatian di sana. Ada harapan yang disembunyikan di balik kesediaan. Ada semacam pertanyaan yang tidak pernah diucapkan, seolah Raka selalu menunggu satu tanda bahwa dirinya akhirnya dianggap cukup.
Senyum yang sekarang berbeda.
Tidak ada permintaan di dalamnya.
Tidak ada penantian.
Tidak ada usaha untuk mendapatkan sesuatu.
Hanya bahagia.
Anin menelan ludah.
"Kalau mau lihat dia, sekalian turun aja."
Suara itu membuat Anin tersentak kecil. Dia menoleh dan melihat Maya berjalan mendekat dari arah pintu balkon. Maya membawa gelas plastik berisi minuman dingin yang sebagian esnya sudah mencair. Ekspresinya tidak lagi seantusias ketika pertama kali bertemu Raka pagi tadi. Ada ketidaksenangan yang jelas terlihat dari cara bibirnya mengerucut dan alisnya sedikit bertaut.
Anin kembali memandang ke bawah.
"Aku cuma lihat-lihat."
Maya berdiri di sebelahnya, mengikuti arah pandangan Anin. Tidak perlu waktu lama baginya untuk menemukan Raka.
"Dia nyebelin banget."
Anin tidak menjawab.
"Serius. Aku tadi cuma mau ngobrol sebentar, dia malah kayak..." Maya mengangkat bahu, mencari kata yang tepat. "Kayak aku orang asing."
Anin menoleh perlahan.
"Memangnya kalian bukan orang asing?"
Maya terdiam.
Pertanyaan itu terdengar lebih tajam daripada yang Anin rencanakan. Dia sendiri sedikit terkejut mendengar nada suaranya. Maya menatapnya beberapa detik sebelum mengembuskan napas.
"Ya, tapi kami pernah kenal."
"Kenal?"
"Iya. Zaman SMA."
Anin kembali melihat ke bawah.
Maya meminum sedikit minumannya, kemudian bersandar pada pagar balkon. "Aku nggak ngerti deh. Masa iya cuma gara-gara waktu berlalu, orang bisa berubah sedrastis itu? Dulu dia kelihatannya..." Maya berhenti sebentar. "Ya, beda."
Anin tahu kata yang tidak diucapkan Maya.
Lemah.
Minder.
Tidak menarik.
Mudah didekati.
Mudah diabaikan.
"Terus sekarang dia sok dingin," lanjut Maya. "Padahal aku tadi udah ngajak ngobrol baik-baik. Aku bahkan bilang dia kelihatan beda sekarang. Lebih rapi, lebih..." Maya tersenyum kecil, lalu menahan kata berikutnya seperti baru sadar dirinya sedang berbicara kepada orang yang tidak tepat. "Pokoknya beda."
Anin tidak perlu bertanya apa maksud Maya.
Dia melihatnya sendiri.
"Dia nggak sombong."
Maya mengerutkan kening.
"Hah?"
"Raka nggak sombong."
"Kalau bukan sombong, namanya apa? Aku ngajak ngobrol, dia jawab seperlunya. Aku coba bercanda soal masa lalu, dia bilang masa lalu ya masa lalu. Terus langsung pergi."
Anin diam.
Di bawah sana, Raka baru saja menerima beberapa lembar dokumen dari panitia lain. Laras berdiri di sampingnya, memeriksa salah satu halaman. Raka menunduk sedikit agar bisa melihat dokumen yang sama dari sudut yang lebih dekat. Laras menunjuk sebuah bagian dengan ujung jarinya. Raka mengangguk.
Tidak ada sesuatu yang istimewa dalam adegan itu.
Namun justru karena sederhana, Anin merasakan sesuatu yang semakin berat menekan dadanya.
Raka tidak sedang menjauh dari Maya.
Raka sudah tidak berada di tempat yang sama dengan Maya.
Ada perbedaan besar di antara keduanya.
Dulu, ketika Anin menolak Raka, dia merasa bahwa dirinya sedang mengembalikan sesuatu ke tempat yang semestinya. Dalam pikirannya saat itu, Raka telah salah membaca kedekatan mereka. Raka terlalu berharap. Raka terlalu nyaman. Raka mengira kesediaan Anin menerima bantuannya berarti ada kemungkinan hubungan yang lebih jauh. Maka Anin memutusnya dengan dingin karena dia merasa perlu memberi batas yang jelas.
Dia masih mengingat wajah Raka ketika itu.
Wajah yang mendadak kehilangan warna.
Tatapan yang seperti tidak tahu harus diarahkan ke mana.
Bibir yang beberapa kali terbuka seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak pernah berhasil menemukan kalimat yang cukup pantas untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Anin ingat dia tidak mengatakan apa-apa setelahnya.
Tidak bertanya apakah Raka baik-baik saja.
Tidak mencari tahu apakah dia pulang dengan selamat.
Tidak menghubunginya lagi.
Dia hanya menganggap semuanya selesai.
Sekarang, ingatan itu kembali dengan bentuk yang berbeda.
Anin memejamkan mata sebentar.
Ada satu bagian yang paling sulit dia hadapi.
Raka bukan menjadi kuat karena Anin meninggalkannya.
Raka menjadi kuat setelah menyadari bahwa dirinya tidak perlu lagi mendapatkan pengakuan dari Anin.
Kesadaran itu terasa seperti sesuatu yang menusuk harga dirinya sendiri.
Maya masih mengomel di sampingnya.
"Aku cuma heran aja. Masa dia nggak inget sama sekali? Aku tadi sampai bilang, 'Raka, kamu masih inget aku?' Dia malah cuma bilang, 'Iya, saya ingat.' Saya."
Anin membuka mata.
"Dia bilang begitu?"
"Iya. Formal banget. Kayak aku lagi daftar seminar."
Untuk pertama kalinya sejak Maya datang, sudut bibir Anin bergerak sedikit.
Bukan senyum.
Lebih seperti pengakuan pahit terhadap sesuatu yang sebenarnya sudah dia pahami.