Sore turun perlahan di area kantin fakultas ketika sebagian besar mahasiswa mulai meninggalkan gedung perkuliahan. Matahari yang sejak siang menggantung terik di atas kompleks kampus kini sudah condong, menyisakan cahaya keemasan yang masuk dari sela-sela pepohonan dan memantul di lantai keramik dekat pintu kantin. Meja-meja kayu yang biasanya penuh oleh mahasiswa kini mulai kosong satu per satu, menyisakan beberapa gelas plastik, bungkus makanan, dan cangkir kopi yang belum sempat dibawa pulang pemiliknya. Dari salah satu sudut terdengar denting sendok yang beradu dengan bibir cangkir, disusul suara mesin pendingin minuman yang berdengung monoton. Di meja yang agak jauh dari keramaian, Raka duduk berdampingan dengan Laras, membuka laptop sambil sesekali mencatat sesuatu di lembar kertas yang diletakkan di antara mereka.
Raka masih mengenakan pakaian yang sama sejak acara seminar siang tadi, hanya lengan kemejanya yang sudah digulung sampai sedikit di bawah siku. Beberapa lembar berkas panitia tergeletak di sisi laptopnya, sebagian sudah diberi tanda centang, sebagian lain masih membutuhkan pemeriksaan ulang. Ia membaca satu halaman dengan kening sedikit berkerut, lalu menggerakkan ujung pulpen mengikuti baris-baris tulisan di atas kertas seolah sedang memastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat. Di sebelahnya, Laras tidak banyak bicara. Perempuan itu sesekali melihat layar laptopnya sendiri, tetapi lebih sering membiarkan kepalanya bersandar ringan di pundak Raka ketika pekerjaan mereka mulai memasuki bagian yang tidak terlalu membutuhkan diskusi. Bagi Raka, keberadaan Laras di sampingnya tidak lagi terasa seperti sesuatu yang harus diusahakan. Tidak ada kebutuhan untuk menghibur, mengesankan, atau membuktikan apa pun. Mereka bisa bekerja dalam diam tanpa membuat keheningan terasa canggung.
"Yang daftar peserta sesi kedua sudah kamu cocokkan sama absensi?" tanya Laras pelan tanpa mengangkat kepala.
"Sudah. Ada tiga nama yang masuk daftar tapi nggak muncul di absensi."
"Terus?"
"Aku tandai dulu. Nanti aku tanyakan ke koordinator."
Laras mengangguk kecil. Kepalanya masih berada di pundak Raka. "Oke."
Raka kembali membaca. Ada ketenangan tertentu dalam cara ia menjalani sore itu. Beberapa tahun sebelumnya, bahkan sekadar duduk di tengah keramaian kampus bisa membuatnya sibuk mengukur dirinya sendiri. Ia akan memperhatikan mahasiswa laki-laki yang berdiri lebih tinggi darinya, melihat pakaian orang lain, membandingkan wajahnya dengan wajah-wajah yang menurutnya lebih pantas mendapat perhatian, lalu diam-diam bertanya apakah keberadaannya terlalu kecil untuk diperhitungkan. Sekarang pikiran semacam itu sesekali masih muncul, tetapi tidak lagi memiliki kuasa yang sama. Ia sudah belajar bahwa harga dirinya tidak perlu dinegosiasikan setiap kali seseorang memandangnya.
Ponselnya yang diletakkan di sebelah laptop tiba-tiba bergetar.
Getarannya pendek, hanya sekali, tetapi cukup untuk membuat Raka menghentikan gerakan pulpen. Layar ponsel menyala, menampilkan notifikasi pesan dari nomor yang tidak tersimpan di kontak. Raka melirik sekilas, lalu tangannya bergerak mengambil ponsel tersebut.
Sebuah pesan masuk.
Nomor itu tidak dikenalnya.
Raka membuka layar percakapan dan membaca isinya tanpa perubahan berarti pada wajahnya.
Raka membaca pesan itu sekali lagi.
Bukan karena bingung.
Ia hanya memastikan tidak ada kalimat lain yang terlewat.
Di sampingnya, Laras merasakan perubahan kecil pada gerakan tubuh Raka. Bukan perubahan yang dramatis. Bahunya hanya berhenti bergerak selama beberapa detik, sementara ibu jarinya tidak langsung mematikan layar. Laras mengangkat kepala dari pundaknya dan melirik wajah Raka.
"Kenapa?"
Raka menoleh kepadanya.
"Maya."
Satu nama itu saja sudah cukup.
Raka tidak menutupi layar ponselnya, tidak membalik perangkat itu agar Laras tidak bisa melihat, dan tidak pula memasukkan ponselnya ke dalam saku seperti seseorang yang merasa perlu menyembunyikan percakapan. Ia justru menggeser ponsel sedikit ke arah Laras.
"Baca."
Laras menatap layar.
Matanya bergerak dari kalimat pertama sampai kalimat terakhir. Tidak ada perubahan mencolok di wajahnya. Ia hanya menghela napas pelan setelah selesai membaca, lalu mengangkat pandangan kepada Raka.
"Dia ngajak ketemu?"
"Iya."
"Berdua?"
"Iya."
Laras kembali melihat layar. Ada senyum kecil yang muncul di sudut bibirnya, bukan senyum sinis dan bukan pula senyum yang mengandung kecurigaan. Lebih seperti seseorang yang sedang menerima sebuah informasi dan tidak merasa perlu membesar-besarkannya.
"Kamu mau?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Raka mengernyit sedikit. "Mau apa?"
"Ketemu."
Raka memandang Laras beberapa detik. Pertanyaan itu seharusnya mudah dijawab, tetapi ada sesuatu dalam cara Laras menanyakannya yang membuatnya berhenti sejenak. Tidak ada nada menguji. Tidak ada tuntutan agar ia memberikan jawaban tertentu. Tidak ada upaya untuk mengarahkan pilihannya. Laras benar-benar menyerahkan keputusan itu kepadanya.
"Aku nggak tahu," jawab Raka.
Laras mengangguk. "Ya sudah, pikirin aja kalau memang perlu."
Raka melihat kembali pesan di layar.
Dulu, pesan seperti itu mungkin akan membuatnya memikirkan terlalu banyak hal. Satu kalimat bisa dibaca berkali-kali, satu kata bisa dicari makna tersembunyinya, satu ajakan bisa dianggap sebagai kesempatan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang pernah hilang. Ia pernah hidup dengan cara seperti itu. Terlalu lama.
Namun sekarang tidak.
Ia menatap kalimat merekatkan kembali hubungan pertemanan lama dan merasakan sesuatu yang aneh. Bukan rindu. Bukan marah. Bahkan bukan rasa penasaran yang cukup besar untuk membuatnya ingin bertemu.
Hanya kosong.
Bukan kosong yang menyakitkan seperti dulu.
Kosong karena memang sudah tidak ada apa-apa di sana.
"Menurut kamu?" tanya Raka.
Laras memiringkan kepala. "Menurut aku?"
"Iya."
Laras menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Kalau kamu memang punya sesuatu yang pengin dibicarakan sama dia, ya ketemu. Kalau nggak ada, ya nggak harus."
Raka diam.
"Kenapa kamu tanya aku?" lanjut Laras.
Raka mengangkat bahu. "Nggak tahu."
Laras tersenyum.
"Mungkin karena kamu pengin tahu aku bakal cemburu atau nggak?"
Raka langsung menoleh.
"Nggak."
Jawabannya terlalu cepat sampai Laras tertawa kecil.
"Nah, berarti kamu memang tahu jawabannya."
Raka ikut tersenyum tipis. "Bukan begitu."
"Terus?"
"Aku cuma pengin memastikan."
"Memastikan apa?"
Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap Laras yang sekarang sudah duduk tegak, rambutnya sedikit berantakan karena tadi bersandar di pundaknya. Ada bekas tekanan kecil pada kain kemeja Raka di bagian bahu, tempat kepala Laras bertumpu selama beberapa menit.
"Kalau aku nggak perlu menjelaskan panjang."
Senyum Laras melunak.
"Kamu nggak perlu."
Jawaban itu sederhana.
Tetapi bagi Raka, justru kesederhanaan itulah yang terasa besar.
Dulu ia selalu merasa harus menjelaskan dirinya agar seseorang tetap memilih berada di dekatnya. Ia harus berguna. Harus tersedia. Harus memahami. Harus datang ketika dipanggil. Harus menjadi orang yang bisa memperbaiki laptop, mengantar obat, mencarikan sesuatu, mendengarkan keluhan sampai larut malam, atau sekadar menjadi tempat seseorang meletakkan kebutuhan emosionalnya. Ia mengira semua itu adalah bentuk kasih sayang. Bertahun-tahun kemudian, baru ia memahami bahwa sebagian dari semua yang dilakukannya bukanlah kasih sayang yang sehat, melainkan ketakutan untuk ditinggalkan.
Laras tidak pernah meminta semua itu.
Bahkan ketika Raka tidak tahu harus berkata apa, Laras tidak memaksanya bicara.