Sesi seminar hari pertama akhirnya selesai ketika matahari sudah mulai condong ke barat, meninggalkan warna keemasan yang memantul di kaca-kaca gedung fakultas. Para peserta berangsur-angsur keluar dari auditorium dalam kelompok-kelompok kecil, sebagian masih sibuk memperdebatkan isi materi yang baru mereka dengar, sebagian lain sudah lebih dulu memikirkan makan malam, perjalanan pulang, atau tugas yang menunggu di kos. Dari pengeras suara di dalam gedung masih terdengar pengumuman teknis mengenai jadwal seminar esok hari, bercampur dengan suara kursi yang digeser dan langkah kaki yang bersahutan di lorong. Raka keluar bersama Laras beberapa menit setelah kerumunan mulai menipis, membawa tas selempang yang talinya sesekali ia tarik ke atas karena terus melorot dari bahu. Wajahnya tampak jauh lebih ringan dibandingkan beberapa tahun lalu, seolah sebuah ruangan yang dulu penuh sesak di dalam dirinya kini memiliki cukup banyak jendela untuk membiarkan udara masuk.
Laras berjalan di sampingnya sambil memegang botol air mineral yang tinggal setengah. Rambutnya bergerak pelan setiap kali angin sore menyapu dari arah lapangan kampus, dan sesekali ia harus menyelipkan helaian yang jatuh ke depan pipinya ke belakang telinga. Mereka tidak sedang terburu-buru mengejar apa pun, sehingga langkah keduanya secara alami mengikuti ritme yang sama, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Di belakang mereka, suara beberapa mahasiswa yang baru keluar dari auditorium semakin lama semakin jauh, sementara di depan, trotoar menuju jalan utama kampus terlihat cukup lengang. Raka memasukkan kedua tangannya ke saku celana, memandang garis-garis paving yang bergantian diterpa bayangan pepohonan, lalu mengembuskan napas panjang dengan perasaan puas yang sederhana.
"Capek?" tanya Laras.
"Sedikit."
"Sedikit itu versi kamu yang sebenarnya capek banget atau memang sedikit?"
Raka menoleh sambil tersenyum. "Kamu kok udah hafal?"
"Udah lama."
Jawaban itu sederhana, tetapi membuat senyum Raka bertahan sedikit lebih lama. Ia kembali menatap jalan di depan, sementara Laras berjalan dengan bahu yang sesekali hampir bersentuhan dengan lengannya. Ada sesuatu yang menyenangkan dari percakapan semacam itu. Tidak ada kebutuhan untuk mengisi setiap detik dengan topik penting, tidak ada kewajiban untuk menunjukkan bahwa mereka pasangan yang selalu punya pembicaraan mendalam, dan tidak ada tuntutan untuk membuat kebersamaan mereka terlihat istimewa. Mereka bisa membicarakan rasa lelah, cuaca, seminar, atau bahkan diam selama beberapa menit tanpa merasa hubungan mereka sedang mengalami masalah.
Namun setelah melewati gerbang samping fakultas, Laras tiba-tiba tersenyum kecil seperti seseorang yang baru mengingat sesuatu.
"Ngomong-ngomong," katanya, "aku masih kepikiran kejadian tadi."
Raka melirik. "Yang mana?"
"Pesan dari Maya."
Langkah Raka tetap sama. Tidak ada perubahan mencolok pada ekspresinya. Ia hanya mengangkat alis sedikit, seolah nama itu sudah cukup jelas untuk membuatnya tahu apa yang sedang dibicarakan.
"Oh."
"Jawaban kamu."
"Apa?"
"Kamu langsung nolak."
Raka mengangguk pelan. "Iya."
Laras memutar tutup botol air di tangannya, lalu berkata, "Aku sebenarnya nggak kaget. Tapi tetap aja... ada sesuatu yang bikin aku mikir."
"Apa?"
Laras tidak langsung menjawab. Mereka sudah melewati beberapa meter trotoar yang diapit pepohonan kecil dan tiang lampu kampus. Cahaya matahari senja menembus sela-sela daun, jatuh dalam bentuk bercak-bercak terang di permukaan trotoar. Kendaraan yang keluar masuk jalan utama kampus terdengar dari kejauhan, sebagian melintas dengan kecepatan rendah karena banyak mahasiswa masih menyeberang.
"Aku tahu kamu sekarang beda," ujar Laras akhirnya. "Tapi aku juga tahu Maya bukan orang yang sama sekali asing buat kamu."
Raka mengangguk.
"Dulu," lanjut Laras, "kalau orang seperti dia tiba-tiba ngajak ketemu lagi, mungkin kamu bakal mikir seribu kali."
Raka tertawa kecil. "Mungkin."
"Dan mungkin kamu bakal cari alasan buat bilang iya."
Kali ini Raka tidak langsung membantah. Ia justru menundukkan kepala sedikit sambil memperhatikan bayangan tubuh mereka yang memanjang di trotoar. Bayangannya terlihat lebih pendek daripada bayangan Laras karena sudut matahari, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak merasa perlu menghitung perbedaan itu. Dahulu, bahkan hal sesederhana berjalan berdampingan dengan perempuan yang lebih tinggi darinya bisa membuat pikirannya bekerja terlalu keras. Ia akan bertanya-tanya apakah orang lain memperhatikan, apakah dirinya tampak aneh, apakah perempuan itu sebenarnya malu berjalan bersamanya, atau apakah suatu hari nanti perempuan itu akan melihat kekurangan yang selama ini berusaha ia tutupi.
Sekarang pertanyaan-pertanyaan itu semakin jarang datang.
Bukan karena tubuhnya berubah.
Bukan karena tinggi badannya tiba-tiba bertambah.
Bukan pula karena dunia mendadak menjadi tempat yang lebih ramah terhadap laki-laki bertubuh pendek.
Ia hanya sudah tidak memberikan seluruh harga dirinya kepada pandangan orang lain.
"Aku dulu memang mungkin bakal iya," kata Raka.
Laras menoleh.
"Kenapa?"
"Karena dulu aku masih merasa harus membuktikan sesuatu."
"Apa?"
Raka tersenyum tipis. "Bahwa aku masih berharga."
Laras diam.
Raka menarik napas perlahan. "Kalau ada orang dari masa lalu datang lagi dan kasih sedikit perhatian, dulu aku mungkin bakal menganggap itu kesempatan. Bukan karena aku benar-benar mau ketemu, tapi karena bagian dari diriku masih pengin tahu apakah sekarang aku cukup layak buat mereka."
Suara sebuah sepeda motor melintas di jalan sebelah trotoar, lalu perlahan menjauh. Laras memperhatikan wajah Raka beberapa detik sebelum kembali menatap lurus ke depan. Ia tidak memotong pembicaraan itu dengan kalimat penghiburan. Ia tahu Raka tidak sedang meminta dikasihani. Ia sedang menjelaskan sesuatu yang pernah menjadi bagian besar dari dirinya dan kini perlahan-lahan sudah ia tinggalkan.
"Kamu sekarang nggak begitu lagi," kata Laras.
"Enggak."
"Kenapa?"
Raka terdiam sejenak.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya ternyata memiliki banyak lapisan yang harus ia susun terlebih dahulu di dalam kepala.
Dulu, hidupnya seperti berjalan dengan satu mata selalu tertuju ke belakang. Ia memikirkan orang-orang yang pernah menertawakannya, orang-orang yang pernah mempertanyakan apakah perempuan tertentu benar-benar pacarnya atau hanya saudara, orang-orang yang pernah membuatnya merasa tubuhnya adalah kesalahan yang harus ditebus dengan prestasi, kecerdasan, kebaikan, dan kesediaan untuk selalu berguna. Ia mengira jika dirinya cukup pintar, cukup perhatian, cukup membantu, cukup tersedia, mungkin suatu hari seseorang akan memandangnya sebagai laki-laki yang layak dicintai.
Karena itulah Anin pernah menempati ruang yang begitu besar dalam hidupnya.
Bukan semata-mata karena Anin begitu istimewa.
Sebagian besar karena Raka saat itu membutuhkan pengakuan bahwa dirinya juga pantas dipilih.
Dan ketika pengakuan itu tidak pernah datang, ia menyimpulkan bahwa kesalahan pasti ada pada dirinya.
Raka mengusap dagunya dengan ibu jari sebelum akhirnya berkata, "Karena sekarang aku nggak perlu mereka buat tahu kalau aku berharga."
Laras menoleh lagi.
Raka melanjutkan, suaranya tenang. "Aku udah tahu sendiri."
Ada jeda beberapa detik.
"Dan..." Raka menatap Laras, "...aku juga udah punya alasan yang lebih nyata buat lihat ke depan."
Laras tersenyum.
"Alasan yang lebih nyata?"
"Iya."
"Apa?"
Raka sengaja tidak menjawab.
Laras mempersempit mata. "Raka."
"Kenapa?"
"Jangan sok misterius."
Raka tertawa pelan. "Kamu tahu."
"Aku mau dengar."
Raka berhenti berjalan sejenak. Laras ikut berhenti, kemudian menatapnya dengan ekspresi yang berubah menjadi geli. Cahaya senja jatuh di sisi wajah Raka, menonjolkan garis pipinya yang selama bertahun-tahun selalu ia anggap terlalu biasa untuk diperhatikan. Ia menatap Laras beberapa saat, kemudian berkata dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Karena masa lalu udah nggak menarik ketika aku tahu masa depan yang nyata ada di depan aku."
Senyum Laras perlahan menghilang, bukan karena tidak senang, melainkan karena kalimat itu masuk terlalu dalam. Matanya turun sebentar ke trotoar sebelum kembali menatap Raka.
"Berat banget ngomongnya."
"Kan kamu yang nanya."
"Iya, tapi aku nggak siap."
Raka terkekeh.
Laras kemudian berjalan lagi, kali ini sedikit lebih dekat. Bahu mereka benar-benar bersentuhan ketika melewati bagian trotoar yang lebih sempit. Tidak satu pun dari mereka bergeser menjauh.
"Aku suka kamu yang sekarang," kata Laras.
Raka menoleh. "Cuma yang sekarang?"
Laras langsung tertawa. "Nah, mulai."
"Kan kamu bilang suka aku."
"Aku suka kamu yang sekarang karena kamu nggak lagi sibuk ngejar pengakuan dari orang yang nggak pernah benar-benar menghargai kamu."
Raka terdiam.
Laras melanjutkan, "Tapi bukan berarti aku nggak menghargai Raka yang dulu."
Kalimat itu membuat Raka memandangnya lebih lama.
"Kenapa?"