Pagi belum sepenuhnya panas ketika halaman depan kampus mulai dipenuhi arus manusia. Kendaraan bermotor berhenti sebentar di tepi jalan untuk menurunkan mahasiswa, beberapa mobil melambat sebelum berbelok ke area parkir, sementara suara klakson sesekali menyelip di antara percakapan orang-orang yang baru datang. Di dekat gerbang utama, seorang penjaja koran menata lembaran-lembaran berita di atas meja lipat yang sudah kusam, berdampingan dengan penjual makanan ringan yang menawarkan roti, kacang, dan minuman kemasan kepada mahasiswa yang terburu-buru. Hari kedua seminar seharusnya menjadi kelanjutan dari suasana akademik yang sudah dibangun sehari sebelumnya, tetapi bagi Maya, pagi itu bukan tentang seminar. Sejak beberapa menit sebelum pukul delapan, ia sudah berdiri di sisi gerbang utama dengan kedua tangan bersilang di depan dada, matanya berkali-kali bergerak mengikuti setiap sosok laki-laki yang memasuki halaman kampus.
Maya tidak tidur nyenyak malam sebelumnya. Pesan yang dikirimkannya kepada Raka masih terbayang di kepalanya, begitu pula balasan singkat yang membuat dadanya terasa panas. Ia sempat membaca kembali percakapan itu beberapa kali, seolah-olah dengan mengulang kata-kata yang sama ia bisa menemukan makna lain di baliknya. Tidak ada makna lain. Raka menolak ajakannya dengan kalimat yang terlalu sederhana untuk disalahartikan. Tidak ada alasan panjang, tidak ada usaha menjaga perasaan, bahkan tidak ada basa-basi yang biasanya diberikan seseorang ketika ingin menolak tetapi masih menyisakan celah. Maya terbiasa mendapatkan respons berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Ketika ia mengajak bertemu, orang biasanya datang; ketika ia meminta penjelasan, orang biasanya memberikannya; ketika ia merasa tersinggung, orang biasanya berusaha meredakan suasana. Raka justru menutup pintu sebelum Maya sempat meletakkan kakinya di ambang.
Dari seberang jalan, seorang mahasiswa berlari kecil sambil merapikan tali tasnya. Maya sempat mengira itu Raka, tetapi beberapa detik kemudian ia mengembuskan napas kecewa. Pandangannya kembali menyapu jalan raya. Ia tidak tahu persis apa yang ingin didengarnya pagi itu. Mungkin permintaan maaf. Mungkin penjelasan. Mungkin pengakuan bahwa penolakan Raka kemarin sebenarnya hanya luapan emosi sementara. Yang paling sulit diterimanya adalah kemungkinan bahwa Raka memang sungguh-sungguh tidak ingin kembali berhubungan dengannya. Bukan karena marah. Bukan karena terluka. Bukan karena masih mencintainya. Melainkan karena dirinya memang sudah tidak memiliki tempat apa pun dalam kehidupan Raka.
Kemungkinan terakhir itu membuat rahangnya mengeras.
Lalu sosok yang sejak tadi ditunggunya muncul dari sisi trotoar.
Raka berjalan sendirian menuju gerbang kampus dengan tas diselempangkan di bahu. Langkahnya tidak terburu-buru, tetapi juga tidak lambat. Ia mengenakan pakaian sederhana yang biasa dipakainya untuk menghadiri seminar, dengan rambut yang tertata seadanya dan wajah yang tampak jauh lebih tenang dibandingkan Raka yang pernah Maya kenal beberapa tahun lalu. Tidak ada ekspresi gelisah ketika ia berjalan melewati kendaraan yang keluar-masuk. Tidak ada kebiasaan menundukkan kepala untuk menghindari tatapan orang. Bahkan ketika seorang pengendara motor membunyikan klakson karena seorang mahasiswa berhenti terlalu dekat dengan pintu masuk, Raka hanya bergeser sedikit dan melanjutkan langkah.
Maya langsung bergerak.
“Raka.”
Suara itu cukup keras untuk membuat Raka berhenti beberapa langkah sebelum gerbang. Ia menoleh. Matanya menemukan Maya yang berdiri tidak jauh darinya. Untuk beberapa detik, tidak ada perubahan berarti pada ekspresinya. Ia hanya memandang, mengenali siapa yang memanggil, kemudian menunggu apa yang akan dikatakan perempuan itu.
Maya berjalan mendekat. “Aku nungguin kamu dari tadi.”
Raka melirik sekilas ke arah gerbang, kemudian kembali menatapnya. “Ada apa?”
Pertanyaan itu terdengar biasa saja. Justru itulah yang membuat Maya semakin kesal. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk menghadapi seseorang yang mungkin defensif, gugup, atau bahkan marah. Namun Raka berdiri di hadapannya seperti sedang mendengarkan seorang teman bertanya tentang jadwal seminar.
“Kamu kemarin kenapa nolak ajakan aku?”
“Karena aku memang nggak mau ketemu.”
Jawaban itu datang tanpa jeda.
Maya mengerutkan kening. “Segampang itu?”
“Iya.”
“Raka, aku ngajak kamu cuma buat ngopi.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa harus ditolak mentah-mentah begitu?”
Raka tidak langsung menjawab. Di belakang mereka, sebuah bus melintas perlahan, membuat suara percakapan keduanya tertutup selama beberapa detik. Angin yang ditimbulkan kendaraan itu menggerakkan ujung rambut Maya dan membuat beberapa lembar koran di meja penjaja berita bergetar. Setelah suara mesin menjauh, Raka berkata dengan nada yang tetap sama.
“Karena aku nggak punya kepentingan pribadi untuk ketemu.”
Maya tertawa kecil, tetapi tidak ada humor di dalamnya. “Kepentingan pribadi?”
“Iya.”
“Jadi selama ini kita dianggap nggak punya hubungan apa-apa?”
Raka menatapnya. “Aku nggak bilang begitu.”
“Tapi sikap kamu bilang begitu.”
“Kalau menurut kamu sikapku seperti itu, aku nggak bisa mengubah persepsi kamu.”
Jawaban tersebut membuat Maya semakin sulit menahan emosinya. “Kamu berubah banget.”
Raka diam.
“Dulu kamu nggak begini.” Maya melangkah sedikit lebih dekat. “Dulu aku bisa hubungi kamu kapan aja. Kamu selalu ada. Kalau aku butuh bantuan, kamu datang. Kalau aku lagi ada masalah, kamu dengerin. Sekarang aku ngajak ketemu aja kamu nolak seolah-olah aku orang asing.”
Ada sesuatu yang bergerak samar di mata Raka ketika mendengar kalimat terakhir. Bukan kemarahan. Bukan pula nostalgia. Lebih seperti seseorang yang sedang membuka lemari lama, melihat isinya sebentar, lalu menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki alasan untuk mengambil apa pun dari sana.
“Memang dulu aku begitu,” katanya.
“Terus?”
“Terus sekarang aku nggak begitu lagi.”
Maya terdiam sesaat. Ia tidak menyangka jawaban itu akan terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
“Kenapa?”
Raka menghela napas pelan. “Karena aku belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar kalau membantu seseorang terus-menerus bukan berarti hubungan itu sehat. Belajar kalau aku nggak harus selalu tersedia cuma supaya keberadaanku dianggap penting. Dan belajar kalau ada orang yang memang lebih baik aku kasih jarak.”
Maya menatapnya tidak percaya. “Kamu ngomongin aku?”
Raka tidak menghindar dari tatapannya. “Kalau kamu merasa iya, berarti kamu tahu jawabannya.”
Maya mengatupkan bibir. Selama beberapa detik, suara kampus yang ramai terasa seperti berada jauh di belakang mereka. Beberapa mahasiswa berjalan masuk melewati sisi kanan dan kiri, sebagian melirik sebentar karena mengenali keduanya, tetapi tidak ada yang berhenti. Raka tidak peduli. Ia tidak lagi memiliki kebiasaan menjelaskan dirinya kepada orang-orang hanya karena takut dianggap buruk.
Maya akhirnya mengembuskan napas keras. “Jadi kamu masih dendam?”
Raka mengerutkan kening tipis. “Dendam?”