“Aku bukan orang itu lagi.”
Kalimat itu menggantung di antara suara mesin kendaraan dan riak mahasiswa yang terus mengalir melewati gerbang utama kampus. Raka masih berdiri di tempatnya, beberapa langkah dari Maya, dengan ransel tergantung di salah satu bahu dan kedua tangannya tetap tenang di sisi tubuh. Bayangan pohon-pohon peneduh jatuh memanjang di trotoar, terpecah oleh langkah kaki mahasiswa yang berlalu-lalang menuju gedung perkuliahan. Di belakang mereka, suara pedagang makanan ringan menawarkan gorengan bercampur dengan bunyi klakson angkot, deru sepeda motor, dan suara penjaja koran yang sesekali meneriakkan berita pagi. Tidak ada sesuatu yang istimewa dari pagi itu, tetapi bagi Maya, udara di sekitarnya seolah tiba-tiba berubah berat.
Ia menatap Raka dengan mata yang masih menyimpan sisa ketegangan. Beberapa detik sebelumnya, ia datang dengan keyakinan bahwa dirinya berhak mendapatkan jawaban. Ia merasa sikap Raka yang dingin merupakan penghinaan yang tidak pantas diterimanya. Dalam pikirannya, Raka masih merupakan anak laki-laki yang pernah berdiri dengan bahu gemetar pada tahun 2016, seseorang yang dulu bisa dibuat menangis hanya dengan beberapa kalimat tentang tubuhnya. Ia membayangkan Raka sebagai seseorang yang, jauh di dalam dirinya, masih membawa luka yang sama dan karena itu masih bisa disentuh oleh masa lalu. Namun laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang tidak menunjukkan sedikit pun tanda bahwa ia sedang berusaha menahan amarah. Justru ketenangan itulah yang membuat Maya kehilangan pijakan.
Raka menarik napas perlahan. Tenggorokannya terasa sedikit kering, suaranya bahkan masih menyimpan parau dari pagi yang terlalu cepat dimulai, tetapi ketika ia kembali bicara, tidak ada keraguan di sana. “Aku tahu kamu pengin penjelasan,” katanya, menjaga nada suaranya tetap rendah agar tidak berubah menjadi tontonan bagi mahasiswa yang lewat. “Jadi aku kasih penjelasan. Tapi aku nggak mau kita balik lagi ke masa lalu cuma buat saling menyalahkan.” Ia berhenti sejenak, menatap Maya tepat di mata, bukan dengan tatapan menantang, melainkan tatapan seseorang yang sudah selesai melarikan diri dari sesuatu. “Tentang tahun 2016 itu, aku nggak benci kamu.”
Maya berkedip. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Raka melanjutkan, “Aku juga nggak nyimpen dendam.”
Ada sesuatu yang bergeser di wajah Maya. Bukan lega. Bukan pula kemenangan. Justru seperti kebingungan yang perlahan menemukan bentuknya. Selama bertahun-tahun, mungkin ia membayangkan bahwa luka yang pernah ia tinggalkan pada seseorang akan selalu memiliki bentuk kemarahan. Ia mungkin mengira jika suatu hari mereka bertemu lagi, Raka akan menatapnya dengan kebencian atau setidaknya menunjukkan kepuasan karena akhirnya dapat membalas. Tetapi tidak ada semua itu. Yang ada hanyalah seorang laki-laki yang berbicara kepadanya dengan kesopanan yang hampir menyakitkan.
“Kalau kamu mau tahu kenapa aku menjauh,” ujar Raka, “jawabannya bukan karena aku benci kamu. Aku cuma udah belajar milih siapa yang boleh punya ruang di hidupku.”
Maya menelan ludah. “Jadi selama ini kamu nganggep aku nggak layak?”
Raka menggeleng kecil. “Bukan begitu.”
“Terus?”
“Ini bukan soal kamu layak atau nggak layak.” Raka menggeser tali ranselnya yang mulai melorot dari bahu. Gerakan kecil itu membuatnya tampak begitu biasa, hampir tidak cocok dengan percakapan yang sedang mereka jalani. “Aku cuma nggak mau lagi hidup dengan prinsip bahwa semua orang harus aku pertahankan, meskipun keberadaan mereka bikin aku kehilangan diri sendiri.”
Maya menatapnya lama. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada pengalaman panjang di belakangnya. Ia dapat merasakan bahwa Raka tidak sedang mengucapkannya untuk membuatnya merasa bersalah. Tidak ada nada menyindir, tidak ada upaya memamerkan bahwa sekarang ia sudah berubah. Raka bahkan tidak tampak membutuhkan Maya untuk mengakui kesalahannya. Ia hanya sedang menjelaskan sebuah keputusan yang sudah dibuat jauh sebelum pagi ini.
Dan justru itu yang membuat Maya merasa kecil.
“Aku cuma...” Maya mengusap ujung jarinya sendiri, sesuatu yang jarang ia lakukan ketika sedang berbicara. “Aku cuma nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba bisa sedingin ini.”
Raka tersenyum tipis. “Aku nggak tiba-tiba.”
Ia memandang jalan di sebelah mereka sejenak. Sebuah bus kampus melintas perlahan, membuat angin hangat menyapu ujung kemeja mereka. Ketika kendaraan itu menjauh, suara percakapan mahasiswa kembali terdengar lebih jelas. Raka kemudian kembali menatap Maya.
“Perubahan itu nggak pernah tiba-tiba, May. Kadang orang cuma baru sadar setelah hasil akhirnya kelihatan.”
Maya diam.
Raka tahu persis apa yang dimaksudnya. Ada masa ketika dirinya mengira perubahan harus selalu berbentuk keberanian besar. Ia pernah berpikir bahwa menjadi lebih baik berarti harus lebih tinggi, lebih tampan, lebih percaya diri, lebih menarik, lebih disukai. Bertahun-tahun ia menghabiskan energi untuk menutupi sesuatu yang bahkan tidak pernah menjadi kesalahannya. Tubuhnya yang hanya 154 sentimeter pernah terasa seperti vonis yang ditempelkan di dahinya. Setiap kali berdiri di antara laki-laki lain, ia otomatis mengukur tinggi badan. Setiap kali berfoto bersama seseorang, ia memperhatikan posisi tubuh. Setiap kali berjalan bersama perempuan, ia bertanya dalam hati apakah orang-orang akan mengira perempuan itu sedang bersama adiknya.
Tahun 2016 pernah membuat semua itu terasa seperti kenyataan yang tidak bisa dibantah.
Ia masih ingat bagaimana rasanya berdiri dengan dada sesak, mencoba mempertahankan sisa harga dirinya ketika ejekan tentang tubuhnya datang satu demi satu. Ia masih ingat malam-malam ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa menjadi dirinya sendiri terasa seperti sebuah kesalahan. Ia masih ingat bagaimana penolakan Maya pada masa itu membuat semua ketakutan yang sebelumnya hanya berupa bisikan berubah menjadi suara yang sangat keras.
Dulu, ia mengira penolakan itu adalah akhir.
Ternyata bukan.
Raka menghela napas pelan.
“Justru penolakan kamu waktu itu...” katanya, lalu berhenti sebentar seperti sedang memilih kata yang paling tepat. “...adalah salah satu hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.”
Maya langsung menatapnya.
Raka tidak menghindar.
“Apa?”
“Penolakan kamu.”
Maya terlihat seperti baru saja ditampar oleh sesuatu yang tidak terlihat. “Kamu serius?”
“Iya.”
“Setelah semua yang terjadi?”
“Iya.”
Raka tidak tersenyum ketika mengatakan itu. Ia tidak sedang berusaha terdengar bijaksana. Ia hanya menyampaikan sesuatu yang sudah lama ia pahami. “Kalau waktu itu aku nggak ditolak, mungkin aku nggak pernah belajar berhenti ngejar pengakuan dari orang lain. Mungkin aku masih berpikir kalau aku harus bikin seseorang suka sama aku supaya aku bisa percaya kalau aku berharga.”
Maya menundukkan wajah.
Raka melanjutkan dengan suara yang semakin tenang. “Aku pernah terlalu lama percaya kalau tubuhku adalah masalah utama. Tinggiku, wajahku, semuanya. Aku pikir kalau aku lebih tinggi, lebih ganteng, atau lebih mirip cowok yang dianggap ideal, mungkin semuanya bakal berbeda. Tapi ternyata bukan itu masalahnya.”
Ia mengangkat pandangan sedikit, memperhatikan bayangan dedaunan yang bergerak di permukaan trotoar karena tertiup angin.
“Masalahnya adalah aku sendiri nggak tahu cara menghargai diriku.”
Maya tidak menjawab.
“Dan itu bukan salah kamu sepenuhnya,” kata Raka. “Kamu punya bagian dalam luka itu. Tapi setelah bertahun-tahun, aku sadar aku nggak bisa terus-terusan menjadikan kamu sebagai alasan kenapa aku nggak bahagia.”
Kalimat itu membuat Maya perlahan mengangkat wajah.
Raka memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada kelembutan di sana, tetapi bukan kelembutan yang mengundang seseorang kembali masuk. Lebih seperti penghormatan terakhir kepada sebuah masa yang pernah penting.
“Aku pernah marah sama kamu,” katanya jujur. “Pernah kecewa. Pernah ngerasa kamu menghancurkan aku. Tapi semua itu sudah lama. Aku nggak mau membawa perasaan itu terus sampai sekarang.”
“Terus sekarang kamu ngerasa apa?”
Raka terdiam beberapa saat.
“Biasa aja.”
Maya tercekat.
Jawaban itu jauh lebih menyakitkan daripada kebencian.
Raka menyadarinya, tetapi ia tidak mengubahnya. Ia tidak ingin berbohong hanya supaya Maya merasa lebih nyaman. “Bukan berarti aku menganggap apa yang terjadi dulu nggak penting,” lanjutnya. “Penting. Sangat penting. Karena itu bagian dari hidupku. Tapi sesuatu bisa penting tanpa harus terus punya kendali atas hidup kita.”
Maya menatap wajahnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak melihat Raka sebagai anak laki-laki yang pernah dikenalnya. Ia melihat seseorang yang sudah melewati jarak yang tidak pernah ia sadari sedang ditempuh.
Dulu, Raka datang kepadanya dengan kedua tangan penuh harapan. Sekarang, Raka berdiri di depannya tanpa membawa permintaan apa pun.
Maya menarik napas.
“Kalau begitu...” suaranya terdengar lebih pelan. “Kenapa kamu nolak aku kemarin?”
Raka menatapnya.