Siang di kawasan Perpustakaan Pusat selalu memiliki jenis kesunyian yang berbeda dari tempat-tempat lain di kampus. Bukan kesunyian yang benar-benar kosong, melainkan ketenangan yang dibentuk oleh banyak orang yang sengaja mengecilkan suara mereka. Di bawah pohon-pohon beringin yang akarnya menjalar di sekitar jalur pedestrian, beberapa mahasiswa duduk berkelompok di meja semen, sebagian membuka laptop, sebagian membaca buku, sementara yang lain hanya menatap layar ponsel dengan earphone terpasang di kedua telinga. Angin bergerak perlahan dari sela-sela dedaunan, membawa udara siang yang tidak terlalu panas karena tertahan kanopi hijau yang lebat. Di salah satu meja yang agak jauh dari keramaian, Raka duduk sendirian dengan sebuah buku terbuka di hadapannya, sesekali menggerakkan jari telunjuk untuk mengikuti baris-baris kalimat yang sedang dibacanya.
Jam kuliahnya masih sekitar satu jam lagi. Ia sengaja memilih tempat itu karena tidak ingin kembali ke gedung fakultas terlalu cepat. Sejak beberapa waktu terakhir, Raka mulai menikmati kebiasaan sederhana seperti menunggu kelas sendirian, membaca tanpa harus menjelaskan apa yang sedang ia baca kepada siapa pun, atau membiarkan pikirannya berjalan tanpa perlu mencari seseorang untuk menjadi pusat dari segala sesuatu. Buku di tangannya membahas dinamika sosial dalam masyarakat modern, topik yang sebenarnya cukup dekat dengan bidang yang ia pelajari, tetapi perhatian Raka tidak sepenuhnya tertambat pada halaman. Sesekali matanya berhenti di satu paragraf lebih lama daripada seharusnya, lalu ia mengembuskan napas pelan dan kembali membaca. Tidak ada kegelisahan besar di wajahnya. Tidak ada kebutuhan untuk terlihat sibuk. Ia hanya sedang menjalani siangnya sebagaimana seseorang menjalani hari setelah bertahun-tahun belajar bahwa ketenangan tidak harus selalu diperoleh dari keberadaan orang lain.
Bayangan masa lalu kadang-kadang masih datang tanpa diundang, tetapi sekarang bentuknya berbeda. Dahulu, setiap kali nama Anin muncul dalam pikirannya, tubuh Raka seperti memiliki kebiasaan sendiri untuk menegang. Ada dorongan untuk mengingat percakapan lama, menafsirkan ulang kalimat-kalimat yang pernah diucapkan, atau bertanya-tanya apakah ada bagian dari dirinya yang seharusnya diperbaiki agar semuanya tidak berakhir seperti itu. Kini nama itu hanya lewat seperti seseorang yang pernah tinggal di sebuah rumah yang sudah lama ia tinggalkan. Ia masih mengenali bentuk pintunya, masih tahu letak jendelanya, tetapi tidak lagi memiliki alasan untuk kembali ke sana. Yang tersisa hanyalah pengalaman, dan pengalaman tidak selalu harus dipelihara menjadi luka.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Raka mengangkat pandangan. Awalnya ia hanya melihat sepasang sepatu melewati sisi meja, lalu bayangan seseorang jatuh di atas permukaan semen yang diterpa cahaya matahari dari sela dedaunan. Ketika wajah itu muncul di hadapannya, Raka berhenti membaca. Anin berdiri beberapa langkah dari meja, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuh, jauh berbeda dari caranya berjalan beberapa tahun lalu yang selalu terlihat penuh keyakinan. Ada keraguan dalam sorot matanya, sejenis kehati-hatian yang membuatnya beberapa kali membuka mulut sebelum akhirnya benar-benar berbicara.
"Rak."
Raka menutup bukunya perlahan, tetapi tidak langsung memasukkannya ke dalam tas. "Iya?"
Anin melirik kursi semen di seberang meja, lalu kembali menatap Raka. "Aku boleh duduk?"
Raka menggeser sedikit bukunya ke samping. "Silakan."
Anin menarik kursi dengan gerakan hati-hati. Gesekan kaki kursi semen dengan lantai menghasilkan bunyi kasar yang terdengar lebih keras daripada seharusnya di tengah suasana tenang kawasan perpustakaan. Ia kemudian duduk, menjaga jarak yang cukup, kedua tangannya diletakkan di atas meja. Untuk beberapa detik mereka hanya diam. Di atas kepala mereka, daun beringin bergesekan diterpa angin dan menghasilkan suara gemerisik panjang, sementara dari kejauhan terdengar suara kendaraan kampus yang melintas perlahan di jalan belakang perpustakaan.
"Jadi..." Anin akhirnya membuka percakapan. "Kabar kamu gimana?"
Raka menatapnya sebentar. "Baik."
Jawaban itu sederhana, tetapi tidak dingin. Tidak ada sindiran atau usaha memperpanjang percakapan. Anin mengangguk kecil, seolah jawaban singkat itu justru membuatnya harus mencari keberanian lebih besar untuk mengatakan hal berikutnya.
"Kamu kelihatan beda."
Raka tersenyum tipis. "Masa?"
"Iya." Anin menundukkan pandangan ke permukaan meja. "Lebih tenang."
Raka tidak menjawab. Ia membiarkan Anin melanjutkan jika memang masih ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Sikap itu berbeda dengan Raka yang dulu. Dulu, diamnya sering kali merupakan bentuk kecemasan. Ia diam karena takut salah bicara, takut membuat orang yang disukainya tidak nyaman, takut kehilangan kesempatan untuk tetap berada di dekatnya. Sekarang diamnya memiliki fungsi lain. Ia diam karena tidak perlu mengisi setiap ruang kosong dengan kata-kata.
Anin menarik napas panjang. "Aku sebenarnya udah beberapa kali mau ngomong sama kamu."
"Kenapa baru sekarang?"
Anin mengangkat mata. Pertanyaan itu disampaikan Raka dengan nada biasa, tanpa tuntutan. Justru karena itulah Anin merasa tidak bisa bersembunyi di balik jawaban yang dibuat-buat.
"Karena aku nggak tahu harus mulai dari mana."
"Mulai dari yang paling ingin kamu sampaikan."
Anin tersenyum kecil, tetapi senyum itu segera menghilang. "Aku mau minta maaf."
Raka terdiam beberapa saat. Ia sudah menduga percakapan semacam ini mungkin akan terjadi setelah pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya, tetapi tetap saja mendengar kalimat itu secara langsung menghadirkan sensasi aneh di dadanya. Bukan sakit. Bukan pula kepuasan. Lebih seperti seseorang yang akhirnya menerima sebuah surat yang sebenarnya sudah tidak ia tunggu lagi.
"Untuk apa?"
"Untuk banyak hal."
Anin memainkan ujung jarinya sendiri. "Terutama waktu kamu lagi jatuh. Aku tahu aku pernah bersikap... keterlaluan."
Raka menatap wajah Anin. Untuk pertama kalinya sejak mereka duduk, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat dari Anin ketika mereka masih dekat. Bukan kecerdasan yang dipertontonkan dalam diskusi, bukan ekspresi percaya diri yang biasa membuat banyak orang memperhatikannya, melainkan rasa bersalah yang tampak begitu manusiawi karena tidak tahu harus diletakkan di mana.
"Waktu itu aku terlalu keras sama kamu," lanjut Anin. "Aku tahu aku punya hak buat nolak perasaan kamu. Aku tahu aku nggak wajib membalas. Tapi cara aku memperlakukan kamu setelah itu..." Ia berhenti, menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokan. "Aku seharusnya nggak bikin kamu merasa kayak kamu nggak punya nilai cuma karena aku nggak punya perasaan yang sama."