Satu jam kemudian, matahari bergerak sedikit lebih tinggi dan bayangan pohon beringin bergeser perlahan di atas meja-meja semen. Sebagian mahasiswa yang tadi duduk santai mulai meninggalkan selasar karena jadwal kuliah mereka mendekat, sementara beberapa lainnya datang menggantikan tempat kosong. Kawasan itu tetap tenang, tetapi tidak lagi sesepi sebelumnya. Dari arah gedung perpustakaan terdengar pintu otomatis yang sesekali terbuka, disusul langkah kaki mahasiswa yang keluar masuk sambil membawa buku atau laptop.
Raka masih berada di tempat yang sama.
Buku di hadapannya telah tertutup. Ia sebenarnya sudah selesai membaca beberapa halaman terakhir sebelum akhirnya memilih berhenti dan menyimpan catatan kecilnya di antara lembaran. Jam kuliah masih menyisakan waktu, tetapi pikirannya sudah tidak lagi tertarik pada materi. Percakapan dengan Anin tadi berputar sekali lagi dalam kepalanya, bukan karena ia ragu terhadap keputusannya, melainkan karena ia ingin memastikan bahwa tidak ada kata-kata yang nantinya dapat disalahartikan.
Suara langkah kaki kembali terdengar.
Raka mengangkat wajah dan mendapati Anin berdiri beberapa meter dari meja. Rupanya perempuan itu belum benar-benar pergi dari kawasan perpustakaan. Mereka saling pandang selama beberapa detik sebelum Anin mendekat.
"Kamu belum berangkat?"
"Belum," jawab Raka. "Masih ada waktu."
Anin menunjuk kursi di depannya. "Aku boleh?"
Raka mengangguk.
Anin duduk lagi. Kali ini ia tampak lebih tenang daripada sebelumnya, tetapi justru ketenangan itu membuat percakapan berikutnya terasa lebih serius. Ia tidak lagi menggenggam tangannya sendiri dengan gugup. Ia hanya duduk, menatap Raka, kemudian menarik napas perlahan.
"Tadi aku mikir soal yang kamu bilang."
"Yang mana?"
"Soal batas."
Raka mengangguk.
"Aku rasa aku ngerti sekarang."
Raka tidak buru-buru menjawab. Ia membiarkan Anin menyelesaikan pikirannya sendiri.
"Aku nggak mau maksa kamu kembali seperti dulu," katanya. "Aku tahu mungkin aku nggak punya hak buat minta itu."
"Kamu memang nggak perlu minta."
Anin menatapnya.
"Karena aku juga nggak mau kembali seperti dulu."
Kalimat itu jatuh dengan tenang, tanpa nada menyakiti. Justru karena tidak ada amarah di dalamnya, kalimat itu terasa lebih final.
Anin menarik napas. "Maksud kamu?"
Raka meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Aku sudah memaafkan semuanya, Nin."
Mata Anin sedikit melebar.
"Semua yang terjadi dulu. Cara kamu nolak aku, cara hubungan kita berakhir, semua hal yang bikin aku jatuh waktu itu. Aku sudah selesai dengan itu."
"Kamu yakin?"
"Yakin."
"Berarti kita bisa..."
Raka menggeleng pelan sebelum Anin menyelesaikan kalimatnya.
"Kita bisa tetap baik-baik."
Anin terdiam.
"Kita bisa saling sapa. Kalau ketemu di kampus, ngobrol. Kalau ada urusan akademik yang memang perlu dibicarakan, ya kita bicarakan. Kalau kebetulan ada diskusi di satu forum, aku juga nggak akan menghindar. Tapi aku nggak mau membangun kembali kedekatan yang dulu."
Wajah Anin perlahan berubah. Bukan marah. Bukan pula kecewa secara terang-terangan. Lebih seperti seseorang yang akhirnya mendengar bentuk kenyataan yang selama ini ia coba hindari.
"Karena kamu masih sakit hati?"
"Nggak."
"Karena Laras?"
Nama itu membuat wajah Raka sedikit melunak.
"Iya."
Anin menundukkan pandangan.
"Hatiku sekarang sudah penuh."
Tidak ada kesombongan dalam suara Raka. Ia mengucapkannya seperti seseorang yang menyampaikan fakta paling sederhana dalam hidupnya. Justru kesederhanaan itu membuat kalimat tersebut terasa jauh lebih kuat.
"Laras ada waktu aku berada di titik paling buruk dalam hidupku," lanjutnya. "Dia nggak datang setelah aku sudah baik. Dia datang ketika aku bahkan nggak bisa menghargai diri sendiri. Dia nggak pernah minta aku jadi orang lain. Nggak pernah minta aku kelihatan lebih pintar, lebih kuat, atau lebih pantas. Dia cuma ada."
Anin diam mendengarkan.
"Jadi aku nggak bisa pura-pura bahwa masa lalu masih punya ruang yang sama di hidupku."
Angin berembus melewati mereka. Daun-daun beringin bergesekan di atas kepala, menciptakan suara lembut yang membuat suasana menjadi semakin hening.
Anin mengangkat wajahnya lagi. "Kamu cinta banget sama dia?"
Raka tersenyum kecil.
"Banget."
Jawaban itu begitu cepat sehingga Anin tidak perlu menanyakan lagi.
Raka melanjutkan, "Dan buat aku, setia itu bukan cuma soal nggak punya orang lain. Setia juga berarti nggak membuka kembali pintu yang bisa bikin orang yang sekarang bersamaku merasa nggak dihargai."
Anin mengangguk perlahan.
"Aku ngerti."