Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #72

Keraguan Lembut Laras

Sore telah turun perlahan di Taman Lingkar Kampus ketika Laras duduk sendirian di bangku kayu yang menghadap kolam. Permukaan air memantulkan cahaya matahari yang mulai condong ke barat, menciptakan jalur keemasan yang bergerak-gerak setiap kali angin menyentuh permukaannya. Beberapa daun kering terlepas dari pepohonan dan jatuh di atas jalan setapak, lalu terseret angin dengan suara derak halus yang terdengar lebih jelas karena kawasan taman sedang sepi. Di kejauhan, beberapa mahasiswa berjalan berkelompok menuju gedung fakultas, sebagian membawa laptop, sebagian lagi sibuk berbicara sambil tertawa, tetapi suara-suara itu seolah berhenti sebelum benar-benar mencapai tempat Laras duduk. Ia menautkan kedua tangan di atas pangkuan dan menatap air tanpa benar-benar melihat apa pun.

Ada sesuatu yang mengganjal sejak siang tadi. Bukan kemarahan, bukan pula kesedihan yang cukup besar untuk disebut luka. Hanya sebuah pertanyaan kecil yang muncul diam-diam dan terus mengendap meskipun berkali-kali ia mencoba mengusirnya. Pertanyaan itu bahkan terasa memalukan untuk diakui, terutama bagi dirinya sendiri yang selama ini begitu yakin bahwa hubungan yang sehat membutuhkan kepercayaan, bukan perbandingan. Namun, manusia rupanya tidak selalu menjadi sebijaksana prinsip yang ia yakini. Ketika Maya muncul kembali dalam kehidupan Raka, kemudian Anin datang dan membuka percakapan dengannya, Laras mendapati dirinya memperhatikan dua nama itu lebih lama daripada yang seharusnya.

Ia masih mengingat bagaimana Maya berdiri di depan Raka dengan ekspresi yang sulit dibaca, bagaimana percakapan mereka berlangsung cukup lama hingga akhirnya Raka pergi tanpa menoleh lagi. Setelah itu Anin muncul, membawa masa lalu yang berbeda, masa ketika Raka pernah memberikan terlalu banyak ruang kepada seseorang yang tidak menjaganya dengan baik. Laras tahu bagaimana semua itu berakhir. Ia tahu Raka memilihnya. Ia tahu Raka sudah mengatakan dengan jelas bahwa hatinya telah terisi sepenuhnya dan bahwa tidak ada tempat yang ingin ia tuju selain dirinya. Namun pengetahuan tidak selalu mampu membungkam perasaan yang muncul sebelum logika sempat bekerja.

Laras menundukkan kepala sedikit. Jari telunjuknya mengusap sisi ibu jarinya berulang kali, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali pikirannya terlalu penuh. Ia membenci dirinya sendiri karena mulai membandingkan. Maya cantik. Itu fakta yang tidak perlu ia sangkal. Perempuan itu memiliki penampilan yang mudah menarik perhatian, wajah yang terawat, cara berpakaian yang rapi, dan pembawaan yang membuat orang lain mudah menoleh ketika ia lewat. Anin juga memiliki sesuatu yang selama ini Laras akui tanpa iri, kecerdasan akademis yang menonjol dan kemampuan berbicara yang membuat gagasan-gagasannya terdengar meyakinkan di hadapan banyak orang. Lalu dirinya sendiri?

Laras menarik napas panjang, kemudian menatap bayangan wajahnya di permukaan kolam yang sedikit beriak. Ia tahu dirinya tidak buruk. Ia bahkan tahu ada orang yang mungkin menganggapnya menarik. Tetapi sore itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pengetahuan itu terasa tidak cukup. "Kalau dibandingkan mereka..." gumamnya begitu pelan sampai kalimat itu nyaris tertelan angin. Ia berhenti sebelum menyelesaikan pertanyaannya sendiri, seolah dengan tidak mengucapkannya, ia bisa mencegah pertanyaan itu menjadi nyata.

Langkah kaki terdengar dari arah belakang. Laras tidak langsung menoleh. Ia mengenali iramanya bahkan sebelum suara seseorang memanggil namanya. "Laras?" Suara Raka terdengar dekat, sedikit terengah seperti baru berjalan cukup cepat dari gedung fakultas. Laras mengangkat wajah dan mendapati Raka berdiri beberapa langkah di belakang bangku. Tas selempang tergantung di bahunya, rambutnya sedikit berantakan diterpa angin, dan di tangannya ada sebuah buku yang tampaknya baru saja ia bawa dari perpustakaan. Raka tersenyum kecil ketika mata mereka bertemu, tetapi senyum itu perlahan berubah menjadi ekspresi bertanya ketika ia menangkap sesuatu pada wajah Laras.

"Kamu dari tadi di sini?" tanyanya.

Laras mengangguk. "Iya."

Raka mendekat lalu duduk di sebelahnya, meninggalkan jarak yang wajar di antara tubuh mereka. Ia tidak langsung bertanya. Buku di tangannya diletakkan di samping paha, sementara pandangannya mengikuti arah mata Laras menuju kolam. Beberapa detik mereka hanya duduk bersama dalam diam, mendengarkan suara daun yang bergesekan dan sesekali suara kendaraan dari jalan utama kampus. Namun bagi Raka, diam Laras hari itu bukan diam yang biasa.

Selama mengenalnya, ia telah belajar membedakan keheningan Laras. Ada diam ketika Laras sedang membaca. Ada diam ketika ia sedang berpikir. Ada diam yang muncul karena ia hanya ingin menikmati keberadaan seseorang tanpa perlu mengisinya dengan percakapan. Tetapi diam yang sekarang terasa berbeda. Bahu Laras sedikit lebih kaku, kedua tangannya saling menggenggam terlalu erat, dan matanya tidak pernah benar-benar fokus pada satu titik. Raka mengenali tanda-tanda itu bukan karena ia memiliki kemampuan membaca pikiran, melainkan karena ia telah cukup lama memperhatikan orang yang ia cintai.

"Kamu lagi kepikiran sesuatu," katanya akhirnya.

Laras tersenyum tipis, tetapi tidak menoleh. "Kelihatan banget?"

"Ke aku, iya."

Ada kehangatan kecil dalam jawaban itu. Laras menelan ludah, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia sebenarnya ingin mengatakan tidak apa-apa. Ia ingin menjawab bahwa ia hanya lelah, hanya sedang banyak pikiran, atau mungkin hanya ingin menikmati sore. Tetapi Raka mengenalnya terlalu baik untuk menerima jawaban yang dibuat sekadar agar keadaan tampak baik-baik saja.

"Kamu mau cerita?" tanya Raka.

Laras menatap kedua tangannya sendiri. "Kalau aku cerita, kamu jangan ketawa."

Raka mengernyit. "Kenapa aku harus ketawa?"

"Karena mungkin kedengarannya kekanak-kanakan."

"Aku nggak akan ketawa."

Jawaban itu datang tanpa jeda. Sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya Laras akhirnya berani membuka mulut. "Aku tadi kepikiran Maya sama Anin."

Raka diam sejenak. Tidak ada perubahan besar pada wajahnya, tidak ada gerakan terkejut yang berlebihan. Ia hanya mengangguk kecil, memberikan ruang agar Laras melanjutkan.

"Setelah kamu ketemu Maya, terus sekarang Anin juga datang lagi..." Laras berhenti sebentar, mencari kata yang paling jujur tanpa terdengar menyalahkan. "Aku tahu kamu udah menyelesaikan semuanya. Aku juga tahu kamu udah tegas sama mereka. Aku tahu itu. Tapi ternyata setelah lihat mereka muncul lagi, aku jadi kepikiran."

"Kepikiran apa?"

Laras akhirnya menoleh. Matanya tidak berkaca-kaca, tetapi ada sesuatu yang rapuh di sana, sesuatu yang jarang sekali ia izinkan terlihat. "Apa aku cukup buat kamu?"

Pertanyaan itu membuat Raka terdiam.

Bukan karena ia tidak tahu jawabannya. Justru karena jawabannya begitu jelas sampai ia merasa sedih bahwa Laras masih harus bertanya.

Laras segera mengalihkan pandangan lagi. "Aku tahu kedengarannya aneh. Aku nggak bermaksud meragukan kamu. Aku percaya sama kamu, Ka. Beneran. Cuma..." Ia menarik napas, kemudian tertawa kecil tanpa kegembiraan. "Maya cantik banget. Terus Anin... ya, kamu tahu sendiri. Dia pintar secara akademis, cara ngomongnya juga bagus. Aku sempat mikir, mungkin ada hal-hal yang mereka punya dan aku nggak punya."

"Dan?"

"Aku takut suatu hari kamu sadar kalau ada perempuan yang lebih cantik, lebih pintar, lebih..." Laras menggantung kalimatnya. "Lebih cocok buat kamu."

Raka menatapnya cukup lama.

Laras menggigit bibir bagian dalam, merasa semakin malu setelah semuanya keluar. Ia bukan tipe perempuan yang mudah mengakui rasa cemburu. Selama ini ia selalu berusaha menjadi tempat yang aman bagi Raka, bukan seseorang yang menuntutnya untuk terus meyakinkan. Ia bahkan tidak ingin menjadi pasangan yang mengontrol siapa yang boleh mendekati Raka. Karena itu, mengatakan semua ini membuatnya merasa seperti telah merusak prinsip yang selama ini ia pegang.

"Aku tahu kamu mungkin mikir aku lebay," katanya lirih.

"Aku nggak mikir begitu."

"Aku sendiri yang mikir begitu."

Raka menghela napas pelan. Kemudian ia memutar tubuh sedikit menghadap Laras. Tangannya bergerak perlahan, tidak tergesa, lalu meraih tangan Laras yang sejak tadi saling menggenggam. Jemarinya menutup tangan itu dengan hangat, seolah hendak menghentikan gerakan gelisah yang tidak disadari Laras.

"Lihat aku."

Laras tidak langsung menurut. "Raka..."

"Sebentar aja."

Akhirnya Laras menoleh.

Tatapan Raka bertemu dengan matanya. Tidak ada senyum yang dibuat-buat di sana. Tidak ada ekspresi seorang lelaki yang sedang berusaha mengucapkan kalimat romantis agar pasangannya berhenti cemburu. Tatapannya justru sangat tenang, seperti seseorang yang benar-benar ingin memastikan bahwa setiap kata berikutnya tidak hanya terdengar indah, tetapi juga memiliki tempat yang kokoh dalam kenyataan.

Raka menggenggam kedua tangan Laras sekarang. Telapak tangannya terasa hangat meski angin sore semakin dingin. "Aku ngerti kenapa kamu kepikiran begitu."

Laras diam.

"Dan aku senang kamu ngomong."

"Senang?"

"Iya. Karena kamu nggak nyimpen sendirian."

Laras menatap jemari mereka yang saling bertaut. "Tapi aku tetap merasa bodoh."

"Kamu nggak bodoh."

"Aku cemburu."

"Ya. Terus?"

Lihat selengkapnya