Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #73

Danau Kampus di Bawah Senja

Malam telah turun perlahan di atas kampus ketika Raka dan Laras sampai di dermaga kayu kecil yang menjorok beberapa meter ke tengah danau buatan. Tidak ada keramaian seperti yang biasa memenuhi kawasan utama kampus pada siang hari. Hanya beberapa mahasiswa yang berjalan berpasangan di jalur setapak jauh di belakang mereka, suara kendaraan yang sesekali terdengar samar dari jalan luar kampus, dan gemerisik pepohonan yang digerakkan angin malam. Lampu-lampu dari gedung fakultas memantul di permukaan air yang tenang, membentuk garis-garis cahaya panjang yang bergoyang setiap kali permukaan danau disentuh angin. Raka berjalan lebih dulu beberapa langkah, membawa dua gelas minuman hangat yang mereka beli dari kedai kecil dekat taman, sementara Laras mengikutinya dengan langkah ringan sambil sesekali mengusap kedua tangannya yang mulai terasa dingin.

"Pelan-pelan, Rak. Jangan sampai jatuh."

Raka menoleh sambil mengangkat kedua gelas plastik itu sedikit lebih tinggi. "Yang jalan di belakang malah ngingetin yang di depan."

"Soalnya yang di depan bawa dua minuman sekaligus."

"Kalau jatuh, berarti kita minum air danau."

Laras langsung tertawa. "Ih, jorok."

Raka ikut tertawa, lalu melangkah lebih hati-hati ketika papan kayu mulai sedikit berderit di bawah telapak sepatunya. Dermaga itu tidak besar, hanya cukup untuk beberapa orang duduk berjajar di ujungnya. Beberapa bagian papan tampak sudah tua, warnanya memudar akibat panas dan hujan, tetapi malam itu semuanya terasa akrab. Raka duduk lebih dulu di ujung dermaga, kemudian menyerahkan salah satu gelas kepada Laras sebelum menarik napas panjang dan membiarkan kedua kakinya menggantung bebas di atas air.

"Enak juga di sini," kata Laras sambil meniup permukaan minumannya.

Raka mengangguk. "Aku jarang ke sini malam-malam."

"Kenapa?"

"Entahlah. Dulu kalau ke kampus, pikiranku cuma kuliah, tugas, organisasi, terus pulang."

"Dan sekarang?"

Raka memandang permukaan danau di depan mereka. "Sekarang kayaknya aku mulai ngerti kalau kampus juga bisa jadi tempat buat hidup."

Laras menoleh kepadanya. "Tumben ngomongnya bijak."

"Jangan dicatat."

"Kenapa?"

"Nanti kamu bilang aku sok intelek."

Laras terkekeh. "Aku nggak pernah bilang begitu."

"Belum."

"Berarti jangan kasih kesempatan."

Raka tersenyum. Senyum itu muncul begitu saja, tanpa usaha untuk terlihat menarik, tanpa kebiasaan lama untuk segera menundukkan kepala setelah menyadari seseorang sedang memandangnya. Ia menyesap minuman hangatnya dan membiarkan rasa manis yang sederhana itu menetap di lidah. Di hadapan mereka, danau memantulkan langit gelap yang nyaris tanpa warna, sementara cahaya lampu gedung menciptakan kilauan kekuningan di antara bayangan pohon. Entah mengapa, suasana yang sangat biasa itu justru membuat dada Raka terasa penuh.

Ia memandang tangannya sendiri.

Tangan yang dulu sering gemetar ketika hendak mengirim pesan kepada Anin. Tangan yang pernah sibuk membawakan obat, membawa laptop, memperbaiki sesuatu, atau melakukan berbagai hal kecil hanya supaya keberadaannya terasa berguna. Tangan yang pernah menjadi bagian dari kebiasaan panjang untuk terus memberikan sesuatu kepada orang lain, seolah-olah dirinya tidak akan punya alasan untuk dipertahankan kalau tidak bisa memberi manfaat.

Kini tangan itu hanya memegang gelas plastik berisi minuman hangat.

Tidak ada yang harus ia perbaiki.

Tidak ada seseorang yang sedang menunggunya melakukan sesuatu.

Tidak ada pesan yang harus segera dibalas agar ia tidak kehilangan tempat dalam hidup seseorang.

Di sampingnya ada Laras.

Dan untuk pertama kalinya, Raka tidak merasa harus melakukan apa pun untuk membuat seseorang tetap berada di sana.

"Kamu kenapa?"

Suara Laras menariknya kembali.

Raka mengedip pelan. "Kenapa apanya?"

"Dari tadi lihat air terus."

"Enggak kenapa-kenapa."

Laras memicingkan mata, lalu mendekatkan wajahnya sedikit. "Kamu kalau bohong kelihatan."

"Serius?"

"Serius."

Raka tertawa kecil. "Aku cuma lagi mikir."

"Bahaya."

"Kenapa bahaya?"

"Kalau Raka sudah mikir, biasanya satu kepala isinya seminar."

Raka menahan tawa. "Kamu jahat."

"Enggak. Aku realistis."

Angin malam lewat di antara mereka. Laras merapatkan kedua lengannya ke tubuh, lalu menarik napas panjang. Raka memperhatikan gerakan itu dan tanpa banyak bicara melepas jaket tipis yang dikenakannya.

"Pakai."

Laras langsung menggeleng. "Kamu nanti dingin."

"Aku nggak dingin."

"Kamu baru ngomong begitu lima menit lagi pasti menggigil."

"Kalau aku menggigil, kamu balikin."

Laras menatap jaket itu, lalu menatap Raka. Ada sesuatu yang lembut di matanya ketika akhirnya ia menerima pakaian tersebut. "Makasih."

Raka hanya mengangguk.

Laras mengenakan jaket itu, memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan, kemudian menyandarkan punggungnya sedikit. Wangi samar deterjen yang menempel pada kain membuatnya tersenyum sendiri. Raka tidak menyadarinya. Ia kembali melihat danau.

Namun kali ini, senyum Laras tidak hanya muncul karena jaket yang diberikan Raka.

Ia sedang memandang laki-laki yang duduk di sampingnya dan diam-diam mengingat semua versi dirinya yang pernah ia lihat.

Raka yang dahulu selalu berjalan sedikit menunduk.

Raka yang sering menarik kausnya sendiri agar tubuhnya tampak tidak terlalu kecil.

Raka yang akan tertawa canggung ketika seseorang bercanda mengenai tinggi badannya.

Raka yang pernah menganggap dirinya harus menjadi sangat berguna agar kekurangan fisiknya bisa ditebus.

Raka yang pernah menghilang begitu lama sampai dunia di luar kamarnya seolah-olah tidak lagi memiliki hak untuk memanggil namanya.

Dan laki-laki yang sekarang duduk di sebelahnya terlihat begitu berbeda.

Bukan karena tubuhnya berubah.

Bukan karena tingginya bertambah.

Bukan pula karena wajahnya tiba-tiba menjadi seperti seseorang yang selama ini ia bayangkan sebagai standar ketampanan.

Tidak ada yang berubah pada hal-hal itu.

Yang berubah adalah cara Raka memandang dirinya sendiri.

"Kamu ingat nggak," kata Raka tiba-tiba, "dulu aku pernah mikir kalau hidupku bakal berhenti di satu titik?"

Laras menoleh. "Titik apa?"

Raka terdiam sebentar.

"Di kamar itu."

Laras tidak langsung menjawab.

Ia tahu kamar yang dimaksud.

Kamar kos yang gelap.

Kamar yang pintunya pernah menjadi batas antara Raka dan dunia. Kamar tempat laki-laki itu pernah menghabiskan hari-hari tanpa membuka tirai, tanpa menjawab pesan, tanpa peduli apakah pagi sudah berubah menjadi sore atau malam. Kamar yang menjadi saksi ketika semua rasa malu, sakit hati, dan kebencian kepada dirinya sendiri bercampur menjadi satu sampai Raka tidak lagi mampu membedakan mana kenyataan dan mana suara buruk yang terus berputar di kepalanya.

Laras menurunkan gelasnya ke samping.

"Ingat."

Raka tersenyum tipis. "Dulu aku benar-benar ngerasa nggak bakal keluar dari sana."

"Tapi kamu keluar."

"Iya."

"Dan bukan cuma keluar."

Raka menoleh kepadanya.

"Kamu sekarang duduk di sini."

Laras menunjuk danau dengan dagunya. "Minum cokelat panas, pakai jaket yang kamu kasih sendiri, terus ngobrol sama aku tengah malam di dermaga kampus."

Raka terkekeh. "Kedengarannya sederhana."

"Memang sederhana."

"Tapi dulu aku nggak bisa membayangkan."

Laras memandang wajahnya beberapa saat. "Aku juga nggak pernah berharap kamu tiba-tiba jadi orang lain."

Raka diam.

"Aku cuma pengin kamu bisa hidup tanpa harus terus-terusan menghukum diri sendiri."

Kalimat itu masuk perlahan ke dalam dirinya.

Raka menundukkan kepala, bukan karena malu, melainkan karena tiba-tiba ia merasa terlalu banyak hal yang bergerak di dalam dadanya. Ia menggenggam gelas dengan kedua tangan dan menatap uap tipis yang naik dari permukaannya.

Lihat selengkapnya