Malam telah turun ketika Raka dan Bimo akhirnya meninggalkan gedung seminar. Halaman kampus yang sejak sore dipenuhi peserta kini mulai lengang, menyisakan beberapa panitia yang masih sibuk mengangkut kardus, menggulung kabel, dan memindahkan kursi-kursi lipat ke dalam auditorium. Udara malam membawa sisa panas aspal yang perlahan digantikan hawa dingin, sementara suara kendaraan dari jalan raya terdengar samar di balik pepohonan kampus. Raka berjalan berdampingan dengan Bimo menuju warkop sederhana yang sejak dulu menjadi tempat mereka menghabiskan terlalu banyak malam, hanya saja kali ini langkahnya terasa jauh lebih ringan daripada biasanya. Tidak ada lagi beban yang membuat bahunya membungkuk atau pandangan matanya terus-menerus jatuh ke tanah.
Warkop itu hampir sama seperti yang Raka ingat. Meja-meja kayu dengan permukaan yang sudah penuh goresan berjajar di bawah atap seng, lampu putih menggantung dari kabel panjang, dan televisi tua di sudut ruangan menyiarkan pertandingan sepak bola dengan suara sedikit terlalu keras. Aroma kopi hitam yang pekat bercampur dengan bau gorengan, asap rokok dari meja belakang, dan udara malam yang masuk melalui sisi warung yang terbuka. Raka memilih kursi yang menghadap televisi, sementara Bimo duduk di seberangnya dan langsung memesan dua kopi hitam tanpa bertanya. "Seperti biasa," katanya kepada pemilik warkop. Raka hanya tersenyum kecil, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi dengan napas panjang yang terasa seperti pelepasan sesuatu yang selama bertahun-tahun menempel di dadanya.
"Capek?" tanya Bimo setelah dua gelas kopi diletakkan di atas meja.
"Lumayan."
"Capek badan atau capek jadi orang penting?"
Raka tertawa pelan. "Apaan sih."
"Jangan merendah terus. Tadi satu auditorium nyariin kamu."
Raka mengangkat alis. "Besok juga lupa."
"Nah, itu masalahnya." Bimo mengaduk kopinya perlahan, kemudian menatap Raka dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Ada senyum tipis di wajahnya, tetapi sorot matanya jauh lebih serius. "Kamu sadar nggak sih, beberapa tahun lalu kamu mungkin bakal lari kalau disuruh naik panggung kayak tadi?"
Raka terdiam sejenak. Pandangannya bergeser menuju televisi, meskipun perhatiannya tidak benar-benar tertuju pada pertandingan. "Mungkin."
"Mungkin?" Bimo mendengus. "Bukan mungkin. Pasti."
Raka tersenyum tipis. Ia tidak membantah karena Bimo mengenalnya terlalu lama untuk bisa dibohongi dengan jawaban sederhana. Ada masa ketika bahkan sekadar berdiri di depan beberapa orang sudah membuat telapak tangannya berkeringat. Bukan karena ia tidak memahami materi, melainkan karena di dalam kepalanya selalu ada suara yang mengatakan bahwa tubuhnya akan lebih dulu dinilai daripada apa pun yang keluar dari mulutnya. Tingginya yang hanya 154 sentimeter telah lama menjadi semacam vonis yang ia bawa ke mana-mana, dan setiap kali berdiri di antara mahasiswa laki-laki lain, ia selalu merasa seperti seseorang yang salah masuk ruangan.
Bimo menyeruput kopi sebelum kembali bicara. "Tapi bukan itu yang mau gue omongin."
Raka memandangnya. "Terus?"
"Anin sama Maya."
Nama-nama itu jatuh begitu saja di antara mereka. Raka tidak lagi merasakan dada yang sesak seperti dahulu, tetapi ia tetap diam beberapa detik. Bukan karena terluka, melainkan karena dua nama tersebut kini seperti halaman lama yang sudah selesai dibaca. Ia masih mengingat apa yang pernah terjadi, masih mengetahui bagaimana rasanya menjadi seseorang yang menggantungkan harga dirinya pada penerimaan orang lain, tetapi kenangan itu tidak lagi memiliki tangan untuk menariknya kembali.
"Kenapa mereka?" tanya Raka.
Bimo mengangkat bahu. "Kabar dari panitia. Katanya kamu keren."
Raka langsung tertawa kecil. "Keren apanya?"
"Katanya Maya ngajak ngobrol setelah acara kemarin, kamu jawab baik-baik tapi nggak kasih celah. Terus Anin juga sempat nyari kamu, kan?"
Raka mengangguk perlahan. "Iya."
"Dan kamu juga jawab biasa aja."
"Memangnya harus gimana?"
Bimo menatapnya lama, lalu tersenyum. "Nah. Itu yang bikin gue bangga."
Raka mengernyit. "Gue nggak ngerti."