Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #75

Panggung Tanpa Rasa Takut

Siang berikutnya, auditorium utama universitas kembali dipenuhi manusia. Ratusan peserta seminar lintas kampus memenuhi kursi yang tersusun rapi hingga ke bagian belakang ruangan, sementara layar besar di belakang panggung menampilkan rangkaian tema seminar yang telah berlangsung selama beberapa hari. Suara percakapan memenuhi ruangan sebelum acara dimulai, bercampur dengan bunyi langkah panitia yang mondar-mandir membawa berkas dan perangkat presentasi. Di atas panggung berdiri sebuah podium kayu berukir dengan mikrofon yang telah disiapkan di tengahnya, dan beberapa lampu sorot mengarah tepat ke titik tempat pemapar utama akan berdiri.

Laras duduk di barisan terdepan.

Kedua tangannya terlipat santai di atas pangkuan, tetapi matanya tidak pernah benar-benar meninggalkan panggung. Ia tahu siapa yang akan naik beberapa menit lagi. Bahkan sebelum nama Raka disebut, ada senyum kecil yang sudah muncul di sudut bibirnya. Di antara kerumunan peserta, Maya dan Anin juga duduk tidak terlalu jauh dari panggung. Keduanya tidak banyak berbicara. Sesekali pandangan mereka bergerak menuju panggung, seolah-olah mereka masih belum sepenuhnya percaya bahwa orang yang dahulu mereka pandang dengan cara tertentu kini akan berdiri di hadapan ratusan orang sebagai pemapar utama.

Nama Raka akhirnya dipanggil.

Suasana auditorium perlahan hening.

Raka muncul dari sisi panggung dengan langkah tenang. Tidak ada gerakan berlebihan, tidak ada usaha untuk tampak lebih besar daripada dirinya sendiri. Tingginya tetap 154 sentimeter, sama seperti bertahun-tahun lalu. Wajahnya juga tidak berubah menjadi wajah seorang tokoh yang tiba-tiba sempurna. Namun cara ia membawa tubuhnya telah berubah. Bahunya tidak lagi menguncup untuk mengecilkan keberadaannya. Kepalanya tidak tertunduk. Ia berjalan menuju podium seperti seseorang yang tahu bahwa keberadaannya tidak perlu disahkan oleh tinggi badan, pakaian, ataupun pandangan orang lain.

Laras menatapnya dengan mata berbinar.

Raka berdiri di balik podium.

Ia mengatur posisi mikrofon, membuka beberapa lembar catatan, lalu memandang auditorium. Ratusan pasang mata menatap balik kepadanya. Dahulu pemandangan seperti itu mungkin akan membuat dadanya berdegup tidak beraturan. Kali ini ia hanya menarik napas perlahan dan membiarkan pandangannya menyapu ruangan.

Tidak ada rasa takut.

Yang ada hanya kesadaran bahwa setiap orang di hadapannya datang untuk mendengar gagasan, bukan untuk mengukur tinggi tubuhnya.

"Selamat siang."

Suaranya terdengar jelas sampai baris paling belakang.

"Terima kasih sudah mengikuti rangkaian seminar ini sampai penutupan. Saya akan mencoba merangkum beberapa gagasan yang menurut saya paling penting, bukan dengan mengulang semua materi yang sudah disampaikan, tapi dengan melihat benang merah yang menghubungkannya."

Laras tersenyum.

Itulah Raka yang ia kenal.

Tidak berusaha terdengar pintar. Tidak menggunakan istilah rumit hanya untuk membuat orang terkesan. Ia berbicara seperti seseorang yang benar-benar memahami apa yang ingin ia sampaikan.

Raka mulai menjelaskan hasil diskusi dari berbagai sesi seminar. Ia menghubungkan pandangan para pemateri dari latar belakang kampus dan disiplin yang berbeda, menunjukkan perbedaan perspektif tanpa menghilangkan konteksnya. Ketika menggunakan istilah akademis, ia menjelaskannya kembali dengan bahasa sederhana. Ketika membicarakan persoalan sosial, ia tidak berdiri seolah-olah memiliki jawaban mutlak, melainkan mengajak audiens melihat masalah dari beberapa sudut.

"Menurut saya, persoalan utama bukan selalu soal siapa yang paling benar," katanya. "Kadang masalahnya justru muncul karena kita terlalu cepat menganggap pengalaman kita sendiri bisa mewakili semua orang."

Beberapa peserta mulai mencatat.

Raka melanjutkan dengan tenang.

Lihat selengkapnya