Sore telah turun perlahan di halaman depan auditorium ketika suara mesin bus mulai memenuhi area parkir kampus. Matahari yang sejak siang menggantung tinggi kini sudah condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang memantul pada kaca-kaca gedung dan permukaan jendela bus yang berjajar di sepanjang tepian jalan. Beberapa mahasiswa dari kampus luar berjalan mondar-mandir membawa koper, ransel, kardus berisi perlengkapan acara, dan kantong-kantong cendera mata yang belum sempat dibagikan. Udara dipenuhi campuran aroma aspal yang mulai mendingin, rumput yang baru saja terkena embusan angin, dan sisa kopi dari meja registrasi yang belum dibereskan sepenuhnya. Di antara kesibukan itu, Raka berdiri dengan kemeja yang lengan bajunya digulung sampai siku, membantu seorang delegasi memasukkan koper besar ke bagasi bus sambil sesekali mengarahkan mahasiswa lain agar tidak menumpuk barang di jalur keluar.
Tubuhnya yang hanya setinggi 154 sentimeter tampak tidak pernah menjadi persoalan baginya lagi. Ia masih harus berjinjit sedikit ketika mengangkat koper tertentu ke bagian yang lebih tinggi, masih harus meminta bantuan ketika barang terlalu berat untuk ditangani seorang diri, tetapi tidak ada lagi gerakan gugup yang dahulu selalu muncul ketika ia merasa tubuhnya sedang diperhatikan. Ia tidak lagi otomatis menundukkan kepala saat berpapasan dengan laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya, tidak lagi menarik ujung kemeja untuk menutupi tubuhnya, dan tidak lagi memeriksa bayangannya pada kaca mobil dengan tatapan yang mencari-cari kekurangan. Sesekali ia tertawa ketika salah satu mahasiswa meminta maaf karena membawa terlalu banyak barang, kemudian menjawab dengan nada ringan, “Santai aja. Yang penting jangan ada yang ketinggalan.” Kalimat sederhana itu terdengar begitu biasa, tetapi bagi Raka, kemampuan untuk mengucapkannya sambil menatap orang lain tanpa merasa dirinya lebih rendah merupakan sesuatu yang dahulu bahkan tidak pernah berani ia bayangkan.
“Rak, yang kardus seminar ini masuk bus yang belakang, ya.”
Raka menoleh dan menerima kardus dari seorang panitia. “Yang belakang, oke. Jangan ditaruh paling bawah kalau masih ada barang rapuh.” Ia membungkuk, memeriksa label pada sisi kardus, kemudian menggesernya ke tangan mahasiswa lain yang berdiri di dekat pintu bagasi. “Pegang dari bawah. Isinya buku sama sertifikat, bukan batu bata.” Mahasiswa itu tertawa dan mengangguk sebelum membawa kardus tersebut pergi. Raka ikut tersenyum, lalu mengusap kedua telapak tangannya yang berdebu pada sisi celana sebelum kembali memperhatikan antrean koper. Ada kepuasan kecil dalam kegiatan semacam itu, bukan karena ia sedang membuktikan dirinya berguna kepada siapa pun, melainkan karena untuk pertama kalinya ia membantu orang lain tanpa merasa bantuan itu harus menjadi tiket untuk mendapatkan kasih sayang.
Dahulu, ia mengenal dirinya melalui peran semacam itu.
Orang yang dipanggil ketika laptop bermasalah. Orang yang dimintai tolong ketika seseorang sakit dan membutuhkan obat. Orang yang bisa datang kapan saja ketika seseorang membutuhkan tempat untuk mengeluh. Orang yang bersedia menunggu, mengantar, memperbaiki, membawa, mengambil, menjelaskan, bahkan meminta maaf untuk sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Raka pernah mengira bahwa selama ia cukup berguna, seseorang mungkin akan melihat sesuatu yang lebih dalam dari tubuhnya yang pendek, wajahnya yang menurut dirinya sendiri tidak istimewa, dan segala kekurangan yang bertahun-tahun ia kumpulkan seperti daftar dosa. Ia pernah berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang harus dibayar dengan pengorbanan.
Sekarang ia tahu bahwa cinta tidak pernah seharusnya terasa seperti transaksi.
“Raka.”
Suara itu datang dari arah belakang.
Tangan Raka yang sedang merapikan tali koper berhenti sejenak.
Ia tidak perlu menoleh untuk mengenali suara tersebut.
Maya.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Raka mengangkat wajah. Maya berdiri sekitar dua meter darinya, mengenakan pakaian panitia yang sudah sedikit kusut setelah seharian mengikuti rangkaian seminar. Rambutnya yang sejak pagi tertata rapi kini beberapa helai terlepas di sekitar wajah. Di tangannya terdapat tas kecil dan sebuah map yang dijepit di bawah lengan. Di belakangnya, beberapa mahasiswa dari delegasinya sedang menunggu giliran memasukkan barang ke bagasi, tetapi Maya tidak segera bergabung dengan mereka.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada ledakan emosi.
Tidak ada rasa sesak seperti yang mungkin pernah terjadi beberapa bulan lalu.
Tidak ada pula keinginan untuk segera mengalihkan pandangan.
Raka hanya memandang Maya sebagaimana seseorang memandang wajah yang pernah sangat dikenalnya, kemudian menyadari bahwa wajah itu kini hanya menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang sudah selesai.
“Hai,” kata Raka.
Maya tersenyum tipis. “Hai.”
Ada sesuatu yang berbeda dalam senyum Maya. Bukan lagi senyum yang menyimpan rasa ingin tahu, bukan senyum yang mencoba membaca reaksi Raka, dan bukan pula ekspresi seseorang yang sedang mencari celah untuk masuk kembali ke kehidupan orang lain. Senyum itu tampak sederhana, bahkan sedikit lelah, tetapi jujur.
“Kamu sibuk?” tanya Maya.
Raka melirik tumpukan koper di sampingnya. “Lumayan. Tapi udah hampir selesai.”
Maya mengangguk. Ia menatap sejenak bus yang berada di belakang Raka sebelum kembali menatap wajahnya. “Aku boleh ngomong sebentar?”
Raka mengangguk. “Boleh.”
Maya melangkah mendekat.
Untuk sesaat, Raka merasakan sesuatu yang hampir menyerupai nostalgia. Bukan kerinduan, melainkan ingatan tentang versi dirinya yang pernah begitu mudah terguncang hanya karena seseorang berdiri terlalu dekat. Ia teringat masa ketika satu perubahan nada suara bisa membuatnya menghabiskan malam dengan bertanya-tanya apakah dirinya telah melakukan kesalahan. Ia teringat bagaimana dulu ia memikirkan setiap kata, setiap pesan, setiap jeda balasan, seolah-olah hidupnya bergantung pada keputusan orang lain untuk menyukainya atau tidak.
Tetapi ingatan itu kini datang seperti melihat sebuah rumah dari kejauhan.
Ia tahu pernah tinggal di sana.
Ia tahu pernah menangis di dalamnya.
Namun ia tidak lagi ingin kembali.
Maya berhenti di hadapannya. “Aku mau salaman.”
Raka sempat tersenyum kecil. “Serius amat.”
“Biar resmi.”
“Memangnya kita habis tanda tangan kontrak?”
Maya tertawa pelan. Tawa itu membuat ketegangan di antara mereka sedikit mencair. “Kamu masih suka bercanda, ternyata.”
“Kalau nggak bercanda, nanti hidup terlalu serius.”
Maya mengulurkan tangan.
Raka melihat tangan itu sebentar sebelum menyambutnya.
Jabat tangan mereka berlangsung singkat, hangat, dan sederhana.
Namun bagi Maya, mungkin itu bukan sekadar salam perpisahan.
Bagi Raka juga bukan sekadar itu.
Maya menatap tangan mereka yang masih bertaut beberapa detik, lalu melepaskannya perlahan. “Aku mau minta maaf.”
Raka tidak langsung menjawab.
“Buat semuanya,” lanjut Maya. “Buat hal-hal yang mungkin pernah aku lakuin tanpa sadar. Buat waktu aku pernah menilai kamu dari sesuatu yang sebenarnya nggak pantas dijadikan ukuran seseorang.”
Raka menarik napas perlahan. Angin sore menyapu halaman auditorium, membawa suara orang-orang yang sedang memanggil nama temannya dari kejauhan. Di atas mereka, sebuah spanduk seminar bergerak pelan tertiup angin, bunyi gesekan talinya terdengar kecil tetapi konstan.
“Kamu nggak perlu minta maaf terus,” kata Raka akhirnya.
“Aku tahu.” Maya tersenyum getir. “Tapi aku tetap pengin ngomong.”
Raka mengangguk.
Maya menundukkan kepala sebentar, seolah sedang menyusun kata-kata yang selama ini terlalu sulit diucapkan. “Aku dulu mungkin terlalu sibuk melihat siapa yang kelihatan paling hebat. Siapa yang paling pintar ngomong. Siapa yang paling punya posisi. Siapa yang kelihatan paling cocok berdiri di samping aku. Aku kira itu standar yang penting.”
Ia mengangkat wajah.
“Ternyata aku salah.”
Raka tidak berkata apa-apa.
“Aku lihat kamu sekarang,” lanjut Maya. “Dan aku sadar, orang yang benar-benar kuat itu bukan orang yang paling keras suaranya. Bukan orang yang paling banyak ngomong soal prinsip. Tapi orang yang bisa tetap berdiri setelah dihantam sesuatu yang seharusnya bikin dia jatuh.”
Raka tersenyum kecil. “May, jangan bikin aku malu.”
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
Maya menatapnya lebih lama. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Raka sadar bahwa perempuan itu benar-benar sedang berusaha mengatakan sesuatu yang tidak mudah. “Aku dengar soal yang terjadi sama Anin.”
Raka terdiam sejenak.
Nama itu tidak lagi membuat dadanya runtuh.
Dahulu, hanya mendengar nama Anin sudah cukup untuk membuat seluruh tubuhnya terasa berat. Sekarang nama tersebut lewat seperti nama seseorang yang pernah menjadi pusat dunianya, tetapi kini hanya tinggal titik kecil di peta kehidupan.
“Udah selesai,” kata Raka.
“Aku tahu.”
“Beneran udah selesai.”
Maya mengangguk. “Aku bisa lihat.”
Ia menarik napas panjang.
“Dan aku juga tahu soal apa yang kamu lakuin waktu aku mencoba ngomong sama kamu.”
Raka mengangkat alis. “Yang mana?”
“Kamu tahu.”
Raka tertawa kecil. “Kalau aku pura-pura nggak tahu?”
“Ya aku tetap tahu kamu tahu.”
Raka menggeleng sambil tersenyum.
Maya ikut tersenyum. Namun setelah itu ekspresinya berubah lebih tenang. “Kamu nolak aku dengan cara yang baik. Nggak mempermalukan aku, nggak bikin aku merasa bodoh, nggak nyalahin aku. Kamu cuma bilang bahwa kamu udah punya pilihan sendiri dan kamu nggak mau membuka kembali sesuatu yang udah selesai.”
Raka mengangkat bahu. “Memangnya harus gimana?”
“Buat orang lain mungkin sederhana.” Maya memandangnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Buat kamu, aku tahu itu nggak sederhana.”
Raka menundukkan pandangan.
Ia tidak perlu menjelaskan.
Maya sudah tahu.
Mungkin tidak semua luka, tetapi cukup banyak untuk mengerti bahwa ketenangan Raka hari ini bukan sesuatu yang jatuh begitu saja dari langit.
“Aku cuma pengin bilang satu hal,” kata Maya.
Raka kembali menatapnya.
“Selamat.”
Raka terdiam.
Maya tersenyum.
“Selamat karena kamu berhasil keluar dari semua itu dengan kepala tegak.”
Angin kembali berembus. Kali ini lebih dingin. Matahari sudah semakin rendah, membuat bayangan bus memanjang di atas aspal.
“Aku mungkin nggak punya hak untuk bilang ini,” lanjut Maya, “tapi menurutku kamu adalah pria terbaik yang pernah aku kenal.”
Raka langsung tertawa kecil, bukan karena mengejek, melainkan karena kalimat itu terasa terlalu besar untuk dirinya.
“Jangan lebay.”
“Aku nggak lebay.”
“May, aku masih manusia biasa.”
“Justru itu.”
Maya menatapnya dengan tenang. “Kamu manusia biasa yang belajar jadi lebih baik tanpa harus menjatuhkan orang lain. Itu nggak semua orang bisa.”
Raka mengusap belakang lehernya. Kebiasaan lama ketika merasa tidak nyaman menerima pujian masih muncul, tetapi kali ini bukan karena ia merasa tidak layak. Ia hanya tidak terbiasa menerima penghargaan tanpa harus membalasnya dengan kerja keras.
“Terima kasih,” katanya akhirnya.
Maya mengangguk.
“Aku serius, Rak.”
“Aku juga serius.”
Maya tersenyum. “Semoga kamu sukses.”
“Kamu juga.”