Sore turun perlahan di kampus, meninggalkan warna keemasan yang menempel pada dinding-dinding gedung fakultas dan lantai selasar yang mulai lengang. Acara seminar telah selesai sejak beberapa puluh menit lalu, tetapi jejak keramaiannya masih tersisa dalam bentuk beberapa kursi yang belum dikembalikan ke tempat semula, gelas plastik kosong di atas meja registrasi, serta suara langkah orang-orang yang sesekali terdengar dari ujung koridor. Di antara semua itu, Raka dan Laras berjalan beriringan menyusuri selasar dengan tangan yang saling menggenggam, tidak terburu-buru menuju mana pun. Jari Laras menyelip di antara jari Raka dengan gerakan yang begitu biasa, begitu sederhana, sampai Raka sempat berpikir bahwa mungkin kebahagiaan memang tidak selalu datang dengan suara besar. Kadang-kadang ia hanya hadir dalam bentuk telapak tangan yang hangat, langkah kaki yang selaras, dan seseorang yang memilih berjalan di sampingmu tanpa meminta alasan untuk tetap tinggal.
Raka menoleh sebentar kepada Laras. Perempuan itu sedang memandang halaman fakultas yang diselimuti cahaya sore, rambutnya bergerak sedikit setiap kali angin melewati selasar terbuka. Ada senyum kecil di sudut bibirnya, bukan senyum yang dibuat untuk seseorang, melainkan ekspresi seseorang yang sedang merasa cukup dengan apa yang ada di hadapannya. Raka ikut tersenyum, lalu kembali menatap lurus ke depan. Beberapa tahun lalu, ia tidak pernah membayangkan dirinya akan mampu berjalan seperti ini. Dulu, setiap kali melewati tempat yang ramai, ia selalu punya kebiasaan menundukkan kepala, merapatkan bahu, dan mempercepat langkah seolah-olah tubuhnya sendiri adalah sesuatu yang harus disembunyikan dari pandangan orang lain. Kini langkahnya tetap sederhana, tubuhnya tetap sama, tinggi badannya tetap 154 sentimeter, tetapi ada sesuatu yang berubah begitu dalam sehingga angka itu tidak lagi terasa seperti vonis.
"Capek?" tanya Laras sambil menoleh.
Raka menggeleng. "Lumayan. Tapi bukan capek yang bikin pengin kabur."
Laras tertawa kecil. "Berarti kemajuan besar."
Raka ikut tertawa. "Dulu selesai acara kayak gini mungkin aku langsung cari tempat paling sepi."
"Terus ngilang?"
"Terus ngilang."
"Berhari-hari?"
Raka mengangguk pelan. "Berhari-hari."
Laras tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Raka sedikit lebih erat, lalu kembali melangkah. Tidak ada nada kasihan dalam diamnya. Raka menyukai itu. Laras tidak pernah memperlakukannya seperti benda pecah belah yang harus disentuh dengan hati-hati. Ia boleh mengingat masa lalu tanpa dipaksa tinggal di sana. Ia boleh menyebut luka tanpa harus kembali menjadi orang yang terluka.
Mereka melewati deretan pilar yang menyangga atap selasar. Bayangan pilar-pilar itu jatuh memanjang di lantai, membentuk garis-garis gelap yang terpotong cahaya matahari sore. Setiap kali melewati satu garis bayangan, kaki mereka seakan berpindah dari satu warna ke warna lain. Raka memperhatikan pola itu beberapa saat, lalu tersenyum sendiri. Dulu ia sering berpikir bahwa hidupnya juga seperti itu, bahwa setiap kali berhasil keluar dari satu bagian gelap, ia hanya akan masuk ke bagian gelap berikutnya. Ada masa ketika kamar kos menjadi seluruh dunianya, ketika tirai yang tertutup dan lampu yang mati terasa lebih aman daripada dunia di luar. Ia pernah berbaring berjam-jam tanpa bergerak, mendengar suara kendaraan dari jalan raya dan langkah orang-orang di lorong kos, sambil bertanya dalam hati apa gunanya dirinya jika tubuh yang ia miliki selalu dianggap tidak cukup.
Sekarang, suara langkah yang sama tidak lagi terdengar seperti ancaman.
"Aku kadang masih nggak percaya," kata Raka.
Laras menoleh. "Nggak percaya apa?"
"Kalau aku bisa sampai sini."
Laras mengangkat alis. "Sampai mana?"
Raka tersenyum tipis. "Sampai titik di mana aku bisa jalan begini tanpa mikirin orang bakal lihat aku sebagai apa."
Laras mengamati wajahnya beberapa detik. "Kamu masih mikirin itu?"
"Kadang."
Jawaban itu membuat Laras tersenyum.
"Boleh."
Raka menoleh. "Boleh?"
"Boleh masih kepikiran. Kamu nggak harus sembuh sampai lupa pernah sakit."
Kalimat itu membuat Raka terdiam. Ada sesuatu dalam cara Laras mengucapkannya yang selalu membuat pikirannya berhenti sejenak. Tidak ada tuntutan untuk menjadi versi baru yang sempurna. Tidak ada target bahwa setelah dicintai seseorang, seluruh rasa minder harus hilang seketika. Laras selalu membiarkan masa lalu menjadi masa lalu tanpa memaksanya dihapus.
Raka menarik napas panjang. "Dulu aku pikir kalau aku lebih tinggi, mungkin semuanya bakal beda."
Laras mengangguk kecil, memberi ruang baginya untuk melanjutkan.
"Kalau aku lebih tinggi, mungkin aku nggak akan gampang diremehkan. Kalau mukaku lebih bagus, mungkin aku nggak akan dianggap aneh. Kalau aku kelihatan lebih kayak cowok yang dianggap menarik, mungkin aku nggak perlu kerja sekeras itu buat bikin orang tetap mau dekat sama aku."
Ia tertawa kecil, tetapi tawa itu tidak lagi memiliki kepahitan seperti dahulu. "Lucu ya? Aku sampai pernah mikir nilai diriku bisa dihitung dari tinggi badan."
"Karena dulu ada orang-orang yang bikin kamu percaya begitu."
Raka menatap Laras. "Iya."
Mereka terus berjalan. Di kejauhan, suara motor mahasiswa yang keluar dari area parkir terdengar samar, bercampur dengan suara burung yang mulai mencari tempat bertengger menjelang malam. Kampus perlahan berganti suasana. Gedung-gedung yang tadi dipenuhi percakapan mulai sunyi. Cahaya matahari semakin rendah, menyentuh sisi wajah Laras dan membuat rambutnya terlihat memiliki warna keemasan.
"Rak," kata Laras kemudian, "aku boleh ngomong sesuatu?"
"Boleh."
"Kamu tahu kenapa aku nggak pernah melihat tinggi badanmu sebagai masalah?"
Raka menggeleng.