Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #78

Janji yang Sederhana

Matahari hampir tenggelam ketika Raka mengajak Laras berbelok dari jalur utama kampus menuju pelataran gedung tua yang selama ini menjadi salah satu tempat favorit mereka. Gedung itu tidak lagi seramai bangunan fakultas utama. Dinding bata merah tuanya dipenuhi tanaman rambat yang menjalar dari bawah hingga mendekati jendela-jendela tinggi, sementara beberapa bagian plester telah mengelupas dan memperlihatkan usia bangunan yang jauh lebih tua daripada gedung-gedung baru di sekitarnya. Di sore menjelang Maghrib seperti itu, cahaya matahari menyentuh permukaan bata dengan warna oranye lembut, membuat tempat tersebut terasa hangat dan tenang. Laras mengikuti Raka tanpa banyak bertanya, meskipun beberapa kali matanya mencuri pandang ke arah lelaki itu karena sejak tadi Raka terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Laras ketika mereka sampai di tengah pelataran.

Raka memasukkan kedua tangannya ke saku celana, lalu mengangkat bahu.

"Karena aku suka tempat ini."

Laras menyipitkan mata.

"Alasan sebenarnya?"

Raka tertawa kecil. "Kamu curiga banget."

"Karena kamu dari tadi aneh."

"Aneh gimana?"

"Kayak orang nyembunyiin sesuatu."

Raka mencoba mempertahankan wajah tenang, tetapi senyumnya justru membuat Laras semakin yakin.

"Rak."

"Hm?"

"Kamu mau ngasih aku apa?"

Raka tertawa pelan. "Kok langsung mikir dikasih?"

"Ya karena muka kamu begitu."

"Muka aku kenapa?"

"Kayak anak kecil habis beli sesuatu terus takut ketahuan."

Raka menggeleng sambil tertawa. "Parah."

Mereka berhenti di dekat bangku batu yang menghadap dinding bata tua. Beberapa daun kering jatuh perlahan dari tanaman rambat di atas mereka. Suasana kampus mulai berubah menjelang petang. Suara azan dari masjid di sekitar kampus belum terdengar, tetapi beberapa mahasiswa sudah mulai meninggalkan gedung perkuliahan. Dari kejauhan terdengar suara pintu kelas ditutup, disusul suara seseorang memanggil temannya sebelum akhirnya hilang ditelan jarak.

Raka berdiri di depan Laras.

Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.

Laras mulai tersenyum kecil.

"Serius amat."

Raka menarik napas.

"Aku cuma mau ngomong sesuatu."

"Oke."

Raka memasukkan tangan ke saku kemejanya. Jemarinya menyentuh benda kecil yang sejak tadi ia simpan di sana. Kotak itu terasa ringan, tetapi anehnya berat di telapak tangannya. Bukan karena benda di dalamnya mahal. Justru karena benda itu membawa sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan.

Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna gelap.

Laras memandang benda itu, kemudian wajah Raka.

"Raka..."

"Tenang. Bukan bom."

Laras langsung tertawa. "Siapa juga yang mikir bom?"

"Aku gugup."

"Kelihatan."

Raka ikut tertawa, lalu membuka kotak itu perlahan.

Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak polos. Tidak ada batu permata besar. Tidak ada ukiran rumit. Bentuknya sederhana, dengan permukaan yang memantulkan cahaya jingga dari matahari sore.

Laras terdiam.

Senyumnya perlahan berubah.

Matanya membesar sedikit ketika melihat cincin itu, lalu kembali menatap Raka seakan ingin memastikan bahwa ia tidak salah memahami apa yang sedang terjadi.

"Ini..." suaranya hampir berbisik.

Raka mengangguk.

"Iya."

Laras menatap cincin itu lagi. "Buat aku?"

"Iya."

"Kenapa?"

Raka menutup kotak itu sebentar, lalu menggenggamnya dengan kedua tangan. Ia menundukkan kepala sesaat, mengumpulkan kalimat yang sejak beberapa hari lalu berkali-kali ia susun dalam pikirannya. Ia bisa bicara di depan ratusan orang tanpa gemetar, bisa menyusun gagasan dalam forum akademik, bisa menghadapi orang-orang dari masa lalu tanpa harus membenci mereka. Tetapi berdiri di depan Laras seperti ini membuat seluruh kemampuan retorikanya terasa tidak berguna.

"Aku nggak punya janji yang muluk-muluk," katanya akhirnya. "Aku nggak bisa janji kita bakal selalu bahagia. Aku juga nggak bisa janji aku nggak bakal punya hari buruk. Mungkin nanti aku masih punya hari ketika rasa minder itu datang lagi. Mungkin kadang aku masih takut. Mungkin ada hal-hal dari masa lalu yang sesekali masih bikin aku kepikiran."

Laras mendengarkan tanpa menyela.

"Tapi aku tahu satu hal."

Raka membuka kotak itu kembali.

"Hati aku sudah selesai mencari tempat lain."

Laras menahan napas.

"Setelah semua yang terjadi, aku akhirnya ngerti kalau cinta itu bukan tentang menemukan orang yang bikin kita merasa paling hebat. Bukan juga tentang menemukan seseorang yang membuat semua luka langsung hilang." Raka menatap matanya. "Buat aku, cinta itu tentang menemukan seseorang yang bikin aku nggak perlu berpura-pura jadi orang lain."

Jari Laras bergerak kecil di sisi tubuhnya.

"Dan kamu orang itu."

Angin sore melewati pelataran, menggerakkan daun-daun tanaman rambat. Beberapa helai rambut Laras jatuh menutupi sisi wajahnya. Ia tidak segera membenarkannya karena matanya tetap tertuju kepada Raka.

Lihat selengkapnya