Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #79

Menyusun Hari Di Depan

Pagi masuk ke kamar kos Raka tanpa mengetuk. Daun jendela yang dibuka lebar bergerak pelan setiap kali angin melewatinya, membawa serta aroma tanah yang masih menyimpan sisa embun dan samar-samar suara kendaraan dari jalan depan gang. Tirai tipis di sisi jendela berkibar sebentar sebelum jatuh kembali, membiarkan cahaya matahari menumpahkan warna keemasan di lantai dan meja belajar yang kini jauh berbeda dari beberapa bulan lalu. Tidak ada tumpukan pakaian di sudut ruangan, tidak ada gelas kopi yang dibiarkan semalaman, tidak ada buku yang tergeletak terbuka tanpa pernah disentuh lagi. Di dinding sebelah meja tergantung sebuah papan tulis kecil dengan jadwal kegiatan yang ditulis menggunakan spidol hitam, lengkap dengan beberapa catatan kecil yang dibuat Raka sendiri agar ia tidak lupa membagi waktu antara kuliah, organisasi, penelitian, dan hal-hal sederhana yang dulu sering ia abaikan karena pikirannya terlalu sibuk bertahan hidup.

Raka duduk di salah satu sisi meja dengan sebuah laptop terbuka di hadapannya, sementara Laras duduk berseberangan sambil memegang beberapa lembar kertas yang penuh coretan. Meja itu sebenarnya tidak besar, hanya cukup untuk dua laptop, beberapa buku, tempat pensil, dan dua gelas air putih, tetapi pagi itu rasanya seperti ruang kerja kecil tempat dua orang sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar daftar tugas kuliah. Raka menyandarkan punggungnya pada kursi dan memperhatikan papan tulis di belakang Laras, lalu tersenyum kecil ketika melihat tulisan target minggu ini yang dibuatnya dua hari lalu. Ada sesuatu yang terasa aneh dalam kesederhanaan pagi itu. Dulu, melihat jadwal seperti itu bisa membuat dadanya sesak karena setiap kotak dalam kalender terasa seperti perlombaan yang harus dimenangkannya sebelum orang lain mendahuluinya, tetapi sekarang kotak-kotak itu hanya tampak seperti hari-hari yang bisa dijalani satu demi satu.

"Jadi, kita mulai dari topik dulu atau target kelulusan?" tanya Laras sambil membalik halaman catatannya.

"Topik dulu. Kalau target kelulusan ditulis sekarang, nanti aku malah sibuk ngejar tanggalnya."

Laras mengangkat wajah dan tersenyum. "Berarti kamu sadar sekarang?"

Raka mengangkat alis. "Sadar apaan?"

"Dulu kamu bisa stres cuma gara-gara lihat orang lain udah maju satu langkah."

Senyum Raka berubah menjadi tawa kecil. Ia mengambil pensil yang terletak di samping laptop dan memutarnya di antara jari. "Dulu aku kira hidup itu lomba."

"Terus sekarang?"

"Sekarang aku pikir hidup itu... ya hidup."

Jawaban itu terdengar terlalu sederhana untuk sebuah perubahan yang membutuhkan perjalanan panjang. Namun Laras tidak menertawakannya. Ia justru mengangguk pelan, seolah memahami bahwa ada kalimat-kalimat tertentu yang baru bisa diucapkan seseorang setelah melewati terlalu banyak malam untuk sampai pada maknanya.

Raka membuka dokumen kosong di laptop. Kursor berkedip di halaman putih, menunggu kalimat pertama. Ia menatapnya beberapa detik sebelum mengetik judul sementara penelitian yang sejak beberapa minggu terakhir mereka diskusikan. Laras ikut mendekat sedikit, membaca layar sambil sesekali menunjuk bagian yang menurutnya perlu diperjelas. Mereka tidak selalu sepakat. Beberapa kali Laras meminta Raka mempersempit fokus, sementara Raka menganggap gagasan itu terlalu sempit untuk menjelaskan persoalan yang ingin ia teliti. Mereka berdebat kecil tentang konsep, variabel, literatur, bahkan tentang apakah sebuah istilah perlu dipertahankan atau diganti dengan istilah yang lebih mudah dipahami.

Namun tidak ada satu pun perdebatan yang terasa seperti pertarungan.

Raka tidak lagi harus membuktikan bahwa pendapatnya paling benar. Laras juga tidak perlu menang hanya agar gagasannya dianggap penting. Mereka bisa mengatakan aku nggak setuju tanpa membuat ruangan menjadi dingin, kemudian membuka jurnal, membaca kembali, dan menemukan bahwa mungkin keduanya sama-sama memiliki sebagian kebenaran. Bagi Raka, pengalaman itu jauh lebih berharga daripada sekadar menghasilkan rancangan penelitian yang bagus. Ia sedang belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh nilai indeks prestasi, sertifikat seminar, atau tepuk tangan auditorium. Ia sedang belajar bahwa menjadi cerdas tidak berarti harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

"Yang ini gimana?" Laras menunjuk satu paragraf.

Raka membaca ulang. "Kayaknya terlalu luas."

"Aku juga mikir gitu."

"Berarti kita sepakat."

"Jarang-jarang."

"Jangan dibiasakan."

Laras tertawa. Raka ikut tertawa, lalu kembali menatap layar. Cahaya pagi jatuh pada wajahnya dari samping, memperlihatkan ekspresi yang tenang tanpa ketegangan yang dahulu hampir selalu menetap di antara alisnya.

Ada masa ketika Raka tidak bisa membuka buku tanpa membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia melihat mahasiswa yang mendapat nilai lebih tinggi dan langsung merasa dirinya gagal. Ia mendengar seseorang berbicara lebih lancar di kelas dan menganggap dirinya kurang layak. Ia melihat laki-laki lain yang tubuhnya jauh lebih tinggi, bahunya lebih lebar, wajahnya lebih mudah menarik perhatian, lalu tanpa sadar mengecilkan posisi tubuhnya sendiri. Bahkan ketika berjalan di lorong kampus, ia terbiasa menundukkan kepala sedikit, seolah dengan mengurangi ruang yang diambil tubuhnya, dunia akan lebih mudah menerimanya.

Lihat selengkapnya