Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #80

Rumah Bagi Jiwa

Malam turun perlahan ketika pekerjaan hari itu akhirnya selesai. Setelah memastikan semua catatan penelitian tersimpan dan laptopnya dimatikan, Raka berdiri dari kursinya dan meregangkan tubuh. Bahunya terasa pegal setelah berjam-jam duduk, tetapi rasa lelah itu berbeda dari lelah yang pernah ia kenal. Dulu, kelelahan selalu terasa seperti sisa peperangan. Sekarang, ia hanya terasa seperti tubuh yang telah melakukan pekerjaannya dengan baik.

Laras sudah lebih dulu keluar ke teras kos. Ia duduk di kursi plastik sambil memandang jalan kecil di depan bangunan. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu, membentuk titik-titik cahaya di antara pepohonan dan atap bangunan. Langit malam tidak sepenuhnya gelap. Cahaya kota membuat sebagian besar bintang menghilang, tetapi beberapa masih terlihat tipis di antara celah awan.

Raka masuk ke kamar sebentar, lalu kembali membawa dua cangkir teh hangat.

"Ini," katanya sambil meletakkan satu cangkir di depan Laras.

Laras mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Uap tipis naik dari permukaan teh dan menyentuh wajahnya.

"Makasih."

Raka duduk di sampingnya. Ia meniup permukaan tehnya perlahan sebelum menyesap sedikit. Rasa hangat menyebar dari tenggorokan ke dada. Tidak istimewa. Hanya teh biasa yang dibuat dari air panas dan satu kantong teh yang dibeli dari warung dekat kos. Namun malam itu, cangkir sederhana tersebut terasa seperti sesuatu yang sangat berharga.

Raka memandang langit.

Ada begitu banyak hal yang pernah ia pikir akan membunuh masa depannya.

Tahun 2016.

Penolakan yang dulu terasa seperti vonis terhadap seluruh tubuhnya.

Tatapan orang-orang yang membuatnya sadar bahwa tubuh pendeknya akan selalu menjadi sesuatu yang mudah dibandingkan. Kalimat-kalimat yang mungkin bagi orang lain hanya berlangsung beberapa detik, tetapi bagi dirinya berubah menjadi suara yang terus berputar bertahun-tahun. Ia pernah pulang dengan kepala tertunduk, berdiri lama di depan cermin, lalu bertanya kepada bayangannya sendiri mengapa ia tidak bisa menjadi seperti laki-laki lain.

Kemudian datang masa kuliah.

Ia bertemu Anin.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa punya seseorang untuk diperjuangkan. Ia memberi terlalu banyak tanpa menyadari bahwa sebagian dari pemberiannya bukan lahir dari kasih sayang, melainkan dari kebutuhan untuk merasa berguna. Obat yang diantarkan. Laptop yang diperbaiki. Pesan yang selalu dijawab. Waktu yang selalu tersedia. Raka mengira semakin banyak ia memberikan dirinya, semakin besar kemungkinan seseorang akhirnya melihat nilai dirinya.

Ternyata tidak.

Penolakan itu datang dan menghancurkan sesuatu yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Setelahnya ada kamar gelap.

Hari-hari tanpa cahaya.

Pintu yang nyaris tidak dibuka.

Tubuh yang hanya bergerak ketika benar-benar diperlukan.

Dan Laras.

Raka menurunkan pandangan kepada cangkir di tangannya.

Dulu ia mengira keselamatan berarti tidak pernah terluka lagi.

Sekarang ia tahu keselamatan bisa berarti memiliki seseorang yang tidak memaksamu berpura-pura bahwa lukamu tidak pernah ada.

Laras duduk di sampingnya tanpa bertanya apa yang sedang ia pikirkan. Ia sudah cukup lama mengenal Raka untuk memahami bahwa tidak semua diam harus diisi dengan kata-kata. Mereka bisa duduk dalam keheningan dan tetap merasa dekat.

"Capek?" tanya Laras akhirnya.

"Sedikit."

"Besok istirahat."

Raka tersenyum. "Aku tahu."

Laras meliriknya. "Beneran."

"Iya."

"Jangan tiba-tiba buka laptop jam dua pagi."

Raka tertawa kecil. "Aku nggak separah itu."

Laras hanya mengangkat alis.

"Oke," Raka mengalah. "Dulu mungkin."

"Dulu banget."

Raka menatap jalan di depan mereka. "Iya. Dulu banget."

Kata itu menggantung beberapa saat.

Dulu banget.

Seolah masa lalu memang masih ada, tetapi sudah ditempatkan cukup jauh sehingga tidak lagi bisa menjangkau mereka.

Raka menghela napas panjang. "Kadang aku masih nggak percaya bisa sampai sini."

Laras menoleh.

"Ke mana?"

"Ke keadaan sekarang."

Raka tersenyum tipis. "Aku pernah yakin banget kalau semua yang terjadi waktu itu bakal jadi akhir hidupku."

Laras tidak menyela.

"Aku pikir penolakan itu bukti kalau aku memang nggak layak. Aku pikir karena aku pendek, karena aku nggak menarik, karena aku nggak seperti laki-laki yang menurut dunia pantas disukai, berarti ada yang salah sama aku." Ia menundukkan kepala, memperhatikan jemarinya sendiri. "Terus waktu semuanya berantakan, aku benar-benar percaya kalau nggak ada lagi yang bisa diperbaiki."

Laras menggeser tangannya perlahan sampai jemarinya menyentuh tangan Raka.

Raka tidak menarik diri.

Ia membiarkan jari-jari Laras menemukan jemarinya dan menggenggamnya.

"Dan sekarang?" tanya Laras lembut.

Raka terdiam cukup lama.

Lihat selengkapnya