Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #81

Cahaya Senja di Ujung Musim

Sore turun perlahan di atas lapangan utama kampus, membawa warna keemasan yang membuat hampir seluruh permukaan dunia tampak lebih lunak daripada biasanya. Gedung-gedung fakultas yang sejak pagi dipenuhi suara mahasiswa kini berdiri dengan jendela-jendela yang mulai memantulkan cahaya matahari terakhir, sementara lapangan luas di tengah kompleks kampus perlahan kehilangan keramaiannya. Beberapa mahasiswa masih berjalan berkelompok menuju gerbang, sebagian lain duduk di tepian lapangan sambil mengobrol, tetapi jarak di antara suara-suara itu semakin lebar seiring waktu bergerak menuju petang. Angin sore menyusup dari sela pepohonan, mengangkat beberapa daun kering dari permukaan tanah lalu memutarnya sebentar di udara sebelum menjatuhkannya kembali, seolah-olah bahkan dedaunan pun sedang belajar melepaskan sesuatu yang sudah selesai. Di tengah semua itu, Raka berdiri berdampingan dengan Laras, membiarkan kedua kakinya menapak tanah tanpa tergesa, tanpa keinginan untuk pergi ke mana pun.

Tangannya menggenggam tangan Laras dengan cara yang sudah begitu alami sampai ia nyaris tidak lagi menyadari keberadaan genggaman itu. Jari-jari mereka bertaut, hangat di antara udara sore yang mulai sedikit sejuk, dan setiap kali angin melewati lapangan, Laras secara refleks merapatkan jemarinya seakan memastikan bahwa tangan itu tetap berada di sana. Raka menoleh sebentar kepadanya. Laras sedang memandang ke arah bendera-bendera fakultas yang berkibar di ujung lapangan, rambutnya digerakkan angin tipis, wajahnya disiram cahaya jingga yang membuat garis-garis wajahnya terlihat lembut. Ada ketenangan dalam ekspresi perempuan itu yang selalu membuat Raka merasa seperti baru saja pulang dari perjalanan panjang, meskipun sebenarnya mereka hanya sedang berdiri di tengah kampus seperti dua mahasiswa lain yang kebetulan belum ingin pulang.

"Kok diem?" tanya Laras tanpa menoleh.

Raka tersenyum kecil. "Lagi menikmati."

"Menikmati apa?"

Raka mengangkat bahu. "Semuanya."

Laras akhirnya menoleh, lalu terkekeh pelan. "Jawaban paling aman."

"Bukan aman." Raka menggeleng. "Beneran."

Ia kembali memandang lapangan. Dulu, pikirannya mungkin akan segera mencari alasan untuk merusak ketenangan seperti itu. Ia akan menghitung siapa saja yang berada di sekitar mereka, membandingkan tinggi tubuhnya dengan mahasiswa laki-laki yang lewat, memperhatikan apakah seseorang memandang terlalu lama, atau memikirkan bagaimana dirinya terlihat dari kejauhan ketika berjalan bersama seorang perempuan. Ia pernah begitu sibuk mengawasi dirinya sendiri sampai tidak punya kesempatan untuk benar-benar berada di dalam hidupnya. Bahkan ketika sedang bahagia, ada bagian kecil dalam dirinya yang selalu berjaga, menunggu seseorang datang membawa ukuran baru tentang mengapa ia tidak cukup.

Sekarang tidak ada lagi kebutuhan itu.

Raka menarik napas panjang. Udara sore terasa bersih di dalam paru-parunya. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri dan mendengarkan suara sepatu mahasiswa yang menjauh, bunyi kendaraan samar dari jalan depan kampus, gesekan daun kering di atas tanah, dan suara kain bendera yang sesekali berkibar ketika angin datang lebih kuat. Ia kemudian menunduk.

Bayangannya terbentang di tanah.

Cahaya matahari yang rendah membuat bayangan tubuh mereka memanjang jauh di depan. Bayangan Laras berdiri di sebelahnya, rambutnya membentuk siluet yang sedikit bergelombang, sementara bayangan Raka berada tepat di sampingnya. Karena sudut cahaya, tubuhnya tampak lebih panjang daripada ukuran aslinya. Tetapi Raka tidak sedang tertipu oleh perspektif. Ia tahu tubuhnya tetap sama. Tingginya tetap seratus lima puluh empat sentimeter. Bahunya tidak tiba-tiba melebar, kakinya tidak memanjang, dan wajah yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai sumber segala kegagalan tidak berubah menjadi wajah laki-laki yang menurut dunia lebih pantas dicintai.

Yang berubah adalah sesuatu yang tidak terlihat di bayangan itu.

Cara ia berdiri.

Raka menatap kakinya sendiri. Sepatunya menekan tanah dengan mantap. Punggungnya tidak membungkuk. Bahunya tidak ditarik ke depan untuk membuat tubuhnya sekecil mungkin. Kepalanya tidak menunduk seperti kebiasaannya ketika melewati kerumunan. Ia berdiri begitu saja, dengan posisi tubuh yang sebenarnya sangat sederhana, tetapi bagi dirinya terasa seperti pencapaian yang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia bayangkan.

Ia tidak sedang mencoba terlihat tinggi.

Ia tidak sedang mencoba terlihat gagah.

Ia tidak sedang berusaha membuktikan apa-apa.

Ia hanya berdiri.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, itu terasa cukup.

"Kamu lihat apa?" Laras bertanya.

"Bayangan."

Laras mengikuti arah pandangnya. Beberapa detik kemudian ia tersenyum. "Terus?"

Raka terdiam sebelum menjawab. "Dulu aku benci lihat bayangan sendiri."

"Kenapa?"

"Karena aku selalu lihat sesuatu yang salah."

Laras tidak langsung menjawab. Ia membiarkan kalimat itu berada di antara mereka, tidak buru-buru menambalnya dengan kalimat penghiburan. Itulah salah satu hal yang paling Raka sukai dari Laras. Perempuan itu tidak selalu merasa harus mengisi ruang kosong dengan kata-kata. Ia tahu bahwa beberapa kalimat membutuhkan waktu untuk mengendap sebelum seseorang bisa benar-benar memahami apa yang sedang dibicarakan.

Raka mengusap ibu jarinya di punggung tangan Laras. "Aku dulu kalau berdiri di sebelah orang lain pasti mikir, 'Kelihatan pendek banget nggak, ya?' Kalau ada yang ketawa, aku kira mereka ngomongin aku. Kalau ada cewek jalan sama cowok tinggi, aku langsung mikir aku nggak akan pernah kayak gitu. Bahkan kalau cuma foto, aku bisa kepikiran berjam-jam soal posisi badan."

Laras memandangnya. "Sekarang?"

Raka menatap bayangan itu lagi.

"Sekarang aku capek."

Laras tertawa kecil. "Capek mikirin?"

"Iya."

"Bagus."

Raka ikut tertawa. "Kok bagus?"

"Karena akhirnya otakmu sadar kalau kerja lembur buat hal yang nggak perlu itu melelahkan."

Raka menggeleng sambil tersenyum. "Kamu kalau ngomong kadang nyebelin."

"Tapi benar."

"Iya."

Angin kembali berembus. Kali ini lebih kuat, menggulung beberapa daun kering di sekitar kaki mereka. Satu daun berwarna cokelat menabrak ujung sepatu Raka lalu terangkat lagi sebelum terseret beberapa meter. Ia memperhatikannya sampai daun itu berhenti di dekat garis putih lapangan.

Ada sesuatu yang aneh dalam kesederhanaan sore itu. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada seseorang yang datang mengatakan bahwa Raka telah memenangkan sesuatu. Tidak ada panggung yang mengumumkan bahwa ia akhirnya bebas dari rasa minder. Dunia bahkan tidak tahu bahwa seorang laki-laki berusia dua puluh tahun sedang berdiri di tengah lapangan kampus sambil menyadari bahwa perang panjang dengan dirinya sendiri perlahan telah berakhir.

Namun justru karena itulah kemenangan itu terasa nyata.

Raka tidak membutuhkan saksi.

Ia pernah mengira bahwa kemenangan atas rasa rendah diri berarti suatu hari nanti semua orang harus mengakui bahwa ia tidak kalah dari siapa pun. Ia pernah membayangkan akan ada momen ketika orang-orang yang pernah meremehkannya melihat dirinya dan menyesal. Mungkin karena selama bertahun-tahun ia memandang hidup seperti ruang sidang, tempat dirinya harus terus menghadirkan bukti bahwa ia layak berada di sana.

Tetapi ternyata tidak.

Tidak ada sidang.

Tidak ada vonis.

Tidak ada kewajiban untuk memenangkan pengakuan siapa pun.

Yang ada hanya dirinya sendiri, berdiri di tanah kampus pada sore hari, masih dengan tubuh yang sama, wajah yang sama, masa lalu yang sama, tetapi tidak lagi memandang semua itu sebagai hukuman.

"Raka."

"Hm?"

Laras mengangkat tangan mereka sedikit. "Kamu sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Kamu sekarang berdirinya beda."

Raka menoleh. "Beda gimana?"

"Dulu kalau berdiri, kamu suka kayak mau minta maaf sama udara."

Raka terdiam dua detik sebelum tertawa keras. "Apaan sih?"

"Serius." Laras ikut tertawa. "Bahu turun, kepala sedikit nunduk, terus kalau ada orang lewat kamu suka geser badan terlalu jauh. Kayak takut makan tempat."

Raka menunduk sambil tersenyum. "Parah banget, ya?"

"Bukan parah." Laras menggeleng. "Sedih aja kalau diingat."

Tawa Raka perlahan mengecil. Ia tahu persis apa yang dimaksud Laras. Ada masa ketika keberadaannya sendiri terasa seperti sesuatu yang harus ia minta izin. Ia belajar mengecilkan suara, mengecilkan gestur, mengecilkan keinginan, bahkan mengecilkan harapan. Ia pikir kalau dirinya tidak terlalu terlihat, maka kemungkinan untuk dipermalukan juga akan semakin kecil.

Padahal manusia tidak bisa hidup dengan terus menghilang.

"Kayaknya aku memang terlalu lama nganggep tubuhku sebagai musuh," katanya.

Laras mengeratkan genggamannya. "Tubuhmu nggak pernah jadi musuhmu."

"Aku tahu sekarang."

"Dulu juga sebenarnya bukan."

Raka mengangguk pelan.

Di ujung lapangan, bendera-bendera fakultas kembali berkibar. Tiang-tiangnya berdiri tinggi dengan kain yang bergerak bebas diterpa angin. Raka menatapnya cukup lama, lalu tanpa sadar mengingat semua versi dirinya yang pernah melewati tempat-tempat seperti ini. Ada Raka yang pernah duduk sendirian setelah menerima komentar tentang fisiknya. Ada Raka yang pulang dengan kepala tertunduk setelah penolakan Anin. Ada Raka yang mengurung diri di kamar kos sampai siang dan malam kehilangan perbedaan. Ada Raka yang pernah percaya bahwa menjadi baik tidak ada gunanya jika tubuhnya tidak memenuhi ukuran yang diinginkan dunia.

Semua orang itu masih bagian dari dirinya.

Tetapi mereka tidak lagi memegang kemudi.

Lihat selengkapnya