Pukul 08.30 WIB, perpustakaan pusat universitas belum sepenuhnya dipenuhi mahasiswa, tetapi ruang baca khusus tingkat akhir sudah memiliki kehidupan kecilnya sendiri. Pendingin ruangan berdengung pelan di atas kepala, bercampur dengan suara halaman buku yang dibalik hati-hati dan derik papan ketik laptop yang muncul teratur dari beberapa meja. Cahaya pagi masuk melalui jendela-jendela besar di sisi timur, jatuh memanjang di atas lantai dan meja kayu, membuat partikel debu yang melayang tampak seperti serpihan cahaya. Di salah satu meja favorit dekat jendela, Raka meletakkan tasnya, menarik kursi, lalu duduk dengan gerakan yang tenang. Beberapa tahun lalu, ia mungkin akan memilih kursi yang paling tersembunyi, memastikan tidak ada seorang pun terlalu lama memperhatikan tubuhnya, tetapi pagi itu ia hanya menarik kursi di sebelah Laras dan membuka laptop seperti seseorang yang tahu bahwa tempatnya memang ada di sana.
Laras sudah lebih dulu datang dengan dua buku tebal bertumpuk di samping laptopnya. Rambutnya diikat sederhana, beberapa helai jatuh di dekat pipi ketika ia menunduk membaca sesuatu di layar. Begitu Raka duduk, Laras menggeser satu cangkir air mineral ke arahnya tanpa banyak bicara. “Kamu telat tiga menit,” katanya sambil melihat jam tangannya, tetapi sudut bibirnya terangkat sehingga jelas bahwa itu bukan teguran sungguhan. Raka menatap jam dinding, kemudian menatap Laras dengan ekspresi pura-pura terkejut. “Tiga menit? Aku harus mempertanggungjawabkan ini di hadapan dewan akademik?” Laras menahan tawa, lalu menyodorkan sebuah biskuit dari bungkus kecil di samping bukunya. “Iya. Hukuman pertamanya makan dulu. Kamu kalau langsung nulis suka lupa sarapan.”
Raka menerima biskuit itu dan menggeleng sambil tersenyum. Ada sesuatu yang sederhana dalam kebiasaan-kebiasaan kecil mereka, sesuatu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi bagian dari hidupnya. Tidak ada tuntutan untuk tampil mengesankan. Tidak ada perlombaan diam-diam mengenai siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih cepat memahami teori, siapa yang lebih banyak memiliki prestasi, atau siapa yang lebih pantas berada di ruangan seperti ini. Bahkan ketika mereka membuka laptop masing-masing, Raka tidak lagi merasakan dorongan lama untuk memastikan bahwa layar miliknya menampilkan sesuatu yang cukup canggih untuk membuat orang lain menganggapnya berharga. Ia hanya membuka folder penelitian, menemukan dokumen yang sedang dikerjakannya, lalu menaruh kedua tangannya di atas papan ketik.
Judul sementara penelitiannya muncul di layar, diikuti deretan subbab yang masih belum sempurna. Raka membaca dari awal sampai akhir, sesekali mengerutkan dahi, kemudian menghapus satu kalimat yang menurutnya terlalu berputar-putar. Laras melirik dari samping. “Masih pakai struktur yang kemarin?” tanyanya. “Sebagian. Tapi aku ubah urutan metodologinya.” Raka memutar laptop sedikit agar Laras bisa melihat. “Aku baru sadar kalau bagian ini lebih masuk akal kalau diletakkan setelah penjelasan variabel. Kemarin aku keburu mikir harus mengikuti contoh skripsi orang lain.” Ia berhenti sejenak, menatap layar, lalu menambahkan dengan nada ringan, “Ternyata contoh orang lain bukan kitab suci.”
Laras tertawa kecil. “Nah. Akhirnya kamu ngomong juga.” Raka mengangkat alis. “Ngomong apa?” “Kalimat yang seharusnya sudah kamu sadari dari dulu. Penelitian orang lain itu referensi, bukan cetakan yang harus kamu salin.” Laras menarik kursinya sedikit lebih dekat dan membaca bagian metodologi yang terbuka di layar. Tatapannya bergerak perlahan dari satu paragraf ke paragraf berikutnya, sementara Raka menunggu tanpa gelisah. Dulu, menunggu seseorang membaca pekerjaannya seperti itu bisa membuat dadanya penuh tekanan. Ia akan memikirkan kemungkinan kritik sebelum kritik itu keluar, menebak-nebak bagian mana yang akan dianggap bodoh, kurang matang, atau tidak layak. Kini ia hanya menunggu.
“Bagian desain penelitiannya sudah jelas,” kata Laras setelah beberapa saat. “Tapi alasan pemilihan pendekatan ini masih bisa diperkuat.” Raka mengangguk. “Aku juga ngerasa begitu.” “Kamu bisa jelaskan bukan cuma apa yang kamu lakukan, tapi kenapa pendekatan itu paling sesuai dengan pertanyaan penelitianmu. Jadi pembaca nggak merasa kamu memilih metode cuma karena metode itu sering dipakai.” Raka langsung membuka catatan baru. “Oke. Berarti justifikasinya harus kembali ke rumusan masalah.” “Iya. Dan kamu sebenarnya sudah punya argumennya. Tinggal jangan malas menuliskannya.”
Raka tersenyum. “Kamu kalau ngomong ‘jangan malas’ kedengarannya kayak dosen pembimbing.” Laras menatapnya datar. “Bagus. Berarti aku bisa mulai minta honor.” “Aku bayar pakai kopi.” “Nggak cukup.” “Teh?” “Tambah camilan.” “Deal.” Laras akhirnya tertawa, dan suara itu membuat beberapa kepala di meja lain sempat menoleh sebelum kembali pada pekerjaan masing-masing. Raka memandang layar lagi, tetapi senyum kecil masih tertinggal di wajahnya.
Ia kemudian membuka folder yang berisi outline penelitian Laras. “Sekarang punyamu.” Laras menghela napas dramatis. “Jangan kejam.” “Aku belum mulai.” “Justru itu yang bikin takut.” Raka membuka dokumen tersebut dan membaca bagian demi bagian. Laras memperhatikannya dengan tenang, sesekali menjelaskan alasan di balik susunan bab yang ia buat. Mereka tidak sedang mencari siapa yang paling benar. Mereka sedang menguji gagasan masing-masing, membiarkan satu argumen bertemu argumen lain tanpa membawa harga diri ke dalamnya.