Beberapa hari kemudian, sore turun perlahan di sebuah kedai teh sederhana tidak jauh dari kawasan kampus. Tempat itu tidak terlalu besar, hanya memiliki beberapa meja kayu yang ditata memanjang di bawah selasar terbuka. Aroma teh chamomile bercampur dengan wangi roti panggang dan camilan hangat yang baru keluar dari dapur. Dari sisi selasar, cahaya matahari senja masuk miring melalui sela-sela bangunan, menimpa lantai dan ujung meja mereka dengan warna keemasan yang lembut. Di atas meja, laptop Raka dan Laras terbuka berdampingan, sementara lembaran draf skripsi berserakan di antara dua cangkir teh yang masih mengepulkan uap tipis.
Raka sedang membaca Bab 2 ketika Laras mengetuk satu bagian halaman dengan ujung spidol merah. “Yang ini.” Raka mendekatkan wajah ke kertas. “Kenapa?” “Kalimatnya kepanjangan.” Raka membaca ulang. “Menurutku masih bisa dipahami.” “Bisa dipahami bukan berarti enak dibaca.” Laras menggeser kertas itu sedikit ke arahnya. “Kamu punya ide yang bagus, tapi kamu sering memasukkan tiga gagasan dalam satu kalimat karena takut ada nuansa yang hilang.” Raka menatap kalimat tersebut, lalu menatap Laras. “Kamu baru saja menyerang gaya menulisku.” “Aku menyerang kalimatmu. Bukan kamu.”
Raka terdiam sepersekian detik, lalu tertawa. “Oke. Fair.” Ia mengambil pulpen dan memberi tanda pada kalimat itu. “Pecah jadi dua?” “Bisa tiga.” Raka mengangkat alis. “Tiga?” “Iya. Gagasan pertama menjelaskan konsep. Gagasan kedua menjelaskan hubungan dengan variabel. Gagasan ketiga masuk ke implikasi. Jangan semuanya dijejalkan sekaligus.” Raka kembali membaca kalimat tersebut, kali ini tanpa berusaha mempertahankan susunan awalnya. “Iya. Kalau dipisah memang lebih jelas.”
Laras tersenyum kecil. Ia tidak pernah memperlakukan koreksi sebagai kesempatan untuk memenangkan perdebatan. Begitu juga Raka. Mereka sudah menemukan ritme yang mungkin tidak pernah mereka miliki dengan siapa pun sebelumnya, ritme di mana kritik tidak terasa seperti serangan dan persetujuan tidak terasa seperti kewajiban. Jika salah satu memiliki argumen yang lebih kuat, yang lain akan mengikutinya. Jika keduanya belum yakin, mereka akan mencari sumber lain. Tidak ada yang perlu menjadi pemenang.
Raka mengambil sepotong camilan hangat dari piring kecil di tengah meja. “Kamu mau?” Laras menggeleng. “Aku lagi baca.” Raka mengangkat camilan itu ke depan wajahnya. “Satu gigitan.” “Nggak.” “Setengah.” “Raka.” “Seperempat.” Laras akhirnya tertawa dan mengambilnya. “Kamu lebih cerewet daripada aku.” “Aku belajar dari yang terbaik.” “Jangan fitnah.”
Mereka kembali bekerja. Laras membuka dokumen Bab 2 milik Raka dan membaca beberapa paragraf dengan teliti. Sesekali spidol merahnya bergerak, memberi garis bawah pada bagian yang terlalu berulang atau tanda kecil di margin yang meminta Raka menjelaskan suatu istilah. Raka tidak lagi menegang setiap kali melihat tinta merah. Bahkan ketika satu paragraf yang ia tulis berjam-jam sebelumnya dicoret hampir seluruhnya, ia hanya menghela napas dan berkata, “Oke, ini memang jelek.”
Laras menatapnya sambil tersenyum. “Nggak jelek. Cuma belum selesai.” Raka mengangkat kepala. “Bedanya?” “Kalau kamu bilang jelek, kamu menilai dirimu sendiri lewat satu paragraf. Kalau kamu bilang belum selesai, kamu mengakui bahwa tulisan itu masih bisa berkembang.” Raka diam. Kalimat itu sederhana, tetapi ia tahu Laras tidak sedang sekadar membicarakan tulisan.
Ia menatap lembaran di depannya. Dulu, satu kesalahan kecil bisa menyeretnya kembali pada keyakinan lama bahwa dirinya memang tidak cukup. Nilai yang buruk, komentar tentang tubuh, tatapan orang, penolakan, bahkan candaan yang mungkin bagi orang lain sepele dapat berubah menjadi bukti dalam pikirannya bahwa ada sesuatu yang salah secara mendasar pada dirinya. Sekarang ia bisa melihat kesalahan tanpa harus menjadikannya identitas. Sebuah kalimat yang buruk hanya sebuah kalimat yang buruk. Sebuah revisi hanya revisi. Ia tidak perlu menghukum dirinya sendiri karenanya.
“Terima kasih,” katanya pelan.
Laras berhenti menulis. “Buat apa?” “Buat nggak pernah bikin aku merasa bodoh waktu dikoreksi.” Wajah Laras berubah lembut. “Aku nggak pernah nganggep kamu bodoh.” “Aku tahu sekarang.” Raka tersenyum. “Dulu aku nggak tahu caranya menerima itu.” Laras menatapnya beberapa detik sebelum kembali melihat kertas. “Sekarang kamu sudah tahu.”
Raka memperhatikan wajah Laras yang diterangi cahaya senja. Ada ketenangan di sana yang selalu membuatnya merasa seperti tidak perlu berlari. Ia kembali melihat drafnya dan menemukan bahwa beberapa analisis yang dulu ia tulis dengan ragu ternyata mulai memiliki bentuk yang lebih kokoh. Gagasannya tidak lagi sekadar kumpulan kutipan dan teori. Ia mulai mampu menghubungkan konsep dengan konteks, menguji asumsi, dan mempertanyakan apa yang selama ini dianggap biasa. Ia merasa pikirannya berkembang, tetapi bukan karena ia sedang berusaha terlihat pintar.
“Laras,” katanya tiba-tiba.
“Hm?”
“Menurutmu analisisku sekarang sudah lebih matang?”
Laras tidak langsung menjawab. Ia membaca satu halaman lagi sebelum akhirnya berkata, “Iya.”
Raka menunggu.
“Bukan karena sekarang kamu pakai istilah yang lebih rumit,” lanjut Laras. “Justru karena kamu semakin tahu kapan harus berhenti memakai istilah yang nggak perlu. Kamu mulai bisa membedakan mana yang benar-benar penting buat argumenmu dan mana yang cuma membuat tulisanmu kelihatan pintar.”
Raka tersenyum. “Berarti aku akhirnya lulus dari penyakit posturing?”
“Belum.”
Raka tertawa. “Loh?”
“Sesekali masih kambuh.”
“Contohnya?”