Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #84

Bimbingan Dengan Sang Dosen Senior

Siang itu, koridor gedung fakultas terasa lebih lengang daripada biasanya. Matahari jatuh miring melalui deretan jendela tinggi di sisi bangunan, membentuk bidang-bidang cahaya di atas lantai keramik yang sudah kusam oleh jejak ribuan mahasiswa selama bertahun-tahun. Raka berdiri beberapa detik di depan sebuah pintu kayu dengan papan nama kecil bertuliskan Dr. Hendra, menggenggam map berisi draf Bab 1 sampai Bab 3 yang sudah ia cetak dan jilid sederhana. Tidak ada lagi kebiasaan lama berupa menarik napas berkali-kali, memeriksa pakaian, atau bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia cukup pintar untuk berada di ruangan itu. Ia hanya memastikan halaman-halaman di dalam map tersusun sesuai urutan, kemudian mengetuk pintu dua kali dengan buku jarinya.

"Masuk."

Suara dari dalam terdengar berat, datar, dan tanpa basa-basi. Raka membuka pintu perlahan, lalu melangkah masuk dengan postur yang tegak dan langkah yang tenang. Ruangan itu lebih luas daripada yang ia bayangkan, dengan sebuah meja kerja besar dari kayu jati tua di dekat jendela, dua kursi tamu di depannya, dan lemari kaca yang memenuhi hampir seluruh dinding sebelah kiri. Di balik kaca tersusun puluhan buku klasik ilmu sosial, kumpulan disertasi, jurnal yang sudah dijilid, dan beberapa buku metodologi dengan punggung yang warnanya mulai pudar; aroma kertas tua bercampur dengan bau khas minyak kayu jati memenuhi udara, memberi kesan bahwa ruangan tersebut telah menjadi saksi begitu banyak generasi mahasiswa yang datang membawa kegelisahan, lalu keluar dengan tumpukan revisi di tangan.

Dr. Hendra duduk di balik meja sambil membaca sesuatu melalui kacamata berbingkai tipis. Usianya lima puluh dua tahun, rambutnya mulai dipenuhi warna putih di bagian pelipis, tetapi sorot matanya masih tajam ketika terangkat memandang Raka. Ia tidak langsung tersenyum, tidak pula mengulurkan tangan. Tatapannya turun dari wajah Raka menuju map yang dibawanya, lalu kembali lagi ke wajah mahasiswa itu.

"Raka?"

"Iya, Pak."

"Bab satu sampai tiga?"

"Iya, Pak. Saya bawa versi yang terakhir."

Dr. Hendra menunjuk kursi di depannya. "Duduk."

Raka duduk. Map diletakkannya di atas meja dengan hati-hati, lalu ia membuka penjepitnya. Tidak ada suara gemetar dalam jawabannya, tidak ada gerakan tangan yang berlebihan. Namun, ketika telapak tangannya menyentuh halaman pertama, ia sempat merasakan sesuatu yang hampir menyerupai gema masa lalu.

Dulu, kritik selalu terasa seperti vonis.

Satu komentar mengenai tubuhnya bisa mengubah seluruh hari menjadi ruang pengadilan. Satu tawa dari orang lain bisa membuat bahunya otomatis turun. Satu penolakan bisa ia bawa pulang dan ia ulang di dalam kepala selama berbulan-bulan sampai berubah menjadi keyakinan bahwa dirinya memang tidak cukup. Tetapi sekarang, di ruangan ini, pertanyaan tidak lagi terdengar seperti serangan terhadap dirinya. Pertanyaan hanyalah pertanyaan. Jika ada bagian penelitian yang keliru, ia akan memperbaikinya. Jika argumennya lemah, ia akan mempertahankannya dengan dasar yang cukup atau mengakuinya sebagai kelemahan. Tidak ada harga dirinya yang harus dipertaruhkan di atas meja dosen.

Dr. Hendra mengambil salinan Bab 1 dari map Raka.

"Judulnya masih ini?"

"Masih, Pak."

Dosen itu membaca halaman judul beberapa detik sebelum melanjutkan dengan suara tenang, "Studi sosiologi gender tentang relasi kuasa dalam hubungan kodependensi romansa."

"Iya, Pak."

"Kenapa sosiologi gender?"

Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap judul yang sama di hadapannya, kemudian mengangkat wajah.

"Karena yang ingin saya lihat bukan sekadar hubungan romantis sebagai hubungan interpersonal, Pak. Saya ingin melihat bagaimana relasi kuasa bekerja di dalam hubungan yang dari luar tampak intim dan setara, tetapi dalam praktiknya bisa menghasilkan ketergantungan emosional, pembagian peran yang timpang, dan reproduksi ekspektasi gender."

Dr. Hendra mengangguk kecil, tetapi ekspresinya tidak berubah.

"Kalau begitu, apa yang membedakan penelitian Anda dari penelitian psikologi?"

"Unit analisis dan cara saya membaca fenomenanya, Pak. Psikologi bisa melihat kodependensi dari dinamika individu, kebutuhan afeksi, attachment, regulasi emosi, atau kondisi psikologis tertentu. Penelitian saya tidak masuk ke diagnosis psikologis. Saya melihat hubungan tersebut sebagai arena sosial. Saya melihat bagaimana norma gender, ekspektasi peran, relasi kuasa, dan legitimasi sosial membentuk perilaku dua individu di dalam hubungan."

"Jadi Anda tidak mendiagnosis siapa pun?"

"Tidak, Pak."

"Bagus. Jangan."

Dr. Hendra memberi tanda kecil pada halaman dengan ujung pulpennya. "Karena kalau Anda mulai menyebut seseorang kodependen secara klinis tanpa dasar psikologis yang memadai, penelitian ini akan berantakan."

"Saya sepakat, Pak. Karena itu dalam operasionalisasi konsep saya, kodependensi romansa saya tempatkan sebagai pola relasional yang akan diidentifikasi melalui narasi pengalaman informan, bukan sebagai diagnosis klinis."

Untuk pertama kalinya, alis Dr. Hendra bergerak sedikit.

"Jelaskan operasionalisasinya."

Raka membalik beberapa halaman menuju bagian kerangka konseptual. "Saya menggunakan beberapa dimensi analitis, Pak. Pertama, ketergantungan emosional, yaitu ketika kebutuhan validasi, rasa aman, atau stabilitas diri terlalu bergantung pada respons pasangan. Kedua, pengorbanan diri yang berlangsung terus-menerus demi mempertahankan relasi. Ketiga, kesulitan menetapkan batas personal. Keempat, ketimpangan pemberian dan penerimaan dalam hubungan. Kelima, mekanisme kontrol atau rasa bersalah yang muncul ketika salah satu pihak mencoba menarik batas."

"Anda menyebut kontrol. Apakah semua kontrol adalah relasi kuasa?"

"Tidak otomatis, Pak."

"Kenapa?"

"Karena relasi kuasa tidak selalu identik dengan dominasi eksplisit. Saya perlu melihat konteks, pola, dan konsekuensinya. Permintaan yang sekali terjadi belum tentu menunjukkan relasi kuasa. Tetapi kalau terdapat pola berulang di mana satu pihak secara konsisten menentukan kebutuhan hubungan, sementara pihak lain menyesuaikan diri karena takut kehilangan relasi, maka ada indikasi distribusi kuasa yang tidak seimbang."

Dr. Hendra menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Nah. Ini lebih menarik."

Raka diam.

Dosen itu mengetuk meja dengan pulpennya dua kali.

"Kalau orang yang selalu membantu pasangannya memang dengan sukarela, apakah itu kodependensi?"

"Belum tentu."

"Kalau dia mengantar pasangannya setiap hari?"

"Belum tentu."

"Kalau dia membelikan makanan, mengurus tugas, membayar kebutuhan tertentu?"

"Belum tentu juga."

"Kalau dia melakukan semua itu karena takut ditinggalkan?"

Raka mengangguk perlahan. "Baru menjadi indikasi yang lebih kuat, Pak. Tapi tetap harus dilihat lebih jauh. Saya tidak bisa menyimpulkan kodependensi hanya dari perilaku yang tampak altruistik. Saya harus mengetahui makna tindakan tersebut bagi informan, kondisi relasinya, dan bagaimana tindakan itu berfungsi dalam mempertahankan hubungan."

Dr. Hendra berhenti menulis.

"Anda paham jebakannya."

"Jebakan reduksionisme perilaku, Pak."

"Betul."

Suasana ruangan menjadi sedikit lebih hening. Dari luar terdengar suara langkah mahasiswa melewati koridor, kemudian menghilang. Kipas pendingin ruangan berputar perlahan dengan dengung yang nyaris konstan. Raka memperhatikan Dr. Hendra membalik halaman berikutnya.

"Bab dua."

"Siap, Pak."

"Anda menggunakan teori relasi kuasa?"

"Iya."

"Teori siapa?"

"Foucault sebagai landasan konseptual mengenai relasi kuasa yang produktif dan hadir dalam praktik sosial, kemudian saya kombinasikan dengan perspektif gender untuk membaca bagaimana norma dan ekspektasi gender dapat bekerja dalam hubungan romantis."

"Kenapa Foucault?"

"Karena saya tidak ingin mendefinisikan kuasa hanya sebagai kemampuan satu orang untuk memerintah orang lain. Dalam hubungan romantis, kuasa bisa bekerja lebih halus. Misalnya, seseorang tidak perlu mengatakan 'kamu harus melakukan ini'. Cukup dengan norma bahwa pasangan yang baik harus selalu tersedia, selalu memahami, selalu mengalah, atau selalu menjadi penyelamat, maka individu bisa mendisiplinkan dirinya sendiri untuk memenuhi peran tersebut."

Dr. Hendra menatap Raka cukup lama.

"Anda menyebut disiplin diri. Hubungkan dengan gender."

Raka menggeser posisi duduk sedikit ke depan.

"Norma gender memberikan standar mengenai bagaimana laki-laki dan perempuan dianggap seharusnya bertindak dalam hubungan, Pak. Misalnya, laki-laki diasumsikan sebagai pihak yang melindungi, menyediakan, menyelesaikan masalah, dan menanggung beban tertentu. Perempuan bisa ditempatkan dalam posisi penerima perlindungan atau pengelolaan emosi. Tetapi penelitian saya tidak menganggap pola itu otomatis berlaku pada semua pasangan. Justru saya ingin melihat bagaimana norma tersebut dinegosiasikan, diterima, ditolak, atau bahkan dimanfaatkan oleh individu di dalam relasi."

"Bagaimana kalau pasangan perempuannya yang dominan?"

"Dominasi perempuan tidak otomatis membatalkan analisis gender, Pak."

"Kenapa?"

"Karena gender bukan sekadar siapa yang dominan secara individual. Saya harus melihat bagaimana kategori laki-laki dan perempuan, maskulinitas, femininitas, serta ekspektasi sosial terhadap keduanya ikut membentuk relasi tersebut. Bahkan ketika perempuan menjadi pihak yang lebih dominan, cara dominasi itu diterima atau ditolak tetap bisa dipengaruhi konstruksi gender."

Dr. Hendra kembali menulis sesuatu.

"Jawaban Anda lebih baik daripada tulisan Anda di bagian ini."

Raka mengangkat alis sedikit. "Maksudnya, Pak?"

"Kerangka berpikir Anda sebenarnya kuat. Tetapi di halaman dua puluh tiga, Anda menulis terlalu banyak."

Raka langsung mengambil pulpen.

"Bagian mana, Pak?"

Dr. Hendra menunjuk paragraf tertentu. "Ini. Anda ingin menjelaskan semuanya sekaligus. Akibatnya, argumen utama tenggelam."

Raka membaca ulang paragraf tersebut. Dulu, komentar seperti itu mungkin akan membuat dadanya sesak. Ia mungkin akan berpikir bahwa seluruh tulisannya buruk, bahwa dirinya tidak mampu, bahwa dosennya kecewa. Tetapi kali ini yang muncul justru rasa ingin tahu.

"Kalau saya pecah menjadi dua paragraf dan saya pertegas proposisi utamanya, apakah lebih baik, Pak?"

"Lebih baik. Bahkan menurut saya, buang dua kalimat terakhir."

Raka tersenyum tipis. "Baik, Pak."

"Jangan bilang baik kalau belum yakin."

Raka menatapnya.

Dr. Hendra menaikkan dagu sedikit. "Saya tidak butuh mahasiswa yang nurut. Saya butuh mahasiswa yang tahu kenapa dia menulis sesuatu."

Raka terdiam sesaat, kemudian menjawab, "Saya mengerti, Pak."

"Jadi, menurut Anda dua kalimat terakhir itu harus dibuang?"

Raka kembali membaca bagian tersebut. "Setelah saya lihat lagi, iya, Pak. Dua kalimat itu sebenarnya mengulang premis di awal paragraf."

"Bagus."

Satu kata itu sederhana, tetapi Raka merasakannya seperti sesuatu yang jauh lebih besar daripada pujian. Bukan karena ia haus pengakuan, melainkan karena ia tahu betapa berbedanya perasaan yang muncul sekarang dengan dirinya beberapa tahun lalu. Ia tidak sedang berusaha membuat seorang yang lebih berkuasa menyukainya. Ia sedang berdialog dengan seseorang yang memiliki kompetensi lebih tinggi dalam bidang yang sedang ia pelajari.

Dr. Hendra beralih ke Bab 3.

"Metodologi."

Lihat selengkapnya