Malam telah turun sepenuhnya ketika Raka mendorong pintu kaca warkop kecil yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu tempat paling biasa dalam hidupnya. Engsel pintu mengeluarkan bunyi berderit yang sama seperti yang selalu ia dengar sejak semester-semester awal kuliah, sementara udara hangat bercampur aroma kopi saset, minyak goreng, dan kuah mie rebus langsung menyambut wajahnya. Beberapa meja plastik telah terisi mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, dua orang pengemudi ojek daring berbincang sambil menunggu pesanan, dan dari televisi yang digantung di sudut ruangan terdengar suara komentator pertandingan dengan volume rendah. Di dekat meja panjang yang menempel pada dinding, Bimo sudah menunggunya dengan dua cangkir kopi di atas tatakan plastik, satu di antaranya masih mengepulkan uap tipis. Raka tersenyum ketika melihat sahabatnya mengangkat tangan tinggi-tinggi, seolah mereka tidak bertemu kemarin sore, melainkan setelah bertahun-tahun terpisah.
"Telat lu."
Raka menarik kursi plastik di hadapan Bimo, lalu meletakkan tas ranselnya di samping kaki. "Lima menit."
"Lima menit menurut orang yang nggak punya rasa bersalah."
"Lu yang ngajak jam tujuh, bukan jam tujuh lewat."
Bimo mendengus, tetapi sudut bibirnya terangkat. "Nah, masih bisa debat. Berarti sehat."
Raka terkekeh pelan. Ia mengambil cangkir kopi yang telah disediakan untuknya, meniup permukaannya sebentar, lalu menyeruput sedikit. Rasa manis yang terlalu pekat langsung memenuhi lidahnya, rasa yang sama sekali tidak berubah sejak dulu, dan entah mengapa justru itulah yang membuatnya nyaman. Ada sesuatu yang menenangkan dari tempat-tempat yang tidak berusaha menjadi istimewa. Warkop itu tidak memiliki interior bagus, tidak ada lampu dekoratif, tidak ada menu yang ditulis dengan istilah asing, bahkan meja yang mereka gunakan memiliki bekas goresan pisau dan noda kopi yang tidak pernah benar-benar hilang. Namun malam itu, ketika Raka memandang sekeliling, ia menyadari bahwa tempat sederhana ini menyimpan lebih banyak potongan hidupnya daripada banyak tempat yang pernah ia datangi dengan sengaja.
Bimo memperhatikannya beberapa detik sebelum menyandarkan punggung ke kursi. "Jadi?"
Raka mengangkat alis. "Jadi apaan?"
"Jangan pura-pura bego. Skripsi lu."
Raka menahan senyum. "Acc."
Mata Bimo langsung membesar. "Serius?"
Raka mengangguk.
Untuk beberapa detik Bimo seperti kehilangan kemampuan berbicara. Kemudian telapak tangannya melayang dan menghantam bahu Raka cukup keras sampai tubuh Raka terdorong sedikit ke samping. "Anjir! Akhirnya!"
"Anjir, sakit."
"Bagus! Biar sadar!"
Bimo kembali menepuk bahunya, kali ini lebih keras, sampai kopi di cangkir Raka bergetar dan hampir tumpah. Raka buru-buru menggesernya menjauh dari tepian meja sambil tertawa. "Gila lu."
"Bab satu sampai tiga?"
"Disetujui."
"Revisi?"
"Minor. Hampir nggak ada."
"Dosennya?"
"Dr. Hendra."
Bimo terdiam lagi. Kali ini ekspresinya berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit diterjemahkan. Ia tahu reputasi dosen itu. Semua mahasiswa di fakultas mereka mengenal nama Dr. Hendra sebagai salah satu dosen pembimbing yang paling teliti, paling sulit diyakinkan, dan paling tidak tertarik pada mahasiswa yang datang dengan kalimat-kalimat hafalan. Beberapa mahasiswa bahkan sering bercanda bahwa satu paragraf yang tidak punya pijakan teori bisa membuat satu jam bimbingan berubah menjadi sesi interogasi. Bimo menatap Raka seakan sedang memastikan sahabatnya tidak sedang mengarang cerita.
"Lu beneran diuji sama dia?"
"Ya."
"Terus lu jawab semua?"
"Yang ditanya, gue jawab."
Bimo terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Gue masih nggak percaya."
Raka menunduk memandang kopinya. "Gue juga sebenarnya nggak menyangka bakal setenang itu."
"Kenapa?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Raka tidak langsung menjawab. Di luar warkop, suara sepeda motor lewat satu demi satu di jalan sempit yang diterangi lampu toko. Angin malam membawa aroma tanah yang sedikit lembap, meskipun hujan belum turun. Dari meja sebelah terdengar denting sendok yang beradu dengan gelas, disusul tawa beberapa mahasiswa yang sedang membicarakan sesuatu dengan suara terlalu keras. Raka mengusap ibu jarinya pada sisi cangkir, merasakan permukaan plastik tipis yang mulai hangat, lalu mengembuskan napas perlahan.
"Dulu gue mungkin bakal takut kalau ada orang yang kelihatannya lebih pintar dari gue."
Bimo tidak menyela.
"Apalagi kalau orang itu punya posisi yang bikin gue merasa kecil. Dosen, senior, orang yang kelihatannya jauh lebih berpengalaman." Raka berhenti sebentar, menatap pantulan cahaya lampu di permukaan kopi. "Gue dulu sering mikir kalau mereka mengkritik gue, berarti ada sesuatu yang salah sama gue. Bukan cuma sama tulisan gue."
Bimo menatap wajahnya dengan serius.
"Tapi sekarang beda," lanjut Raka. "Kalau dia bilang metode gue salah, ya metode gue yang salah. Kalau kerangka teori gue kurang tajam, ya gue perbaiki kerangka teorinya. Itu nggak berarti gue bodoh. Cuma berarti tulisan gue belum selesai."
Bimo tersenyum kecil.
"Lu tahu nggak," katanya, "kalimat kayak gitu kalau keluar dari mulut lu sekarang kedengarannya biasa."
"Memangnya dulu gimana?"
"Dulu?" Bimo tertawa pendek. "Dulu lu bisa mikir tiga hari cuma gara-gara ada orang bilang presentasi lu kurang bagus."
Raka tertawa, tetapi tawanya tidak lagi disertai rasa malu yang dahulu mungkin akan muncul ketika mengingat hal itu. Ia justru membiarkan kenangan tersebut datang dan duduk sebentar di antara mereka.
Bimo menunjuk Raka dengan telunjuknya. "Lu masih inget awal-awal kuliah?"
"Sayangnya."
"Lu duduk di pojokan."
"Semua orang juga tahu."
"Enggak. Maksud gue bukan sekadar duduk di pojokan." Bimo mencondongkan tubuhnya sedikit. "Lu selalu duduk di kursi paling ujung, dekat dinding. Tas lu ditaruh di depan kaki. Kepala lu nunduk terus. Kalau dosen nanya, sebenarnya lu tahu jawabannya, tapi lu nunggu sampai orang lain ngomong dulu."
Raka diam.
Bimo tertawa kecil. "Gue pernah mikir lu sombong."
"Serius?"
"Iya. Muka lu datar banget."
"Lu ternyata salah baca."
"Banget." Bimo mengangkat cangkir kopinya, tetapi belum meminumnya. "Terus suatu hari dosen nanya sesuatu soal teori sosial. Semua orang diam. Lu tiba-tiba jawab. Panjang banget."
"Lu masih inget?"
"Gimana nggak inget? Gue sampai mikir, 'Oh, anak pojokan ini ternyata otaknya nyala juga.'"
Raka menggeleng sambil tersenyum. "Bahasa lu."
"Ya emang." Bimo terkekeh. "Terus habis kelas gue samperin lu."
Raka mengangguk perlahan. "Lu nanya, 'Namanya siapa?'"
"Nah."
"Padahal nama gue ada di daftar presensi."
"Ya gue nggak mau baca daftar presensi."
"Kemalasan lu dari dulu."
"Yang penting gue berhasil berteman sama lu."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada ringan, tetapi Raka menangkap sesuatu yang lebih dalam di baliknya. Ia menatap Bimo cukup lama. Di hadapannya bukan lagi sekadar teman sekelas yang pernah duduk bersama di kantin atau menemani mengerjakan tugas. Bimo adalah salah satu sedikit orang yang mengenal Raka sebelum semua perubahan yang terjadi dalam dirinya. Sebelum Laras. Sebelum ia belajar mencintai dirinya sendiri. Sebelum ia mampu berdiri di hadapan orang lain tanpa merasa harus meminta maaf karena tubuh yang ia miliki.
Bimo mengenal Raka ketika bahunya selalu sedikit membungkuk.
Ketika langkahnya dibuat secepat mungkin agar tidak terlalu lama berada di tengah kerumunan.
Ketika ia sering memilih kursi yang membuat tubuhnya tidak terlalu terlihat.
Ketika foto bersama menjadi sesuatu yang membuatnya mencari posisi paling belakang.
Ketika seseorang yang lebih tinggi berdiri di dekatnya saja sudah cukup untuk membuat pikirannya sibuk menghitung perbedaan tinggi mereka.
Dan Bimo adalah orang yang tidak pernah menjadikan semua itu sebagai syarat untuk berteman.
"Lu tahu nggak, Bim?" Raka akhirnya berkata.
"Hm?"
"Lu orang pertama yang ngajak gue berteman tanpa syarat."
Bimo mengernyit. "Maksudnya?"
Raka tersenyum tipis. "Lu nggak pernah nanya gue bisa ngasih apa."
Bimo diam.
"Lu nggak pernah peduli gue tinggi berapa, kelihatan kayak apa, punya koneksi apa, atau bisa bantu lu apa. Lu cuma datang terus bilang, 'Rak, makan.' Atau 'Rak, ikut gue.' Atau 'Rak, lu punya catatan nggak?'"
Bimo langsung tertawa. "Nah, yang terakhir itu justru gue manfaatin."
"Ya, tapi lu nggak pernah cuma datang waktu butuh sesuatu."
Tawa Bimo perlahan menghilang.
Raka menunduk sebentar sebelum melanjutkan. "Dulu gue terbiasa mikir kalau gue harus berguna supaya orang mau mempertahankan gue. Kalau gue bisa bantu, orang bakal butuh gue. Kalau orang butuh gue, mungkin mereka nggak akan ninggalin gue."