Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #86

Di Depan Dewan Penguji

Pukul 06.30 WIB, kamar kos Raka masih diselimuti cahaya pagi yang pucat. Sinar matahari belum sepenuhnya menembus tirai, hanya menyusup melalui celah kain dan jatuh sebagai garis-garis tipis di lantai keramik yang dingin. Di depan cermin kecil yang tergantung di dinding, Raka berdiri dalam kemeja putih yang sudah disetrika sejak malam sebelumnya. Sisir hitam bergerak perlahan melewati rambutnya, sekali, dua kali, kemudian berhenti ketika ia menatap pantulan wajahnya sendiri lebih lama daripada biasanya. Dulu, cermin adalah salah satu benda yang paling sering membuatnya ingin menghindar; ia akan mencari sudut tertentu, menundukkan kepala, atau sekadar memandang bagian lain dari wajahnya agar tidak perlu berhadapan dengan pertanyaan yang selama bertahun-tahun berputar di kepalanya tentang apakah dirinya cukup menarik untuk dicintai. Pagi itu pertanyaan itu masih ada, tetapi tidak lagi memiliki suara yang sama.

Raka merapikan bagian depan rambutnya dengan telapak tangan, lalu menarik kerah kemeja agar jatuh tepat di bawah leher. Tingginya tetap 154 sentimeter, tubuhnya tetap sama, wajahnya tidak berubah menjadi wajah seseorang yang tiba-tiba memenuhi standar siapa pun. Namun, ada sesuatu dalam cara ia berdiri yang berbeda. Bahunya tidak lagi otomatis turun setiap kali melihat bayangan tubuhnya sendiri, dagunya tidak lagi mencari perlindungan di balik kerah baju, dan kedua matanya tidak lagi meminta izin kepada cermin untuk merasa pantas berada di dalam ruangan mana pun. Ia menatap dirinya beberapa detik, kemudian tersenyum kecil. "Hari ini cuma sidang," gumamnya pelan. "Bukan pengadilan atas harga diri gue."

Di atas meja terdapat map berisi naskah skripsi, kartu mahasiswa, alat tulis, dan beberapa lembar catatan yang sudah diberi penanda kecil berwarna-warni. Raka memeriksa semuanya sekali lagi bukan karena panik, melainkan karena ia memang terbiasa memastikan sesuatu sebelum meninggalkan tempat. Bab pertama sampai bab terakhir sudah dibaca ulang, kerangka teori sudah ia pahami, metodologi sudah ia pertanggungjawabkan di hadapan Dr. Hendra, dan sejumlah kemungkinan pertanyaan penguji telah ia susun dalam kepalanya tanpa perlu menghafal jawaban kata demi kata. Ia tahu penelitian itu bukan benda suci yang tidak boleh disentuh kritik; justru karena itulah ia siap mempertahankan setiap keputusan akademiknya sekaligus mengakui bagian yang masih dapat diperbaiki. Setelah memasukkan map ke dalam tas, Raka mengambil jas almamater yang telah digantung rapi di belakang pintu dan menyampirkannya di lengan.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh lagi ke arah cermin. Ingatan tentang anak laki-laki yang dulu sering menunduk ketika berjalan melewati koridor sekolah muncul sekilas, begitu pula sosok remaja yang pernah pulang membawa penolakan dan menyimpulkan bahwa tubuhnya adalah alasan mengapa ia tidak layak dipilih. Ingatan itu tidak hilang, tetapi pagi itu ia tidak mengusirnya. Raka justru mengangguk kecil kepada pantulan dirinya sendiri, seolah sedang menyapa seseorang yang sudah lama dikenalnya. "Makasih udah bertahan," katanya nyaris tanpa suara, lalu membuka pintu kamar.

Udara kampus terasa jauh lebih segar daripada biasanya. Pepohonan di sepanjang jalan masih menyimpan embun pada ujung daun, dan sisa dingin malam membuat jalan setapak terasa nyaman ketika diinjak. Beberapa mahasiswa berjalan terburu-buru membawa tas, sebagian menuju kelas pagi, sebagian lainnya berhenti di depan kantin untuk membeli sarapan. Raka berjalan dengan langkah stabil, jas almamater tersampir rapi di lengannya dan tas menggantung di bahu. Ia tidak merasa sedang menuju sebuah tempat untuk membuktikan bahwa dirinya lebih pintar daripada orang lain. Ia hanya sedang membawa sesuatu yang sudah bertahun-tahun ia bangun dengan membaca, meneliti, mempertanyakan, dan menulis.

Gedung sidang tampak dari kejauhan ketika jam di ponselnya menunjukkan hampir pukul tujuh. Pelatarannya masih relatif sepi. Beberapa kursi taman basah oleh embun, dan udara pagi membawa aroma rumput yang baru disiram. Raka memperlambat langkah ketika melihat seseorang berdiri dekat tangga gedung, mengenakan pakaian sederhana dengan tas di bahu dan dua benda yang dibungkus kantong kertas di kedua tangannya.

Laras.

Begitu melihat Raka, Laras langsung tersenyum. "Pagi."

"Pagi. Lo datang jam berapa?"

"Baru. Bohong kalau gue bilang nggak sengaja nungguin."

Raka terkekeh pelan. "Gue kira lo bakal datang pas sidangnya mulai."

"Terus gue harus duduk manis dari awal sampai akhir sambil pura-pura nggak kenal lo?"

"Kan bisa."

"Nggak bisa."

Jawaban itu membuat senyum Raka bertahan sedikit lebih lama. Laras menyerahkan kantong kertas yang sejak tadi dibawanya. "Sarapan. Jangan bilang nggak lapar."

Raka menerimanya. Di dalamnya ada roti isi dan pisang, sementara satu gelas minuman hangat terbungkus rapi agar tidak tumpah. "Teh?"

"Teh hangat. Gue tahu lo kalau pagi suka lupa makan."

Raka memandang kantong itu, kemudian memandang Laras. "Lo hafal banget."

"Karena gue memperhatikan."

Kalimat sederhana itu membuat dada Raka menghangat. Ia membuka sedikit tutup gelas untuk memastikan minumannya masih hangat, kemudian menyeruputnya. Rasa manis yang tipis dan hangatnya teh menyentuh tenggorokan, menurunkan ketegangan kecil yang bahkan baru ia sadari masih tersimpan di sana.

Laras kemudian berdiri lebih dekat. "Diam sebentar."

"Hah?"

"Kerahan lo miring."

Sebelum Raka sempat menjawab, jemari Laras sudah membenarkan kerah kemejanya. Sentuhannya ringan, hati-hati, seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu ketenangan yang telah dibangun Raka sejak pagi. Setelah kerah itu rapi, Laras merapikan sedikit bagian jas almamater yang tersampir di lengannya.

"Udah."

Raka tersenyum. "Makasih."

Laras menatapnya beberapa saat. "Raka."

"Hm?"

"Lo udah siap."

Raka mengangguk. "Gue tahu."

"Bukan cuma skripsinya. Lo juga."

Kalimat itu membuat Raka diam. Di antara suara kendaraan yang mulai terdengar dari jalan kampus dan kicau burung di pepohonan, ia merasakan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar dukungan menjelang sidang. Laras tidak sedang mengatakan bahwa ia pasti mendapat nilai sempurna. Ia sedang mengingatkan bahwa apa pun yang terjadi di dalam ruangan nanti tidak akan menghapus seluruh perjalanan yang sudah ia tempuh.

Laras tersenyum kecil. "Lo pasti bisa lewatinnya dengan baik. Nggak perlu jadi orang lain di dalam sana. Jawab sebagai Raka yang nulis penelitian itu."

Raka menghela napas panjang. "Iya."

"Dan kalau ada pertanyaan yang nggak lo tahu?"

"Gue bilang nggak tahu."

"Kalau dikritik?"

"Gue dengerin."

"Kalau diserang?"

Raka mengangkat alis. "Gue jawab kalau argumennya memang perlu dijawab."

Laras tertawa kecil. "Nah. Itu Raka."

Raka memasukkan tangan ke saku celana, lalu menarik napas dalam-dalam. Untuk sesaat ia memandang pintu gedung sidang yang berada beberapa meter di depannya. Dulu, pintu seperti itu akan membuatnya memikirkan segala kemungkinan buruk. Hari itu, pintu tersebut hanya tampak seperti pintu.

Ia mengenakan jas almamaternya, merapikan bagian depan, lalu mengangguk kepada Laras.

"Doain gue."

"Selalu."

Raka melangkah naik menuju pintu dengan dada tegap. Di belakangnya, Laras tetap berdiri di pelataran, memandanginya sampai sosok itu menghilang di balik pintu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka tidak berjalan menuju sebuah ruangan untuk membuktikan bahwa ia layak berada di sana.

Ia hanya berjalan masuk karena memang tempatnya ada di sana.

--o--

Ruang sidang utama terasa jauh lebih dingin daripada pelataran gedung. Pendingin udara berdesing pelan di atas kepala, menyebarkan udara dingin yang membuat ujung jari beberapa mahasiswa terasa kaku. Di bagian depan ruangan terdapat meja panjang berlapis hijau yang ditempati dewan penguji, dengan tumpukan naskah skripsi, lembar penilaian, dan beberapa botol air mineral tersusun rapi. Kursi peserta sidang memenuhi bagian belakang dan sisi ruangan. Laras memilih tempat di barisan depan, cukup dekat untuk melihat ekspresi Raka, tetapi tidak terlalu dekat hingga mengganggu konsentrasinya.

Raka duduk di kursi peserta sidang dengan naskah terbuka di hadapannya. Ia tidak membaca ulang seluruh halaman. Ia hanya memastikan beberapa bagian penting berada di tempat yang mudah ditemukan. Sesekali matanya bergerak ke arah jam dinding. Ketika pintu depan terbuka dan Prof. Sukarno masuk bersama dua penguji lain, percakapan kecil di dalam ruangan segera mereda.

Prof. Sukarno, 58 tahun, berjalan dengan langkah tenang. Wajahnya tidak menunjukkan keramahan yang dibuat-buat, tetapi juga tidak menunjukkan permusuhan. Ia meletakkan map di atas meja, duduk, kemudian membuka naskah Raka.

"Saudara Raka Aditya Pratama?"

"Ya, Prof."

"Penelitian saudara berjudul mengenai relasi kuasa dalam hubungan romansa mahasiswa dengan perspektif sosiologi gender dan fokus pada pola kodependensi."

Lihat selengkapnya