Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #87

Pengumuman Nilai A dan Selempang Kelulusan

Pintu kayu tebal ruang sidang itu akhirnya bergerak perlahan, menimbulkan bunyi gesekan halus yang terdengar jauh lebih keras di lorong yang sejak tadi terasa terlalu hening. Laras yang berdiri beberapa meter dari pintu langsung mengangkat wajahnya, seolah seluruh tubuhnya sejak hampir dua jam lalu memang hanya menunggu suara itu. Tangannya yang semula saling menggenggam di depan perut spontan terlepas, sementara matanya terpaku pada celah pintu yang semakin terbuka. Dari dalam ruangan, beberapa mahasiswa peserta sidang mulai keluar satu per satu dengan ekspresi yang berbeda-beda, tetapi Laras tidak benar-benar memperhatikan mereka. Pandangannya hanya mencari satu orang dengan kemeja putih, jas almamater, dan wajah yang selama beberapa jam terakhir pasti dipaksa bertahan di bawah tekanan pertanyaan akademik yang tidak ringan. Jantungnya berdetak semakin cepat ketika akhirnya sosok kecil itu muncul di ambang pintu.

Raka tidak langsung melihatnya. Ia masih berdiri di tempat, seolah tubuhnya belum sepenuhnya percaya bahwa sesi panjang itu telah berakhir. Kemeja putih yang dikenakannya masih rapi meski bagian kerah sedikit bergeser setelah hampir dua jam duduk tegak, dan jas almamater yang sejak tadi dikenakannya membuat tubuhnya terlihat lebih formal daripada biasanya. Di tangan kanannya terdapat beberapa lembar dokumen yang tadi dikembalikan kepadanya, sementara tangan kirinya menggenggam pulpen dengan jari yang baru sekarang mulai terasa lelah. Wajahnya tidak menunjukkan kemenangan yang berlebihan; justru ada semacam keheningan aneh di sana, seperti seseorang yang baru saja keluar dari ruangan penuh tekanan dan membutuhkan beberapa detik untuk memahami bahwa ia sudah tidak perlu lagi mempertahankan argumen apa pun. Laras menahan napas ketika melihat mata Raka yang sedikit memerah.

"Raka."

Suara Dr. Hendra dari belakang membuat Raka berhenti sebelum benar-benar meninggalkan ruang sidang. Ia berbalik, lalu menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. Beberapa penguji masih berada di tempat mereka, sementara peserta sidang umum yang tadi mengikuti jalannya ujian mulai merapikan barang-barang masing-masing. Dr. Hendra berdiri di dekat meja panjang berlapis hijau itu dengan selembar dokumen di tangannya, ekspresinya tenang tetapi menyimpan sesuatu yang membuat Raka tanpa sadar kembali menegakkan tubuh. Ada jeda beberapa detik sebelum dosen itu berkata, "Sebelum kamu keluar, hasil sidangmu perlu kami umumkan."

Raka merasakan tenggorokannya mengering. Ia menelan ludah dan kembali berdiri menghadap para penguji. Untuk pertama kalinya sejak tadi ia menyadari betapa dinginnya pendingin udara di ruangan itu, betapa keras suara dengungnya, dan betapa telapak tangannya ternyata masih menyimpan sisa keringat. Prof. Sukarno duduk di tengah meja penguji dengan beberapa lembar naskah skripsi Raka terbuka di hadapannya, lengkap dengan tanda tangan dan catatan yang telah dibuat selama sidang. Profesor itu mengangkat pandangan, menatap Raka beberapa saat, lalu memberikan anggukan kecil yang membuat dada Raka terasa semakin sesak.

"Setelah mempertimbangkan presentasi, kemampuan kamu mempertahankan argumentasi, metodologi penelitian, penguasaan literatur, serta hasil karya ilmiah yang sudah kamu susun," ujar Dr. Hendra dengan suara jelas, "dewan penguji memutuskan bahwa saudara Raka Aditya Pratama dinyatakan lulus sidang skripsi dengan nilai A."

Sejenak Raka tidak bergerak.

Kalimat itu seperti berhenti di udara sebelum akhirnya benar-benar mencapai kesadarannya. Nilai A. Dua huruf sederhana yang selama berbulan-bulan hanya ia lihat sebagai target di dalam dokumen, catatan bimbingan, dan halaman-halaman revisi, kini baru saja diucapkan sebagai hasil akhir dari perjuangan yang terasa jauh lebih panjang daripada satu semester. Matanya berkedip beberapa kali. Ia mencoba tersenyum, tetapi bibirnya justru bergetar sedikit sebelum akhirnya membentuk senyum yang tidak mampu lagi ia sembunyikan.

"Dan dengan indeks prestasi kumulatif yang kamu capai," lanjut Dr. Hendra, "kamu dinyatakan lulus dengan predikat cum laude."

Kali ini napas Raka benar-benar tertahan.

Di dalam kepalanya, sesuatu seperti pintu lama terbuka tanpa izin. Bukan ruang sidang yang pertama kali muncul di sana, melainkan sebuah ruang kelas bertahun-tahun lalu, bangku sekolah, suara tawa yang pernah terdengar ketika tubuhnya menjadi bahan komentar, dan seorang anak laki-laki yang belajar menundukkan kepala agar keberadaannya tidak terlalu mudah diperhatikan. Ia teringat bagaimana dulu ia mengukur harga dirinya melalui cermin, melalui tinggi badan, melalui cara orang lain memandang wajahnya, bahkan melalui seberapa lama seseorang bersedia berdiri di sampingnya. Ia teringat masa ketika satu penolakan mampu membuatnya menyimpulkan bahwa mungkin ada sesuatu yang salah secara permanen dalam dirinya. Semua ingatan itu datang sekilas, terlalu cepat untuk disentuh, tetapi cukup kuat untuk membuat matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih, Pak," katanya akhirnya.

Suaranya sedikit serak.

Dr. Hendra tersenyum. "Selamat."

Raka menundukkan kepala. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang mulai memenuhi sudut matanya. Ia tidak ingin menangis di depan para penguji, tetapi justru semakin ia berusaha menahannya, semakin kuat rasa sesak di dadanya. Prof. Sukarno kemudian berdiri dari kursinya. Gerakannya tidak terburu-buru. Ia menutup naskah skripsi Raka, merapikan beberapa lembar kertas yang berada di atas meja, lalu berjalan mendekat.

"Raka."

"Ya, Prof."

Prof. Sukarno mengulurkan tangan.

Raka segera menyambutnya dengan kedua tangan. Telapak tangan profesor itu hangat dan kuat. Jabat tangan mereka berlangsung sedikit lebih lama daripada formalitas biasa, dan kali ini wajah Prof. Sukarno tidak lagi menunjukkan ketegasan yang selama hampir dua jam membuat Raka harus berhati-hati dalam memilih setiap kata.

"Selamat," katanya. "Karya ilmiah kamu memuaskan. Yang saya hargai bukan cuma kamu bisa menjawab pertanyaan, tapi kamu tahu kenapa kamu memilih argumen itu dan tahu batas dari apa yang bisa kamu klaim."

Raka mengangguk pelan.

"Jangan berhenti di sini."

Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa justru terasa paling dalam.

Raka tersenyum. "Terima kasih, Prof. Saya ingat."

Prof. Sukarno melepaskan tangannya. "Bagus."

Raka kemudian memberi salam kepada penguji lainnya sebelum akhirnya berbalik menuju pintu. Kali ini langkahnya terasa berbeda. Dua jam sebelumnya ia memasuki ruangan itu dengan dada yang penuh kesiapan, tetapi di dalam dirinya masih ada bagian kecil yang bertanya apakah ia benar-benar cukup. Sekarang pertanyaan itu tidak lagi terdengar sekeras tadi. Ia tidak merasa menjadi manusia yang lebih tinggi hanya karena sebuah nilai, tetapi ia tahu setidaknya ada satu hal yang tidak bisa dibantah lagi: ia telah menyelesaikan sesuatu yang dulu mungkin tidak pernah ia bayangkan mampu ia tuntaskan.

Begitu melewati ambang pintu, pandangannya langsung bertemu dengan Laras.

Perempuan itu berdiri beberapa meter di depannya dengan kedua tangan menggenggam tali tas. Rambutnya sedikit berantakan oleh udara lorong dan gerakan kecil yang mungkin dilakukannya berulang kali selama menunggu. Wajahnya jelas menyimpan kecemasan yang belum sempat hilang. Matanya bergerak cepat menyusuri wajah Raka, seperti memastikan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi selama sidang.

Raka berhenti.

Laras juga berhenti.

Tidak ada yang mengatakan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu Raka tersenyum lebar.

Ia mengangguk satu kali.

Gerakan kecil itu sudah cukup.

Mata Laras langsung membesar. "Lulus?"

Raka kembali mengangguk. Kali ini senyumnya semakin lebar.

"Lulus."

Laras menutup mulut dengan telapak tangannya. Napasnya keluar dalam bentuk tawa kecil yang bercampur lega. "Nilainya?"

Raka mencoba mempertahankan wajah tenang, tetapi gagal total.

"A."

Laras menatapnya beberapa detik. "A?"

Raka tertawa kecil. "A."

"Cum laude?"

Raka hanya mengangguk.

Ekspresi Laras runtuh menjadi kebahagiaan yang begitu spontan sampai ia tidak sempat mempertahankan sikap tenangnya. Ia melangkah cepat, lalu berlari kecil ke arah Raka dan langsung merangkul tubuhnya. Raka sempat terkejut ketika kedua tangan Laras melingkari dirinya, tetapi beberapa detik kemudian tangannya ikut terangkat dan membalas pelukan itu. Wajahnya tenggelam sebentar di bahu Laras, dan di sanalah pertahanan terakhirnya benar-benar runtuh.

"Selamat," bisik Laras.

Raka menutup mata.

"Terima kasih."

"Selamat, Raka."

Suara Laras bergetar.

Raka mengembuskan napas panjang. "Aku lulus."

"Iya."

"Aku beneran lulus."

"Iya, aku tahu."

Ia tertawa di sela napas yang berat. "Aku kira tadi aku bakal pingsan."

Laras sedikit menjauh, tetapi tangannya masih berada di lengan Raka. "Aku dari tadi juga hampir pingsan nungguin kamu."

Raka tertawa lagi. Kali ini air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. Satu tetes melewati pipinya. Laras melihatnya, lalu tersenyum tanpa menertawakan tangisan itu.

"Jangan malu nangis."

"Aku nggak malu."

"Bagus."

Raka mengusap pipinya sendiri dengan punggung tangan. "Cuma... aneh aja."

"Apa?"

"Kayak semua yang selama ini aku kejar tiba-tiba selesai."

Laras menatapnya dalam-dalam. "Belum selesai."

Raka mengangkat alis.

"Yang selesai cuma satu bagian."

Ia menunjuk pintu ruang sidang dengan dagunya.

"Yang lain masih panjang."

Raka tersenyum.

Untuk pertama kalinya ia tidak merasa takut mendengar kata panjang.

Dulu perjalanan panjang selalu berarti sesuatu yang harus ia lewati dengan membuktikan dirinya kepada orang lain. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia bisa membayangkan perjalanan panjang sebagai sesuatu yang boleh ia jalani bersama seseorang. Laras masih berdiri di depannya, masih menggenggam lengannya, dan tatapan perempuan itu tidak pernah mengarah kepada nilai A yang baru saja diterimanya. Tatapan itu mengarah kepada Raka, orang yang sama yang pernah duduk dalam kamar gelap, orang yang pernah merasa dirinya terlalu kecil untuk dicintai, orang yang pernah percaya bahwa tubuhnya adalah alasan utama mengapa hidup selalu terasa seperti ujian.

Raka menghela napas.

"Rasanya kayak..." Ia berhenti mencari kata. "Kayak semua capek itu akhirnya punya tempat."

Laras mengangguk. "Karena kamu memang pantas sampai di sini."

Raka menatapnya.

Ada sesuatu yang hangat bergerak perlahan di dadanya. Bukan euforia besar, bukan kemenangan yang membuatnya ingin berteriak, melainkan rasa damai yang selama bertahun-tahun terasa terlalu mahal untuk ia miliki.

Ia menggenggam tangan Laras.

"Temenin aku pulang?"

Laras tersenyum. "Sampai kapan?"

Raka memandang lorong panjang di belakang mereka, kemudian kembali menatap perempuan yang berdiri di sisinya.

"Kalau bisa, lama."

Laras menggenggam tangannya lebih erat.

"Ya udah."

Mereka berjalan berdampingan meninggalkan lorong ruang sidang. Matahari siang menjelang sore menyusup melalui jendela-jendela tinggi gedung fakultas, membentuk bidang cahaya panjang di lantai. Raka melangkah melewati cahaya itu dengan langkah yang ringan, masih membawa naskah skripsi di tangannya, sementara Laras berjalan di sampingnya tanpa melepaskan genggaman.

Hari itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak berjalan sambil berusaha mengecilkan dirinya.

Ia berjalan pulang sebagai seseorang yang tahu bahwa dirinya telah sampai sejauh ini dengan kedua kakinya sendiri.

Dan seseorang yang ia cintai memilih berjalan di sampingnya.

--o--

Sore mulai turun ketika mereka sampai di pelataran parkir FIB. Matahari berada rendah di balik deretan bangunan kampus, menumpahkan cahaya keemasan di antara pepohonan dan kendaraan yang terparkir. Udara yang sejak siang terasa panas mulai berubah lebih bersahabat, membawa angin ringan yang menggerakkan daun-daun di sepanjang halaman. Beberapa mahasiswa masih berlalu-lalang dengan map skripsi, sebagian lainnya berdiri bergerombol untuk mengambil foto kelulusan, sementara suara tawa dan panggilan dari kejauhan bercampur dengan bunyi kendaraan yang sesekali meninggalkan area parkir. Raka berjalan perlahan bersama Laras, masih sesekali memandangi dokumen kelulusannya seolah takut kalau ia berhenti melihat, semua yang terjadi hari itu akan terasa seperti mimpi.

Lihat selengkapnya