H-1 wisuda, langit sore menggantung bening di atas kota ketika Raka berdiri di depan cermin besar berbingkai kayu di sebuah tempat persewaan busana wisuda yang berada tidak jauh dari kampus. Ruangan itu dipenuhi aroma kain baru, parfum segar, dan sedikit wangi kayu dari lemari-lemari tempat kebaya serta toga disimpan. Beberapa orang sibuk memilih ukuran, sementara suara gantungan baju yang bergesekan terdengar sesekali dari balik sekat. Di tengah semua kesibukan itu, Raka justru diam di hadapan bayangannya sendiri, mengenakan toga hitam dengan garis warna fakultas yang jatuh rapi di kedua sisi tubuhnya. Tangannya sempat merapikan bagian depan toga, bukan karena ada yang salah, melainkan karena kebiasaan lama membuatnya selalu merasa harus memastikan dirinya tampak pantas sebelum berhadapan dengan dunia.
Ia menatap cermin itu cukup lama. Sosok di hadapannya tidak tinggi, sama seperti bertahun-tahun sebelumnya, tetapi untuk pertama kalinya Raka tidak merasa perlu mencari sudut tertentu agar tubuhnya terlihat lebih besar. Ia tidak menarik bahu ke belakang secara berlebihan, tidak berdiri di atas ujung kaki, tidak memiringkan kepala untuk menyamarkan perbedaan tinggi ketika membayangkan dirinya berdiri di antara laki-laki lain. Kedua telapak kakinya menapak penuh pada lantai, bahunya rileks, dan dagunya berada pada posisi yang alami. Ada sesuatu yang terasa asing dalam kesederhanaan itu. Bukan tubuhnya yang berubah, melainkan cara ia memandang tubuh tersebut. Dulu cermin adalah tempat Raka mencari kekurangan; sore itu, cermin hanya memantulkan seseorang yang sudah selesai bertengkar dengan dirinya sendiri.
"Mas Raka, toganya sudah pas?" tanya penjaga toko dari belakang.
Raka menoleh sebentar. "Pas, Mbak. Kayaknya ini ukurannya."
"Kalau bagian lengannya mau disesuaikan sedikit juga bisa."
Raka kembali melihat cermin, lalu tersenyum tipis. "Nggak usah. Udah nyaman."
Kata-kata itu terdengar biasa saja, tetapi bagi Raka ada perjalanan panjang di baliknya. Nyaman. Dahulu ia bahkan tidak nyaman berdiri di samping orang lain. Sejak masa sekolah, angka 154 sentimeter seolah menjadi hukuman yang terus dibawa ke mana-mana. Ada komentar yang melekat lebih lama daripada yang seharusnya, tatapan yang pernah membuatnya menundukkan kepala, dan satu periode dalam hidupnya ketika ia menganggap ukuran tubuh sebagai penjelasan paling masuk akal atas semua penolakan yang pernah diterimanya. Tahun 2016 pernah terasa seperti sebuah garis pemisah antara dirinya dengan kehidupan yang seharusnya ia miliki. Bertahun-tahun sesudahnya, ia masih sering membawa anak laki-laki dari masa itu di dalam dirinya, anak yang takut difoto dari samping, takut berdiri paling depan, dan takut seseorang melihatnya terlalu lama.
Namun laki-laki yang sekarang berdiri di depan cermin tidak sedang mencoba membuktikan bahwa masa lalu itu salah. Ia hanya tidak lagi membiarkan masa lalu menentukan langkah berikutnya.
Pintu ruang fitting di sebelahnya terbuka. Laras keluar perlahan sambil merapikan ujung kebaya sederhananya. Kebaya itu tidak dipenuhi hiasan berlebihan, tetapi justru kesederhanaannya membuat penampilan Laras terlihat semakin anggun. Rambutnya ditata rapi, beberapa helai jatuh lembut di dekat wajah, dan warna busananya menyatu dengan suasana sore yang hangat di balik kaca toko. Laras sempat melihat dirinya sendiri melalui cermin kecil di tangannya sebelum mengangkat wajah dan menemukan Raka yang masih berdiri di depan cermin besar.
"Rak?"
Raka menoleh.
Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.
Laras mengangkat alis. "Kenapa?"
Raka tersenyum. "Kamu cantik."
Pipi Laras langsung berubah merah. Ia tertawa kecil, lalu menundukkan wajah sambil pura-pura sibuk merapikan ujung lengan kebayanya. "Kamu kalau muji tuh jangan tiba-tiba."
"Emang harus pakai ancang-ancang?"
"Ya minimal kasih kesempatan aku siap."
Raka terkekeh. "Aku ngomong jujur."
Laras akhirnya menatapnya lagi. "Beneran?"
"Beneran." Raka melangkah mendekat. "Kamu kelihatan anggun banget."
Senyum Laras melebar, meskipun rona merah di pipinya belum hilang. "Kamu juga kelihatan beda."
"Dalam arti bagus atau..."
"Dalam arti kamu akhirnya percaya sama diri sendiri."
Raka terdiam.
Kalimat itu sederhana, tetapi langsung mengenai tempat yang paling dalam di dadanya. Laras tidak mengatakan bahwa toga itu membuatnya terlihat gagah. Ia tidak mengatakan bahwa Raka sekarang lebih tampan daripada dulu. Ia mengatakan sesuatu yang jauh lebih penting. Ia melihat perubahan yang tidak bisa diukur dengan kain, warna, atau ukuran tubuh.
Laras mendekat dan meraih tangan Raka. Jemarinya menyelip perlahan di antara jemari Raka, menggenggamnya dengan hangat.
"Besok kita wisuda," katanya.
Raka mengangguk. "Iya."
"Deg-degan?"
"Sedikit."
"Takut?"
Raka menggeleng. "Nggak. Rasanya cuma... aneh."
"Aneh gimana?"
Raka kembali melihat pantulan mereka di cermin. "Kayak baru kemarin aku masih takut masuk ruangan tertentu karena mikir semua orang bakal ngelihat aku sebagai orang yang paling kecil di situ."
Laras tidak menjawab. Ia hanya mengusap punggung tangan Raka dengan ibu jarinya.
"Terus sekarang," lanjut Raka, "aku malah mikirin besok mau duduk di mana."
Laras tertawa pelan. "Berarti ada kemajuan."
"Besar."
Mereka berdiri berdampingan di depan cermin. Tidak ada pose khusus. Tidak ada usaha menyamakan tinggi badan. Tidak ada tangan yang sengaja menarik tubuh Raka agar terlihat lebih tinggi atau Laras yang menyesuaikan posisi agar perbedaan itu hilang. Mereka hanya berdiri sebagai dua orang yang telah melewati perjalanan panjang dan masih memilih untuk saling menggenggam.
"Besok," ujar Laras, "kita masuk bareng."
Raka mengangguk.
"Dan apa pun yang terjadi, kamu nggak sendirian."
Raka menatap matanya. "Aku tahu."
Untuk pertama kalinya, keyakinan itu tidak terdengar seperti sesuatu yang harus ia paksa keluar dari mulut.
Pagi berikutnya, Balairung Utama PTN telah dipenuhi ribuan mahasiswa dengan toga hitam. Cahaya matahari menembus kaca-kaca tinggi di sisi gedung, memantul pada lantai mengilap dan membentuk garis-garis terang di antara deretan kursi. Suara percakapan bercampur dengan instruksi panitia, derap sepatu, dan sesekali tawa kecil keluarga yang berada di tribun audiens. Ketika alunan Gaudeamus Igitur mulai terdengar, suasana perlahan berubah menjadi khidmat.
Raka duduk di barisan wisudawan fakultas bersama Laras. Toga hitam yang kemarin hanya menjadi pakaian fitting kini terasa berbeda di tubuhnya. Ada nama, gelar, penelitian, berlembar-lembar revisi, malam panjang di depan laptop, dan percakapan akademik yang melelahkan di balik kain yang dikenakannya pagi itu. Ia menundukkan kepala sebentar, mengatur napas, lalu memandang ke depan.
Laras berada beberapa kursi dari sisinya. Ketika pandangan mereka bertemu, Laras tersenyum.
Raka membalas.
Tidak ada percakapan. Tidak perlu.
Satu demi satu nama lulusan terbaik mulai dipanggil. Tepuk tangan terdengar dari berbagai sudut balairung setiap kali seorang mahasiswa maju ke panggung. Sampai akhirnya nama itu disebut.
"Raka Aditya Pratama."
Ada jeda sepersekian detik ketika Raka memastikan dirinya tidak salah dengar.
Kemudian ia berdiri.
Tepuk tangan terdengar dari barisan belakang dan tribun. Raka melangkah menuju panggung dengan langkah yang tenang. Sepatu hitamnya menyentuh lantai satu per satu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia tidak memikirkan apakah langkah itu terlihat cukup gagah bagi orang lain.
Ia hanya berjalan.
Di atas panggung, Rektor berdiri bersama Dekan Fakultas. Lampu balairung membuat permukaan meja dan podium tampak lebih terang daripada biasanya. Raka berhenti di tempat yang diarahkan panitia, menundukkan kepala dengan hormat, kemudian berdiri tegak ketika prosesi pemindahan kuncir toga dilakukan.
Kain toga bergerak ringan ketika kuncir dipindahkan dari satu sisi ke sisi lainnya.
Raka menerima ijazah dengan kedua tangan.
"Selamat," kata Rektor.
"Terima kasih, Prof."