Pagi itu, kota tampak seperti sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Raka ketika ia masih duduk di bangku sekolah dan merasa dirinya terlalu kecil untuk berdiri di samping siapa pun. Dari lantai dua puluh tiga gedung perkantoran itu, kendaraan di jalan raya terlihat seperti garis-garis bergerak yang tersusun rapi di antara bangunan beton, sementara matahari memantul pada kaca-kaca gedung di seberang hingga menciptakan kilatan putih yang sesekali menyilaukan mata. Raka berdiri beberapa saat di depan pintu kaca ruang wawancara sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, membiarkan dirinya menarik napas dalam-dalam. Kemeja putih yang dikenakannya sudah disetrika rapi sejak malam sebelumnya, celana bahan gelap jatuh lurus hingga ke pergelangan kaki, dan sepatu yang baru dipoles pagi tadi memantulkan cahaya lampu koridor. Tidak ada lagi kebiasaan menundukkan kepala ketika melewati sekelompok orang yang lebih tinggi darinya, tidak ada lagi tangan yang sibuk merapikan pakaian hanya karena merasa tubuhnya sedang diamati. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka memasuki sebuah ruangan bukan dengan pertanyaan apakah dirinya cukup pantas berada di sana, melainkan dengan kesadaran sederhana bahwa ia memang datang karena memiliki sesuatu yang layak ditawarkan.
Ruang wawancara itu tidak terlalu besar, tetapi seluruh dinding sisi kanan berupa kaca bening yang memperlihatkan hamparan kota dari ketinggian. Di tengah ruangan terdapat meja rapat berbahan kayu mahoni dengan permukaan mengilap, sementara tiga orang pewawancara duduk di sisi seberang dengan beberapa lembar berkas portofolio tersusun di hadapan mereka. Raka sempat melihat namanya tercetak pada halaman paling atas salah satu berkas itu, lengkap dengan riwayat pendidikan, pengalaman organisasi, penelitian, serta beberapa proyek yang selama ini ia kerjakan dengan teliti. Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh dua tahun duduk di tengah, mengenakan blazer abu-abu tua dengan rambut tersisir rapi, sementara dua pewawancara lain berada di kedua sisinya dengan laptop terbuka. Perempuan itu mengangkat pandangan ketika Raka masuk, lalu tersenyum profesional sambil mempersilakannya duduk. “Silakan, Mas Raka. Terima kasih sudah datang pagi-pagi.” Raka membalas senyum itu, menarik kursi tanpa tergesa, kemudian duduk dengan punggung tegak dan kedua tangan terletak tenang di atas paha.
“Selamat pagi, Bu. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan untuk mengikuti proses ini.”
Suaranya terdengar lebih tenang daripada yang ia rasakan beberapa detik sebelumnya. Ada sedikit ketegangan di dada, tentu saja, tetapi ketegangan itu tidak lagi berupa rasa takut yang membuat pikirannya berantakan. Ia sudah belajar membedakan antara gugup dan tidak mampu. Gugup hanya berarti sesuatu penting sedang dihadapi, sedangkan tidak mampu berarti memang ada batas kompetensi yang harus diakui. Pemahaman sederhana itu telah menemaninya selama bertahun-tahun, termasuk ketika ia menolak menjadi pembicara forum gender karena merasa pengalaman hidupnya tidak cukup untuk berbicara dari posisi fenomenologis tertentu. Raka tidak pernah ingin terlihat pintar hanya karena bisa menyusun kalimat rumit. Baginya, kecerdasan tanpa kejujuran hanya menghasilkan kesan yang mudah runtuh ketika diuji lebih jauh.
HR Manager di hadapannya membuka lembar pertama. “Saya sudah membaca portofolio kamu. Latar belakang kamu cukup menarik. Ada pengalaman riset, organisasi, beberapa proyek yang sifatnya lintas bidang juga. Tapi saya mau mulai dari pertanyaan yang sederhana. Menurut kamu, apa masalah paling sulit yang pernah kamu selesaikan selama kuliah?”
Raka tidak langsung menjawab. Matanya turun sebentar, seolah sedang mencari satu pengalaman yang paling tepat untuk dibicarakan, bukan sekadar yang paling mengesankan. “Kalau masalah paling sulit secara teknis, saya rasa bukan itu yang paling membekas, Bu,” katanya kemudian. “Yang paling sulit justru ketika saya harus menyelesaikan masalah yang orang-orangnya punya kepentingan berbeda. Dalam satu proyek, misalnya, ada anggota tim yang fokus pada target, ada yang lebih peduli pada kualitas proses, sementara yang lain sebenarnya sudah kelelahan tapi enggak ngomong.” Ia berhenti sejenak dan mengusap ibu jarinya dengan telunjuk, kebiasaan kecil yang muncul ketika sedang berpikir. “Saya awalnya mencoba membuat semuanya mengikuti satu pola kerja. Hasilnya malah enggak efektif. Akhirnya saya belajar bahwa penyelesaian masalah bukan selalu soal menemukan cara paling cepat, tapi memahami kenapa orang-orang di dalam masalah itu bertindak seperti mereka bertindak.”
Salah satu pewawancara di samping kanan mengangkat alis. “Jadi kamu menganggap masalah manusia lebih sulit daripada masalah teknis?”
“Bukan lebih sulit secara mutlak,” jawab Raka. “Tapi lebih sulit diprediksi. Sistem teknis punya parameter yang relatif bisa kita petakan. Manusia enggak selalu begitu. Ada pengalaman, emosi, kepentingan, rasa takut, bahkan persepsi yang kadang enggak terlihat dari luar. Kalau kita mengabaikan itu, solusi yang secara administratif terlihat bagus bisa gagal ketika diterapkan.”
HR Manager memperhatikan Raka beberapa detik lebih lama. “Kamu belajar hal itu dari mana?”
“Dari kegagalan juga, Bu.”
Jawaban itu membuat suasana ruangan berubah sedikit. Tidak drastis, tetapi Raka melihat salah satu pewawancara menurunkan tangannya dari keyboard dan benar-benar memandang kepadanya. Raka tidak tersenyum untuk mencari simpati. Ia hanya melanjutkan dengan nada yang sama. “Saya pernah merasa bahwa kalau saya punya argumen yang kuat, orang lain pasti akan mengikuti. Ternyata enggak. Argumen yang benar belum tentu diterima kalau cara membawanya membuat orang merasa enggak dihargai. Dari situ saya belajar bahwa komunikasi bukan cuma tentang apa yang kita sampaikan, tapi juga bagaimana orang lain mengalami proses ketika menerima pesan itu.”
HR Manager bersandar sedikit pada kursinya. “Menarik. Sekarang saya mau masuk ke kepemimpinan. Kamu pernah memimpin?”
“Pernah, Bu.”
“Menurut kamu, pemimpin yang baik itu seperti apa?”
Raka menatapnya langsung. “Pemimpin yang baik menurut saya bukan orang yang selalu punya jawaban.”
“Lalu?”
“Orang yang tahu kapan harus menjawab dan kapan harus mendengarkan.”
Ruangan kembali hening beberapa saat. Di balik kaca, sebuah pesawat kecil tampak bergerak perlahan di antara gedung-gedung tinggi, hampir tidak terdengar dari tempat mereka duduk. Raka melanjutkan sebelum pertanyaan berikutnya datang. “Saya enggak terlalu percaya pada gaya kepemimpinan yang menjadikan pemimpin sebagai pusat semua keputusan. Kalau semua harus lewat satu orang, tim mungkin terlihat terkontrol, tapi kapasitas orang lain justru enggak berkembang. Saya lebih percaya pemimpin harus membuat orang lain mampu bekerja tanpa terus-menerus menunggu instruksi.”
“Kalau anggota tim kamu melakukan kesalahan?”
“Saya lihat dulu jenis kesalahannya.”
“Kenapa?”
“Karena enggak semua kesalahan harus diperlakukan sama. Kalau kesalahan terjadi karena kelalaian berulang setelah diberi pemahaman dan dukungan, tentu ada konsekuensi. Tapi kalau kesalahan terjadi karena orang itu mengambil keputusan yang masuk akal berdasarkan informasi yang dia punya saat itu, saya enggak akan langsung menyalahkan. Saya akan evaluasi sistem informasinya juga.”
HR Manager tersenyum tipis. “Kamu terdengar cukup idealis.”
“Saya mungkin idealis dalam prinsip, Bu. Tapi saya enggak ingin idealisme itu membuat saya kehilangan kemampuan melihat kondisi nyata.”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa persiapan khusus. Raka sendiri menyadari betapa berbeda dirinya sekarang dibandingkan beberapa tahun lalu. Dahulu ia sering berpikir bahwa dirinya harus memiliki jawaban yang sempurna agar orang lain menganggapnya berharga. Ia akan membaca lebih banyak, menghafal lebih banyak, memaksakan diri memahami hal-hal yang sebenarnya belum ia kuasai hanya supaya tidak terlihat bodoh. Kini ia justru tidak merasa malu mengatakan, “Saya belum tahu.” Baginya, kalimat itu bukan pengakuan kekalahan. Kalimat itu adalah pintu masuk menuju proses belajar yang jujur.
Pewawancara di sisi kiri kemudian membuka salah satu bagian portofolio. “Di sini kamu menulis tentang riset. Cukup kuat. Tapi saya penasaran, kalau kamu diberi data yang tidak sesuai dengan hipotesis awal, apa yang akan kamu lakukan?”
“Saya ubah kesimpulannya, kalau memang datanya valid.”
“Enggak mencoba mencari cara supaya hipotesis awal tetap benar?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Karena penelitian bukan alat untuk membuktikan apa yang sejak awal ingin saya percayai.” Raka menghela napas pelan. “Kalau data enggak mendukung hipotesis, berarti ada sesuatu yang harus saya pahami. Bisa jadi teorinya kurang tepat untuk konteks tersebut, bisa juga instrumennya bermasalah, atau memang fenomenanya berbeda dari dugaan awal. Yang enggak boleh dilakukan adalah memaksa data supaya cocok dengan keinginan peneliti.”
HR Manager menutup berkasnya perlahan. “Kalau prinsip itu kamu bawa ke dunia kerja, berarti kamu mungkin akan sering berbeda pendapat dengan atasan.”
“Mungkin, Bu.”
“Dan kalau atasan tetap meminta kamu melakukan sesuatu yang menurut kamu salah?”
Raka diam lebih lama kali ini. Ia tidak ingin memberikan jawaban yang terdengar heroik. Tidak ada gunanya mengatakan dirinya akan selalu melawan demi prinsip, karena dunia kerja memiliki struktur, tanggung jawab, dan konsekuensi yang nyata. Ia memandang permukaan meja mahoni yang memantulkan bayangan tangannya, kemudian kembali menatap pewawancara. “Saya akan memastikan dulu bahwa saya benar-benar memahami instruksinya. Kalau saya salah memahami, saya enggak mau membuat konflik yang sebenarnya enggak perlu. Tapi kalau setelah diklarifikasi saya tetap melihat ada masalah integritas atau risiko yang serius, saya akan menyampaikan keberatan saya secara profesional dan mendokumentasikan pertimbangannya. Saya enggak mau membangun karier dengan cara pura-pura enggak melihat sesuatu yang memang salah.”
“Kalau kamu akhirnya tetap diminta melakukannya?”
“Saya akan mempertimbangkan batasnya, Bu. Ada hal yang bisa dinegosiasikan, ada yang enggak.”
“Contohnya?”
“Target kerja yang terlalu tinggi masih bisa dibicarakan berdasarkan sumber daya dan waktu. Tapi manipulasi data, penyembunyian informasi penting, atau tindakan yang merugikan orang lain dengan sengaja, menurut saya masuk wilayah yang berbeda.”
Tidak ada nada menantang dalam suara Raka. Ia bahkan tidak mengeraskan suara. Justru ketenangan itulah yang membuat jawabannya terasa lebih berat. HR Manager mengangguk pelan, lalu mencatat sesuatu pada lembar penilaian. Raka melihat pena perempuan itu bergerak beberapa detik sebelum berhenti. Untuk sesaat, ia teringat dirinya yang dulu, anak laki-laki yang berdiri di depan cermin dan bertanya-tanya mengapa tubuhnya tidak pernah terlihat seperti tubuh laki-laki lain yang dianggap menarik. Anak yang mengira tinggi badan adalah ukuran kelayakan seseorang, yang membawa kalimat-kalimat penolakan dari masa sekolah seperti batu di dalam saku. Ia ingin mengatakan kepada anak itu bahwa suatu hari nanti ia akan duduk di gedung setinggi ini, berhadapan dengan orang-orang yang menilai kemampuan profesionalnya, dan tidak seorang pun akan memulai percakapan dengan mengukur tubuhnya.
Tetapi Raka tidak membutuhkan kalimat itu lagi.
Ia sudah tahu jawabannya.
HR Manager kemudian bertanya, “Kamu punya banyak pilihan setelah lulus. Kenapa melamar di sini?”
Raka tersenyum kecil. “Karena saya ingin bekerja di tempat yang bisa membuat saya terus belajar tanpa kehilangan prinsip yang saya pegang.”
“Prinsip apa?”
“Integritas, konsistensi, dan empati.”
“Bisa dijelaskan?”
“Integritas berarti saya enggak ingin ada jarak terlalu jauh antara apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan. Konsistensi berarti saya enggak mau prinsip hanya muncul ketika kondisi sedang nyaman. Dan empati berarti saya sadar bahwa pekerjaan kita selalu berdampak pada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.” Ia mencondongkan tubuh sedikit, tetapi tetap rileks. “Saya enggak menganggap tiga hal itu membuat saya lebih baik dari orang lain. Justru saya masih belajar menjalankannya.”
Pewawancara di kiri tersenyum. “Kamu cukup sering bilang masih belajar.”
“Karena memang masih.”
“Kamu enggak takut dianggap kurang percaya diri?”
Raka tertawa kecil. “Saya dulu mungkin takut. Sekarang saya pikir percaya diri dan merasa paling tahu itu dua hal yang berbeda.”
HR Manager akhirnya ikut tertawa pelan. “Saya suka jawaban itu.”
Wawancara berlangsung beberapa menit lagi, memasuki pertanyaan teknis, simulasi penyelesaian masalah, hingga bagaimana Raka akan menghadapi tekanan target. Ia tidak menjawab semuanya dengan sempurna. Pada satu pertanyaan teknis yang belum pernah ia hadapi secara langsung, ia mengakui bahwa pengetahuannya terbatas dan menjelaskan bagaimana ia akan mencari referensi, memvalidasi informasi, kemudian meminta arahan jika diperlukan. Pada pertanyaan lain, ia memberikan contoh konkret dari pengalaman riset dan organisasi, menjelaskan langkah, pertimbangan, serta hasilnya tanpa memperbesar perannya sendiri. Ia bahkan menyebut satu keputusan yang ia ambil dan ternyata tidak berhasil, kemudian menjelaskan apa yang ia pelajari dari kegagalan itu. Tidak ada kalimat “saya menyelamatkan tim” atau “saya menjadi kunci keberhasilan”. Raka hanya menceritakan apa yang benar-benar ia lakukan.
Ketika sesi akhirnya selesai, HR Manager menutup laptopnya dan mengulurkan tangan. “Mas Raka, terima kasih. Saya rasa cukup untuk hari ini.”
Raka berdiri dan menjabat tangan itu. Genggaman perempuan tersebut hangat dan tegas. “Terima kasih juga, Bu.”
“Saya enggak bisa menjanjikan hasil sekarang.”
“Saya mengerti.”
“Tapi saya pribadi cukup terkesan dengan cara kamu berpikir.”
Raka tersenyum. “Terima kasih.”
Ia melepaskan jabatan tangan itu, mengangguk kepada dua pewawancara lainnya, lalu berjalan menuju pintu. Ketika tangannya menyentuh gagang pintu, suara HR Manager kembali terdengar.
“Mas Raka.”
Raka menoleh.
“Pertahankan cara berpikir seperti ini. Dunia kerja kadang bisa membuat orang terlalu sibuk terlihat hebat sampai lupa menjadi orang yang benar-benar bisa dipercaya.”
Raka terdiam sebentar, kemudian mengangguk. “Saya akan ingat itu, Bu.”
Pintu kaca tertutup perlahan di belakangnya. Koridor gedung kembali menyambutnya dengan suara pendingin ruangan yang lembut dan langkah kaki beberapa karyawan yang berlalu-lalang. Raka berdiri beberapa detik di sana, membiarkan napasnya keluar panjang. Ia tidak tahu apakah akan diterima. Ia tidak tahu berapa banyak kandidat lain yang lebih berpengalaman, lebih tinggi, lebih tampan, atau lebih meyakinkan ketika berbicara. Untuk pertama kalinya, ketidaktahuan itu tidak membuatnya ingin bersembunyi.
Ia berjalan menuju lift dengan langkah tenang.