Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #90

Kunci Rumah Pertama

Kunci itu terasa ringan di telapak tangan Raka, tetapi entah mengapa sejak tadi benda kecil itu seperti membawa seluruh berat hidup yang pernah dilewatinya. Ia berdiri di depan pintu kayu bercat putih dengan satu tangan menggenggam gagang kunci, sementara tangan lainnya masih memegang map tipis berisi dokumen kontrakan yang baru saja mereka urus beberapa hari sebelumnya. Di belakangnya, Laras berdiri dengan dua tas belanja kecil yang isinya belum terlalu penting, hanya beberapa perlengkapan rumah tangga yang mereka beli pagi tadi karena Raka bersikeras bahwa rumah baru tidak boleh langsung dipenuhi barang-barang sebelum mereka tahu apa yang benar-benar dibutuhkan. Halaman depan rumah itu tidak besar, hanya sebidang rumput hijau yang dibatasi jalan setapak dari semen dan beberapa tanaman kecil di sepanjang pagar, tetapi bagi Raka, tempat itu terasa jauh lebih luas daripada ukuran sebenarnya. Ia memasukkan kunci ke lubangnya, memutarnya perlahan, lalu berhenti sejenak ketika terdengar bunyi klik yang sederhana dan tegas dari dalam mekanisme pintu.

Laras memperhatikan bahunya yang tiba-tiba diam. "Kenapa?" tanyanya pelan.

Raka tidak langsung menjawab. Jarinya masih berada di gagang pintu, matanya tertuju pada permukaan putih yang terkena pantulan cahaya pagi. Ada sesuatu yang membuat dadanya penuh, sesuatu yang sulit diterjemahkan menjadi kalimat. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menganggap pintu sebagai batas yang harus dilewati dengan hati-hati, karena di balik pintu tertentu ada ruang yang menyimpan kegagalan, rasa malu, tangisan yang disembunyikan, dan hari-hari ketika ia bahkan tidak sanggup menyalakan lampu. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia berdiri di depan sebuah pintu yang tidak menyimpan masa lalu apa pun tentang dirinya.

"Enggak apa-apa," jawabnya akhirnya, dengan senyum kecil yang tertahan. "Cuma... rasanya aneh."

"Aneh gimana?"

Raka menoleh kepada Laras. "Aku punya rumah."

Laras terdiam sesaat sebelum senyumnya melebar. "Iya. Kamu punya rumah."

Raka menekan gagang pintu dan membukanya.

Cahaya matahari pagi langsung menyambut mereka dari balik jendela-jendela kaca besar yang memenuhi bagian depan rumah. Sinar keemasan menerobos masuk tanpa hambatan, jatuh di lantai keramik yang masih bersih, menyentuh dinding-dinding berwarna putih gading, lalu memantul lembut ke langit-langit ruangan yang cukup tinggi. Debu hampir tidak terlihat di udara karena rumah itu baru selesai dibersihkan oleh pemiliknya sebelum diserahkan kepada Raka, membuat ruangan kosong tersebut terasa seperti halaman pertama dari sebuah buku yang belum pernah ditulisi siapa pun. Ada ruang tamu kecil di sisi kiri, dapur sederhana di bagian belakang, satu kamar tidur, satu ruangan yang bisa digunakan sebagai ruang kerja, serta pintu kaca menuju halaman belakang yang belum mereka lihat. Udara di dalam rumah beraroma kayu, cat lama yang sudah mengering, dan sedikit wangi deterjen dari lantai yang baru dipel.

Raka melangkah masuk perlahan.

Sepatu kanannya menyentuh lantai terlebih dahulu, kemudian kaki kirinya mengikuti. Ia berhenti beberapa langkah dari pintu dan membiarkan matanya menyusuri ruangan itu. Tidak ada kasur yang menempel ke dinding karena keterbatasan ruang. Tidak ada meja belajar yang sekaligus menjadi tempat menaruh pakaian, kabel, buku, gelas air, dan segala benda yang tidak memiliki tempat. Tidak ada lemari yang membuat ruangan terasa semakin sempit. Tidak ada jendela kecil yang harus dibuka lebar-lebar agar udara tidak terasa pengap. Tidak ada tirai tebal yang membuat siang terasa seperti malam.

Hanya cahaya.

Cahaya yang memenuhi ruangan tanpa perlu diminta.

Laras masuk setelahnya dan menutup pintu perlahan. "Gimana?"

Raka mengangkat wajah. "Terang."

"Ya memang terang."

"Bukan itu."

Laras tersenyum samar. Ia tahu dari cara Raka mengatakannya bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar kondisi pencahayaan.

Raka berjalan menuju jendela besar di ruang depan. Tangannya menyentuh kusen, lalu ia melihat keluar. Rumput di halaman masih basah oleh embun. Beberapa daun kecil bergerak perlahan tertiup angin pagi, sementara suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar, tidak cukup keras untuk mengganggu ketenangan rumah tersebut. Di kejauhan, kehidupan kota mulai bergerak seperti biasa. Orang-orang berangkat bekerja, kendaraan melewati jalan, suara pedagang sesekali terdengar dari arah yang tidak terlihat. Namun dari dalam rumah itu, semuanya terasa lebih jauh.

Ia memikirkan kamar kos lamanya.

Tiga meter kali tiga meter.

Sembilan meter persegi yang pernah menjadi seluruh dunianya.

Raka masih bisa mengingat bentuk ruang itu dengan terlalu jelas. Posisi kasur yang menempel di sudut, meja kecil yang hanya menyisakan sedikit ruang untuk duduk, lemari yang pintunya tidak bisa dibuka sepenuhnya karena terhalang kaki meja, serta dinding yang terasa semakin dekat setiap kali ia sedang tidak baik-baik saja. Di sana, udara pernah terasa berat bahkan ketika kipas menyala sepanjang malam. Cahaya matahari hanya masuk melalui celah jendela yang sempit, dan ketika tirai tertutup, kamar itu bisa berubah menjadi kotak gelap yang seolah memutus hubungan Raka dengan dunia.

Tempat itu pernah menjadi tempat ia bersembunyi.

Bukan karena ia menyukainya, melainkan karena pada suatu titik ia tidak tahu harus pergi ke mana.

Di kamar itulah ia pernah berhari-hari membiarkan ponselnya bergetar tanpa disentuh. Di sanalah ia pernah berbaring membelakangi jendela, membiarkan waktu berjalan tanpa dirinya. Di sanalah komentar sederhana di media sosial tentang seseorang yang tampak seperti "adik" mampu menghantam bagian dirinya yang selama bertahun-tahun sudah rapuh. Di sanalah ia pernah mempercayai bahwa ukuran tubuhnya, wajahnya, dan bagaimana orang lain melihatnya merupakan semacam hukuman yang harus ia bawa sampai kapan pun.

Sekarang ia berdiri di ruangan yang bahkan belum memiliki perabot.

Namun ia tidak merasa kosong.

"Ka."

Suara Laras membuat Raka menoleh.

Laras berdiri beberapa langkah darinya sambil memandang sekeliling. "Kamu lagi mikirin kamar lama?"

Raka tertawa kecil. "Kelihatan?"

"Kelihatan."

Ia mengusap bagian belakang lehernya. "Aku cuma baru sadar ternyata sembilan meter persegi bisa terasa lebih sempit kalau yang dibawa ke dalamnya satu kepala penuh."

Laras menatapnya cukup lama. Tidak ada rasa kasihan dalam sorot matanya. Hanya pengertian yang tenang.

"Dan sekarang?" tanyanya.

Raka melihat sekeliling.

"Sekarang kayaknya kepalaku masih penuh," katanya. "Tapi rumahnya enggak ikut menyempit."

Laras tertawa pelan.

Raka ikut tersenyum.

Mereka membiarkan tawa kecil itu mengisi rumah yang sebelumnya hanya berisi gema langkah kaki.

Beberapa menit kemudian, Laras mulai membuka tas belanja yang dibawanya. Ia mengeluarkan sepasang gelas, dua piring kecil, satu kotak berisi alat tulis, serta beberapa benda sederhana yang bahkan belum memiliki tempat. Raka mengangkat alis melihat isinya.

"Kita baru masuk lima menit."

"Makanya."

"Kenapa udah mulai bongkar?"

"Karena kalau enggak mulai sekarang, nanti kamu bakal berdiri di tengah rumah sambil mikir terlalu lama."

Raka menatapnya. "Aku enggak begitu."

Laras mengangkat satu alis.

Raka menghela napas. "Oke. Aku begitu."

Ia kemudian membawa salah satu tas menuju ruang yang akan mereka gunakan sebagai ruang kerja. Ruangan itu tidak luas, tetapi memiliki jendela sendiri yang menghadap ke halaman samping sehingga cahaya masuk dengan baik. Raka sudah membayangkan ruangan tersebut sejak pertama kali melihat rumah ini. Ia ingin menaruh meja kerja di sana, rak buku di dinding sebelah kanan, dan satu kursi nyaman di dekat jendela. Tidak ada kemewahan dalam rencana itu. Ia hanya ingin sebuah tempat yang membuatnya bisa bekerja tanpa merasa sedang dikejar sesuatu.

Laras berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan.

"Mejanya di sini aja."

Raka menoleh. "Di situ?"

"Iya. Menghadap jendela."

"Kalau matahari terlalu silau?"

"Nanti tirainya bisa diatur. Lagian kamu suka lihat keluar kalau lagi mikir."

Raka memandang posisi yang ditunjuk Laras. Ia membayangkan meja kayu sederhana berada di sana, laptop di atasnya, beberapa buku tertumpuk di sisi kanan, dan secangkir teh yang mungkin akan ia lupakan sampai dingin ketika sedang membaca sesuatu yang menarik. Ia tersenyum.

"Kayaknya bagus."

"Rak bukunya di sini." Laras berpindah ke dinding sebelah kiri. "Yang tinggi jangan terlalu dekat pintu. Biar enggak bikin ruangan sempit."

"Kamu udah punya desain rumah?"

"Enggak. Aku cuma tahu kamu bakal bikin rumah ini jadi perpustakaan."

Raka terkekeh. "Enggak sebanyak itu."

"Berapa?"

"Belum tahu."

"Berarti banyak."

Raka menggeleng sambil tertawa. Untuk beberapa saat, percakapan mereka begitu sederhana sampai hampir tidak terasa sebagai bagian dari perjalanan panjang yang pernah mereka lalui. Mereka membicarakan meja, rak, posisi lampu, tempat menyimpan sepatu, bahkan apakah mereka membutuhkan karpet kecil di ruang tamu. Namun di balik percakapan sederhana itu, Raka merasakan sesuatu yang dulu tidak pernah berani ia bayangkan.

Ada masa depan yang sedang mereka bicarakan dengan bentuk yang nyata.

Bukan lagi "suatu hari nanti".

Bukan lagi khayalan yang hanya berani disimpan dalam kepala.

Sebuah meja.

Sebuah rak.

Dua cangkir.

Buku-buku mereka.

Rumah ini.

Laras.

"Kalau buku kamu nanti makin banyak, aku minta satu rak khusus," kata Laras.

Raka menatapnya. "Buku kamu malah lebih banyak."

"Enggak."

"Yang kemarin kamu bawa lima."

"Itu baru lima."

Raka tertawa. "Nah, kan."

Laras ikut tertawa sambil duduk di lantai kosong ruangan itu. Ia menepuk tempat di sebelahnya. Raka akhirnya ikut duduk. Dari sana, mereka dapat melihat cahaya pagi yang bergerak perlahan di lantai. Rumah tersebut belum terlihat seperti rumah yang benar-benar dihuni. Tidak ada foto keluarga, tidak ada kalender, tidak ada tanaman di sudut ruangan, tidak ada suara televisi atau aroma masakan. Tetapi justru karena itulah Raka merasa tempat ini memiliki sesuatu yang istimewa.

Tidak ada masa lalu di dinding-dindingnya.

Mereka bisa mengisinya sendiri.

Laras menyandarkan kedua tangannya ke lantai. "Kamu tahu enggak?"

"Apa?"

"Aku senang banget lihat kamu sampai di sini."

Raka menunduk.

Lihat selengkapnya