Sore itu, danau buatan di tengah kampus tampak seperti menyimpan cahaya lebih banyak daripada biasanya. Matahari sudah condong ke barat, menggantung rendah di balik deretan pepohonan yang mengelilingi kawasan kampus, dan permukaan air memantulkan warna jingga keemasan yang bergerak perlahan setiap kali angin menyentuhnya. Dermaga kayu yang menjorok beberapa meter ke tengah danau masih sama seperti yang Raka ingat, dengan papan-papan cokelat yang mulai kusam di beberapa bagian, pagar rendah di sisi kanan, dan bunyi berderak lembut setiap kali diinjak. Bertahun-tahun lalu, tempat ini pernah menjadi ruang yang nyaris tidak memiliki nama bagi mereka, hanya sebuah tempat untuk duduk setelah kelas, membawa buku, memperdebatkan isi bacaan, atau diam ketika kata-kata terasa terlalu berat untuk dikeluarkan. Hari ini, Raka datang ke tempat itu dengan langkah yang berbeda. Tangannya menggenggam tangan Laras, hangat dan tenang, sementara di dalam saku celananya tersimpan sebuah kotak kecil yang sejak tadi terasa jauh lebih berat daripada ukurannya.
Laras berjalan di sampingnya dengan rambut yang bergerak pelan tertiup angin dan pakaian sederhana yang dipilihnya untuk sore itu. Sesekali ia menoleh ke arah danau, kemudian kembali memandang jalan di depan mereka, seolah menikmati ketenangan yang sudah lama tidak mereka rasakan setelah kesibukan wisuda, pencarian kerja, dan segala hal yang perlahan membawa mereka keluar dari kehidupan kampus. Raka memperhatikan jemari Laras yang masih berada di dalam genggamannya. Dulu, ketika pertama kali perempuan itu menyentuh kepalanya di kamar kos yang gelap, sentuhan tersebut terasa seperti sesuatu yang mustahil diterimanya. Sekarang, genggaman sederhana itu justru menjadi salah satu hal paling familiar dalam hidupnya. Ada sesuatu yang membuat dada Raka menghangat setiap kali menyadari bahwa tangan yang sama pernah menariknya keluar dari kegelapan, dan hari ini tangan itu berjalan bersamanya menuju sesuatu yang jauh lebih terang.
"Kamu kok diem terus dari tadi?" Laras akhirnya bertanya sambil tersenyum kecil. "Biasanya kalau kita jalan begini, kamu udah ngomongin macam-macam."
Raka tertawa pelan, lalu menoleh. "Aku lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Kalau aku jawab sekarang, nanti nggak jadi kejutan."
Alis Laras terangkat. Ia memandang Raka beberapa detik dengan tatapan curiga yang dibuat-buat, kemudian menyipitkan mata. "Kejutan?"
"Anggap aja begitu."
"Berarti aku boleh nebak?"
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena kamu bakal nebak benar."
Laras tertawa. Suaranya larut bersama bunyi angin yang melewati daun-daun di tepian danau. "Sok misterius."
Raka ikut tersenyum, tetapi setelah itu matanya kembali mengarah ke ujung dermaga. Ia mengenal tempat tersebut terlalu baik untuk sekadar menganggapnya sebagai lokasi yang indah. Ada bagian-bagian hidupnya yang terasa tertinggal di sana. Bukan sebagai kenangan yang menyakitkan, melainkan sebagai jejak yang akhirnya bisa ia datangi kembali tanpa merasa harus melarikan diri.
Dulu, ia pernah duduk di ujung dermaga dengan bahu membungkuk, kedua tangannya bertaut di antara lutut, dan kepala tertunduk seolah dunia akan lebih mudah diterima jika ia membuat dirinya sekecil mungkin. Pada masa itu, tinggi badannya yang hanya 154 sentimeter terasa seperti hukuman yang selalu terlihat bahkan ketika tidak ada seorang pun yang menyebutkannya. Ia pernah merasa setiap lelaki yang berdiri di dekatnya otomatis memiliki keunggulan yang tidak mungkin ia kejar, seolah tubuh menentukan seberapa pantas seseorang untuk dicintai, dihormati, atau didengarkan. Luka tahun 2016 telah mengajarinya cara memandang dirinya sendiri melalui mata orang lain, dan bertahun-tahun kemudian ia baru memahami betapa kejamnya kebiasaan itu. Kini, ketika berjalan di atas papan yang sama, ia tidak lagi berusaha memperpendek tubuhnya. Punggungnya tegak secara alami, bahunya terbuka, langkahnya mantap, dan ia tidak memiliki kebutuhan untuk membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Mereka berhenti sebentar di tengah dermaga. Raka menghadap danau, sementara Laras berdiri di sampingnya. Cahaya matahari menyentuh permukaan air hingga setiap riak kecil terlihat seperti serpihan kaca keemasan. Dari kejauhan terdengar suara beberapa mahasiswa yang masih berada di area taman kampus, tetapi semakin jauh mereka berjalan ke ujung dermaga, suara itu semakin samar. Tempat tersebut perlahan hanya menyisakan angin, air, burung yang sesekali melintas, dan bunyi papan kayu yang bergerak lembut di bawah kaki mereka.
"Masih ingat?" tanya Raka.
Laras menoleh. "Apa?"
"Pertama kali kita lama banget ngobrol di sini."
Senyum Laras berubah lebih lembut. "Yang kamu bawa buku tebal banget itu?"
Raka mengangguk.
"Terus kamu ngomong hampir satu jam soal isi buku itu."
"Aku nggak merasa satu jam."
"Karena kamu memang nggak sadar kalau kalau lagi bahas sesuatu yang kamu suka, kamu susah berhenti."
Raka terkekeh. "Kamu waktu itu dengerin?"
"Ya."
"Padahal aku kira kamu cuma sopan."
"Aku memang tertarik."
Raka menoleh kepadanya. "Sama bukunya?"
Laras tersenyum. "Sama orang yang ngomongin bukunya."
Kalimat sederhana itu membuat Raka terdiam beberapa saat. Ada kenangan lama yang tiba-tiba muncul, bukan sebagai rasa sakit, tetapi sebagai potongan kecil dari hidup yang baru sekarang dapat dilihat dengan jernih. Laras tidak pernah datang kepadanya dengan janji besar. Ia tidak membawa pidato tentang bagaimana Raka harus berubah. Ia tidak pernah mengatakan bahwa Raka harus menjadi lelaki yang lebih tinggi, lebih gagah, lebih berani, lebih populer, atau lebih menyerupai gambaran lelaki ideal yang selama bertahun-tahun menghantuinya. Ia hanya duduk. Mendengarkan. Menjawab ketika diperlukan. Diam ketika Raka membutuhkan ruang. Dan pada saat Raka benar-benar tenggelam dalam dirinya sendiri, Laras datang tanpa menanyakan apakah ia pantas diselamatkan.
"Aku dulu sering mikir," kata Raka perlahan, "kenapa kamu mau datang ke kamarku waktu itu."
Laras tidak langsung menjawab. Ia menundukkan kepala sebentar, lalu mengangkat wajahnya kembali. "Karena aku tahu kamu lagi nggak baik-baik aja."
"Padahal kita belum sedekat itu."
"Justru karena itu."
Raka mengernyit.
"Kalau orang yang sudah dekat sama kamu datang, mungkin kamu masih punya alasan buat pura-pura baik-baik aja. Waktu itu aku pikir kamu nggak akan sempat pura-pura kalau aku datang sebagai orang yang nggak punya ekspektasi apa-apa."
Raka menatapnya lama. "Kamu selalu sesederhana itu?"
"Enggak. Aku cuma nggak suka bikin sesuatu yang sebenarnya sederhana jadi rumit."
Ia mengusap punggung tangan Raka dengan ibu jarinya. Gerakan kecil itu membuat Raka menarik napas perlahan.
Ada begitu banyak hal yang pernah ia kira harus ia miliki agar layak mendapatkan seseorang seperti Laras. Ia pernah berpikir harus menjadi luar biasa, harus memiliki tubuh yang lebih proporsional, harus selalu punya jawaban, harus mampu tampil tanpa celah, dan harus memiliki prestasi yang cukup untuk menutupi segala sesuatu yang ia anggap sebagai kekurangan. Namun hubungan mereka justru tumbuh ketika ia berhenti memainkan semua peran itu. Laras mengenalnya ketika ia sedang tidak punya apa-apa untuk dipamerkan. Ketika ia takut. Ketika ia menangis. Ketika ia bahkan tidak sanggup membuka tirai kamar. Dan anehnya, justru pada titik itulah Raka pertama kali merasa benar-benar dilihat.
"Ras," panggilnya.
"Hm?"
Raka membalikkan tubuh hingga sepenuhnya menghadap Laras. Ia masih menggenggam tangan perempuan itu dengan kedua tangannya sekarang. Matanya memandang wajah Laras dengan kehangatan yang tidak lagi menyimpan kegelisahan lama. Dulu, menatap mata orang yang disukainya saja sudah cukup membuatnya sibuk memikirkan apakah dirinya terlihat aneh, apakah perbedaan tinggi mereka terlalu kentara, atau apakah orang-orang di sekitar mereka sedang memperhatikan. Kini pikirannya tidak lagi berputar di sana. Ia hanya melihat Laras sebagai manusia yang berdiri di depannya, perempuan yang ia cintai, seseorang yang telah memilih berjalan bersamanya bukan karena kewajiban, bukan karena rasa kasihan, dan bukan karena ia berhasil memenuhi suatu standar tertentu.
"Kenapa?" Laras bertanya.
Raka tersenyum.
"Enggak apa-apa."
"Kamu aneh."
"Mungkin."
"Tapi dari tadi tatapanmu kayak orang mau ngomong sesuatu."
Raka mengangguk kecil. "Memang."
Laras menunggu.
Raka menarik napas panjang. Angin sore menyapu sisi wajahnya, membawa aroma rumput dan air danau yang sedikit lembap. Tangannya perlahan melepaskan genggaman Laras. Untuk sesaat, Laras tampak bingung ketika Raka mundur setengah langkah. Ia mengira Raka mungkin hendak mengambil sesuatu atau menunjukkan sesuatu di sekitar mereka. Namun ketika Raka kemudian menurunkan tubuhnya perlahan, satu lututnya menyentuh papan dermaga, kebingungan itu berubah menjadi keterkejutan yang begitu jelas sampai Laras tidak sempat menyembunyikannya.
"Raka..."
Raka mengangkat wajahnya. Dari saku celananya, ia mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna gelap. Jarinya tampak tenang, meskipun detak jantungnya berlari jauh lebih cepat daripada yang ingin ia akui. Ia membuka kotak itu perlahan, memperlihatkan sebuah cincin dengan desain sederhana dan elegan, memantulkan cahaya senja dalam kilau kecil yang tidak berlebihan. Tidak ada ornamen yang terlalu mencolok. Tidak ada sesuatu yang berusaha menunjukkan kemewahan. Hanya sebuah cincin yang dipilih dengan pertimbangan matang, sama seperti cara Raka memandang hubungan yang hendak ia bawa ke tahap berikutnya.
Laras menutup mulut dengan satu tangan. Matanya mulai berkaca-kaca bahkan sebelum Raka mengatakan apa pun.
"Raka..."
"Aku boleh ngomong dulu?" tanya Raka dengan senyum tipis.
Laras mengangguk cepat. Ia bahkan tidak mampu menjawab dengan suara yang stabil.
Raka memandangnya beberapa detik. Di hadapannya bukan lagi perempuan yang hanya ia kenal dari bangku organisasi atau percakapan-percakapan kampus. Laras adalah orang yang pernah melihat bagian dirinya yang paling buruk dan tetap memilih tinggal. Perempuan yang tidak pernah menggunakan kelemahannya sebagai alat untuk mengendalikan dirinya. Perempuan yang ketika Raka kehilangan kemampuan untuk percaya pada dirinya sendiri justru meminjamkan keyakinannya sampai Raka mampu menemukannya kembali.
"Lar..."
Suaranya sempat tertahan. Raka menelan ludah, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.
"Laras, kamu yang datang saat kamarku gelap gulita. Maukah kamu berjalan bersamaku menatap seluruh masa depan?"
Air mata Laras jatuh.