Malam telah turun sepenuhnya ketika Raka membuka pintu kaca menuju balkon rumah barunya. Engsel pintu bergerak pelan, nyaris tanpa suara, lalu udara malam segera menyentuh wajahnya dengan kesejukan yang berbeda dari udara di dalam rumah. Dari halaman depan, aroma dedaunan yang masih menyimpan sisa embun terbawa angin dan bercampur dengan wangi teh hangat yang mengepul dari cangkir di tangannya. Raka melangkah keluar dengan kaus rumah dan celana panjang sederhana, lalu berhenti di depan pagar balkon, membiarkan telapak tangannya bertumpu pada permukaan besi yang dingin. Di hadapannya, permukiman itu tampak jauh lebih tenang daripada siang hari. Beberapa lampu rumah masih menyala di balik jendela, suara kendaraan terdengar sesekali dari jalan utama, sementara sebagian besar dunia seperti telah sepakat untuk menurunkan volume suaranya.
Ia menyeruput tehnya perlahan. Hangatnya menjalar dari lidah menuju tenggorokan, lalu meninggalkan rasa nyaman yang sederhana di dada. Tidak ada yang istimewa dari teh itu. Hanya teh biasa yang dibuatnya sendiri beberapa menit sebelumnya, dengan takaran gula yang hampir selalu sedikit lebih banyak daripada yang seharusnya. Namun malam itu, Raka merasa minuman sederhana itu memiliki rasa yang berbeda. Mungkin bukan tehnya yang berubah. Mungkin dirinya yang akhirnya berada di tempat yang berbeda. Dua puluh dua tahun hidupnya pernah terasa seperti perjalanan panjang tanpa pelabuhan, seolah-olah ia terus berjalan sambil membawa sebuah koper yang semakin berat setiap kali ada seseorang mengatakan bahwa dirinya kurang, tidak cukup, tidak menarik, atau tidak pantas berdiri sejajar dengan orang lain.
Raka menunduk sebentar, memperhatikan bayangan tubuhnya sendiri yang samar pada kaca pintu balkon. Dulu, bahkan pantulan semacam itu bisa membuatnya tidak nyaman. Ia pernah begitu terbiasa mengukur dirinya dari luar, dari ketinggian bahu orang lain ketika berdiri bersebelahan, dari posisi wajah ketika mengambil foto bersama, dari bagaimana pakaian tertentu terlihat di tubuhnya, dari kemungkinan seseorang akan menganggapnya menarik atau justru memandangnya dengan iba. Tingginya tetap sama. Seratus lima puluh empat sentimeter. Tidak ada keajaiban biologis yang tiba-tiba membuat tubuhnya bertambah tinggi, tidak ada perubahan dramatis yang mengubah wajahnya menjadi sosok yang menurut standar dunia lebih layak dicintai. Yang berubah adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat dari cermin.
Cara ia memandang dirinya sendiri.
Raka kembali menatap langit. Bintang-bintang terlihat tipis malam itu karena cahaya permukiman dan kabut samar di kejauhan, tetapi masih cukup banyak untuk membuat langit tidak terasa kosong. Ia mengangkat cangkir ke bibir, tetapi sebelum meneguknya, ingatannya sudah membawa dirinya jauh ke belakang.
Ke sebuah halaman sekolah.
Ke sebuah masa ketika tubuh kecil seorang anak laki-laki terasa seperti kesalahan yang harus disembunyikan.
Raka kecil tidak pernah benar-benar mengerti mengapa tinggi badan bisa menjadi alasan seseorang diperlakukan seolah-olah nilainya lebih rendah. Ia hanya tahu bahwa anak-anak lain bisa berdiri berkelompok dan tertawa sambil menunjuk tubuhnya. Ia tahu bahwa julukan-julukan tertentu bisa menempel lebih lama daripada seragam sekolah yang dikenakannya setiap hari. Ia juga tahu bahwa ketika seseorang terus-menerus diberi tahu bahwa dirinya kecil, jelek, atau tidak pantas, lama-kelamaan suara orang lain itu dapat berubah menjadi suara di dalam kepala sendiri.
Bertahun-tahun kemudian, suara itu masih sesekali muncul.
Kamu terlalu pendek.
Kamu tidak menarik.
Orang seperti kamu tidak mungkin dipilih.
Raka mengembuskan napas perlahan. Ia tidak lagi marah kepada anak laki-laki yang dulu sering menundukkan kepala ketika berjalan melewati kerumunan. Tidak ada gunanya. Anak itu hanya sedang berusaha mencari cara untuk melewati hari berikutnya tanpa merasa terlalu sakit. Kalau dulu ia ingin memeluk dirinya yang kecil dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, sekarang ia akhirnya memahami bahwa tidak semua hal memang baik-baik saja. Ada luka yang nyata. Ada penghinaan yang sungguh terjadi. Ada kata-kata yang memang terlalu kejam untuk seorang anak. Namun semua itu tidak pernah menjadi bukti bahwa anak tersebut pantas menerimanya.
Angin bergerak melewati balkon. Daun-daun pohon di halaman bawah bergesekan dan menghasilkan suara gemerisik yang halus. Raka mengangkat wajah sedikit, membiarkan udara dingin menyentuh kulitnya.
Kemudian ingatannya bergerak ke tahun 2016.
Tahun yang selama bertahun-tahun ia anggap sebagai salah satu titik paling memalukan dalam hidupnya.
Penolakan itu pernah terasa seperti vonis. Bukan hanya karena seseorang yang ia sukai tidak membalas perasaannya, melainkan karena cara penolakan itu kemudian melekat pada semua ketakutan yang sudah ia simpan sejak kecil. Dalam kepalanya, penolakan tersebut menjadi bukti yang seolah-olah sempurna. Bukti bahwa dunia memang menilai tubuh terlebih dahulu. Bukti bahwa wajah dan tinggi badan menentukan apakah seseorang pantas mendapatkan kasih sayang. Bukti bahwa secerdas apa pun dirinya, sebanyak apa pun buku yang dibacanya, seserius apa pun ia menjaga sikap, pada akhirnya ia tetap akan kalah dari tubuhnya sendiri.
Raka pernah membawa kesimpulan itu terlalu lama.
Ia membawanya ke bangku kuliah. Ke ruang kelas. Ke lorong-lorong kampus. Ke percakapan dengan teman-temannya. Bahkan ke depan cermin ketika ia sedang bersiap pergi. Ia belajar berjalan dengan bahu sedikit menunduk, bukan karena tubuhnya memang tidak mampu tegak, tetapi karena ada bagian dari dirinya yang selalu ingin mengecilkan keberadaannya sebelum orang lain melakukannya.
Lalu datang Anin.
Raka tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mengandung kerinduan. Hanya pengakuan terhadap sebuah bagian dari perjalanan yang pernah sangat menentukan hidupnya.
Dulu, ia mengira Anin adalah jawaban.
Perempuan yang terlihat cerdas, kritis, berkelas, dan mampu berbicara tentang banyak hal dengan keyakinan yang membuat Raka merasa kagum. Raka tidak menyadari bahwa kekaguman itu perlahan berubah menjadi pengabdian. Ia mulai selalu tersedia. Ketika Anin sakit, ia mengantar obat ke kos. Ketika laptopnya bermasalah, ia datang membantu. Ketika ada sesuatu yang membuat Anin kesal, Raka menjadi orang yang siap mendengarkan. Ia tidak pernah menganggap semua itu sebagai transaksi. Setidaknya, bukan pada awalnya.
Di dalam hati, ia hanya ingin menjadi seseorang yang berguna.
Seseorang yang akhirnya dipilih.
Ia rela menjadi handyman karena pekerjaan-pekerjaan kecil itu membuatnya merasa memiliki tempat. Setiap kali telepon dari Anin masuk, tubuhnya seperti bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia datang ketika dibutuhkan, mendengarkan ketika dipanggil, membantu ketika diminta, dan memendam keinginannya sendiri dengan keyakinan bahwa kesabaran pada akhirnya akan dihargai.
Ternyata tidak.
Ketika ia akhirnya memberanikan diri mengungkapkan perasaannya, semua ilusi itu runtuh dalam percakapan yang jauh lebih dingin daripada yang pernah ia bayangkan. Anin menolaknya. Bukan sekadar menolak perasaan Raka, tetapi juga menciptakan jarak yang membuat seluruh kebaikan yang pernah ia lakukan terasa seperti sesuatu yang tidak pernah berarti.
Raka ingat bagaimana dadanya terasa kosong setelah percakapan itu.
Ia pulang membawa tubuhnya sendiri seperti membawa benda yang tidak dikenalnya lagi.
Di perjalanan, ia sempat bertanya-tanya apakah selama ini ia salah membaca semuanya. Apakah semua perhatian yang ia berikan memang tidak pernah memiliki arti apa pun. Apakah menjadi orang baik tidak pernah cukup. Apakah ia seharusnya lebih tinggi, lebih tampan, lebih percaya diri, lebih seperti lelaki lain yang terlihat mudah disukai.
Dan karena luka lama sudah menunggu di dalam dirinya, semua pertanyaan itu akhirnya memiliki jawaban yang sama.
Tubuhnya.
Selalu tubuhnya.
Raka memejamkan mata sebentar.
Ia masih bisa merasakan dinginnya kamar kos tiga kali tiga meter itu dalam ingatan. Gorden tertutup. Lampu mati. Ponsel dibiarkan tanpa disentuh. Udara kamar yang semakin pengap karena jendela tidak dibuka. Hari dan malam kehilangan batas. Ia pernah berbaring begitu lama sampai suara kendaraan di luar terdengar seperti berasal dari dunia yang tidak lagi memiliki hubungan dengannya.
Lalu ada foto.
Sebuah komentar singkat di Instagram.
Dia adikmu?
Hanya beberapa kata.
Bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa. Bagi Raka saat itu, kalimat tersebut seperti seseorang menekan luka lama dengan jari tepat pada titik yang paling sakit. Ia merasa tubuhnya kembali menjadi bahan perbandingan. Kembali menjadi sesuatu yang memalukan. Kembali menjadi alasan mengapa ia tidak bisa berdiri sebagai seorang lelaki yang layak dicintai.
Maka ia menghilang.
Tidak ada keberanian. Tidak ada kebijaksanaan. Tidak ada kesimpulan besar. Hanya seorang pemuda yang kehabisan tenaga dan memilih mematikan dunia dari dalam kamar sempitnya.
Raka membuka mata.
Balkon rumah barunya kembali berada di hadapannya.
Ia memandangi telapak tangannya sendiri. Jari-jarinya masih sama. Tubuhnya masih sama. Namun ada sesuatu yang terasa begitu berbeda.
Dulu ia berpikir bahwa keluar dari kamar gelap itu berarti menjadi manusia yang lebih kuat.
Sekarang ia tahu bukan itu.
Keluar dari kegelapan berarti berani menerima bahwa dirinya memang pernah hancur.
Dan seseorang datang menemuinya di sana.
Laras.
Pintu kamar kos itu pernah terbuka, dan Laras tidak meminta Raka segera menjadi baik-baik saja. Ia tidak datang membawa pidato motivasi. Ia tidak mengatakan bahwa Raka harus berhenti memikirkan masa lalu. Ia tidak menyuruhnya melupakan Anin. Ia bahkan tidak mencoba menariknya keluar secara paksa dari kesedihan yang sedang menenggelamkannya.
Laras masuk.
Duduk di dekatnya.
Mengusap kepalanya dengan tangan yang hangat.
Lalu mengatakan sesuatu yang dulu terasa terlalu besar untuk dipercayai Raka.
Aku mencintai semua tentangmu.
Dan ketika Raka masih merasa bahwa dirinya harus meminta maaf karena sudah terlalu lama lelah, Laras mengatakan sesuatu yang lebih sederhana.
Kamu udah cukup berjuang.
Raka menelan ludah.