Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #93

Special Chapter: Untukmu yang Membaca Ini

Kalau kamu sudah sampai di halaman ini, berarti perjalanan Raka telah selesai. Barangkali kamu sudah melewati masa sekolahnya, melihat bagaimana seorang anak laki-laki tumbuh dengan luka yang tidak selalu terlihat, menyaksikan bagaimana satu penolakan bisa menetap bertahun-tahun di dalam kepala seseorang, kemudian melihatnya kembali jatuh ketika orang yang ia kira akan menjadi tempat berlabuh justru membuatnya merasa semakin kecil. Kamu mungkin juga sudah ikut duduk bersamanya di kamar kos yang gelap, menunggu bersama dalam keheningan ketika ia tidak tahu bagaimana caranya keluar, lalu perlahan menyaksikan cahaya masuk melalui pintu yang dibuka seseorang bernama Laras. Kalau kamu masih berada di sini setelah semuanya berakhir, aku ingin berhenti sejenak dari cerita dan berbicara kepadamu bukan sebagai orang yang menciptakan Raka, melainkan sebagai seseorang yang pernah berdiri sangat dekat dengan tempat di mana Raka pernah berdiri.

Terima kasih.

Sederhana memang. Hanya dua kata. Tetapi semakin lama aku menulis cerita ini, semakin aku sadar bahwa ada kalimat-kalimat yang tidak membutuhkan panjang untuk menjadi berarti. Terima kasih karena sudah membaca sampai sejauh ini. Terima kasih karena bersedia mengikuti tokoh yang mungkin tidak selalu menyenangkan, tidak selalu kuat, tidak selalu tahu apa yang harus dilakukan, dan kadang bahkan terlalu keras kepada dirinya sendiri. Terima kasih karena mau tinggal ketika ceritanya tidak sedang indah. Karena kalau kamu hanya datang ketika Raka sudah berdiri tegap di balkon rumah barunya, kamu mungkin hanya akan melihat hasil akhirnya. Yang ingin kubagikan kepadamu justru perjalanan panjang yang membuat seseorang seperti Raka akhirnya mampu berdiri di sana.

Dan ada sesuatu yang harus kukatakan sebelum benar-benar melepaskan cerita ini.

Tokoh Raka bukan kebetulan ada.

Raka adalah aku sendiri.

Aku tahu mungkin pengakuan itu terdengar sederhana. Mungkin setelah membaca seluruh cerita, kamu bahkan sudah bisa menduganya. Namun tetap saja, menuliskan kalimat itu secara terbuka terasa jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan ketika pertama kali mulai menulis cerita ini. Selama bertahun-tahun, aku terbiasa memisahkan antara diriku dan cerita. Aku bisa mengatakan bahwa Raka hanyalah tokoh. Aku bisa mengatakan bahwa semua kejadian di dalam novel ini adalah fiksi. Aku bisa membuatnya berdiri di halaman sebagai seorang lelaki berusia dua puluh dua tahun yang berjalan melewati kampus, membaca buku, jatuh cinta, ditolak, kemudian bangkit.

Tetapi aku tahu ada bagian dari dirinya yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

Rasa takut itu nyata.

Rasa minder terhadap tubuh itu nyata.

Perasaan ketika berdiri di antara orang-orang lain dan tiba-tiba menyadari bahwa tubuhmu terasa seperti sesuatu yang salah juga nyata.

Begitu pula ingatan tentang perundungan.

Ada masa ketika aku belajar bahwa tubuh seseorang bisa menjadi sasaran yang sangat mudah. Tinggi badan, wajah, cara berdiri, cara berjalan, cara berpakaian, suara, atau apa pun yang berbeda dari standar kelompok dapat menjadi bahan untuk membuat seseorang merasa tidak pantas. Hal-hal yang bagi orang lain mungkin hanya dianggap candaan dapat tinggal jauh lebih lama di dalam diri orang yang menerimanya. Orang yang mengucapkannya mungkin sudah lupa keesokan harinya. Orang yang mendengarnya bisa membawanya selama bertahun-tahun.

Aku membawanya.

Dan mungkin karena terlalu lama membawanya, aku pernah sampai pada titik ketika aku tidak lagi membutuhkan orang lain untuk mengatakan bahwa aku kurang.

Aku sudah bisa melakukannya sendiri.

Cermin menjadi tempat penghakiman. Foto menjadi ruang perbandingan. Kerumunan menjadi sumber kecemasan. Percakapan sederhana bisa berubah menjadi pertanyaan diam-diam di dalam kepala tentang bagaimana orang lain melihatku. Ada hari-hari ketika aku merasa baik-baik saja, lalu satu komentar kecil, satu candaan, satu perbandingan, atau satu penolakan mampu menarik semua luka lama kembali ke permukaan. Rasanya seperti memiliki luka yang sudah mengering di kulit, tetapi setiap kali tersentuh sedikit, tubuh mengingat persis bagaimana sakitnya ketika luka itu pertama kali dibuat.

Kemudian datang sebuah penolakan yang membuat semuanya terasa semakin nyata.

Aku tidak akan menjelaskan mana bagian yang persis terjadi dan mana yang sengaja kuubah menjadi fiksi. Bukan itu tujuan catatan ini. Yang ingin kukatakan adalah bahwa perasaan di baliknya nyata. Perasaan ketika seseorang yang kamu sukai tidak memilihmu dapat terasa jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan kesempatan untuk memiliki hubungan. Kalau sejak kecil kamu sudah percaya bahwa tubuhmu adalah alasan mengapa kamu tidak layak dicintai, sebuah penolakan bisa dengan mudah berubah menjadi bukti bagi keyakinan yang salah itu.

Setidaknya, begitulah yang pernah terjadi kepadaku.

Aku tidak hanya berpikir, "Dia tidak menyukaiku."

Aku pernah berpikir, "Mungkin memang tidak ada yang akan menyukaiku."

Ada perbedaan besar antara kedua kalimat itu.

Yang pertama adalah kenyataan tentang perasaan seseorang.

Yang kedua adalah hukuman yang kita berikan kepada diri sendiri.

Bertahun-tahun aku tidak menyadari perbedaannya.

Aku kemudian membuat sebuah perisai. Perisai itu tidak terlihat, tetapi sangat kuat. Aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku tidak membutuhkan siapa pun. Aku berusaha meyakinkan diri bahwa cinta bukan sesuatu yang penting. Aku mencoba terlihat baik-baik saja. Kalau seseorang tidak mencintaiku, tidak apa-apa. Kalau seseorang menolakku, tidak masalah. Kalau tidak ada yang memilihku, aku masih bisa hidup.

Secara logika, semuanya terdengar masuk akal.

Secara manusiawi, semuanya tidak sesederhana itu.

Karena sering kali kalimat "aku tidak butuh dicintai" bukan berasal dari seseorang yang benar-benar tidak membutuhkan cinta. Kadang-kadang kalimat itu berasal dari seseorang yang sudah terlalu takut berharap. Seseorang yang merasa bahwa lebih aman mengatakan dirinya tidak membutuhkan apa pun daripada mengakui bahwa sebenarnya ia sangat ingin dipeluk, dipahami, diterima, dan dipilih.

Aku menulis Raka karena aku ingin melihat seperti apa jadinya jika perisai itu akhirnya diletakkan di lantai.

Bukan dihancurkan dengan paksa.

Bukan ditertawakan.

Bukan dianggap sebagai kelemahan.

Hanya diletakkan.

Pelan-pelan.

Lalu untuk pertama kalinya, orang di baliknya bisa bernapas.

Karena itu, mungkin kamu melihat Laras sebagai jawaban dari seluruh penderitaan Raka. Aku bisa memahami kalau kamu berpikir begitu. Laras datang ketika Raka berada dalam kondisi paling rapuh. Ia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat Raka tentang dirinya sendiri. Ia tidak memintanya menjadi lebih tinggi. Tidak memintanya mengubah wajah. Tidak memintanya menjadi lelaki yang lebih dominan, lebih populer, lebih hebat, atau lebih mengesankan. Ia hanya melihat seseorang yang sudah terlalu lama menghukum dirinya sendiri dan berkata, dengan caranya sendiri, bahwa lelaki itu tidak perlu terus melakukannya.

Tetapi aku ingin menyampaikan satu hal dengan sangat jujur.

Aku sama sekali tidak mengharapkan seseorang menjadi Laras dalam hidupku.

Tidak.

Dan menurutku, tidak adil jika kita menempatkan harapan seperti itu kepada manusia lain.

Laras bukan hadiah karena Raka sudah cukup menderita. Laras bukan semacam penghargaan yang otomatis diberikan dunia kepada seseorang setelah ia melewati semua traumanya. Kehadiran orang lain juga tidak boleh dijadikan satu-satunya syarat agar kita bisa sembuh. Dalam kehidupan nyata, seseorang bisa datang dan menemani kita. Seseorang bisa menjadi tempat aman. Seseorang bisa membantu kita melihat diri sendiri dengan lebih lembut. Namun pada akhirnya, perjalanan berdamai dengan diri sendiri tetap merupakan perjalanan yang harus kita jalani.

Laras adalah tokoh fiksi.

Dan justru karena itu, ia bisa menjadi sesuatu yang mungkin tidak bisa diberikan dunia nyata kepadaku dengan cara yang sama.

Laras lahir dari dalam diriku sendiri.

Ia adalah gambaran tentang bentuk penerimaan yang pernah sangat ingin kurasakan. Ia adalah suara yang ingin kudengar ketika sedang terlalu keras kepada diri sendiri. Ia adalah sosok yang tidak menuntut kesempurnaan sebagai syarat untuk dicintai. Ia adalah cara pikir yang mengatakan bahwa seseorang boleh datang dengan luka, kekurangan, kebingungan, ketakutan, dan sejarah yang berantakan tanpa harus terlebih dahulu menjadi versi dirinya yang sempurna.

Ketika Laras berkata, "Kamu udah cukup berjuang," sebenarnya ada bagian dari diriku yang sedang belajar mengakui bahwa bertahan hidup juga membutuhkan keberanian.

Dan ketika Raka akhirnya mampu berdiri di balkon rumahnya sambil menatap langit malam tanpa membenci tubuhnya, itu bukan karena aku sudah sampai di sana.

Justru sebaliknya.

Aku menulisnya karena aku belum sampai.

Aku sendiri masih belum menjadi Raka.

Kalimat itu mungkin adalah pengakuan paling jujur dalam seluruh catatan ini.

Aku belum seberani dia.

Aku belum sedamai dia.

Aku belum selalu bisa menatap cermin tanpa membawa penilaian dari masa lalu.

Aku masih punya hari-hari ketika rasa minder itu muncul lagi. Masih ada waktu ketika aku merasa kecil. Masih ada momen ketika sebuah ingatan lama tiba-tiba muncul tanpa diundang. Masih ada bagian dalam diriku yang terkadang ingin kembali bersembunyi ketika dunia terasa terlalu ramai dan penilaian manusia terasa terlalu berat.

Bedanya, sekarang aku mulai tahu bahwa kemunculan perasaan itu bukan berarti aku kembali ke titik nol.

Dulu aku mengira sembuh berarti tidak pernah terluka lagi.

Sekarang aku mulai mengerti bahwa mungkin sembuh berarti ketika luka itu datang kembali, aku tidak lagi memperlakukannya sebagai bukti bahwa diriku gagal.

Raka di akhir cerita bukan gambaran diriku hari ini.

Dia adalah kompas.

Dia adalah arah.

Dia adalah janji kecil yang kutulis untuk diriku sendiri.

Suatu hari nanti, aku ingin bisa berdiri seperti dia.

Bukan dengan menjadi lebih tinggi.

Bukan dengan menjadi lebih tampan.

Bukan dengan membuat orang-orang yang pernah merendahkanku menyesal.

Aku ingin berdiri dengan tubuh yang sama, tetapi tidak lagi membencinya.

Aku ingin bercermin tanpa langsung mencari kekurangan.

Lihat selengkapnya