BAB 1: PERTEMUAN BERMAKNA
27 Juni 2008
Sinar matahari pagi itu merayap pelan di antara celah dedaunan, membawa kehangatan yang lembut. Hari itu langit begitu bersih, seolah-olah ikut merayakan kebahagiaan di halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri. Di sudut halaman yang mulai lengang, seorang pemuda bernama Marcel berdiri terpaku. Ia baru saja menyelesaikan masa belajarnya selama tiga tahun di sekolah tersebut. Seragam putih-birunya masih rapi, namun ada binar haru yang tertahan di sudut matanya saat menatap gedung sekolah yang telah membentuk dirinya.
Di sampingnya, Seno—sahabat karibnya sejak hari pertama masuk asrama—menepuk bahu Marcel dengan bertenaga. Tawa renyah terdengar dari bibir Seno, memecah kecanggungan momen perpisahan yang perlahan mulai merayap di antara mereka. Keduanya tahu, setelah hari ini, sebagian dari teman-teman mereka akan menempuh jalan yang berbeda, mengejar mimpi yang entah di mana ujungnya. Di momen perpisahan itulah, keduanya mulai berbicara serius mengenai masa depan.
"Jadi, kita tetap lanjut ke MAN, kan?" tanya Seno memastikan. Ia sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Atau kita tetap lanjut naik ke kelas empat pesantren? Soalnya, kalau kita pindah ke MAN, kita akan tertinggal satu tahun di bawah. Karena kemarin kita masuk MTs dimulai dari kelas dua pesantren."
Seno menatap Marcel lekat-lekat, menunggu jawaban. "Atau kita tetap lanjut ke MAN seperti rencana kita sebelumnya?" Tatapannya penuh harap, mencerminkan kekhawatiran sekaligus ambisi masa muda.
Marcel menoleh, lalu mengangguk pelan seraya tersenyum tipis untuk menenangkan sahabatnya. "Iya, No. Kita lanjut ke rencana awal. Kita masuk ke MAN saja. Dua hari lagi kita ke sana untuk mengambil formulir pendaftaran terlebih dahulu."
Seno langsung mengepalkan tangan ke udara dengan penuh semangat. "Mantap! Ibu kota kabupaten, Bro! Hidup baru kita baru saja dimulai! Semangat!"
Tawa kecil pun pecah di antara keduanya. Mereka membayangkan kehidupan baru di sekolah yang lebih besar, di tengah riuh kota yang belum pernah mereka akrabi sepenuhnya sebagai anak asrama yang terbiasa dengan lingkungan terisolasi.
Sembari mengobrol, tangan mereka bergerak cekatan mengemasi sisa barang-barang dan buku ke dalam tas untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Tidak lupa, mereka menyempatkan diri untuk berpamitan kepada guru-guru di sana, juga kepada teman-teman mereka yang memilih tetap melanjutkan pendidikan di pesantren. Selama empat tahun ini mereka memang selalu bersama di asrama, namun kini mereka harus kembali ke tempat asal.
Seno tidak tinggal satu kampung dengan Marcel. Mereka tidak tinggal di desa yang sama, bahkan berasal dari kabupaten yang berbeda. Jarak geografis inilah yang selama ini memisahkan mereka setiap kali liburan semester tiba.
Di ujung halaman sekolah, terlihat orang tua Marcel, begitu pun dengan orang tua Seno. Mereka sedang berbincang-bincang sembari berdiri menunggu putra mereka selesai mengemasi barang-barang. Kehadiran para orang tua itu seakan menjadi penanda nyata bahwa waktu kebersamaan dua remaja ini telah habis untuk hari itu.
Sebelum melangkah mendekati orang tuanya, Marcel menepuk lengan sahabatnya sekali lagi. "Eh, Seno... jangan lupa telepon aku nanti sebelum berangkat ambil formulir ke MAN, ya. Atau kalau tidak, kamu langsung mampir saja ke rumahku. Kita berangkat serempak saja dari sana."
Seno langsung menegakkan tubuhnya, memasang posisi hormat jenaka dengan senyum lebar di wajahnya. "Iya... siap, Ndan!"
Marcel terbahak melihat tingkah konyol sahabatnya itu. Setelah berpamitan dengan tawa kecil yang menyisakan rasa haru, mereka akhirnya melangkah ke arah yang berlawanan, pulang menuju rumah masing-masing bersama orang tua mereka, membawa sepotong janji masa depan yang masih menjadi teka-teki.
Sesampainya di pekarangan rumah, Marcel segera turun dari boncengan motor ayahnya. Sang ayah yang menjemputnya tadi hanya tersenyum tipis, memahami langkah tergesa putranya yang sudah sangat rindu suasana rumah. Langkah kaki Marcel langsung membawanya masuk melewati pintu depan untuk mencari ibunya. Ternyata, di dalam dapur, sang ibu sudah menunggu dengan antusiasme yang membuncah. Wangi masakan bumbu rumahan yang semerbak langsung menyambut indra penciuman Marcel. Ibunya sengaja menyiapkan deretan makanan kesukaan anaknya yang baru pulang menuntut ilmu dari tanah rantau.
Tanpa membuang waktu, Marcel langsung menghampiri wanita paruh baya itu. Ia meraih jemari ibunya, bersalaman sembari mencium punggung tangan sang ibu dengan khidmat. Di ciuman itu, ia menyalurkan seluruh rasa rindu yang membuncah, yang selama berbulan-bulan ini tertahan di dalam kamar asrama dengan aturan super ketat.
Setelah reuni keluarga yang hangat di meja makan itu selesai, Marcel melangkah perlahan menuju kamar lamanya. Sebagai seorang anak tunggal yang tidak memiliki kakak maupun adik, kamar ini adalah saksi bisu seluruh masa kecilnya. Ketika pintu kayu yang sedikit beritit itu terbuka, ia mendapati ruangan tersebut sudah dirapikan dengan sangat baik oleh ibunya. Seprai kasur sudah diganti baru, dan debu-debu telah disapu bersih. Namun, Marcel tetap bisa merasakan atmosfer yang agak kusam di sudut-sudut dinding. Sebuah ruang pribadi yang seolah sempat membeku dimakan waktu selama tiga tahun, semenjak ditinggalkannya demi menuntut ilmu di asrama pesantren.
Pada malam harinya, suasana di dalam rumah terasa jauh lebih intim. Suara jangkrik di luar berpadu dengan kehangatan teh hangat yang disajikan di atas meja. Sembari duduk santai di ruang tamu yang temaram, Marcel berkumpul bersama kedua orang tuanya. Sang ibu yang duduk di sofa sebelah perlahan menghentikan kegiatannya, lalu menatap putra semata wayangnya dengan pandangan menyelidik yang lembut.
"Nak, kamu mau lanjut sekolah ke mana? Apa mau kembali ke asrama untuk melanjutkan ke kelas empat pesantren, atau mau masuk ke SMA, SMK, atau ke MAN?" tanya ibunya, membuka obrolan yang sejak sore tadi tertunda.
Marcel menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa yang empuk. "Kalau untuk kembali ke pesantren, sepertinya tidak dulu, Bu. Marcel sudah cukup capek tinggal di asrama. Marcel tidak mau lagi tinggal jauh dari Ibu dan Ayah."
Mendengar kejujuran polos yang keluar dari bibir anak tunggal mereka, kedua orang tua itu saling berpandangan sejenak. Mereka tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala pelan, memaklumi rasa manja sang anak yang selama tiga tahun ini kehilangan waktu berharga untuk berkumpul bersama keluarga.
Sang ayah kemudian melipat koran yang sejak tadi dibacanya, meletakkannya di atas meja, lalu ikut bertanya, "Terus, kalau tidak mau di pesantren lagi, kamu mau lanjut ke mana?"
"Rencananya mau masuk ke MAN, Yah. Sama teman Marcel yang di asrama kemarin," jawab Marcel dengan nada mantap, menunjukkan bahwa keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang.
"Oh, Seno?" tanya ayahnya, memastikan ingatan tentang sahabat anaknya.