MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #2

PANGGILAN HATI DI GERBANG SEKOLAH


BAB 2: PANGGILAN HATI DI GERBANG SEKOLAH

Malam itu, suasana di dalam kamar Marcel terasa begitu hening. Angin malam berembus pelan, menyelinap masuk melalui celah jendela kaca yang sengaja dibuka separuh olehnya. Udara dingin yang dibawa oleh angin pedesaan itu perlahan menyentuh kulitnya, mengusir sisa rasa gerah setelah seharian beraktivitas. Di tengah kesunyian yang kian larut, ingatan Marcel mendadak melayang kembali pada kejadian sore tadi di atas jembatan kayu. Sebuah senyuman kecil tanpa sadar terukir di sudut bibirnya saat bayangan wajah polos Hany melintas begitu saja di dalam benak.

"Aneh, tapi lucu... Hany," gumam Marcel lirih pada dirinya sendiri.

Bisikan pelan itu seolah mengantarkan sebersit rasa rindu yang asing ke dalam dadanya. Ada kegelisahan yang samar akan masa depan yang masih menjadi teka-teki tak pasti, beradu dengan rasa penasaran yang mulai tumbuh. Marcel kembali memperbaiki posisi rebahannya, berbaring telentang di atas kasur kapuknya yang empuk. Kedua matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram dengan pikiran yang mengawang jauh, membayangkan hari esok yang tampaknya tidak akan lagi sama.


Tiba-tiba, keheningan di dalam kamar itu pecah berantakan. Ponsel genggam yang ia letakkan di samping bantal tiba-tiba bergetar hebat, disertai dering nyaring yang memantul di dinding ruangan. Marcel terperanjat kecil, lalu segera meraih ponsel tersebut. Nama Anton seketika tertera di atas layar digital kecil yang berpendar terang di tengah kegelapan kamar. Tanpa membuang waktu, ia menekan tombol hijau berlambang gagang telepon, lalu menempelkan benda itu ke telinganya.

"Iya, Ton? Ada apa?" sapa Marcel, membuka percakapan dengan nada suara yang agak serak.

"Cel, besok kamu mendaftar ke sekolah kita saja, ya? Masuk SMA," ujar Anton langsung tanpa basa-basi di seberang sambungan telepon. Suaranya terdengar sangat bersemangat, memburu seperti biasa. "Hany tadi menitip pesan sama aku setelah kamu pulang. Katanya, aku harus mengajak kamu. Dia bahkan bilang bakal menunggu kamu di depan gerbang sekolah besok pagi-pagi sekali."


Marcel terenyak seketika. Jantungnya mendadak berdegup kencang mendengarkan kalimat terakhir sahabatnya. Tubuhnya refleks bangkit berdiri dari posisi rebahan, lalu duduk termangu di tepi ranjang kayu miliknya.

"Hah? Hany?" tanya Marcel, memastikan pendengarannya tidak salah karena rasa tidak percaya yang membuncah.


"Iya, Hany yang tadi sore baru kenalan sama kamu di atas jembatan," jawab Anton meyakinkan. Terdengar kekehan kecil yang usil di ujung kalimatnya. "Dia serius, lho, Cel. Jangan sampai kamu membuat anak orang menunggu besok pagi!"

Marcel terdiam sesaat, lidahnya mendadak kelu untuk merespons. Setelah sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh Anton, ia perlahan kembali merebahkan tubuhnya di atas bantal, lalu kembali menatap kosong ke arah langit-langit kamar.

Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sebuah kebimbangan besar mendadak tumbuh subur seperti tanaman yang disiram air hujan. Sebelum malam ini, ia sudah mengikat janji suci dengan sahabat asramanya, Seno, untuk bersama-sama mendaftar ke MAN. Mereka bahkan sudah menyusun rencana matang untuk berangkat serempak dari rumah Marcel dua hari lagi.

Namun kini, untaian kata penjelas dari Anton dan bayangan senyuman manis Hany sore tadi seolah menjadi magnet gaib yang sangat kuat, menarik seluruh pikiran dan logikanya ke arah yang berlawanan.

"Kenapa aku harus sebingung ini, sih?" gumam Marcel pelan pada kesunyian kamar yang tak berbahu.



Ia menatap layar ponselnya yang perlahan-lahan meredup dalam waktu yang cukup lama di tengah kegelapan. Pikirannya benar-benar tidak tenang, terus berputar-putar di antara rasa bersalah yang mendalam pada Seno, sahabat karibnya, dan rasa penasaran yang menggelitik pada gadis berambut panjang yang baru ia temui sore itu. Perang batin itu terus berkecamuk di dalam kepalanya, hingga akhirnya kelopak matanya terasa kian berat dan ia terlelap dalam keresahan malam yang panjang.

Keesokan paginya, fajar terbit membelah langit pedesaan yang terlihat begitu jernih dan biru. Semangat masa muda yang sempat terganggu semalam kembali mendorong Marcel untuk segera bersiap sejak pukul tujuh pagi. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang sudah disetrika rapi oleh ibunya, dipadukan dengan celana kain hitam sederhana yang pas di badan.

Dengan hati yang dipenuhi harap-harap cemas, ia berdiri mematung di depan pagar rumahnya. Kedua matanya menyisir ujung jalan, menanti deru knalpot motor atau langkah kaki Seno yang berjanji akan datang menghampirinya.

Namun, jarum jam dinding terus merayap naik hingga menyentuh angka delapan tepat, dan sosok Seno tidak kunjung memunculkan batang hidungnya sama sekali. Marcel yang mulai cemas berulang kali merogoh saku celananya, menekan tombol panggil untuk menghubungi nomor ponsel Seno. Sialnya, suara operator wanita dari seberang telepon selalu menjawab dengan nada dialihkan atau menyatakan bahwa nomor yang dituju sedang tidak aktif.


"Anak ini ke mana, sih? Mengapa teleponnya tidak bisa dihubungi sama sekali? Biasanya dia tidak pernah ingkar janji atau menghilang tanpa kabar begini," gerutu Marcel gelisah sembari berjalan mondar-mandir di pekarangan rumahnya yang beralaskan tanah.

Tanpa disadari oleh Marcel, dari ambang pintu depan sang ibu rupanya telah memperhatikan gelagat cemas putranya sejak tadi. Wanita paruh baya itu lalu segera melangkah keluar, berjalan pelan menghampiri anak tunggalnya tersebut.

"Marcel, kamu sedang menunggu Seno? Sudah kamu coba telepon nomornya?" tanya Ibu dengan nada suara yang begitu lembut, mencoba menenangkan.


"Iya, Bu. Sudah berulang kali ditelepon tetapi nomornya tetap tidak aktif. Padahal kami sudah sepakat kalau hari ini mau pergi bersama-sama ke MAN untuk mengambil formulir pendaftaran di sana," jawab Marcel dengan bahu yang merosot lesu.

"Tidak apa-apa, Nak. Mungkin saja Seno sedang ada halangan mendadak di rumahnya, jadi dia belum sempat menghubungi atau berangkat hari ini," hibur ibunya penuh pengertian. "Kalau memang begitu, bagaimana kalau Ibu telepon Ayah saja sekarang? Biar Ayah yang minta izin pulang sebentar untuk menemani kamu pergi mendaftar ke MAN."

"Tidak usah, Bu. Jangan diganggu, nanti malah mengganggu konsentrasi Ayah yang sedang bekerja di lapangan," tolak Marcel halus sembari tersenyum tipis. Ia terdiam sejenak sebelum mengambil keputusan alternatif. "Kalau begitu, hari ini Marcel pergi ke SMA saja dahulu, Bu. Tadi malam Anton sempat meneleponku. Katanya dia menungguku di sana sekalian mengajak melihat-lihat kondisi sekolahnya. Kalau memang hari ini Marcel tidak jadi ke MAN, mungkin Marcel bisa ikut mendaftar ke SMA itu saja."


Lihat selengkapnya