BAB 2 : PANGGILAN HATI DI GERBANG SEKOLAH
Malam itu, suasana di dalam kamar Marcel terasa begitu hening. Angin malam berembus pelan, menyelinap masuk melalui celah jendela kaca yang sengaja dibuka separuh. Udara dingin yang dibawa angin pedesaan itu perlahan menyentuh kulitnya. Di tengah kesunyian itu, ingatan Marcel mendadak melayang kembali pada kejadian sore tadi di atas jembatan. Sebuah senyuman kecil tanpa sadar terukir di bibirnya saat bayangan wajah Hany melintas di pikiran.
"Aneh, tapi lucu... Hany," gumam Marcel lirih pada dirinya sendiri.
Bisikan itu mengantarkan sebersit rasa rindu yang asing, sekaligus kegelisahan yang samar akan masa depan yang masih menjadi teka-teki tak pasti. Marcel kembali berbaring telentang di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang mengawang jauh.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah. Ponsel genggam yang ia letakkan di samping bantal bergetar hebat disertai dering yang nyaring. Marcel merogoh ponselnya, dan nama Anton seketika tertera di layar digital yang terang. Ia menekan tombol hijau lalu menempelkan benda itu ke telinga.
"Iya, Ton?" sapa Marcel membuka percakapan.
"Cel, besok kamu mendaftar ke sekolah kita saja, ya? Masuk SMA," ujar Anton langsung tanpa basa-basi di seberang telepon. Suaranya terdengar sangat bersemangat. "Hany tadi menitip pesan sama aku. Katanya, aku harus mengajak kamu. Dia bahkan bilang bakal menunggu kamu di depan gerbang sekolah besok pagi-pagi sekali."
Marcel terenyak. Tubuhnya refleks bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Hah? Hany?"
"Iya, Hany yang tadi sore baru kenalan sama kamu di jembatan," jawab Anton meyakinkan, terdengar kekehan kecil di ujung kalimatnya. "Dia serius, lho, Cel. Jangan sampai kamu membuat dia menunggu besok!"
Marcel terdiam sesaat. Setelah sambungan telepon itu diputus oleh Anton, ia kembali merebahkan
tubuhnya dan menatap langit-langit kamar. Di dalam lubuk hatinya, sebuah kebimbangan besar mendadak tumbuh subur. Sebelum malam ini, ia sudah membuat janji dengan sahabatnya, Seno, untuk bersama-sama mendaftar ke MAN. Mereka bahkan sudah berencana untuk berangkat serempak. Namun kini, untaian kata dari Anton dan bayangan senyuman manis Hany sore tadi seolah menjadi magnet kuat yang menarik pikirannya ke arah berlawanan.
"Kenapa aku harus sebingung ini, sih?" gumam Marcel pelan pada kesunyian kamar.
Ia menatap layar ponselnya yang perlahan meredup dalam waktu yang lama. Pikirannya tidak tenang, berputar-putar di antara rasa bersalah pada sahabatnya dan rasa penasaran pada gadis yang baru ia temui itu, hingga akhirnya kelopak matanya terasa berat dan ia tertidur dalam keresahan.
Keesokan paginya, fajar terbit membelah langit pedesaan yang begitu jernih. Semangat yang sempat terganggu semalam kembali mendorong Marcel untuk bersiap sejak pukul tujuh pagi. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain hitam sederhana yang rapi. Dengan hati yang dipenuhi harap, ia berdiri di depan pagar rumahnya, menanti deru motor atau langkah kaki Seno.
Namun, jarum jam terus merayap hingga angka delapan, dan sosok Seno tidak kunjung memunculkan batang hidungnya. Marcel yang mulai cemas berulang kali mencoba menekan nomor ponsel Seno, tetapi operator selalu menjawab dengan nada dialihkan atau tidak aktif.
"Anak ini ke mana, sih? Mengapa teleponnya tidak bisa dihubungi sama sekali? Biasanya dia tidak pernah ingkar janji atau menghilang begini," gerutu Marcel gelisah sembari berjalan mondar-mandir di pekarangan.
Tanpa sadar, dari jauh sang ibu memperhatikan gelagatnya sejak tadi. Wanita paruh baya itu lalu segera menghampiri anaknya.
"Marcel, kamu menunggu Seno? Sudah kamu telepon nomornya?" tanya Ibu lembut.
"Iya, Bu. Sudah ditelepon tetapi nomornya tidak aktif. Padahal kami sudah sepakat hari ini mau pergi bersama ke MAN untuk mendaftar di sana," jawab Marcel lesu.
"Tidak apa-apa. Mungkin Seno ada halangan jadi dia tidak bisa menghubungi atau berangkat hari ini," hibur ibunya. "Kalau tidak, biar Ibu telepon Ayah, ya? Biar Ayah saja yang menemani kamu pergi ke MAN."
"Tidak usah, Bu, nanti mengganggu Ayah bekerja," tolak Marcel halus. "Kalau begitu, Marcel pergi ke SMA saja. Tadi malam Anton menelepon, katanya dia menunggu di sana sekalian melihat-lihat kondisi sekolahnya. Kalau Marcel tidak jadi ke MAN, bisa daftar ke SMA saja."
Ibunya manggut-manggut paham. "Oh, ya sudah. Kamu sudah sarapan? Tadi Ibu sudah siapkan nasi goreng kesukaan kamu di meja. Habis sarapan baru berangkat ke SMA."
"Sudah, Bu. Tadi Marcel sudah sarapan nasi gorengnya. Rasanya enak banget!" sahut Marcel menghibur hati ibunya. Sang ibu hanya tersenyum lembut menyikapi pujian putra tunggalnya itu. "Kalau begitu, Marcel langsung berangkat saja ya, Bu?" tambah Marcel sambil meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya dengan takzim.