MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #3

AWAL YANG TAK DISANGKA

BAB 3: AWAL YANG TAK DISANGKA

Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, hingga sampailah pada hari di mana lembaran kertas pengumuman kelulusan administrasi menempatkan nama Marcel di antara barisan siswa yang resmi diterima. Ia kini telah sah menjadi bagian dari keluarga besar SMA tersebut. Seluruh proses pendaftaran ulang yang rumit dan menyita waktu berhasil ia selesaikan dengan tenggat waktu yang sangat pas.

Semua kemudahan itu tentu saja tidak luput dari bantuan besar Anton, Nina, dan tentu saja Hany—gadis yang selalu setia hadir mendampinginya di setiap jengkal koridor birokrasi sekolah. Kini, riuh rendah masa pendaftaran telah sepenuhnya usai, menyisakan hari-hari yang tenang namun mendebarkan menjelang Masa Orientasi Siswa atau MOS dimulai.


Hari-hari awal di lingkungan baru itu terasa begitu ringan bagi Marcel. Perlahan namun pasti, ia mulai terbiasa dengan tabiat asli Hany yang selalu terang-terangan jika menyukai sesuatu, cerewet, dan kadang dinilai terlalu berani untuk ukuran siswi SMA pada umumnya. Namun, justru dari keunikan sikap gadis itulah muncul seberkas kehangatan baru di hidupnya. Rasa asing yang sempat menyelimuti batin Marcel sebagai anak pindahan asrama kini perlahan-lahan menguap tanpa sisa.

Suatu siang yang tenang di bawah terik matahari, Marcel sedang berdiri menyendiri di teras depan gedung sekolah, menatap lurus ke arah lapangan upacara yang mulai sepi dari aktivitas. Anton tiba-tiba berjalan mendekat dari arah belakang dan menepuk bahu sahabat lamanya itu dengan pelan. Nada suaranya mendadak merendah, menyiratkan ada sesuatu hal yang sangat serius dan bersifat rahasia untuk disampaikan.

"Cel... aku cuma mau bilang, Hany itu kayaknya sudah punya pacar," bisik Anton seraya mengedarkan pandangan waspada ke sekeliling mereka.

Marcel sempat tersentak sejenak, merasakan ada sengatan kecil yang mendadak menusuk ulu hatinya. Namun, sedetik kemudian ia langsung mengulas senyuman ringan di wajahnya, berusaha keras untuk menutupi riak kegelisahan yang mulai bergejolak di dalam dada.

"Hah? Pacar? Memangnya kenapa kalau dia ternyata sudah punya pacar?" tanya Marcel, mencoba memasang nada suara secuek mungkin.


"Aku sering melihat dia dijemput oleh seorang cowok anak SMK sebelah. Namanya Ihsan," tambah Anton, matanya menatap lekat reaksi perubahan di wajah Marcel.

Marcel menarik napas dalam-dalam, mengisi rongga dadanya yang mendadak terasa sesak, lalu melempar senyuman tipis yang menyembunyikan getaran asing di hatinya. "Aku tidak masalah, Ton. Tidak semua hal di dunia ini harus membuat kita cemburu, kan? Kenal dekat dengan seseorang bukan berarti kita harus selalu berpacaran dengan mereka."

Untuk menutupi kegugupan yang mulai merayap naik, Marcel segera mengalihkan arah pembicaraan mereka sebelum Anton bertanya lebih jauh. "Ngomong-ngomong, kegiatan MOS kapan mulai diadakan?"

"Besok pagi, Cel. Tenang saja, aku bertugas jadi panitia pendamping di kelompokmu. Kamu tinggal ikut saja dan ikuti semua aturannya," jawab Anton, kembali ke nada santainya sembari memasukkan tangan ke saku celana.

Tak lama setelah kalimat itu terucap dari bibir Anton, sosok Hany berjalan cepat menghampiri mereka berdua dari arah kejauhan. Dengan gaya cerianya yang khas dan senyuman tulus yang selalu berhasil membawa cahaya di sekitarnya, ia kembali mengingatkan Marcel agar mempersiapkan semua atribut MOS dan jangan sampai datang terlambat esok hari.


Sebelum melangkah pergi meninggalkan koridor, Hany tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Marcel. Dengan nada manja khasnya yang selalu berhasil mencairkan suasana, ia berbisik pelan, "Oh ya, jangan lupa. Besok pagi seperti biasa, aku tunggu kamu di tempat biasa, ya!"

Gadis itu mengucapkan kalimat tersebut sambil tersenyum sangat lembut, menatap lurus tepat ke arah sepasang mata Marcel dengan tatapan yang sarat akan makna tersembunyi.

Ucapan spontan yang penuh keluguan itu sukses membuat Anton melongo tak percaya dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Sementara itu, Marcel langsung mati kutu, salah tingkah dengan rona merah yang mendadak kembali merambat naik ke permukaan wajahnya. Setelah berpamitan dengan sebuah lambaian tangan ringan dan tawa kecilnya yang renyah, Hany berbalik badan, melangkah anggun menuju ke arah gerbang luar sekolah.


Dari jarak beberapa meter, pandangan mata Marcel tidak lepas mengikuti ke mana arah langkah kaki Hany pergi. Tepat di balik jeruji besi pagar gerbang utama sekolah, terlihat sebuah mobil sedan hitam mengkilap sudah menunggu. Seorang pemuda bertubuh tegap tampak berdiri menyandarkan tubuh di samping pintu kemudi. Marcel menatap pemandangan kontras itu dalam sebuah keheningan sore yang begitu rapat.

'Apakah pria itu adalah Ihsan, sosok kekasih yang diceritakan oleh Anton tadi?' tanya Marcel di dalam hatinya yang paling dalam, merasakan ada seonggok beban berat yang mendadak menekan rongga dadanya.

Lihat selengkapnya