BAB 3 : AWAL YANG TAK DISANGKA
Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat, hingga sampailah di hari di mana pengumuman kelulusan administrasi menempatkan nama Marcel di antara barisan siswa yang diterima. Ia kini resmi menjadi bagian dari keluarga besar SMA tersebut. Seluruh proses pendaftaran ulang yang rumit berhasil ia selesaikan dengan tenggat waktu yang pas. Semua itu tidak luput dari bantuan Anton, Nina, dan tentu saja Hany—gadis yang selalu hadir mendampinginya di setiap koridor birokrasi sekolah. Kini, riuh pendaftaran telah usai, menyisakan hari-hari tenang menjelang Masa Orientasi Siswa atau MOS dimulai.
Hari-hari awal di lingkungan baru itu terasa begitu ringan bagi Marcel. Perlahan namun pasti, ia mulai terbiasa dengan tabiat Hany yang terang-terangan jika menyukai sesuatu, cerewet, dan kadang dinilai terlalu berani untuk ukuran siswi SMA. Namun, justru dari keunikan sikap gadis itulah muncul seberkas kehangatan baru. Rasa asing yang sempat menyelimuti batin Marcel sebagai anak pindahan asrama kini perlahan menguap tanpa sisa.
Suatu siang yang tenang, Marcel sedang berdiri di teras depan gedung sekolah, menatap lapangan yang mulai sepi. Anton tiba-tiba berjalan mendekat dan menepuk bahu sahabat lamanya itu dengan pelan. Nada suaranya mendadak merendah, menyiratkan ada sesuatu yang serius dan bersifat rahasia untuk disampaikan.
"Cel... aku cuma mau bilang, Hany itu kayaknya sudah punya pacar," bisik Anton seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Marcel sempat tersentak, namun sedetik kemudian ia mengulas senyuman ringan di wajahnya untuk menutupi riak di dalam dada. "Hah? Pacar? Memangnya kenapa kalau dia sudah punya pacar?"
"Aku sering melihat dia dijemput oleh seorang cowok anak SMK sebelah. Namanya Ihsan," tambah Anton, menatap lekat reaksi wajah Marcel.
Marcel menarik napas dalam-dalam, lalu melempar senyuman tipis yang menyembunyikan getaran asing di hatinya. "Aku tidak masalah, Ton. Tidak semua hal di dunia ini harus membuat kita cemburu, kan? Kenal dengan seseorang bukan berarti kita harus berpacaran dengan mereka."
Untuk menutupi kegugupannya, Marcel segera mengalihkan arah pembicaraan mereka. "Ngomong-ngomong, kegiatan MOS kapan mulai?"
"Besok pagi, Cel. Tenang saja, aku bertugas jadi panitia di kelompokmu. Kamu tinggal ikut saja dan ikuti aturannya," jawab Anton, kembali ke nada santainya.
Tak lama setelah kalimat itu terucap, sosok Hany berjalan cepat menghampiri mereka berdua. Dengan gaya cerianya yang khas, ia kembali mengingatkan Marcel agar mempersiapkan semua atribut dan jangan sampai datang terlambat esok hari.
Sebelum melangkah pergi, Hany tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Marcel sambil berkata dengan nada manja khasnya, "Oh ya, jangan lupa. Besok pagi seperti biasa, aku tunggu kamu di tempat biasa, ya!" ia berucap sambil tersenyum lembut, menatap lurus ke arah mata Marcel dengan penuh makna.
Ucapan spontan itu sukses membuat Anton melongo dan menggelengkan kepala, sementara Marcel langsung salah tingkah dengan wajah yang mendadak merona merah. Setelah berpamitan dengan lambaian tangan dan tawa kecilnya yang renyah, Hany melangkah anggun menuju gerbang luar sekolah.