MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #4

IRAMA PERTAMA

BAB 4: IRAMA PERTAMA

Sesampainya di dalam ruangan aula yang sederhana namun sarat akan kenangan, Marcel segera mengambil tempat duduk di antara barisan puluhan siswa baru lainnya. Suasana di sekitar tampak begitu hidup; berbaur mesra antara ketegangan dari wajah-wajah yang tampak gugup dan antusiasme tinggi yang membuncah dari para remaja belia. Setelah sesi perkenalan singkat dari jajaran pengurus OSIS selesai dilaksanakan, salah satu panitia senior MOS naik ke atas panggung utama dengan memegang sebuah pengeras suara. Ia mengumumkan sebuah tantangan kejutan bagi seluruh peserta: sebuah kompetisi menyanyi secara spontan sambil memainkan gitar akustik di depan semua orang.

"Ini merupakan bagian dari ajang pencarian bakat resmi untuk mewakili sekolah kita dalam Festival Band antarsekolah yang akan diadakan beberapa waktu ke depan," ujar panitia tersebut dengan suara lantang yang menggema, berhasil membakar semangat kompetisi di dalam ruangan yang mulai terasa hangat. "Dan bagi siapa saja yang berhasil menang hari ini... akan mendapatkan hadiah spesial langsung dari meja panitia. Salah satunya—" Ia sengaja menggantung kalimatnya sembari menoleh ke arah Hany yang berdiri tegak di sisi panggung, "—hadiah menarik dari panitia cantik kita yang satu ini."


Hany sempat tersentak kaget karena namanya mendadak dibawa-bawa ke atas panggung, namun ia segera menguasai diri dengan cepat. Gadis itu tersenyum kecil sembari mengangguk anggun ke arah kerumunan peserta. Tatapan matanya yang teduh bergerak cepat menyisir barisan penonton, mencari keberadaan sosok pemuda pemalu yang sejak tadi mengusik pikirannya. Saat sepasang mata mereka akhirnya bertemu di antara riuh aula, ada kilatan pesan tak kasatmata yang ingin Hany sampaikan tanpa kata, sebuah dorongan semangat yang tulus.

Acara kompetisi pencarian bakat itu pun resmi dimulai. Satu per satu peserta perwakilan dari masing-masing kelas mulai tampil maju ke depan panggung utama. Suasana di dalam aula dengan cepat berubah menjadi sangat riuh rendah. Sebagian peserta tampil dengan kemampuan petikan gitar yang luar biasa rumit namun ternyata memiliki warna suara yang sumbang. Sementara sebagian peserta lainnya memiliki vokal yang teramat merdu, namun sayangnya kurang piawai dalam menyelaraskan petikan senar gitar. Riuh tepuk tangan, sorak-sorai penuh semangat, dan tawa geli dari penonton sesekali terdengar memenuhi seisi ruangan setiap kali ada tingkah lucu atau kesalahan kecil dari para peserta.

Hingga akhirnya, suasana di dalam ruangan besar itu mendadak senyap seketika, saat panitia di atas panggung memanggil satu nama dengan lantang melalui pelantang suara: Marcel.

Mendengar namanya sendiri disebut, Marcel seketika terpaku diam di atas kursinya. Awalnya ia berniat menolak mentah-mentah tantangan tersebut dengan menggelengkan kepala pelan, sembari menahan tubuhnya agar tidak bangkit berdiri dari tempat duduk. Namun, desakan dan sorakan dari teman-teman baru di sekelilingnya, terutama Anton yang sengaja berseru keras dari barisan belakang panitia, membuat Marcel tidak memiliki pilihan lain lagi untuk menghindar dari pandangan puluhan pasang mata.


Dari kejauhan di tepi panggung, Hany hanya menatap pergerakan pemuda itu dalam sebuah ketenangan yang rapat. Manik matanya yang jernih memancarkan seberkas harapan yang sangat besar, seolah ia tahu ada bakat luar biasa yang selama ini disembunyikan oleh Marcel.

Dengan langkah kaki yang pelan dan terkesan enggan, Marcel berjalan maju ke tengah panggung utama. Ia mengambil sebuah gitar akustik yang telah disediakan oleh panitia, duduk perlahan di atas kursi kayu, lalu mulai menyesuaikan posisi instrumen tersebut di atas pangkuannya. Sebelum mulai memainkan nada, ia mendongak dan menatap sekeliling ruangan aula yang diisi oleh puluhan pasang mata itu sejenak.

Beberapa suara bisikan bernada meremehkan mulai terdengar saling menyahut dari sudut-sudut aula, mencibir penampilannya yang terkesan kaku.

"Paling-paling juga dia tidak bisa memainkan gitar itu," bisik seorang siswa di barisan depan.

"Suaranya pasti fals, lihat saja dari gaya duduknya," sahut yang lain bernada sinis.

Namun di antara pusaran keraguan puluhan orang tersebut, terselip sebuah bisikan lirih yang lahir dari ketulusan di sisi panggung tempat Hany berada. "Ayo, Marcel... semangat," gumam Hany sangat pelan, menggerakkan bibirnya memberikan dukungan.

Lihat selengkapnya