BAB 4 : IRAMA PERTAMA
Sesampainya di dalam ruangan aula yang sederhana, Marcel segera mengambil tempat duduk di antara barisan puluhan siswa baru lainnya. Suasana di sekitar tampak begitu hidup; berbaur antara ketegangan wajah-wajah gugup dan antusiasme yang membuncah. Setelah sesi perkenalan singkat dari jajaran pengurus OSIS selesai, salah satu panitia MOS naik ke atas panggung dengan memegang pengeras suara. Ia mengumumkan sebuah tantangan kejutan bagi seluruh peserta: sebuah kompetisi menyanyi spontan sambil memainkan gitar akustik.
"Ini merupakan bagian dari ajang pencarian bakat untuk mewakili sekolah kita dalam Festival Band antarsekolah yang akan diadakan beberapa waktu ke depan," ujar panitia tersebut dengan suara lantang, membakar semangat di dalam ruangan. "Dan bagi siapa saja yang berhasil menang hari ini... akan mendapat hadiah spesial langsung dari panitia. Salah satunya—" Ia sengaja menggantung kalimatnya sembari menoleh ke arah Hany yang berdiri tegak di sisi panggung, "—dari panitia cantik kita yang satu ini."
Hany sempat tersentak kaget karena namanya dibawa-bawa, namun ia segera menguasai diri lalu tersemut kecil sambil mengangguk anggun. Tatapan matanya yang teduh bergerak cepat menyisir barisan penonton, mencari keberadaan sosok Marcel. Saat mata mereka bertemu, ada kilatan pesan tak kasatmata yang ingin Hany sampaikan tanpa kata.
Acara kompetisi pun resmi dimulai. Satu per satu peserta perwakilan kelas mulai tampil maju ke depan panggung. Suasana aula berubah menjadi riuh. Sebagian peserta tampil dengan kemampuan petikan gitar yang luar biasa rumit namun memiliki suara yang sumbang, sementara sebagian lagi memiliki vokal yang teramat merdu namun kurang piawai dalam menyelaraskan petikan senar. Riuh tepuk tangan, sorak-sorai, dan tawa geli sesekali terdengar memenuhi seisi ruangan setiap kali ada tingkah lucu peserta.
Hingga akhirnya, suasana mendadak senyap saat panitia di atas panggung memanggil satu nama dengan lantang melalui pelantang suara: Marcel.
Mendengar namanya disebut, Marcel seketika terpaku di kursinya. Awalnya ia menolak mentah-mentah dengan menggelengkan kepala pelan dan menahan tubuhnya agar tidak bangkit. Namun, desakan dari teman-teman baru di sekelilingnya, terutama Anton yang sengaja berseru keras dari barisan belakang panitia, membuat Marcel tidak memiliki pilihan lain untuk menghindar.
Dari kejauhan di tepi panggung, Hany hanya menatapnya dalam ketenangan yang rapat. Manik matanya yang jernih memancarkan seberkas harapan yang besar.
Dengan langkah kaki yang pelan dan terkesan enggan, Marcel berjalan maju ke tengah panggung. Ia mengambil sebuah gitar akustik yang telah disediakan, duduk di atas kursi kayu, lalu menyesuaikan posisi instrumen tersebut di atas pangkuannya. Sebelum mulai, ia mendongak dan menatap sekeliling ruangan aula yang diisi puluhan pasang mata itu sejenak.
Beberapa suara bisikan bernada meremehkan mulai terdengar saling menyahut dari sudut-sudut aula.
"Paling-paling juga tidak bisa main gitar itu..."
"Suaranya pasti fals, lihat saja gayanya..."