BAB 5 : DI ANTARA TAWA DAN LUMPUR
Hari-hari berlalu dengan begitu indah di sekolah. Tanpa terasa, waktu satu tahun telah bergulir. Ujian kenaikan kelas yang menegangkan pun telah usai dilewati. Marcel kini resmi naik ke kelas dua, sementara Hany melangkah ke kelas tiga dengan torehan nilai yang sangat memuaskan.
Seiring bergantinya waktu, kedekatan antara Hany dan Marcel tumbuh semakin hangat. Hubungan mereka bahkan kerap menjadi buah bibir yang manis di kalangan siswa-siswi sekolah. Banyak yang berbisik bahwa mereka adalah pasangan paling serasi di SMA tersebut. Namun kenyataannya, di antara mereka berdua, belum pernah ada satu pun kata yang terucap untuk saling menyatakan perasaan. Belum ada kepastian status, dan belum ada kata “pacaran”. Yang ada hanyalah sebuah rasa yang tumbuh diam-diam di dalam dada—sebuah perasaan ranum yang bisa dirasakan oleh semua orang di sekeliling mereka, kecuali oleh mereka sendiri.
Setiap pagi, Hany dengan sabar berdiri di dekat gerbang sekolah hanya untuk menanti kedatangan Marcel. Ia selalu hadir lebih awal dari murid-murid lain, membawa seulas senyuman manis dan sapaan pagi yang hangat untuk pemuda pemalu itu. Saat jam istirahat tiba, Hany sering kali sengaja datang menjemput Marcel di depan kelasnya. Bahkan, terkadang ia rela berdiri di dekat parkiran hanya untuk memastikan Marcel sudah pulang atau belu.. Bagi sebagian orang, perhatian itu mungkin
terasa berlebihan. Namun bagi Hany, segalanya terasa sangat sederhana: ia hanya ingin selalu berada di dekat cahaya hidupnya.
Hingga pada suatu pagi, langkah kaki Hany di koridor sekolah tampak gelisah. Jarum jam di tangan nya, sudah menunjukkan pukul delapan tepat, namun sosok Marcel beserta raungan motor RX King-nya belum juga menampakkan diri di gerbang. Dengan wajah yang diselimuti rasa cemas, Hany akhirnya terpaksa masuk ke dalam ruang kelasnya karena pelajaran telah dimulai. Meski raganya duduk mendengarkan guru, seluruh pikirannya tertinggal jauh di gerbang sekolah.
Begitu bel istirahat berbunyi nyaring, Hany langsung bergegas keluar kelas untuk mencari Anton. Ia mendapati teman masa kecil Marcel itu sedang berjalan di selasar.
"Ton, kamu melihat Marcel tidak?" tanya Hany cepat dengan napas yang sedikit memburu.
Anton menatap Hany dengan dahi mengernyit heran. "Tidak lihat, Han. Bukankah kamu yang selalu bersamanya setiap pagi?"
"Iya, tapi hari ini aku tidak melihat dia sama sekali sejak pagi," jawab Hany gelisah.
Anton mengangguk pelan, mencoba mengingat sesuatu. "Tadi pagi-pagi sekali aku sempat telepon dia, janjinya nanti kita ketemu di sekolah, di kantin. Aku mau mengembalikan pena dia yang kemarin terbawa. Tetapi aku tidak tahu dia sebenarnya sudah sampai di sekolah atau tidak. Coba kamu telepon saja ponselnya."
"Sudah ditelepon. Nomor Marcel kan sudah aku berikan ke kamu waktu itu," sahut Anton mengingatkan.
"Jangan ditanya lagi... jangankan diangkat, SMS saja tidak pernah dibalas oleh dia," kata Hany lirih sambil menundukkan kepala.
Hany hanya bisa melempar senyuman kikuk yang manis untuk menutupi rasa malunya. Melihat hal itu, Anton merogoh sakunya. "Coba nomor yang ini. Ini yang biasa dia gunakan setiap kali telepon ke nomor aku," tegas Anton kepada Hany sambil menyerahkan secarik kertas baru. "Sepertinya dia tidak tahu kalau itu nomor kamu, jadi dia tidak merespons nomor baru yang masuk. Dia memang seperti itu orangnya."
Hany segera menerima kertas tersebut, lalu bergegas menekan tombol panggilan kembali dari ponselnya sendiri. Namun, hasilnya tetap nihil. Operator di seberang sana hanya menjawab bahwa nomor Marcel sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Tidak mau menyerah begitu saja, berbekal informasi dari Anton tentang janji temu di kantin, Hany turun menyisiri lorong kelas sambil sesekali bertanya kepada teman-temannya apakah melihat keberadaan Marcel atau tidak. Namun, dari semua yang ditanya, tidak ada satu pun yang melihat Marcel pagi ini.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung melangkah cepat memeriksa beberapa sudut kantin yang mulai ramai oleh murid-murid yang lain. Saat ia bertanya pada salah satu ibu kantin yang ada di ujung, ibu itu langsung menyahut, "Iya, Marcel ada di belakang. Sudah Ibu suruh masuk ke kelas dari tadi, tetapi masih saja nongkrong di situ."
Dan benar saja, di area tersembunyi di balik dinding salah satu kantin, ia mendapati Marcel sedang duduk santai bersama dua orang teman lelakinya. Pemuda itu tampak sedang menyesap sebatang rokok sambil bercanda ringan. Hany terdiam sejenak di tempatnya berdiri, menatap pemandangan itu dengan dada yang bergemuruh. Ia kemudian melangkah lebar menghampiri mereka. "Kamu sedang ngapain di sini?" tanya Hany dengan nada suara yang tegas dan menusuk.
Marcel tersentak kaget melihat kehadiran kakak kelasnya yang tiba-tiba itu. Ia buru-buru menurunkan
tangannya. sambil membuang batang rokok dari tangan nya, "Harusnya aku yang bertanya, Hany. Kamu ngapain ke sini?"
"Aku sudah menunggumu selama dua jam di depan gerbang sekolah tadi pagi!" ketus Hany, tidak bisa lagi menahan rasa kesalnya.
Melihat kilatan amarah di mata Hany, kedua teman Marcel saling berpandangan canggung. Mereka perlahan bangkit berdiri lalu berjalan pergi meninggalkan kedua remaja itu dalam keheningan yang rapat, sambil mengatakan, “ Cel, kita cabut duluan Ya? Ok bro.. Sahut marcel sembari kembaki fokus pada sosok yg ada di dekatnya..
Marcel menatap ke arah ubin, rasa bersalah seketika mengunci rahangnya. "Tadi motorku sempat mogok di tengah jalan, Hany. Maaf... makanya aku terlambat sampai di sekolah."
Hany tidak menjawab. Ia hanya diam berdiri di hadapan Marcel, menatap wajah pemuda itu tanpa ekspresi, seolah sedang menghukumnya lewat kebisuan.
Marcel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menambahkan kalimatnya dengan pelan. "Sudah, sebentar lagi bel masuk berbunyi. Kamu kembali ke kelasmu saja, ya? Nanti aku berjanji akan menghampirimu pas jam pulang sekolah."
Hany menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak mau.!"
Marcel mengembusten napas pasrah. "Terus sekarang maunya bagaimana?"
"Kalau kamu bolos pelajaran hari ini, aku juga akan ikut bolos," jawab Hany santai namun penuh penekanan.
Marcel terdiam seribu bahasa, tidak tahu harus membalas apa lagi. Beberapa menit berlalu di antara mereka dalam keheningan yang canggung, hingga tiba-tiba, sebuah suara gemuruh pelan terdengar dari arah perut Marcel—ia kelaparan karena sejak pagi belum sempat mengisi perutnya akibat sibuk mengurus motor yang mogok.
"Kamu lapar, ya?" tanya Hany sambil tertawa kecil melihat ke arah Marcel. Rasa kesalnya seketika menguap, digantikan oleh rasa gemas.
Hany langsung meraih pergelangan tangan Marcel untuk segera beranjak dari area belakang ke depan menuju ruangan utama kantin. Di sana, ia langsung memesan satu porsi nasi goreng kepada penjual.
"Kok cuma satu?" sahut Marcel heran.
"Aku sudah sarapan tadi pagi. Jadi sekarang belum lapar," jawab Hany santai.
Tidak lama kemudian, nasi goreng hangat pesanan mereka sudah siap dan disajikan di atas meja oleh ibu kantin, sambil tersenyum melihat tingkah dua sejoli yang baru beranjak dewasa itu.
Hany mengambil sendok dan garpu. Tanpa ragu dan dengan begitu polosnya, ia langsung mengambil sesuap nasi goreng lalu mengarahkannya ke depan wajah Marcel. Sembari tersenyum kecil ia berbisik, "Ayo, makan."