MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #6

RETAK YANG TAK TERUCAP #6

BAB 6: RETAK YANG TAK TERUCAP

Di malam yang cerah namun dingin itu, suasana di dalam ruang tamu rumah Hany terasa begitu mencekam dan tegang. Hany duduk terdiam membisu di atas sofa, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan kedua orang tuanya yang tampak diselimuti amarah. Sama persis seperti Marcel, Hany ternyata juga merupakan seorang putri tunggal di dalam keluarganya. Hal itulah yang membuat seluruh dinding perlindungan dan ekspektasi kedua orang tuanya terasa begitu besar, kokoh, sekaligus menghimpit ruang gerak masa mudanya.

Dengan nada suara yang meninggi dan berat, sang ayah menatapnya dengan pandangan tajam, menuntut penjelasan utuh atas cerita sang istri mengenai kondisi memprihatinkan Hany saat melangkah masuk ke rumah sore tadi.

"Ibumu bilang, tadi kamu pulang terlambat dan seragam sekolahmu kotor berantakan penuh noda lumpur," ujar Ayah membuka interogasi malam itu dengan tatapan mata penuh rasa kesal. "Ayah mau bertanya, sebenarnya kamu pergi dari mana saja? Ayah juga baru saja mendapatkan telepon langsung dari wali kelasmu. Katanya, kamu nekat membolos sekolah sejak jam pelajaran kedua dimulai. Apakah semua berita itu benar?"

Hany hanya bisa diam terpaku, lidahnya mendadak kelu untuk menyusun pembelaan diri. Manik matanya yang jernih perlahan-lahan mulai berkaca-kaca, menahan gejolak rasa takut dan sedih yang berbaur menjadi satu di dalam dada. Melihat putri semata wayangnya hanya bisa bungkam menatap lantai ubin, sang ibu akhirnya ikut menyela untuk menengahi suasana yang kian memanas.


"Hany? Ayahmu sedang bertanya, jawab dengan jujur, Nak," ucap Ibu dengan nada suara yang terdengar lembut namun terselip ketegasan yang nyata. "Ayah bersikap seperti ini juga demi kebaikan masa depanmu sendiri. Kami tidak mau kamu berteman dekat dengan sembarang orang yang bisa mengubah sikapmu menjadi nekat dan berani melanggar aturan seperti ini."

Dengan suara yang terdengar terbata-bata akibat sekuat tenaga menahan buncahan tangis, Hany akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. "Iya, Ayah... maaf. Tadi Hany memang membolos kelas. Hany berjanji tidak akan pernah mengulangi perbuatan itu lagi."

"Terus, teman lelaki yang dari desa sebelah itu siapa?" kejar ayahnya dengan cepat, enggan melepaskan inti permasalahan begitu saja dari meja interogasi.

"Itu Marcel, Yah. Dia adik tingkat Hany di sekolah," jelas Hany, mencoba memberikan pembelaan terbaik bagi pemuda itu. "Tapi sebenarnya usia kami satu angkatan, kok. Dia hanya terlambat masuk sekolah umum saja kemarin, karena umurnya yang sempat tertinggal di bawah akibat sistem asrama. Makanya dia..."

"Ayah tidak menanyakan sejarah atau latar belakang hal itu!" potong sang ayah dengan intonasi ketegasan mutlak yang tidak bisa didebat lagi. "Mulai detik ini juga, kamu tidak perlu lagi berteman, mengobrol, atau berhubungan dalam bentuk apa pun dengan anak itu."

"Tapi Marcel sebenarnya adalah orang yang sangat baik, Ayah," bantah Hany lirih dengan sisa keberaniannya.

Air mata yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga kini akhirnya luruh sepenuhnya, membasahi permukaan pipinya yang kemerahan. Sang ibu yang duduk tepat di sampingnya segera mengusap-ngusap punggung Hany dengan penuh kelembutan, mencoba memberikan seberkas kekuatan tersembunyi bagi putri tunggalnya tersebut di tengah kemarahan sang kepala keluarga.


"Ayah tidak mau tahu. Kamu cukup berteman dekat dengan Ihsan, anaknya teman lama Ayah," tandas sang ayah, memberikan keputusan sepihak yang terasa begitu mengikat. "Dia bukan sekadar teman biasa bagimu, Hany. Masih ada jalinan hubungan keluarga dekat antara Ayah dan mendiang Ayahnya. Bisa dikatakan, dia itu masih sepupumu sendiri. Dia pria yang bertanggung jawab dan jelas asal-usul keluarganya dari mana."

Sang ibu yang mulai merasa bahwa suaminya sudah bersikap keterlaluan, akhirnya memberanikan diri untuk mencoba membela putri mereka. "Sudahlah, jangan terlalu keras dengan anakmu sendiri, Yah. Hany kan sekarang sudah mulai beranjak dewasa, dia pasti tahu bagaimana cara membedakan mana hal yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri."

Tanpa membalas untaian ucapan istrinya, sang ayah langsung bangkit berdiri dari kursi sofa dengan wajah masygul yang berkerut dalam. Beliau melangkah lebar pergi meninggalkan ruang tamu yang pengap oleh ketegangan, memilih untuk duduk menyendiri di teras depan rumah guna mendinginkan kepala di bawah terpaan angin malam.

Setelah sang ayah melangkah pergi, ibunya segera merangkul tubuh Hany dengan sangat hangat, membawa kepala putrinya ke dalam pelukan. "Hany... Ayah bersikap keras seperti itu karena satu hal, Nak. Beliau tidak ingin putri tunggal kesayangannya terpengaruh oleh lingkungan luar atau tingkah laku yang tidak benar."

"Iya, Ibu. Hany minta maaf karena sudah membuat Ibu dan Ayah cemas. Hany berjanji tidak akan pernah membolos sekolah lagi," sesal Hany sembari menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya menggunakan ujung jari.


"Ya sudah, sekarang masuk ke dalam kamar sana. Cuci mukamu terlebih dahulu, lalu segera tidur agar besok pagi tidak kesiangan berangkat ke sekolah," pungkas ibunya dengan nada suara yang sangat lembut sembari mengusap puncak kepala Hany.

Keesokan paginya, denyut rutinitas di lingkungan SMA berjalan seperti biasa. Hany sudah berdiri tegak di dekat pagar gerbang utama sekolah, menanti kedatangan Marcel dengan seulas senyuman tulus yang selalu siap ia persembahkan. Namun, kebiasaan manis yang biasa mereka lakukan setiap pagi itu mendadak harus terinterupsi oleh kenyataan pahit.

Baru saja Marcel memarkirkan motor RX King kesayangannya di bawah pohon, seorang guru piket dengan wajah ketat berkacamata langsung melangkah lebar menghampiri mereka berdua. Tanpa memberikan penjelasan panjang lebar di lapangan, sang guru meminta dengan nada tegas agar mereka segera ikut berjalan menghadap ke ruang Kepala Sekolah saat itu juga.

Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, atmosfer mendadak terasa begitu mencekam, sunyi, dan mengintimidasi batin. Kepala Sekolah menatap mereka berdua secara bergantian dengan raut wajah yang teramat serius dari balik meja kerjanya. Dua lembar surat peringatan tertulis berwarna putih sengaja diletakkan dengan sentuhan tegas di atas meja kaca.

Dengan suara bariton yang berat, dalam, dan penuh wibawa, beliau memberikan peringatan keras yang memutus harapan. Jika mereka berdua kembali nekat membolos dan keluar dari pagar pembatas sekolah tanpa izin resmi seperti kejadian kemarin, bukan hanya nilai akademis mereka saja yang akan dipertaruhkan—melainkan status mereka sebagai siswa aktif di sekolah tersebut yang menjadi taruhan terakhirnya.


Begitu melangkah keluar dari ruangan dingin tersebut, Marcel langsung berjalan tertunduk lesu menyusuri selasar koridor. Guratan rasa bersalah yang amat dalam tampak terukir jelas di wajah pemulunya.

"Hany... maafkan aku, ya. Kamu jadi ikut-ikutan terkena masalah besar dan dihukum oleh Kepala Sekolah gara-gara kebodohanku kemarin," ujar Marcel dengan nada suara yang sangat pelan, bergetar hebat oleh rasa penyesalan yang mengganjal di dada.

Hany sama sekali tidak mendebat ataupun balik menyalahkannya. Gadis itu justru mengulas seulas senyuman kecil yang teramat meneduhkan batin, lalu dengan gerakan lembut kembali meraih jemari tangan Marcel untuk mengalirkan ketenangan. "Aku tidak apa-apa, Marcel. Jangan merasa bersalah seperti itu. Tapi, berjanji ya? Lain kali kita jangan pernah nekat membolos sekolah lagi," bisiknya lembut.

Sembari berbicara lirih, ibu jari Hany bergerak perlahan, mengusap permukaan gelang kecil yang dulu pernah ia pasangkan di pergelangan tangan Marcel saat di aula. "Ingat, kan? Di mana ada kamu, akan selalu ada aku di sini untukmu."

Marcel tertegun mematung, menatap lekat ke dalam sepasang manik mata jernih Hany. Ia diam seribu bahasa, mendadak tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas kebaikan hati yang begitu murni itu. Namun, lengkungan senyum tipis yang terukir di bibirnya sudah lebih dari cukup untuk menandakan adanya sebuah rasa yang teramat dalam, yang kini kian terkunci rapat di dalam lubuk dadanya.


Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa jika dilihat dari luar, namun atmosfer nyata di antara mereka berdua perlahan-lahan mulai berubah drastis dan terasa sangat hambar. Sebuah kabar burung yang tidak sedap mulai berembus liar di antara sekat-sekat koridor kelas. Beberapa murid mulai berbisik-bisik miring bahwa Hany belakangan ini sering sekali terlihat berjalan dekat dan pergi bersama seorang lelaki asing. Laki-laki bertubuh tegap yang selalu Hany sebut kepada orang-orang di sekolah sebagai sosok sepupu jauhnya.

Awalnya, Marcel mencoba sekuat tenaga untuk bersikap acuh, dingin, dan tidak memedulikan gunjingan serta desas-desus liar tersebut. Namun, ibarat sebuah benih beracun yang terus disiram setiap hari, rasa ragu di dalam lubuk hatinya perlahan-lahan tumbuh subur menjadi api cemburu yang membakar habis ego remajanya. Marcel sama sekali tidak tahu bahwa lelaki asing itu sebenarnya adalah Ihsan—pria pilihan ayahnya Hany yang kini memang mulai bergerak mendekati Hany secara agresif atas restu keluarga.

Sebagai bentuk aksi balasan sepihak karena merasa dikhianati dan tidak lagi dijadikan sebagai prioritas utama, Marcel mulai sengaja mengubah total sikapnya selama di sekolah. Ia yang dulunya terkenal sebagai pemuda pendiam, kaku, dan antipati pada perempuan, kini mulai membuka diri secara drastis ke lingkungan luar. Ia mulai bergaul akrab, bercanda ria dengan tawa lepas, dan sengaja menghabiskan banyak waktu istirahat bersama beberapa teman wanita di kelasnya sendiri, tepat di hadapan pandangan mata jernih Hany yang menatapnya dari kejauhan.


Dari kejauhan selasar koridor, Hany memperhatikan perubahan sikap drastis Marcel dengan dada yang terasa amat sesak bagai dihantam batu besar. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menahan diri dan pura-pura tegar di hadapan teman-temannya. Namun, sepasang matanya tetap tidak bisa berbohong—ia selalu tertangkap basah sedang menyisir pandangan, mencari sosok Marcel di setiap sudut lorong kelas dengan tatapan rindu yang teramat terluka.

Lihat selengkapnya