BAB 6 : RETAK YANG TAK TERUCAP
Di malam yang cerah itu, suasana di ruang tamu rumah Hany terasa begitu tegang. Hany duduk terdiam di sofa, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan kedua orang tuanya. Sama seperti Marcel, Hany ternyata juga merupakan seorang Putri tunggal di keluarganya. Hal itulah yang membuat perlindungan dan ekspektasi kedua orang tuanya terasa begitu besar dan menghimpit.
Dengan nada suara yang meninggi, sang ayah menatapnya tajam, menuntut penjelasan atas cerita sang istri mengenai kondisi Hany saat pulang sore tadi.
"Ibumu bilang, tadi kamu pulang terlambat dan bajumu kotor penuh noda lumpur," ujar Ayah membuka interogasi dengan tatapan kesal. "Ayah mau bertanya, sebenarnya kamu dari mana? Ayah juga mendapatkan telepon dari wali kelasmu, katanya kamu bolos sekolah sejak jam kedua. Apakah itu benar?"
Hany hanya diam terpaku. Manik matanya mulai berkaca-kaca menahan gejolak takut dan sedih yang berbaur menjadi satu. Melihat putrinya bungkam, sang ibu ikut menyela untuk menengahi suasana.
"Hany? Ayahmu bertanya, jawab Nak," ucap Ibu dengan lembut namun tegas. "Ayah bersikap seperti ini juga demi kebaikanmu. Kami tidak mau kamu berteman dengan orang yang bisa mengubah sikapmu menjadi nekat seperti ini."
Dengan suara yang terbata-bata akibat menahan tangis, Hany akhirnya memberanikan diri untuk menjawab. "Iya, Ayah... tadi Hany membolos. Hany janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Terus, temanmu yang dari desa sebelah itu siapa?" kejar ayahnya, enggan melepaskan intinya begitu saja.
"Itu Marcel, Yah. Dia adik tingkat di sekolah," jelas Hany mencoba membela. "Tapi sebenarnya kami satu angk kok. Dia hanya terlambat masuk sekolah saja kemarin karena umurnya yang sempat tertinggal di bawah, makanya dia..."
"Ayah tidak menanyakan hal itu!" potong sang ayah dengan ketegasan yang mutlak. "Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi berteman atau berhubungan dengan anak itu."
"Tapi dia sebenarnya orang yang sangat baik, Ayah," bantah Hany lirih. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, membasahi pipinya yang kemerahan. Sang ibu yang duduk di sampingnya segera mengusap punggung Hany, mencoba memberikan kekuatan bagi putri tunggalnya tersebut.
"Ayah tidak mau tahu. Kamu cukup berteman dekat dengan Ihsan, anaknya teman Ayah. dia bukan sekedar teman bagimu, masih ada hubungan, keluarga antara ayah dan mendiang ibunya, bisa di aktakan dia itu sepupu bagi kamu, Unjarnya, Dia pria yang bertanggung jawab dan jelas asal-usul keluarganya dari mana," tandas sang ayah, memberikan keputusan sepihak.
Ibu yang merasa suaminya sudah keterlaluan akhirnya mencoba membela sang anak. "Sudahlah, jangan terlalu keras dengan anakmu sendiri, Yah. Hany kan sudah mulai dewasa, dia pasti tahu bagaimana membedakan mana yang baik dan buruk bagi dirinya."
Tanpa membalas ucapan istrinya, sang ayah bangkit berdiri dari kursi dengan wajah masygul. Beliau melangkah pergi meninggalkan ruang tamu dan memilih untuk duduk menyendiri di teras depan rumah guna mendinginkan kepala.
Setelah sang ayah pergi, ibunya merangkul Hany dengan hangat. "Hany... Ayah bersikap seperti itu karena satu hal. Beliau tidak ingin putri tunggalnya terpengaruh oleh lingkungan atau tingkah laku
yang tidak benar."
"Iya, Ibu. Hany minta maaf. Hany berjanji tidak akan membolos sekolah lagi," sesal Hany sembari menyeka sisa air matanya.
"Ya sudah, sekarang masuk ke kamar sana. Cuci mukamu terlebih dahulu, lalu segera tidur agar besok tidak kesiangan berangkat sekolah," pungkas ibunya lembut.
Keesokan paginya, rutinitas di SMA berjalan seperti biasa. Hany sudah berdiri tegak di dekat pagar gerbang sekolah, menanti kedatangan Marcel dengan seulas senyuman tulus yang siap ia persembahkan. Namun, kebiasaan manis yang biasa mereka lakukan setiap pagi itu mendadak terinterupsi.
Baru saja Marcel memarkirkan motor RX King kesayangannya, seorang guru piket dengan wajah ketat langsung menghampiri mereka berdua. Tanpa memberikan penjelasan panjang lebar, sang guru meminta mereka untuk segera ikut menghadap ke ruang Kepala Sekolah saat itu juga.
Di dalam ruangan yang ber-AC dingin itu, atmosfer mendadak terasa begitu mencekam dan mengintimidasi. Kepala Sekolah menatap mereka berdua secara bergantian dengan raut wajah yang teramat serius. Dua lembar surat peringatan tertulis diletakkan dengan tegas di atas meja kaca.
Dengan suara bariton yang berat dan berwibawa, beliau memberikan peringatan keras. Jika mereka berdua kembali nekat membolos dan keluar dari pagar sekolah tanpa izin seperti kejadian di area sawah kemarin, bukan hanya nilai akademis mereka yang akan dipertaruhkan—melainkan status mereka sebagai siswa di sekolah tersebut yang menjadi taruhannya.
Begitu melangkah keluar dari ruangan tersebut, Marcel langsung berjalan tertunduk lesu. Guratan rasa bersalah yang amat dalam tampak jelas di wajahnya.
"Hany... maafkan aku, ya. Kamu jadi ikut-ikutan terkena masalah dan dihukum gara-gara kebodohanku kemarin," ujar Marcel dengan suara yang pelan, bergetar oleh rasa penyesalan.
Hany tidak mendebat atau menyalahkannya. Ia justru mengulas seulas senyuman kecil yang teramat meneduhkan batin, lalu dengan lembut meraih jemari tangan Marcel. "Aku tidak apa-apa, Marcel. Jangan merasa bersalah begitu. Tapi, janji ya? Lain kali kita jangan pernah membolos lagi," bisiknya lembut.
Sembari berbicara, ibu jari Hany bergerak perlahan, mengusap permukaan gelang kecil yang dulu pernah ia pasangkan di pergelangan tangan Marcel. "Ingat, kan? Di mana ada kamu, selalu ada aku di sini untukmu."
Marcel tertegun menatap lekat sepasang mata jernih Hany. Ia diam seribu bahasa, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas kebaikan itu. Namun, lengkungan senyum tipis di bibirnya sudah cukup menandakan adanya rasa yang teramat dalam yang kini terkunci rapat di dalam dadanya.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, namun atmosfer di antara mereka perlahan-lahan mulai berubah dan terasa hambar. Sebuah kabar burung yang tidak sedap mulai berembus liar di antara koridor kelas. Beberapa murid mulai berbisik-bisik bahwa Hany belakangan ini sering terlihat berjalan dan pergi bersama seorang lelaki asing, yang selalu Hany sebut kepada orang-orang sebagai "sepupu".
Awalnya, Marcel mencoba untuk bersikap acuh dan tidak memedulikan gunjingan serta desas-desus tersebut. Namun, ibarat benih beracun yang disiram setiap hari, rasa ragu di dalam hatinya perlahan tumbuh menjadi api cemburu yang membakar ego remajanya. Marcel tidak tahu bahwa lelaki itu sebenarnya adalah Ihsan, pria pilihan ayahnya yang mulai mendekati Hany secara agresif.
Sebagai bentuk aksi balasan karena merasa dikhianati dan tidak lagi menjadi prioritas, Marcel mulai sengaja mengubah sikapnya di sekolah. Ia yang dulunya pendiam dan kaku kini mulai membuka diri secara drastis. Ia mulai bergaul akrab, bercanda ria, dan menghabiskan waktu bersama beberapa teman wanita di kelasnya sendiri, tepat di hadapan pandangan mata Hany.