MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul islami
Chapter #7

FESTIVAL DAN PERPISAHAN #7

BAB 7 : FESTIVAL DAN PERPISAHAN

Seminggu pun berlalu semenjak hari-hari yang mendingin di area sekolah. Waktu terus merayap maju hingga tibalah hari yang paling dinanti-nantikan oleh seluruh pencinta musik—Festival Band Antarsekolah tingkat kabupaten. Marcel berangkat menuju lokasi perlombaan bersama dengan rombongan teman-teman satu sekolahnya, diiringi oleh beberapa guru pendamping yang ikut mengawal. Suasana di sepanjang perjalanan di dalam bus terdengar begitu riuh dan penuh tawa gelak penuh semangat, namun jauh di dalam lubuk hati Marcel, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sebuah ruang kosong yang teramat sunyi bersemayam di dadanya, sebuah kehampaan yang ego remajanya sendiri pun tidak mampu jelaskan.

Sesampainya di tempat acara, riuh penonton langsung menyambut indra pendengaran. Satu per satu peserta perwakilan dari berbagai sekolah mulai tampil naik ke atas panggung utama. Mereka semua memainkan musik dengan penuh energi dan gairah masa muda yang membara. Ada peserta yang memiliki warna suara teramat merdu memikat, ada pula yang menunjukkan kemahiran luar biasa dalam memetik melodi gitar kelistrikan. Suasana di sekitar panggung begitu hidup dan kompetitif, membuat para penonton bersorak-sorai dan menyulitkan siapa pun untuk menebak siapa yang akan keluar sebagai terbaik.

Hingga akhirnya, tibalah giliran nama Marcel yang dipanggil oleh pembawa acara melalui pelantang suara.

Sorak-sorai dari barisan pendukung sekolahnya seketika menggema hebat memenuhi area lapangan terbuka. Teman-teman satu sekolahnya langsung berdiri tegak, memberikan tepuk tangan dan dukungan penuh untuknya. Namun, jauh di balik senyuman tipis yang Marcel paksakan untuk terukir di wajahnya, tersimpan sebuah rasa sepi dan kekecewaan yang teramat dalam. Di dalam hatinya yang

paling kecil, ia masih memelihara secercah harap bahwa Hany akan datang hari itu—sekadar untuk menyaksikan penampilannya dari kejauhan, atau mungkin hanya untuk memberikan seulas senyuman manis dari balik kerumunan. Namun, logika Marcel segera mematahkan harapan itu; ia tahu betul, setelah pertengkaran hebat dan tamparan di lapangan kemarin, Hany tidak mungkin sudi untuk hadir di sini.

Awalnya, Marcel sudah berencana dengan matang untuk membawakan sebuah lagu yang ia tulis sendiri. Sebuah lagu dengan lirik sederhana yang sengaja ia buat khusus untuk mengungkapkan seluruh isi perasaannya yang terpendam selama ini kepada Hany. Namun, tepat pada detik-detik terakhir sebelum jemarinya menyentuh senar gitar di atas panggung, sebuah kebimbangan mendadak meruntuhkan niatnya. Ia mendadak mengubah pikiran. Sebagai gantinya, Marcel memilih untuk membawakan lagu berjudul “Musnah” karya grup musik “Andra and The Backbone”. Sebuah lagu melankolis tentang cinta yang tercabik luka, tentang harapan-harapan indah yang telah hilang ditelan kenyataan pahit.

Marcel mulai memetik gitarnya dan bernyanyi dengan seluruh jengkal perasaan yang tersisa di dalam dadanya. Setiap bait lirik dan nada yang keluar dari kerongkongannya terdengar seolah-olah seperti serpihan luka yang sengaja dikeluarkan paksa dari dalam dadanya. Suaranya terdengar sedikit bergetar menahan gejolak emosi, dan sepasang matanya sesekali menatap kosong ke arah kerumunan penonton di bawah panggung, seolah sedang mencari satu sosok rapuh yang ia tahu tidak ada di sana. Dan mungkin, kejujuran rasa sakit itulah yang membuat barisan dewan juri mendadak terdiam seribu bahasa. Mereka tidak lagi sekadar mendengarkan sebuah untaian lagu kompetisi, melainkan ikut merasakan kedalaman kesedihan yang sungguh-sungguh nyata dari batin pemuda tersebut.


Lirik : Andra and The Backbone - Musnah


“Bukan maksud hatiku

Acuhkan dirimu

Di depan mataku

Tapi ku tak bisa lupakan

Saat dirimu membuat

Diriku terhina

Sakit hatiku

Remuk jantungku

Tuk membencimu

Musnahkan cintaku

Bukan maksud hatiku

Lenyap senyumku

Saat kita bertemu (Ha-aaa)

Tapi ku tak bisa singkirkan (Singkirkan)

Enyapkan sikapmu (Enyapkan sikapmu)

Lihat selengkapnya