BAB 8 SETELAH SEMUA BERLALU
Waktu terus berjalan tanpa memedulikan luka yang tertinggal. Kabar burung mulai berembus di antara koridor sekolah bahwa setelah kelulusan, Hany akan segera melanjutkan pendidikan ke luar kota. Marcel yang mendengar kabar itu hanya bisa terdiam. Ia mengunci rapat-rapat rasa rindunya di balik dinding keangkuhan yang ia bangun sendiri.
Beberapa bulan kemudian, pada suatu siang yang terik, Anton tiba-tiba datang tergesa-gesa. Langkah kakinya yang berat memecah kesunyian teras rumah, menyiratkan kecemasan yang teramat sangat.
"Cel... aku punya kabar buruk," ujar Anton dengan napas memburu begitu Marcel membukakan pintu.
Marcel mencoba bersikap sewajarnya, menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Ada apa, Ton?"
"Aku serius, Cel. Dengar baik-baik... ternyata Hany tidak jadi pergi kuliah ke luar kota. Aku baru mendengar kabar ini langsung dari Nina," kata Anton. Ia menatap lurus ke Arah Marcel, dengan pandangan tajam. "Dia... Hany dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya."
Tubuh Marcel sempat menegang sejenak. Namun, egonya yang terlampau besar buru-buru mengambil alih kendali. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang dingin. "Memangnya kenapa kalau dia menikah? Itu kan urusan keluarganya."
"Cel, aku ini sahabatmu! Aku tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya!" bentak Anton kesal melihat kebebalan temannya itu. Ia menepuk bahu Marcel dengan bertenaga. "Kalau kamu memang masih peduli dan punya hati, temui dia sekarang sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai kamu menjalani sisa hidupmu dengan penyesalan yang tidak akan pernah bisa diubah."
Marcel terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu. Anton menatapnya dengan pandangan kecewa, lalu membalikkan badan dan pergi meninggalkan teras rumah tanpa banyak bicara lagi.
Namun, ego Marcel masih menahannya kuat-kuat. Secarik kertas berisi nomor telepon Hany yang diberikan Anton hanya berakhir di sudut meja, tak pernah sekali pun ia sentuh. Hari-harinya mendadak terasa begitu berat; pikirannya selalu lumpuh dihantui bayangan gadis itu.
Hampir setiap malam, nama Hany lolos begitu saja dari bibirnya saat terlelap—seperti sebuah panggilan darurat yang tak sempat terjawab.
Sampai pada suatu malam, ketukan pelan di pintu membuyarkan tidurnya yang tak nyenyak. Sang ibu melangkah masuk dengan gurat cemas di wajahnya.
"Cel, akhir-akhir ini kamu sering sekali mengigau," ujar Ibu, menatap lekat anak laki-lakinya. "Kamu sedang ada masalah?"
Marcel lekas membenahi posisi duduknya, mencoba bersikap tenang. "Enggak ada apa-apa, Bu. Mungkin Marcel cuma kelelahan karena tugas sekolah, makanya jadi mengigau."
Ibu tidak langsung percaya. Beliau hanya tersenyum simpul, lalu berbisik lirih, "Apakah anak Ibu sedang jatuh cinta pada seseorang?"
Pertanyaan itu seketika membuat dada Marcel berdesir hebat.
"Habisnya cukup jelas, kamu sering sekali menyebut nama Hany sambil mengigau," goda Ibu dengan mata berbinar.
Marcel tersentak. Pertahanan di wajahnya runtuh seketika mendengar penjelasan sang ibu. Lidahnya mendadak kelu.
"Cel," panggil Ibu lembut, mengikis jarak di antara mereka. "Jika kamu menyukai seseorang, sebaiknya katakan saja. Jangan disimpan sendiri. Perkara dia punya perasaan yang sama atau tidak, itu urusan belakangan. Mengungkapkannya jauh lebih baik daripada kamu terus hidup dalam
ketidaktahuan."
Ibu bangkit berdiri, lalu melangkah menuju pintu. "Anak Ibu ternyata sudah dewasa, ya. Sudah mulai menyukai seorang gadis. Kapan-kapan, kenalkan dia pada Ibu," imbuhnya sebelum berbalik dan menutup pintu kamar.
Marcel terpaku di atas ranjangnya. Kamar itu kembali sunyi. Ia hanya mampu menjawab pertanyaan ibunya dalam hati dengan sebuah bisikan lirih, “Iya, Bu.”
Hingga keesokan harinya, sebelum berangkat kesekolah, ia mendapati ada beberapa Panggilan takterjawab di layar ponselnya, dan ada satu pesan singkat, yang mengatakan..
“Bagai air dapat di genggam, bagai ombak yang menerjang karang, tak akan pernah tergantikan, Meski kini hanya tinggal Kenangan.. Jika suatu saat nanti aku taklagi ada di sisimu, aku taklagi menyapamu. ketahuilah, aku akan selalu ada bersamamu..
jiwaku dan raga ku akan selalu untuk mu” …
Setelah membaca setiap bait kalimat itu, Marcel teringat sesuatu, dan melihat histori pesan dan nomor yang sering mengingat kan dia untuk bangun pagi, agar tidak telat sekolah, yang sering mengingatkan di setiap pagi untuk hati hati di jalan, Sempat terlintas prasangka itu adalah hany, namun dia tau, bahwa hany tidak pandai membuat bait puisi, serumit ini. dengan karakter Marcel yang tidak mudah menduga dan percaya sesuatu yang belum pasti, ia tetap memilih untuk tidak begitu menghiraukan nya, dan tetap lanjut kerutinitas Pagi seperti biasa.
Pergi ke sekolah, belajar di kelas dengan tatapan yang terlihat kosong, setiap kali melewati Pagar gerbang sekolah, seakan mersasa Ada sesuiatu yang hilang, Dan dengan sengaja di lupakan nya.. lalu pulang ke rumah tanpa gairah yang sama lagi.
"Di perlihatkan dari sisi Hany,
Bahwa ia sedang menangis tersedu-sedu, di pangku sang ibu.
Sambil berkata "Hany masih muda Ayah, Hany belum mau menikah, Hany dan Ihsan tidak ada Perasaan Apa apa. Hanya berteman, Jadi bagaimana bisa Ayah meminta untuk menikah dengan nya!?
Ayah" ayah terdiam sambil memalingkan wajahnya menandakan bahwa keputusan nya sudah bulat..
Ibu" Hany, apa kamu tahu, dulu waktu kamu masih berusia 10tahun ayah dan papa nya Ihsan pernah membuat wasiat terahir kepada ayah mu, sebelum beliau meninggal, ia Miminta bahwa setelah kamu desasa agar di Nikah kan dengan putar nya, "Ihsan. Ihsan itu bukan hanya anak dari teman ayah, tapi sekaligus Sepupu bagimu, Dulu waktu kamu masih kecil, Ayah mu pernah bangkrut, dan kita tidak punya Apa-apa, bahkan tempat tinggal saja kita tidak ada, di momen itu, Om Burhan 'Ayah Ihsan yang membantu ayah mu, memberikan rumah tempat kita tinggal sekarang, meski itu sudah di bayar oleh ayah mu, secara materi kita tidak ada hutang dengan keluarga Ihsan, tapi secara Budi ayah berhutang Janji wasiat mendiang Om, Burhan.. tidak hanya itu, Om Burhan, juga meminjamkan Sejumlah Uang
pada ayah mu waktu itu untuk memulai Usaha baru, Hingga sekarang Ayah mu berhasil Bangkit, dan berkembang menjadi satu-satunya Pemilik Gudang Beras Yang ada di desa Kita, Meski juga sudah di ganti oleh ayahmu, Namun Tampa Ayah nya Ihsan, " Om Burhan. mungkin kita tidak akan jadi seperti Ini.
Hany" Iya ibu, tapi Hany tidak ada rasa dengan Ihsan, Hany sudah punya pilihan sendiri Ibu?
Hany cuma ingin bersama Marcel Bu? Hany cinta sama Marcel Bu?
Ibu" Hany, Ibu mengerti sepenuhnya bagaimana perasaan kamu, tapi kamu tau bagaimana ayahmu, Dia tidak akan menarik kembali kata -kata nya. Ibu tidak bisa berbuat banyak..
Hany hanya terdiam sambil menangis tersedu-sedu, di samping Ibu nya. dalam hatinya Ia hanya ingin satu nama, yaitu Marcel. namun kenyataan harus memilih jalan yang lain.
Ibu" Nak? Cinta dan perasaan, Akan tumbuh seiring kalian bersama. Terkadang apa yang ada di hadapan kita belum tentu untuk kita, dan terkadang Sesuatu yang kita anggap tidak Penting, padahal itu adalah jalan yang terbaik..
Kamu juga pernah Cerita Ke ibu, bagaimana Hubungan kamu dengan Marcel. Apa kamu tau, dia juga Cinta sama kamu?
Tidak ada orang tua Yang ingin Anak nya menderita, Sepenuhnya agar mendapatkan sesuatu Yang terbaik, begitu pula dangan keputusan Ayah mu..
Hany" sambil menangis akhirnya Hany menjawab perkataan Sang Ibu, Iya Bu?
Hany Ikut semua Pengaturan dari Ayah.
Dengan hati yang berat dan terus berharap akan ke Ajaiban, Hany masih berharap Marcel akan datang menemuinya. Bahkan Terbersit dalam hati, jika hal itu terjadi, Ia akan meminta Marcel untuk membawanya Pergi, jika Marcel tidak datang, sebelum Cara resepsi Pernikahan nya. sepenuhnya Ia akan ikut semua yang di inginkan keluarga nya, Inilah alasan mengapa Ia berpesan kepada Nina, Agar menyampaikan ke Anton, dan meminta Anton mengatakan kepada Marcal, Hany berharap di momen ini, Marcel akan Datang Untuk menemuinya..
Namun kenyataan tidak selalu, Berjalan sesuai apa yang di rencanakan.
Tampa terasa, Hingga tibalah hari di mana pernikahan Hany akan segera di laksanakan, Sementara Hany masih berharap sesuatu yang takakan mungkin dilakukan oleh Marcel.
Tepat di hari Acara Pernikahan Hany.
Anton, Nina, dan beberapa teman yang lain datang ke rumah Marcal, berusaha mengajak Marcel datang.
Awalnya ia menolak, tapi akhirnya Ia ikut, Sambil membawa sebuah kotak kecil—hanya ia yang tahu isinya.