MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #8

SETELAH SEMUA BERLALU #8


BAB 8 : SETELAH SEMUA BERLALU

Waktu terus berjalan maju tanpa pernah memedulikan sisa luka yang masih tertinggal di dalam dada. Sebuah kabar burung yang samar mulai berembus liar di antara koridor-koridor kelas, menyatakan bahwa setelah hari kelulusan ini, Hany akan segera melangkah pergi melanjutkan pendidikan kuliahnya ke luar kota.

Marcel yang mendengar kabar angin tersebut hanya bisa terdiam membisu di bangkunya. Ia memilih untuk mengunci rapat-rapat rasa rindunya yang membuncah, menyembunyikannya di balik dinding keangkuhan dan ego remaja yang ia bangun sendiri dengan kokoh.

Sementara itu, di kediamannya, Hany masih berada dalam tekanan batin yang kian hari kian menyiksa dada. Di satu sisi, ia memiliki rencana dan impian besar untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, demi mencapai cita-cita pergi kuliah di luar kota.

Namun di sisi lain, kedua orang tuanya ternyata tidak begitu mendukung keinginan kuat dirinya tersebut. Terutama sang ayah, yang menolak keras dengan alasan tidak yakin bahwa putri tunggalnya itu akan bisa menjaga diri dengan baik ketika harus hidup mandiri sendirian di kota besar nanti.

Penolakan itu sama sekali bukan karena kedua orang tuanya tidak mampu membiayai seluruh akomodasi pendidikannya. Namun, hal itu terjadi karena adanya alasan-alasan lain yang jauh lebih kompleks dan mendalam, yang bahkan Hany sendiri pun tidak dapat mengerti ke mana arah jalan pikiran ayahnya.

Meskipun sudah mendapatkan dukungan penuh dan bantuan bujukan dari sang ibu di meja makan, keputusan mutlak dari ayahnya tetap tidak dapat diubah lagi oleh siapa pun.


Di dalam kesunyian malam yang kian larut, Hany berdiri menatap kosong ke arah langit luas melalui jendela kamarnya yang sengaja dibuka separuh. Sejuknya embusan angin malam yang menerpa kulit wajahnya seketika membuat gadis itu memejamkan mata perlahan, menikmati rasa dingin yang menjalar.

Ketika ia kembali membuka mata, pemandangan alam di luar sana terlihat samar dan buram di pelupuk matanya yang mulai digenangi air. Lambaian dahan dan daun pepohonan yang berayun pelan ditiup angin seakan-akan ikut menyapa, mengajaknya untuk merasakan sesuatu yang begitu menenangkan jiwa.

Saat sepasang matanya menatap ke arah cahaya rembulan yang menggantung di langit malam, meskipun sinarnya tidak begitu terang benderang, namun pancaran cahayanya selalu mampu meneduhkan sekeping hatinya yang sedang lara. Ada rasa rindu yang teramat besar bergejolak di dalam hatinya saat ini. Seketika, timbul desakan kuat di dalam dadanya bahwa ia ingin pergi bebas dan berlari kencang mengejar mimpi. Sebuah mimpi indah yang selalu ia dambakan selama ini: kehadiran sosok pemuda pujaan hatinya.

Saat ia mulai membuka kelopak matanya perlahan di bawah siraman malam, dengan suara yang teramat lirih ia memanggil sebuah nama yang sudah tertanam abadi di lubuk sucinya. "Marcel... aku rindu banget sama kamu? Jika di dunia nyata ini kita memang tidak ditakdirkan untuk bisa bersama, maka aku berharap, di dunia yang akan datang, aku akan tetap selalu untukmu."

Tanpa dapat ia bendung lagi, butiran air mata hangat mengalir deras di sudut sepasang matanya, meluncur bebas membasahi permukaan pipinya.


Beberapa bulan kemudian, pada suatu siang yang terik menyengat, Anton tiba-tiba datang tergesa-gesa ke rumah Marcel. Langkah kakinya yang berat dan terburu-buru seketika memecah kesunyian di teras depan, menyiratkan sebuah kecemasan yang teramat sangat.

"Cel... aku punya kabar buruk," ujar Anton dengan napas memburu, langsung membuka suara begitu Marcel membukakan pintu depan rumahnya.

Marcel mencoba bersikap sewajarnya di hadapan sang sahabat, berusaha keras menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berdegup tidak beraturan. "Ada apa, Ton? Santai saja."

"Aku serius, Cel. Dengar baik-baik... ternyata Hany tidak jadi pergi kuliah ke luar kota seperti kabar burung kemarin. Aku baru mendengar kabar pasti ini langsung dari mulut Nina," kata Anton. Ia menatap lurus ke arah Marcel dengan pandangan mata yang teramat tajam. "Dia... Hany dipaksa menikah oleh kedua orang tuanya dengan pria pilihan ayahnya."

Mendengar kalimat itu, seluruh otot tubuh Marcel sempat menegang sejenak, aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Namun, ego remajanya yang terlampau besar buru-buru mengambil alih kendali emosinya kembali. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis yang terkesan sangat dingin dan hambar. "Memangnya kenapa kalau dia akhirnya menikah? Itu kan urusan pribadi keluarganya, tidak ada hubungannya denganku."

"Cel, aku ini sahabat lamamu sejak di asrama pesantren! Aku tahu betul bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Hany!" bentak Anton kesal, emosinya terpancing melihat kebebalan dan keangkuhan palsu temannya itu. Ia menepuk bertenaga bahu Marcel, mengguncang tubuh pemuda itu agar tersadar. "Kalau kamu memang masih peduli dan punya hati sebagai lelaki, temui dia sekarang juga di rumahnya sebelum semuanya benar-benar terlambat! Jangan sampai kamu terpaksa menjalani sisa hidupmu dengan penyesalan besar yang tidak akan pernah bisa diubah oleh waktu."


Marcel terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak terasa teramat kelu untuk menyusun kalimat bantahan. Anton menatapnya dengan sorot pandangan mata penuh kekecewaan yang mendalam, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan area tereras rumah tanpa banyak bicara lagi.

Namun, ego keras kepala Marcel ternyata masih menahan dirinya kuat-kuat. Secarik kertas kecil berisi nomor telepon baru Hany yang sempat diletakkan oleh Anton di atas meja hanya berakhir berdebu di sudut ruangan, tak pernah sekali pun ia sentuh atau ia lirik. Hari-harinya pasca-kedatangan Anton mendadak terasa begitu berat dan menyiksa. Pikirannya selalu lumpuh total, dihantui oleh bayangan-bayangan wajah polos gadis itu yang tak kunjung hilang.

Bahkan hampir setiap malam, nama Hany selalu lolos begitu saja dari sela bibirnya saat ia terlelap tidur—seperti sebuah bentuk panggilan darurat di tengah kegelapan yang tak pernah sempat terjawab olehnya.

Sampai pada suatu malam yang larut, ketukan pelan di pintu kayu kamar membuyarkan tidurnya yang sama sekali tidak nyenyak. Sang ibu melangkah masuk secara perlahan dengan guratan rasa cemas yang terukir jelas di wajah paruh bayanya.

"Cel, akhir-akhir ini Ibu perhatikan kamu sering sekali mengigau tidak tenang saat tidur," ujar Ibu lembut sembari melangkah mendekat, menatap lekat anak laki-laki tunggalnya tersebut. "Kamu sebenarnya sedang ada masalah besar, Nak?"

Marcel lekas membenahi posisi duduknya di atas kasur kapuk, mencoba bersikap seitenang mungkin untuk menutupi kepanikannya. "Tidak ada apa-apa, Bu. Mungkin Marcel cuma sedang kelelahan saja karena tumpukan tugas sekolah yang menumpuk di kelas tiga, makanya jadi sering mengigau."

Sang ibu tentu saja tidak langsung memercayai alasan klasik tersebut. Beliau hanya tersenyum simpul penuh arti, lalu berbisik lirih menggoda, "Apakah anak lelaki Ibu ini sebenarnya sedang jatuh cinta pada seseorang?"

Pertanyaan spontan itu seketika membuat seluruh rongga dada Marcel berdesir hebat, memacu degup jantungnya berkejaran.

"Habisnya sudah cukup jelas, Nak. Akhir-akhir ini kamu sering sekali menyebut-nyebut nama Hany sambil mengigau dalam tidurmu," goda Ibu dengan sepasang mata yang berbinar jenaka.

Marcel tersentak hebat. Seluruh dinding pertahanan di wajah kaku miliknya runtuh seketika tanpa sisa mendengar penjelasan gamblang dari sang ibu. Lidahnya kembali mendadak kelu, terkunci rapat.

"Cel," panggil Ibu dengan nada suara yang teramat lembut, mengikis jarak pembatas di antara mereka dengan duduk di tepi ranjang. "Jika kamu memang menyukai seseorang, sebaiknya katakan saja dengan jujur. Jangan melulu disimpan sendirian di dalam dada. Perkara dia nantinya memiliki perasaan yang sama atau tidak, itu adalah urusan belakangan. Mengungkapkannya dengan jantan jauh lebih baik, daripada kamu harus terus-menerus hidup dalam ketidaktahuan."


Sang ibu kemudian bangkit berdiri dari tepi kasur, lalu melangkah perlahan menuju ke arah pintu keluar. "Anak lelaki Ibu ternyata sekarang sudah tumbuh dewasa, ya. Sudah mulai pandai menyukai seorang gadis. Kapan-kapan, jangan lupa kenalkan dia pada Ibu," imbuhnya sembari melempar senyuman hangat, sebelum akhirnya berbalik badan dan menutup rapat pintu kamar tidur tersebut.

Marcel terperangkap diam, terpaku di atas ranjang kayu miliknya dalam waktu yang cukup lama. Kamar tidur itu kini telah kembali diselimuti oleh kesunyian malam yang mencekat. Ia hanya mampu menjawab pertanyaan besar ibunya tadi di dalam lubuk batin dengan sebuah bisikan lirih yang sarat akan rasa sesak, 'Iya, Bu.'

Hingga keesokan harinya, tepat beberapa saat sebelum ia bersiap berangkat ke sekolah, ia mendapati ada beberapa pemberitahuan panggilan tak terjawab di atas layar ponsel genggam miliknya. Tidak hanya itu, ada pula satu buah pesan singkat baru dari nomor tak dikenal yang masuk, tertulis untaian kalimat yang berbunyi:

"Bagai air dapat digenggam, bagai ombak yang menerjang karang, tak akan pernah tergantikan, meski kini hanya tinggal kenangan... Jika suatu saat nanti aku tak lagi ada di sisimu, aku tak lagi menyapamu, ketahuilah, aku akan selalu ada bersamamu... Jiwaku dan ragaku akan selalu untukmu."

Setelah membaca lembar demi lembar bait kalimat misterius itu, ingatan Marcel mendadak teringat pada sesuatu hal. Ia segera membuka histori pesan-pesan lama di ponselnya, menatap deretan nomor tidak dikenal yang selama beberapa bulan terakhir ini sering sekali mengingatkan dirinya untuk bangun pagi agar tidak telat datang ke sekolah. Nomor asing yang juga sering mengingatkan dirinya di setiap pagi untuk selalu berhati-hati saat berkendara di jalan raya.

Sempat terlintas sebuah prasangka kuat di dalam benaknya bahwa pemilik nomor misterius itu adalah Hany. Namun, logika Marcel segera membantah dugaannya sendiri; ia tahu betul dari obrolan mereka di pematang sawah dulu, bahwa Hany tidak pandai membuat bait puisi yang serumit dan seindah ini. Dengan karakter asli Marcel yang memang tidak mudah menduga-duga atau memercayai sesuatu hal yang belum pasti, ia tetap memilih untuk tidak begitu menghiraukan pesan syahdu tersebut. Ia memilih mengunci ponselnya, memasukkannya ke saku, lalu tetap melanjutkan rutinitas paginya seperti biasa.

Ia tetap pergi berangkat ke sekolah, duduk belajar di dalam ruang kelas dengan sepasang sorot tatapan mata yang terlihat kosong tak berjiwa. Bahkan, setiap kali langkah kakinya berjalan melewati pagar gerbang utama sekolah, ia seakan-akan merasa ada sesuatu ruang berharga yang telah hilang dari hidupnya. Sebuah kehilangan nyata yang dengan sengaja dilempar dan dilupakannya dalam-dalam. Setelah bel pulang berbunyi, ia langsung kembali pulang ke rumah tanpa memiliki gairah hidup yang sama lagi.


Di sudut lain desa, suasana di dalam kamar tidur Hany justru diselimuti oleh badai air mata yang menyayat ulu hati. Gadis itu tampak sedang menangis tersedu-sedu di atas pangkuan sang ibu yang hanya bisa mengusap rambutnya dengan tatapan sanar.

"Hany masih terlalu muda, Ayah... Hany belum mau menikah," isak Hany dengan suara memelas, mencoba mengiba pada sosok sang ayah yang berdiri membelakanginya di dekat pintu. "Hany dan Ihsan sama sekali tidak ada perasaan apa-apa. Kami hanya murni berteman sejak kecil. Jadi bagaimana bisa Ayah tega meminta Hany untuk menikah dengannya?!"

Mendengar jeritan pilu putri tunggalnya, sang ayah hanya bisa terdiam membisu sambil memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela. Rahangnya mengeras rapat, menandakan bahwa keputusan yang diambilnya dari lubuk hati terdalam sudah bulat dan tidak akan bisa diganggu gugat lagi.

Melihat suaminya bungkam, sang ibu akhirnya menghela napas panjang dengan berat. Beliau merengkuh bahu Hany, mencoba menjelaskan kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan rapat-rapat dari pengetahuan sang anak.

"Hany... apakah kamu tahu sebuah rahasia masa lalu?" tanya Ibu dengan nada suara yang teramat lirih dan bergetar. "Dulu, waktu kamu masih berusia sepuluh tahun, Ayah dan papanya Ihsan pernah membuat sebuah janji wasiat terakhir sebelum beliau mengembuskan napas terakhirnya. Mendiang Om Burhan meminta dengan sangat, agar setelah kamu tumbuh dewasa nanti, kamu bersedia dinikahkan dengan putra tunggalnya, Ihsan. Ihsan itu bukan hanya sekadar anak dari teman dekat Ayah, tapi dia sekaligus merupakan sepupu jauhmu sendiri."

Hany tersentak kecil di dalam dekapan ibunya, namun air matanya masih mengalir deras.

"Dulu waktu kamu masih sangat kecil, usaha dagang Ayahmu pernah mengalami kebangkrutan total," lanjut Ibu, mengenang masa-masa kelam keluarga mereka. "Kita sempat tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup, bahkan tempat tinggal yang layak saja kita tidak ada. Di momen hancur itulah, mendiang Om Burhan datang mengulurkan tangan setulus hati. Beliau memberikan rumah yang kita tinggali sekarang ini untuk kita tempati. Meskipun beberapa tahun kemudian rumah ini sudah ditebus dan dibayar lunas oleh Ayahmu, secara materi kita memang tidak lagi memiliki utang piutang dengan keluarga Ihsan. Namun, secara moral dan budi, Ayahmu terlanjur berutang janji wasiat yang sangat sakral kepada mendiang Om Burhan."

Ibu menyeka setitik air mata di sudut matanya sendiri sebelum kembali meneruskan cerita, "Tidak hanya sebatas tempat tinggal, Om Burhan juga meminjamkan sejumlah uang modal yang sangat besar pada Ayahmu waktu itu untuk memulai usaha baru dari nol. Hingga akhirnya sekarang Ayahmu berhasil bangkit, sukses, dan berkembang menjadi satu-satunya pemilik gudang beras terbesar yang ada di desa kita. Meskipun semua uang itu juga sudah diganti secara utuh oleh Ayahmu, namun tanpa adanya kebaikan dari ayahnya Ihsan, mungkin kehidupan kita tidak akan bisa menjadi seperti ini, Nak."


"Iya, Ibu... Hany mengerti semua kebaikan itu," ratap Hany, menggelengkan kepalanya dengan lemas di atas pangkuan sang ibu. "Tapi Hany benar-benar tidak ada rasa cinta sedikit pun dengan Ihsan. Hany sudah punya pilihan hati sendiri, Ibu... 

Hany cuma ingin hidup bersama Marcel. Hany sangat mencintai Marcel, Bu..."

Sang ibu mendekap tubuh putrinya semakin erat, ikut merasakan kepedihan yang luar biasa mendalam. "Hany... Ibu mengerti sepenuhnya bagaimana hancurnya perasaan kamu saat ini. Tapi kamu tahu sendiri bagaimana watak keras Ayahmu, kan? Beliau tidak akan pernah mau menarik kembali kata-kata yang sudah telanjur diucapkannya di depan keluarga besar mendiang Om Burhan. Ibu... Ibu benar-benar tidak bisa berbuat banyak untuk membantumu kali ini, Nak."


Hany hanya terdiam sambil menangis tersedu-sedu di samping ibunya. Dalam hatinya ia hanya ingin satu nama, yaitu Marcel. Namun kenyataan harus memilih jalan yang lain.

"Nak, cinta dan perasaan akan tumbuh seiring kalian bersama," hibur Ibu. "Terkadang apa yang ada di hadapan kita belum tentu untuk kita, dan terkadang sesuatu yang kita anggap tidak penting, padahal itu adalah jalan yang terbaik."

Ibu menatap Hany lekat-lekat. "Kamu juga pernah cerita ke Ibu bagaimana hubungan kamu dengan Marcel. Apa kamu tahu, dia juga memiliki perasaan yang sama?"

Ibu mengusap pundak Hany lembut. "Tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Sepenuhnya agar mendapatkan sesuatu yang terbaik, begitu pula dengan keputusan Ayahmu."

Akhirnya terjawab alasan mengapa Hany tidak diperbolehkan untuk melanjutkan pendidikannya. Sebenarnya sang Ayah sudah terikat janji dengan almarhum papa Ihsan, calon suami Hany, sekaligus sahabat dan saudara bagi ayahnya.


Sambil menangis, akhirnya Hany menjawab perkataan sang ibu, "Iya, Bu. Hany ikut semua pengaturan dari Ayah."

Dengan hati yang berat dan terus berharap akan keajaiban, Hany masih berharap Marcel akan datang menemuinya. Bahkan terbersit dalam hati, jika hal itu terjadi, ia akan meminta Marcel untuk membawanya pergi jika Marcel datang sebelum acara resepsi pernikahannya. Namun jika Marcel tidak datang menemuinya sebelum hari itu, maka Sepenuhnya ia akan ikut semua yang diinginkan keluarganya.

Inilah alasan mengapa ia berpesan kepada Nina agar menyampaikan ke Anton, dan meminta Anton mengatakan kepada Marcel; Hany berharap di momen ini, Marcel akan datang untuk menemuinya.

Namun kenyataan tidak selalu berjalan sesuai apa yang direncanakan.


Tanpa terasa, hingga tibalah hari di mana pernikahan Hany akan segera dilaksanakan, sementara Hany masih berharap sesuatu yang tak akan mungkin dilakukan oleh Marcel.


Lihat selengkapnya