MAKNA DALAM CAHAYA

Saipul449
Chapter #9

TANGIS DAN LUKA #9

BAB 9: TANGIS DAN LUKA


Marcel membeku. Seluruh sendi tubuhnya mendadak kaku, sementara sepasang matanya yang mulai berkaca-kaca menatap kosong pada dinding di depannya. Runtutan penjelasan yang keluar dari bibir Nina terasa seperti hantaman godam. Seketika, benteng keangkuhan yang selama ini ia agungkan runtuh tanpa sisa.

Nina menarik napas dalam-dalam. Ia melanjutkan ucapannya dengan suara teramat pelan, namun bergetar hebat menahan luapan emosi.

"Waktu itu, Cel ... sebelum hari pernikahan itu tiba, Hany selalu memeluk harap. Dia berdoa kamu akan datang, mendobrak pintu rumahnya, dan membawanya pergi. Tapi kenyataannya? Jangankan datang, menanyakan kabarnya lewat sebaris pesan singkat pun kamu tidak pernah."

Nina menyeka air matanya yang kembali luruh. Ia menatap Marcel dengan pandangan terluka.


"Saat festival band dulu, Hany datang bersamaku. Dia berdiri di sudut tergelap di samping panggung. Dia sangat bahagia melihat namamu keluar sebagai pemenang utama. Hanya saja ... kamu terlalu sibuk dengan kemarahanmu sampai tidak pernah menyadari keberadaannya di sana."

Detik itu juga, jemari Marcel bergetar hebat. Pertahanan egonya hancur total. Air matanya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Rasa sesak yang teramat sangat menyumbat kerongkongannya.

Dengan suara parau dan tercekat, ia memberanikan diri bertanya, "Nina ... Hany sekarang dirawat di mana?"

Nina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku tas, lalu menyerahkan secarik kertas putih kecil. Di sana tertera alamat lengkap rumah sakit beserta nomor ruang tempat Hany terbaring koma.

Di sudut ruangan, Anton hanya bisa menatap pemandangan itu dalam bisu. Guratan wajah sahabatnya itu dipenuhi penyesalan mendalam. Anton melangkah maju, meremas pelan bahu Marcel.

"Cel ... pergilah temui dia. Untuk kali ini saja dalam hidupmu, buang egomu. Jangan menundanya lagi."

Nina menatap lurus ke dalam manik mata Marcel yang basah, lalu mengangguk pelan. Mereka berdua membalikkan badan, berjalan pergi meninggalkan Marcel sendirian dalam keheningan rumah yang mencekam.

Marcel berdiri mematung di tengah ruang tamu. Ia memandangi kotak kayu kecil di genggamannya — kotak yang setahun lalu ia kembalikan kepada Hany di atas pelaminan dengan penuh keangkuhan. Dengan tangan gemetar, ia membuka penutup kotak itu perlahan.

Di dalamnya, terbaring sebuah gelang kecil milik Hany dan selembar kertas lipat yang mulai menguning dimakan waktu. Marcel menarik napas berat, mencoba meredakan isak tangis yang membuncah. Ia membuka lipatan kertas itu, menyusuri untaian tulisan tangan Hany yang rapi:


Marcel,

Jika kamu membaca pesan ini, aku berharap kamu sudah memaafkan semua kesalahanku di masa lalu. Maaf atas apa pun yang pernah terjadi di antara kita — hingga akhirnya kamu memilih berbalik arah dan meninggalkanku sendirian.

Apa kamu tahu, Cel? Aku tidak pernah sekali pun memberikan hatiku pada orang lain, bahkan untuk sedetik pun. Mungkin ini salahku yang terlalu bodoh karena terus menunggu sebuah perasaan tanpa kepastian.

Apa kamu masih ingat? Setiap pagi, selalu ada pesan singkat dari nomor tak dikenal yang mengingatkanmu untuk bangun lebih awal dan berhati-hati saat berangkat ke sekolah. Itu aku, Cel. Itulah nomor pribadiku, walau aku tahu kamu tidak pernah sudi membalasnya.

Dan apakah kamu masih ingat waktu di depan kelas dulu? Saat aku merendahkan seluruh harga diriku dan berkata di hadapan teman-temanmu, "Aku mau jadi pacar kamu ...."

Sampai hari ini, dalam kesunyian hidupku, aku masih setia menunggu jawabanmu. Dan lembaran ini ... adalah bait puisi balasan yang dulu pernah kamu berikan kepadaku.


"Aku adalah siang,

Dan aku juga adalah malam.

Namun aku bukanlah cahaya seperti yang kau harapkan,

Tapi aku adalah makna dari sedikit terang dalam kegelapan,

Yang akan selalu bersamamu.

Lihat selengkapnya