BAB 9 : TANGIS DAN LUKA
Marcel hanya bisa terdiam membisu. Seluruh tubuhnya mendadak kaku bagai pembeku, sementara sepasang matanya yang mulai berkaca-kaca menatap lurus pada dinding kosong saat mendengarkan runtutan penjelasan dari bibir Nina. Kenyataan yang baru diketahuinya terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh benteng pertahanan egonya.
Nina menarik napas dalam-dalam, lalu menambahkan kalimatnya dengan suara yang teramat pelan namun bergetar hebat menahan luapan emosi. “Waktu itu, Cel... sebelum hari pernikahan itu tiba, Hany setiap hari selalu memeluk harap. Dia selalu berharap kamu akan datang menemuinya, mendobrak pintu rumahnya, dan membawanya pergi. Tapi kenyataannya, bahkan untuk sekadar menanyakan kabarnya lewat sebaris pesan singkat atau panggilan telepon pun kamu tidak pernah melakukannya.”
Nina menyeka air matanya yang kembali meluncur, menatap Marcel dengan pandangan terluka. “Saat acara festival band dulu, Hany sebenarnya datang bersamaku. Dia berdiri di sudut tergelap di samping panggung, dan dia merasa sangat bahagia ketika melihat nama kamu keluar sebagai pemenang utama. Hanya saja... kamu terlalu sibuk dengan kemarahanmu hingga tidak pernah melihat keberadaannya di sana.”
Detik itu juga, jemari tangan Marcel mulai bergetar hebat. Pertahanan keangkuhannya runtuh total, dan air matanya tumpah deras tanpa bisa ia tahan lagi. Rasa sesak yang teramat sangat menyumbat kerongkongannya. Dengan nada suara yang parau dan tercekat, ia memberanikan diri untuk bertanya.
“Nina... Hany sekarang dirawat di mana?”
Nina tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merogoh saku tasnya, lalu menyerahkan secarik kertas putih kecil yang berisi alamat lengkap rumah sakit beserta nomor ruang tempat Hany saat ini terbaring koma. Di sudut ruangan, Anton hanya bisa menatap pemandangan itu tanpa kata. Guratan wajah temannya itu dipenuhi oleh kesedihan dan rasa bersalah yang mendalam karena tidak bertindak lebih cepat.
Anton melangkah maju, meletakkan telapak tangannya di atas bahu Marcel lalu menekannya dengan lirih. “Cel... sekarang pergilah dan temui dia. Untuk kali ini saja dalam hidupmu, buang egomu dan jangan pernah menundanya lagi.”
Nina pun menatap lurus ke dalam manik mata Marcel yang basah, lalu menganggukkan kepala seraya mengucapkan hal yang sama, sebelum akhirnya mereka berdua membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Marcel sendirian dalam keheningan rumah yang mencekam.
Marcel berdiri mematung di tengah ruang tamu, memandangi kotak kayu kecil di genggamannya—kotak yang setahun lalu ia kembalikan kepada Hany di atas panggung pelaminan dengan penuh keangkuhan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia membuka penutup kotak itu secara perlahan. Di dalamnya, terbaring sebuah gelang kecil milik Hany dan selembar kertas lipat yang kondisinya mulai menguning dimakan waktu.
Marcel menarik napas panjang yang terasa teramat berat, mencoba meredakan isak tangisnya yang membuncah, lalu mulai membuka lipatan kertas tersebut untuk membaca untaian tulisan tangan Hany yang rapi:
“Marcel,Jika kamu membaca pesan ini, aku berharap kamu sudah memaafkan semua kesalahanku atas apa pun yang pernah terjadi di antara kita dulu—hingga akhirnya kamu memilih untuk berbalik arah, pergi, dan meninggalkanku sendirian.
Apa kamu tahu, Marcel?Aku tidak pernah sekalipun memberikan hatiku pada siapa pun di dunia ini, bahkan untuk sedetik pun. Mungkin ini semua adalah salahku sendiri, karena aku terlalu bodoh untuk terus menunggu sebuah perasaan tanpa adanya kepastian.
Apa kamu masih ingat, Marcel?Setiap pagi, selalu ada sebuah pesan singkat tak dikenal yang masuk ke ponselmu, yang mengingatkanmu untuk bangun lebih awal dan berhati-hati saat berangkat menuju ke sekolah—itu adalah aku, Marcel. Itulah nomor telepon pribadiku, walau aku tahu kamu tidak pernah sudi untuk membalasnya sekali pun.
Dan apakah kamu masih ingat waktu di depan kelas dulu? Saat aku merendahkan seluruh harga diriku dan berkata di hadapan teman-teman sekelasmu: ‘Aku mau jadi pacar kamu...’Sampai hari ini, di dalam kesunyian hidupku, aku masih setia menunggu jawaban atas pertanyaan itu.
Dan lembaran ini...Adalah sebuah jawaban dari bait puisi yang dulu pernah kamu berikan kepadaku.”
Marcel mengusap air matanya yang menetes membasahi permukaan kertas, lalu melanjutkan membaca barisan bait puisi balasan dari Hany:
“Aku adalah siang, Dan aku juga, adalah malam. Namun aku bukanlah cahaya seperti yang kau harapkan, Tapi aku adalah makna dari sedikit terang dalam kegelapan, Yang akan selalu bersamamu. Seperti mentari yang tak pernah lelah memberi cahaya, Sepanjang waktu dan masa, yang akan tetap abadi bersamaku selamanya."
Marcel, gelang kecil ini aku kembalikan lagi ke tanganmu. Maafkan aku, karena hanya benda tidak berharga ini yang bisa aku berikan untuk mu.— Hany.”
Dunia Marcel seketika runtuh lebur tanpa sisa tepat setelah kata terakhir di dalam surat itu selesai dibaca. Rasa penyesalan yang teramat besar dan menyakitkan menghantam dadanya hingga membuatnya tidak bisa bernapas.
Sambil menangis terisak-isak dengan tubuh yang melorot ke atas lantai, Marcel menjerit histeris menatap ke arah langit luar melalui jendela. Ia mencengkeram dan memegang erat-erat gelang kecil itu di dalam kepalan tangannya—seakan-akan seluruh penyesalan hidup, rasa bersalah, dan cinta yang terlambat ia akui pecah berderai dalam satu tangisan panjang yang memilukan di bawah langit sore yang perlahan mulai menggelap ditelan malam.
Apa kamu tahu, Marcel?Aku tidak pernah sekalipun memberikan hatiku pada siapa pun di dunia ini, bahkan untuk sedetik pun. Mungkin ini semua adalah salahku sendiri, karena aku terlalu bodoh untuk terus menunggu sebuah perasaan tanpa adanya kepastian.
Apa kamu masih ingat, Marcel?Setiap pagi, selalu ada sebuah pesan singkat tak dikenal yang masuk ke ponselmu, yang mengingatkanmu untuk bangun lebih awal dan berhati-hati saat berangkat menuju ke sekolah—itu adalah aku, Marcel. Itulah nomor telepon pribadiku, walau aku tahu kamu tidak pernah sudi untuk membalasnya sekali pun.
Dan apakah kamu masih ingat waktu di depan kelas dulu? Saat aku merendahkan seluruh harga diriku dan berkata di hadapan teman-teman sekelasmu: ‘Aku mau jadi pacar kamu...’Sampai hari ini, di dalam kesunyian hidupku, aku masih setia menunggu jawaban atas pertanyaan itu.
Dan lembaran ini...Adalah sebuah jawaban dari bait puisi yang dulu pernah kamu berikan
kepadaku.”
Marcel mengusap air matanya yang menetes membasahi permukaan kertas, lalu melanjutkan membaca barisan bait puisi balasan dari Hany:
“Aku adalah siang, Dan aku juga, adalah malam. Namun aku bukanlah cahaya seperti yang kau harapkan, Tapi aku adalah makna dari sedikit terang dalam kegelapan, Yang akan selalu bersamamu. Seperti mentari yang tak pernah lelah memberi cahaya, Sepanjang waktu dan masa, yang akan tetap abadi bersamaku selamanya."
Marcel, gelang kecil ini aku kembalikan lagi ke tanganmu. Maafkan aku, karena hanya benda tidak berharga ini yang bisa aku berikan untuk mu.— Hany.”
Dunia Marcel seketika runtuh lebur tanpa sisa tepat setelah kata terakhir di dalam surat itu selesai dibaca. Rasa penyesalan yang teramat besar dan menyakitkan menghantam dadanya hingga membuatnya tidak bisa bernapas.