Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #2

Judgmental; The Goat

Teriakan dr. Rini seperti dentuman keras yang membuat gendang telinga hampir pecah, laring suaranya dapat menggetarkan benda disekitar seolah dinding hampir roboh. Dia berteriak sambil beranjak dari kursinya dan membanting berkas yang dibawanya.

“Kamu sejak kapan gitu? Kok, baru sekarang kesini?” ujar dr. Rini dengan raut sedikit kesal.

“Hehehe, sudah 3 bulan yang lalu dok,” suara Malfo dengan penuh keraguan, tanpa sadar tangannya sedikit gugup mengusap leher.

“Terus, kesini sendiri? Berkendara lagi?” wajahnya sedikit khawatir.

“Hehehehe, Iya dok, kesini sendiri.”

“Kalau mau EEG, ada syaratnya gak boleh kesini sendiri…harus ada pendamping ya mas!”

Dokter itu melanjutkan penjelasan dengan memberikan informasi yang sangat detail. Diam terpaku mendengarkan, begitulah keadaan Malfo saat ini tidak jauh berbeda layaknya seorang terdakwa dalam sebuah persidangan. 

Setelah mendengar penjelasan yang panjang dari dr. Rini, pemeriksaannya dijadwalkan ulang besok. Malfo segera beranjak dan bergegas keluar dari ruangan yang dingin itu. Tak lama beranjak keluar ruangan, perawat memanggil antrian terakhir pada hari itu. 

“Antrian terakhir, nomor 4 atas nama saudara Dirga, silahkan masuk!” teriak perawat.


Ketika Malfo berpapasan dengan antrian nomor empat, dia merasakan aura yang aneh dan janggal pada tubuh remaja itu. Remaja berpakaian rapi dan jas dikenakan bertuliskan Universitas Ranu. 

Tidak bisa dipungkiri lagi, dia seorang mahasiswa. Menghindari prasangka buruk, dan mencoba menghiraukannya merupakan langkah yang tepat bagi Malfo. 

Setelah mendengarkan penjelasan yang cukup lama dari dokter, tubuh Malfo terasa lemas, dan akhirnya memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya sejenak di kursi koridor rumah sakit. Suara dokter Rini masih terngiang dalam kepalanya, membuat ia tidak fokus jika melanjutkan perjalanan. 

Salah satu kemungkinan terburuk yang dihindarinya adalah kecelakaan. Membayar pemeriksaan saja sudah tergopoh-gopoh apalagi dengan biaya rawat inap jika kecelakaan terjadi, begitulah yang dirasakan Malfo saat ini.   

Suasana yang cukup sunyi ketika antrian terakhir itu masuk ke dalam ruangan. Malfo mencoba menenangkan dirinya sebelum berkendara dan kembali ke kantor dengan menghirup napas dalam-dalam, kemudian menahannya sebentar lalu melepaskan melalui mulut. 

Perlahan dekup jantung serta pikirannya tidak kalut dan cukup tenang. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menenangkan diri. 

Malfo segera beranjak dari kursi dingin koridor rumah sakit. Saat hendak pergi, tidak sengaja dia mendengar percakapan antara dokter dan perawat yang lewat di depannya. 

“Dia Dirga kan dok? atau dia yang lain?” ujar perawat. 

“Diamm! Hasil pemeriksaan kedua kalinya sudah keluar jadi obat OAE-nya hentikan! Sudah tidak berguna. Dia asuransi tipe apa, segera siapkan surat rujukan,” kata dokter Rini dengan terburu-buru.

 “Tapi, dok?”

Dokter Rini menggunakan isyarat melalui tatapan matanya. Sorotan mata yang tajam dan dingin layaknya pisau yang siap menghujam perawat di sampingnya. 

Raut wajah mereka menunjukan bahwa kondisi remaja itu, tampak lebih darurat daripada kondisi Malfo. Malfo tidak begitu mempedulikannya, setelah dirasa tubuhnya cukup aman untuk berkendara. 

Topi hitam segera dipakainya, bangkit dari kursi koridor rumah sakit yang dingin. Dia segera kembali ke kantor dengan mobil butut peninggalan sang ayah.

Begitulah kehidupan Malfo seorang pemuda berusia 29 tahun dengan profesi pewarta di perusahaan besar yang cukup terkenal, namun ia kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari karena gangguan otak yang dideritanya sejak lahir. Diskriminasi sosial, dikucilkan dan digunjing, serasa pil obat yang harus dikonsumsi setiap hari. 

Kaya pun tidak, hanya ada warisan seadanya tapi harus digadaikan untuk biaya pengobatan di negara yang tidak masuk akal ini. Malfo sudah tiga kali mengajukan asuransi kesehatan, namun ditolak oleh pihak rumah sakit entah apa alasannya. 

Lihat selengkapnya