Tiga gerbang memiliki ukiran yang aneh serta mengerikan, gerbang yang berada di sebelah kiri berukiran seorang anak kecil terlilit ular di lehernya. Sedangkan gerbang yang berada di tengah berukiran suasana perang dengan beberapa pasukan tengkorak, berbeda dengan gerbang sebelah kanan.
Terdapat ukiran hutan dengan dua belas pedang malaikat menancap pada tubuh manusia. Malfo berada dalam situasi dilema karena kondisi tubuhnya di dunia nyata sangat bergantung pada pilihan-pilihan yang diambilnya.
“Ini sangat sulit, aku tak bisa memilih. Baiklah apapun gerbang yang kupilih hanya bisa terus melangkah. Tapi ini pertaruhan yang sulittttt,” teriak Malfo, berdiri bingung di antara gerbang keputusan, dengan perasaan dilema.
Malfo sadar, jika ia tidak segera memilih gerbang, tubuhnya di dunia nyata akan semakin kritis. Tidak ingin membuang waktu lagi untuk menimbang keputusan.
Akhirnya gerbang sebelah kanan yang dipilihnya. Berharap itu adalah jalan menyelamatkan tubuhnya yang kritis.
***
Di dunia nyata terdapat berita yang menggemparkan. Sebuah mobil yang menabrak pembatas jalan sehingga mengakibat pengendara mengalami cedera otak.
Pengendara sempat dinyatakan mati suri dalam beberapa menit yang lalu. Saat ini ia sedang mengalami koma, polisi tengah menjalani olah TKP untuk mencari penyebab kecelakaan. Siaran berita itu tayang di berbagai media. Korban kecelakaan dilarikan ke rumah sakit terdekat, yaitu Rumah Sakit Anta Kala.
Bertepatan dengan situasi tersebut ICU Rumah Sakit Anta Kala tengah menghadapi kekacauan yang luar biasa. Dokter dan perawat dihadapkan dengan sebelas pasien lainnya yang mengalami gangguan otak.
Atmosfer panik, kalut, dan kesedihan memenuhi ruang ICU rumah sakit saat itu, tetapi ada kejanggalan yang terjadi. Tiga dokter yang berjaga sekaligus menangani pasien, tampak menyuntikkan cairan aneh ke pasien serta ke tubuh mereka sendiri.
***
Di sisi lain dengan penuh keyakinan Malfo melangkah serta membuka gerbang berukiran hutan dengan dua belas pedang malaikat menancap pada tubuh manusia. Setelah gerbang terbuka dia melihat sebuah liontin hijau yang berkilau.
Malfo berpikir mungkin dengan menyentuh liotin tersebut bisa kembali ke dunia nyata, dia berlari dengan sangat kencang. Kecerobohannya justru membawanya ke peristiwa tak terduga, dia berlari tanpa melihat jalan yang harus dilewatinya.
Berlari kencang tetapi merasa seperti berlari di tempat, setelah melihat ke bawah barulah dia menyadari situasinya. Malfo berlari di atas jurang yang begitu curam.
Huwaaaaaa!...
Begitulah jeritan awal mula Malfo terjebak di dalam dunia paralel. Dia jatuh seolah dari langit.