Mata air yang jernih, bagaikan cermin tak tersentuh oleh makhluk hidup. Burung berkicau, serta gemerisik daun, mendukung keheningan hutan. Di tepi mata air, bunga putih bermekaran mendukung suasana tenang.
Dari mata air itu terpancar cahaya yang terang hingga seluruh hutan menjadi terang benderang, seolah ada bintang jatuh ke bumi. Cahaya itu diikuti dengan kehadiran sosok entitas dengan lambang dewa yang berada disekitarnya.
Beberapa hewan melihatnya berdiri di tengah mata air. Entitas itu adalah Malfo yang telah diturunkan ke daratan oleh Dewa Langit. Dia tampak kebingungan dengan peristiwa yang dilaluinya.
Tampak berulang kali dia menjentikkan jarinya, ia berusaha membuktikan dan meyakinkan dirinya bahwa kekuatannya tidak hilang. Seberapa keras pun usahanya, kekuatannya telah disegel oleh Dewa Langit.
“Dewa Langiiittt….. sialan….. untuk apa kau tunjukkan kekuatan jika segel?” teriak lantang Malfo dengan mata penuh amarah.
BUGHH…. BYUUUR…. BUGHH…. BYUUR….
Dia tampak frustasi, beberapa kali dia terlihat memukul air di sekitarnya. Tidak berselang lama dia mendengarkan suara dari balik semak.
Zrak…. Zrak…. Zrak….
“Siapa itu? Keluarlah, jika kau tidak ingin kubunuh!” teriak Malfo dengan memasang kuda-kuda, siap untuk bertarung. Perlahan dia memperhatikan sekelilingnya.
Dengan pakaian yang tampak lusuh, gadis kecil muncul dari semak belukar. Langkah kakinya tampak ragu.
“Haa..aiii! Tenang…. Tuan saya hanya ingin mengambil air untuk meredakan rasa haus,” gelagap anak kecil itu.
“Siapa kau? dan dimana aku sekarang berada?” tanya Malfo dengan penuh kecurigaan.
“Nama saya Sati, dari Dusun Lwir Surya Mambra. Sekarang, Anda berada di mata air hutan suci,” ucapnya gugup. Tubuh gadis kecil sedikit gemetar, sorot matanya penuh rasa takut menatap lurus kepada Malfo.
“Bagaimana kau bisa disini? Apakah hutan ini jauh dari tempat dusunmu?” saut Malfo, menyipitkan matanya.
“Saya tadi bersama kakek. Kami menjalankan perintah kepala dusun untuk ke hutan suci, la-lu saya terpisah dan tersesat. Perjalanan dari hutan suci ke dusun memerlukan waktu tiga hari dua malam,” jawab Sati, sesekali dia menatap Malfo.
“Kenapa kau melihatku begitu? Bukankah tatapanmu itu tidak sopan terhadap orang lain?” desut Malfo, menatap tajam Sati.
“Maafkan saya Tuan, ini pertama kali saya melihat penyintas seperti Anda,” ujar gadis kecil dengan pakain lusuh.
Percakapan itu berlangsung lama untuk menghilangkan rasa curiga, namun ekspresi Malfo berubah seketika. Dia tampak mengepalkan tangannya, hingga otot di lengannya tampak mengeras serta urat-uratnya tampak menonjol jelas.
WHOOOOOOOOSSSHH!...
Malfo berlari sekencang mungkin dari mata air, menghampiri anak kecil yang berdiri di tepi. Seperti hewan yang ingin menerkam mangsanya. Gadis kecil lusuh itu hanya bisa terdiam, melangkah sejengkal pun ia tak sanggup.
Matanya terbelalak, terkejut melihat Malfo berlari kencang menghampirinya. Dia mengira dirinya telah berbuat salah. Air mata pun jatuh berderai, membasahi pipi mungilnya.