Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #5

Rupa Palsu

Malam yang dingin, hutan berbicara dengan bahasa yang tidak mudah untuk dipahami. Kabut turun memberikan rasa nyaman untuk tidur, suara hewan malam saling bersaut menambah rasa tenang. 

Suara alam sungguh merdu, namun terdapat seorang pria lansia dengan rambut putih perak, serta kulit keriput berjalan menuju mata air. Dia tampak letih menyusuri hutan, setiap langkahnya diiringi dengan suara yang keluar dari bibirnya.   

“Ti, kau dimanaaa?” ujarnya dengan suara parau, dia memanggil seseorang di setiap langkahnya.  

Suara percikan air mulai terdengar samar-samar, aroma tak biasa tercium olehnya. Dia tampak mempercepat jalannya. Semakin dekat perjalanan menuju tujuan, tetesan darah yang berceceran di tanah mulai terlihat. 

Terlihat tetesan darah menuju ke mata air, seolah memberikan petunjuk. Dia melihat beberapa sisik ular yang mengkilau, berserakan di tanah hutan suci. Tak jauh dari tujuannya, dia melihat dua entitas sedang makan daging di tepi api unggun. 

Pria lansia itu mempercepat langkahnya, menuju api unggun dengan harapan bisa bertemu dengan seseorang yang akan membantunya. Namun sebelum sampai disana, dia melihat kepala ular yang telah dipenggal.  

SRUSSST!.... 

Sati dan Malfo sedang asyik bercanda dan tertawa, menikmati daging ular panggang di atas api unggun. Kegembiraan mereka buyar saat seorang pria lansia tiba-tiba muncul dari balik semak belukar, berteriak lantang menuduh mereka sebagai iblis. Sati pun sempat tersedak setelah mendengar teriakan tersebut. 

“Apaaaa yang kauuu makannn? Daasaaaarrr Iblisss!” teriak lantang pria lansia itu, melesat dari balik semak dengan wajah merah padam dan suara meledak-ledak.

“Siapa kau orang tua aneh? Bentuk rupamu justru aneh!” balas Malfo, tangannya sigap meraih Sati dan menariknya ke belakangnya. Dia takut jika hal buruk menimpa gadis kecil itu.

UHUKUHUK

Sati tersedak makanannya, lalu dengan cepat ia bersembunyi di balik badan Malfo yang tampak begitu besar dan kokoh di hadapannya. Kemarahan kakek tua itu semakin menjadi-jadi setelah melihat daging yang berada di dekat api unggun. Bahkan ia sangat tidak terima ketika melihat gigi ular tersebut dirubah menjadi belati.

"Niat ingsun matek aji, ajiku Braja Musti, tanganku gadhing, drijiku wesi kuning, kulitku tembaga, ototku kawat. Sing tak antem lebur, sing tak senggol ajur. Ora ana kasekten sing tumeka marang aku, kersaning lelembut," rapalan mantra yang diucapkan pria lansia, tangannya tampak menggepal. 

Seketika, mata pria lansia itu berubah yang semula terdapat pupil menjadi putih bagaikan buah anggur. Malfo mendengar pria itu melantunkan mantra penyerang, dia pun segera mengambil kuda-kuda tanda dari siap bertarung. 

Jantung Malfo berdebar kencang. Ia sadar, melawan seseorang yang menguasai mantra tanpa kekuatan dari Dewa Langit sama saja dengan bunuh diri. Sesekali dia berusaha menjetikkan jarinya.

Blarrrrr….

Tanpa disadari segel kekuatanya telah terbuka, api keluar dari tangannya. Malfo amat gembira bisa menggunakan apinya lagi. Dari balik tubuh Malfo, Sati menyaksikan tangan Malfo yang tiba-tiba mengeluarkan api. Ia terpana, tak kuasa menyembunyikan kekagumannya.

“Sati bersembunyilah di semak itu,” Malfo berbicara lirih kepada Sati.

“Oke Malfo,” saut Sati, berlari menuju semak. 

Lihat selengkapnya