Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #6

Siasat

Api yang membesar, membuat cahaya kian terang. Sesuatu yang semula samar tertutup gelap kini mulai terlihat jelas. 

Di tengah sengitnya pertarungan, Sati tersentak. Lawan Malfo ternyata kakeknya, orang yang pergi bersamanya ke hutan suci. 

Hatinya berdesir. Ia pun melesat keluar dari semak, menyeruak dengan kaki mungilnya.

“Hentikaaaann... Malfoooo hentikaaan... Kakekkk sudaaahhh cukuppp…” teriak Sati dengan lantang dan keras. 

Pertarungan berlangsung sengit. Malfo dan sosok pria lansia sama-sama hanyut dalam suasana pertarungan, sehinggateriakan Sati hanya terdengar samar di telinga mereka. 

Pikiran mereka sepenuhnya terpusat pada siasat untuk memenangkan pertarungan. Hutan yang semula dingin dan tenang perlahan berubah menjadi hangat dan berdebu. Beberapa pohon tumbang menjadi saksi bisu pertarungan yang tidak masuk akal. 

“Kakek peot kau kuat juga… tapi mampukah kau bertahan dari tusukan ini?” ejek Malfo sambil mengacungkan belati api di tangan kirinya.

“Iblis kuda sialan, siasat mu sungguh banyak. Bahkan kali ini kau bisa mendesakku hingga babak belur. Kau sungguh hebat untuk mendapatkan julukan iblis tingkat atas” saut pria lansia dengan dekus. Sesekali jeluak terdengar.

“Kenapa kau cepat menyerah, kakek peot! Walau apiku kecil, pertarungan ini masih lama bukan?” tanya Malfo, desut dan mengusap darah yang keluar dari bibirnya dengan lengan.

Pertarungan terus berjalan, belati yang berasal dari gigi ular yang semula berwarna putih kini berangsur berubah. Senjata belati yang berada di tangannya seketika berubah menjadi belati api yang bersiap menghunus raksasa yang ia lawan. 

Blaaarrr….

Bertolak belakang dengan kondisi tubuh Malfo saat ini babak belur penuh dengan luka lebam, beberapa lukanya memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama. Resiko yang harus dihadapi Malfo adalah kematian mutlak.

Tanpa berpikir panjang, dia melesat dan siap menghujam musuhnya dengan segala konsekuensi yang dipertaruhkan. Sama halnya dengan kondisi pria lansia dengan tubuh raksasa kini sudah melewati masa puncaknya, beberapa ototnya mulai kembali sedia kala. 

Ukuran yang semula raksasa perlahan mengecil. Dalam situasi yang sama-sama tidak diuntungkan mereka tetap melanjutkan pertarungan. 

Suara mereka tampak berat bukti pertarungan yang berat. Belati api hampir menyentuh wajah pria lansia itu.

Wusssshhh!... Tap

“Hentikan para maniak pertarungan!” teriak Sati berdiri di tengah pertarungan yang sengit. dengan kedua tangan terangkat ke atas, telapaknya membuka seolah menahan gelombang amarah yang siap meledak. 

Matanya dengan penuh keberanian, menatap Malfo dan pria lansia. Pandangan mereka masih saling terkam tanpa peduli luka, tanpa peduli siapa yang terjatuh. 

Lihat selengkapnya