Makna Hakikat

Fahmi Irwan Utomo
Chapter #7

Menginjak Tanah Terbuka

Cahaya bulan mulai pudar,kabut tebal kian menipis. Di sisi lain, penglihatan Malfo kian buram. Ia berjuang keras melawan kantuk dan dingin malam yang masih terasa menyengat.

Malfo terbaring lelah, tubuhnya tak lagi mampu melawan rasa kantuknya. Di antara kesadarannya yang mulai pudar, ia masih sempat melihat sang kakek melangkah mendekati kepala ular.

Gelagat kakek itu mulai aneh, dia berjalan menuju kepala ular yang tergantung. Bibir kakek itu terlihat membacakan sesuatu seperti mantra yang panjang. Samar-samar ia melihat sang kakek menangis di hadapan kepala ular. 

Uhuhuhuhuhuhuhuhuhu

Isak tangisan pria lansia itu menyelimuti seluruh hutan suci. Tangisannya menjadi pengantar tidur. Rasa kantuk Malfo tak tertahankan, matanya pun terlelap seolah terkena sihir tidur.

GROOOOK GROOOK

Cahaya matahari mulai menyongsong, namun Malfo masih terlelap dalam tidurnya. Bahkan suara dengkurnya bisa didengar oleh makhluk hidup yang berada di sekitar hutan suci. Sati berlari menghampiri Malfo. 


***


Malfo terlelap, namun di alam mimpinya ia mendapati situasi yang membingungkan. Segalanya terasa seperti permainan atau animasi yang pernah ia tonton. Dalam tidurnya, ia dapat melihat tubuhnya yang asli tengah terbaring di rumah sakit. 

Tidak... ini tidak mungkin! gumam Malfo, matanya membelalak. Kenapa dengan tubuhku? Kenapa aku terbaring di atas ranjang hijau itu? Dalam pikirnya ia berteriak, kebingungan dan kepanikan bercampur menjadi satu.

Situasi yang membuat Malfo menjadi bingung. Ia baru saja terhanyut dalam petualangan di dunia paralel, namun kini ia diperlihatkan keadaan dirinya di dunia nyata.

PIIP…PIIP…TIIIIIIIIIIIIIIIT TTTTT 

Layar monitor yang menampilkan detak jantung Malfo tiba-tiba menunjukkan garis lurus panjang. Alarm pun berbunyi nyaring, memecah keheningan ruang ICU yang dingin. Para dokter yang berjaga segera bergegas menghampiri dan melakukan tindakan darurat.

“Waah ini gawat! Siapkan defibrilator! Kita harus segera menyelamatkannya!” seru dokter, napasnya masih tersengal usai berlari. Raut wajahnya tampak panik.

“Dok ada apa ini? Apa yang terjadi?” teriak Malfo yang tampak bingung dengan keadaannya. Bertanya kepada dokter yang menghampiri dirinya.

Sekeras apapun Malfo berteriak, suaranya tidak terdengar oleh orang sekitarnya. Dia tampak sangat histeris dengan penuh rasa ketidakpercayaan. 

Matanya terbelalak saat tubuhnya bisa ditembus oleh dokter maupun perawat. Suara layar monitor ICU itu terus berbunyi. 

Perlahan semakin keras, membuat kepala Malfo terasa sakit. Telinganya bahkan tak sanggup mendengar suara yang terus berdengung walaupun dia berusaha dengan menutup telinganya. Hingga dia tak sadarkan diri.

Lihat selengkapnya